KKG – Agung Sedayu Terpedaya 10

Dalam pada itu, seorang pengawal yang ditugaskan oleh Sukra untuk melaporkan keadaan genting pada Ki Rangga Agung Sedayu telah memasuki halaman rumah Ki Rangga. Seperti yang telah menjadi kebiasaan keluarga Agung Sedayu, maka pada pagi itu Ki Jagaraga telah bersiap untuk pergi ke sawah. Sementara Sekar Mirah pun tenggelam dalam kesibukannya di dapur. Halaman depan telah menjadi tugas Agung Sedayu untuk membersihkannya selagi Sukra atau Glagah Putih tidak berada di rumah. Latar halaman begitu rapi dan bersih, terlihat garis-garis sapu lidi hasil pekerjaan Agung Sedayu terukir di halaman.

Pengawal pedukuhan itu berbicara dengan nafas terengah-engah.

“Ki Rangga!” panggil pengawal itu,”pengikut Ki Garu Wesi telah membakar pasar di pedukuhan induk!”

“Tidak!” sahut Agung Sedayu nyaris tidak percaya berita yang ia dengar.

“Kebakaran itu benar terjadi, Ki Rangga,” sambung pengawal,”Saat ini Sukra berada di pasar dan pengawal yang lain telah melaporkan kejadian ini pada Ki Gede.”

Agung Sedayu berpaling pada arah pasar pedukuhan induk. Dan memang benarlah berita yang disampaikan oleh pengawal pedukuhan.

“Pergilah ke barak! Katakan pada Ki Lurah Sanggabaya untuk menyiagakan pasukan,” perintah Agung Sedayu kemudian,”Ambillah salah satu kuda di belakang.” Usai berkata demikian, Agung Sedayu berlari kecil melewati pintu seketeng dan mengabarkan berita gawat itu pada Sekar Mirah dan Ki Jagaraga. Sekar Mirah lantas bergegas menuju banjar pedukuhan induk. Ia mempunyai tanggung jawab besar untuk mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan orang-orang yang akan mengungsi untuk sementara waktu.

Sementara itu Ki Jagaraga berkata dengan sungguh-sungguh,”Perbuatan mereka sangat membahayakan keselamatan setiap orang yang berada di Tanah Perdikan. Kita tidak dapat gegabah mengambil keputusan, Ngger. Boleh jadi kau akan berusaha menyelamatkan kitab warisan gurumu, namun kau tidak dapat mengabaikan bahaya yang mengancam Tanah Perdikan.“

Agung Sedayu menundukkan wajah kemudian dari bibirnya terdengar ia berkata,”Kitab itu berada di Sangkal Putung. Namun aku merasa wajib untuk membuat kesan apabila kitab itu berada di rumah ini.” Ia menatap langsung sorot mata Ki Jagaraga yang berdiri dihadapannya dan seolah-olah Agung Sedayu sedang menghadapi gurunya sendiri, Kiai Gringsing. Lalu katanya,”Aku kira dengan berbuat seperti itu maka keberadaan kitab akan tetap aman karena dalam pengawasan Adi Swandaru. Namun aku juga merasa bersalah karena orang-orang Menoreh kembali tertimpa musibah yang tidak seharusnya mereka tanggung.” Sorot mata Agung Sedayu sayu ketika ia menengok arah kebakaran.

“Tidak!” sahut Ki Jagaraga,”Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Meskipun segala sesuatu selalu mempunyai hubungan erat dengan pilihan yang pernah kau buat, namun semua akan baik-baik saja apabila Ki Garu Wesi tidak bersikap seenaknya.”

Setelah menarik nafas panjang, Agung Sedayu berkata,”Baiklah, aku akan berkeliling memantau keamanan. Dan aku minta Kiai tetap berada dalam lingkungan sekitar rumah.”

“Aku setuju,” Ki Jagaraga mengangguk.

Sekejap kemudian Agung Sedayu telah berada diatas punggung kuda. Dengan disertai dua orang pengawal pedukuhan, ia menuju rumah Ki Gede Menoreh untuk memberitahukan rencananya. Bahkan Ki Gede menyerahkan tombak pendek dan segel sebagai Kepala Tanah Perdikan kepada Agung Sedayu. Maka dengan begitu, kekuasaan tertinggi untuk memulihkan keamanan dan segala hal yang terkait dengan ketertiban berada di tangan Agung Sedayu.

Setelah berada di dekat pasar pedukuhan induk, suara Agung Sedayu memecah ketegangan dan menghentak keberanian.

Ia berkata,”Menyerahlah! Aku di sini sebagai wakil Ki Gede. Dan aku juga seorang senapati Mataram. Orang-orang Menoreh dapat bertempur dibelakangku dan kalian dapat meletakkan senjata lalu kami mengampuni kalian semua.”

“Kau bukan Kepala Tanah Perdikan!” sahut seorang penjarah ketika Agung Sedayu memerintahkannya untuk menyerah.

“Ki Gede telah menunjukku sebagai pemimpin tertinggi. Jika kau keberatan dengan keputusannya, temuilah Ki Gede!” Seruan lantang Agung Sedayu disambut gemuruh orang-orang Menoreh. Mereka merasa lega setelah salah seorang yang disegani telah berada di tengah-tengah mereka dengan tanda kekuasaan dari Ki Gede,

“Maka aku harus membunuhmu!” teriak seorang pimpinan kelompok Ki Garu Wesi.

