KKG – Agung Sedayu Terpedaya 9

Api menjilati langit, asap tebal menyebar ke seluruh wilayah Tanah Perdikan Menoreh. Pekik  tangis orang-orang yang kehilangan benda-benda miliknya, jerit sedih para wanita yang berlarian membawa anak-anaknya. Serta teriakan para pengawal pedukuhan yang masih bekerja keras memulihkan keamanan bercampur menjadi satu di atas langit Menoreh.

Beberapa kelompok kecil dari pengikut Ki Garu Wesi masuk dengan paksa ke dalam beberapa rumah. Dalam pada itu, Sukra dan tiga orang pengawal lain yang berada di dekat tempat kejadian segera berlari-lari mencoba menghadang orang-orang Ki Garu Wesi. Sekejap kemudian perkelahian antara pengawal Menoreh dan pengikut Ki Garu Wesi pun pecah. Tekanan yang dialirkan melalui gelar kecil membuat pengikut Ki Garu Wesi harus bekerja keras menahan serangan.

Sementara itu Sukra berkelahi melawan dua orang pengikut Ki Garu Wesi. Teriakan-teriakan yang terucap dari bibirnya mampu menggetarkan semangat pengawal Menoreh. Maka kemudian yang terjadi adalah perkelahian yang tidak seimbang dari segi jumlah. Meskipun pengawal Tanah Perdikan masih berusia muda namun mereka bertempur dengan sengit. Kerja sama para pengawal meskipun berjumlah lebih sedikit namun dapat menahan pergerakan lawannya. Pertempuran yang terjadi di jalanan pedukuhan segera merambat dengan cepat hampir di selutuh Tanah Perdikan. Para pengawal Menoreh dengan tekad bulat berusaha meredam kerusuhan yang disebabkan oleh pengikut Ki Garu Wesi.

Dalam perkelahian itu, Sukra benar-benar memeras segenap kemampuannya. Kepandaian Sukra yang telah berada dalam tingkat sedikit lebih tinggi semenjak mendapat bimbingan khusus dari Ki Jagaraga dan Agung Sedayu mampu mengurangi tekanan yang dialami kelompoknya. Sukra secara terus menerus menghisap lawan-lawannya. Setelah seorang lawannya roboh, maka kedudukannya kemudian digantikan oleh temannya yang lain. Meskipun begitu Sukra belum terlihat mengalami tekanan, justru ia semakin meledak-ledak.

Satu demi satu pengikut Ki Garu Wesi pun roboh, namun para pengawal Menoreh meskipun menderita luka-luka akibat girensan senjata masih berusaha keras memberikan perlawanan. Bantuan pun datang untuk mereka. Orang-orang Menoreh yang mampu memegang senjata pun berdatangan memberikan keseimbangan dari segi jumlah walaupun mereka tidak mempunyai pengalaman tempur. Bantuan itu segera dirasakan Sukra yang merasa lebih leluasa dalam bergerak. Pedang di tangan Sukra berkelebat cepat membungkus tubuhnya sehingaa sulit ditembus oleh senjata lawan.

“Mereka bukan lawanmu, petani sial!” umpat seorang pengikut Ki Garu Wesi yang berusia sedikit lebih banyak dari Sukra. Ia menerobos memasuki gelanggang dan segera mengikat Sukra dalam perkelahian yang seru.

Sukra benar-benar terkejut menerima serangan yang tiba-tiba itu. Ia tidak dapat mengelaknya. Dengan cepat ia menyilangkan batang pedangnya di depan dada. Sukra benar-benar mempergunakan seluruh tenaganya untuk membendung seranga yang datang mematikan. Kemudian yang terjadi adalah benturan yang dahsyat antara keduanya. Kekuatan tenaga Sukra yang ingin menjaga ketenangan daerahnya dengan serangan lawan yang ingin mengeruk keuntungan dari Tanah perdikan. Meskipun kemudian mereka jatuh terguling, namun kedua anak muda itu segera melocat dan bangkit bersiap melepaskan serangan sepenuh kekuatan.

Sukra kini bertarung dengan perasaan yang lebih lepas. Ia telah mendengar dari orang-orang disekitarnya yang mengatakan bahwa kebakaran telah berada dalam kendali. Sementara seorang pengawal yang baru datang pun berkata lantang padanya bahwa Ki Gede dan Prastawa telah mengatur alur pengungsian. Ia juga menambahkan jika kerusuhan di pedukuhan induk mulai menyusut. Meskipun ia ingin bertanya tentang keadaan Agung Sedayu, namun Sukra sedang menghadapi lawan yang seimbang. Ia sama sekali tidak ingin membiarkan lawannya dapat lepas dan pergi tanpa tanggung jawab.

Maka Sukra kemudian tidak membatasi dirinya untuk bertempur. Ia melepaskan serangan bergelombang. Setiap ujung pedangnya langsung menggapai bagian-bagian berbahaya pada tubuh lawannya. Pedang Sukra berkelebat dan serangannya pun membadai. Beberapa kawannya pun heran dengan perkembangan yang terjadi padanya.

“Sukra? Benarkah kau bernama Sukra?” bertanya lawannya ketika berkelit dari kaki Sukra yang menebas lututnya.

“Diamlah! Kau sedang bertemu dengan pengawal Menoreh yang kokoh seperti batu hitam!” tukas Sukra.

Lawan Sukra mendengus lantas ia mencoba keluar dari tekanan Sukra. Meskipun Sukra berada dibawah tuntunan Ki Jagaraga dan Agung Sedayu, namun lawan Sukra mempunyai kelebihan selapis diatasnya. Maka kemudian yang terjadi adalah lawan Sukra dapat melepaskan diri dari tekanan Sukra yang mengalir tanpa henti. Ketahanan jasmani Sukra sepertinya mempunyai kelebihan tersendiri. Untuk beberapa malam terakhir, Sukra memang kurang mendapat kesempatan untuk beristirahat. Tetapi ia telah mendapat gemblengan khusus dari Agung Sedayu untuk menambah daya tahan tubuhnya. Sehingga dengan demikian, kelebihan lawan Sukra pun tidak begitu terasa manfaatnya karena Sukra ternyata mampu mengimbanginya dengan banyak berlari memutari lawannya.

Karena itu, lawan Sukra semakin marah dengan Sukra yang kini lebih banyak menghindar. Meskipun ia mengalirkan serangan seperti banjir, tetapi Sukra sangat lincah berkelit, menghindar dan sekali-kali menjauhinya. Namun Sukra sesekali melepaskan serangan saat ia melihat lubang pada pertahanan lawannya. Bahkan tak jarang Sukra membenturkan kekuatannya dan keputusan Sukra semacam ini telah menjadikan tenaga lawannya mulai terkuras. Tubuh keduanya telah basah oleh darah, ujung-ujung senjata telah merobek kulit di sekujur tubuh mereka berdua.

Sukra pada dasarnya adalah pemberani. Apalagi sejak ia belajar dasar-dasar olah kanuragan pada Glagah Putih, maka keberanian makin menancap lebih dalam di jantungnya. Sehingga ketika Sukra melihat lawannya mulai mengendor, Sukra merubah tata geraknya. Ia kemudian bertempur dengan garang dan keras. Yang terjadi kemudian adalah keduanya jarang menghindari setiap serangan lawannya. Keduanya selalu membenturkan kekuatan, tak jarang justru Sukra dengan sengaja membenturkan tenaga meskipun lawannya mencoba untuk berkelit.

Maka dengan begitu, lawan Sukra menjadi heran dengan kekuatan yang tersimpan dalam diri pengawal Menoreh yang menjadi lawan tangguh baginya. Betapa ia mendapati kulit Sukra menjadi liat, ia juga melihat gerakan Sukra masih tetap lincah meskipun mereka telah bertarung hingga matahari hampir menggapai puncak langit.