Namun malang baginya dan orang-orang yang tergabung dalam kelompoknya. Mereka harus melawan Agung Sedayu dan orang-orang Menoreh yang menjadi kuat seolah-olah mereka mendapatkan tenaga baru yang berlipat ganda.

Demikianlah kemudian Agung Sedayu sekali-kali turut mendesak kerumunan orang-orang yang melakukan penjarahan. Kehadiran Agung Sedayu di banyak tempat telah memberi rasa aman pada orang-orang Menoreh. Terlebih setelah ia membantu beberapa lelaki meringkus dua kelompok penjarah, maka gelora rakyat Menoreh untuk mempertahankan diri dan hartanya menjadi semakin kuat.

Namun apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu kemudian terpantau oleh Ki Tunggul Pitu yang pada saat itu melintasi simpang tiga.

“Tentu kau yang bernama Agung Sedayu,” kata Ki Tunggul Pitu.

“Benar, Ki Sanak,” sahut Agung Sedayu,”Apa yang menjadi maksud Ki Sanak sebenarnya? Ki Sanak telah mendorong orang-orang yang tidak bersalah ini ke dalam penderitaan.”

“Aku tidak mendorong mereka, Agung Sedayu,” kata Ki Tunggul Pitu. “Adalah kebodohan orang-orang Menoreh yang telah memberimu ijin untuk menetap, sedangkan mereka tahu bahwa kau mempunyai musuh yang sangat banyak.”

“Musuh?” Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Dalam pada itu, kebakaran yang terjadi telah berada dalam kendali orang-orang Menoreh. Sebagian pengawal bahkan telah menawan para penjarah dan telah dibawa ke rumah Ki Gede untuk menunggu keputusan dari Ki Gede Menoreh.

Ki Tunggul Pitu menyeringai lalu,”Ya, orang-orang yang telah kau bunuh juga mewariskan rasa penasaran pada keluarga atau teman mereka.”

“Kematian dalam perang tanding itu sudah semestinya terjadi, Ki Sanak,” Agung Sedayu menatap Ki Tunggul Pitu dengan sorot mata tajam. Ki Tunggul Pitu merasa jantungnya berdentang kencang saat ia membalas sorot mata itu dengan pandangan yang tak kalah tajamnya. “Aku harus menghindari tatap mata senapati Mataram ini,” gumam Ki Tunggul Pitu lirih.

Ia melompat panjang menerkam Agung Sedayu yang masih berada diatas punggung kuda. Seperti bayangan, tiba-tiba tubuh Ki Tunggul Pitu bejarak kurang dari selangkah ketika ia menulurkan kaki menggapai kening Agung Sedayu. Agung Sedayu dengan sigap mengelak dan melontarkan tubuh menjauhi Ki Tunggul Pitu. Lawan Agung Sedayu menyerang dengan garang, tangan dan kakinya bergerak sangat cepat dan penuh tenaga. Serangan tangan kosong itu seperti datang bergelombang dan setiap kibasannya seakan senjata yang mematikan.

Agung Sedayu dengan cepat menempatkan dirinya dengan ilmu meringankan tubuh dalam lapisan tinggi. Ia bergerak sangat lincah dan seolah tubuhnya tidak mempunyai bobot sama sekali. Sebesar apapun gelombang serangan datang menyentuhnya, namun serangan itu seperti melawan angin. Tubuh Agung Sedayu berpindah tempat sedemikian cepat.

Mereka bertempur dalam lingkaran yang kecil. Setiap gerakan Ki Tunggul Pitu segera dihadang Agung Sedayu, dan sebaliknya sering kali Agung Sedayu tidak dapat melepaskan diri dari gerakan Ki Tunggul Pitu yang seperti mengepung dirinya. Namun begitu, pergerakan mereka benar-benar sangat cepat dan akibatnya adalah debu tanah membumbung tinggi seperti tertiup pusaran angin yang dahsyat.

Mereka berdua seperti sedang mengepakkan sayap-sayap yang berukuran besar. sehingga tak jarang debu dan kerikil terlontar setiap kali kaki mereka berpijak. Pertempuran itu benar-benar berada di luar nalar orang-orang sekitarnya.

Demikianlah pertempuran itu meningkat selapis demi selapis semakin sengit. Para pengikut Ki Garu Wesi dan orang-orang Menoreh merasakan darah mereka mengalir semakin cepat. Mereka seperti melihat perkelahian yang mungkin hanya terjadi di dalam mimpi.

Maka pada saat Agung Sedayu terikat oleh Ki Tunggul Pitu, Ki Garu Wesi tidak melihat Agung Sedayu melintas jalanan yang biasa dilewatinya menuju barak pasukan khusus.

“Gandrik!” desis marah Ki Garu Wesi. Namun ketika ia melihat dua pengawal berlari menuju arah rumah Ki Gede, ia memutuskan menyelinap memasuki pekarangan rumah Agung Sedayu.

Tinggalkan Balasan