Asap yang mengepul tinggi terlihat dari barak pasukan khusus. Nada titir yang keluar dari setiap kentongan yang ada telah mencapai pendengaran para prajurit pasukan khusus. Beberapa diantara mereka menengok keluar dari barak dan mereka mendapati pemandangan yang membuat seluruh perwira pasukan khusus menjadi sangat terkejut.

“Apa yang sedang terjadi?” bertanya Ki Lurah Sanggabaya saat seorang pengawal pedukuhan telah melompat turun dari kuda.

“Kebakaran telah melanda seluruh Tanah Perdikan, Ki Lurah,” jawab pengawal pedukuhan itu.

“Kebakaran?” bertanya Ki Lurah Sanggabaya seraya berpaling pada seorang perwira disampingnya. “Apakah kau telah melihatnya sendiri?”

“Tidak, Ki Lurah. Seorang pengawal memberitahukan padaku ketika aku berkuda menuju rumah Ki Rangga,” jawab pengawal.

“Aku dapat menduga siapa yang melakukannya,” Ki Lurah Sanggabaya berkata.

“Apakah kalian telah melihat kedatangan Ki Rangga?” bertanya seorang perwira pada prajurit jaga.

“Belum, Ki Lurah,” jawab seorang prajurit.

“Keadaan telah tiba-tiba menjadi genting dalam waktu singkat,” kata Ki Sanggabaya,”kita tidak dapat menunggu Ki Rangga.” Kemudian ia dan sejumlah perwira mengeluarkan perintah pada pasukan khusus untuk bersiaga di sekitar barak.

“Sebagian dari kita akan membawa bantuan bagi orang-orang Menoreh,” kata Ki Lurah Wilayudha. Ia melompat ke atas punggung kuda lalu memberi perintah pada satu kelompok pasukan yang berada di dekatnya untuk memasuki pedukuhan induk.

Sepeninggal Ki Lurah Wilayudha, Ki Lurah Sanggabaya berkata lantang dihadapan seluruh pasukan khusus,”Sesuatu yang gila sedang melanda Tanah Perdikan. Kita tidak dapat menutup kemungkinan bahwa barak ini mungkin akan mendapat serangan.’

Usai berkata dihadapan pasukan, Ki Lurah Sanggabaya terperanjat saat terlihat olehnya asap muncul dari bagian belakang barak. Seketika ia mengeluarkan perintah untuk memadamkan api yang mulai membakar bangunan tempat mereka menyimpan senjata. Dalam pada itu, sekelompok pasukan khusus berhasil menghadang orang-orang yang melepaskan panah api pada dinding gudang senjata. Meskipun perintah bersiaga penuh baru saja dijatuhkan oleh pemimpin mereka, namun prajurit yang masih meronda masih belum melepaskan kewaspadaan. Sehingga mereka dapat melihat pergerakan pada bagian belakang barak.

Pertempuran dalam lingkaran kecil segera terjadi. Pengikut Ki Garu Wesi menjadi gelisah karena usaha mereka untuk dapat lolos setelah melepaskan panah api menjadi gagal. Mereka semakin resah karena para prajurit mulai mengalir menuju tempat pertempuran terjadi. Gerak pasukan khusus memang sangat tangkas. Mereka dapat memperkirakan kedudukan kawan-kawannya yang masih meronda sehingga ketika kebakaran terjadi maka mereka membagi diri dalam beberapa satuan kecil dengan tugas yang berbeda. Salah satu bagian telah sigap menjawab seruan peronda di bagian belakang.

Maka dalam waktu cukup singkat, pasukan khusus telah dapat meringkus orang-orang Ki Garu Wesi yang bertugas membakar barak.

“Apakah pemimpin pasukan khusus tidak memberi perhatian pada kebakaran yang terjadi di seluruh wilayah?” bertanya Ki Garu Wesi dalam hatinya. Ia berada dibalik rerimbun tanaman perdu di salah satu lorong jalan yang menghubungkan rumah Agung Sedayu dengan barak pasukan khusus.

Tinggalkan Balasan