KKG – Agung Sedayu Terpedaya 11

Sementara itu, Ki Jayaraga yang berada di pringgitan dapat mendengar jejak halus langkah kaki seseorang. Ia telah mempunyai dugaan bahwa orang yang melompati pagar halaman mempunyai tujuan tertentu, namun Ki Jayaraga tetap menanti hingga orang itu benar-benar berada di dalam rumah.

Tiba-tiba Ki Jagaraga berkelebat menyambut kedatangan tamu tak diundang yang datang melalui pintu seketeng. Dengan wajah yang mengesankan ketenangan, ia berdiri setegak tebing Merapi. Ia telah melihat bayangan orang bergerak mendekatinya, lalu Ki Jayaraga bertanya,”Apakah yang menjadi tujuan Ki Sanak?”

Ki Garu Wesi sepertinya telah mengetahui bahwa kedatangannya telah diketahui seseorang yang tidak ia kenal sebelumnya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia semakin dekat, ia mengatakan,”Seperti inilah yang selalu berulang. Seorang yang mumpuni akan selalu meninggalkan harta yang layak untuk diperebutkan. Sebelum kita lahir di dunia, ilmu peninggalan Toh Kuning dan Ken Arok menjadi perebutan banyak orang. Tak jarang terjadi perkelahian besar antar perguruan. Setiap orang bersaing untuk menjadi yang terbaik dari jaman ke jaman. Kemudian tampil seseorang di barisan depan sebagai orang yang layak disebut sebagai yang terbaik. Begitulah kehidupan yang terjadi dalam olah kanuragan.”

Ki Jayaraga menghela nafas panjang. Ia memandang lurus orang yang berdiri sekitar lima langkah dihadapannya.

“Kau banyak berdalih sejak kedatanganmu pertama kali di rumah ini. Kau berkata tentang tiga muridku yang terbunuh oleh Agung Sedayu. Kemudian kau mengumbar bualan mengenai kitab Kiai Gringsing,” berkata Ki Jayaraga,”dan kau sebarkan kebohongan pada rakyat Menoreh tentang sikap Ki Gede.”

“Kiai jangan mendustai hati sendiri,” sahut Ki Garu Wesi. “Kiai sudah barang tentu mempunyai sakit dalam hati yang mungkin belum sembuh hingga sekarang. Namun kiai tidak berdaya menghadapi Agung Sedayu yang telah membiarkan guru dari musuhnya untuk mencari sesuap nasi di tanah ini”

“Kau dapat berbicara apa saja, Ki Garu Wesi. Bahkan kau dapat menghindari cara yang wajar yang semestinya dilakukan oleh orang-orang berusia lanjut seperti saat ini,”Ki Jayaraga bergeser setapak.

Sambil menarik nafas dalam-dalam, Ki Jayaraga menatap langsung sorot mata Ki Garu Wesi seolah-olah ingin menjenguk kedalaman hati orang yang menginginkan kitab peninggalan guru Agung Sedayu. Kemudian ia berkata,”Ki Garu Wesi, seringkali apa yang terlihat oleh mata dan terbayang lekat dalam benak sama sekali bukanlah tujuan akhir dari usia yang kita jalani. Bahkan seringkali kita terbangun dan menyadari bahwa kita telah menyimpang jauh dari akhir waktu. Tipuan-tipuan yang kita anggap sebagai karunia seringkali memperdaya kita hingga kemudian terputus karena suatu sebab. Berbagai dalih akan kita kedepankan sebagai pembenaran. Tetapi pada saat itu telah kita katakan maka sebenarnya kita semakin jauh dari kebenaran.”

“Aku mengerti yang kau katakan, orang tua penjaga rumah,” ujar Ki Garu Wesi,”kau berkata tentang alasan agar dendam itu teralihkan. Dan tentu saja dengan cara seperti itu agaknya kekerasan akan selalu dapat kau hindarkan.”

Ki Jayaraga mengangguk dengan satu tarikan nafas panjang. Perlahan menghembuskan udara, lalu ia berkata,”Kau masih menginginkan sesuatu yang sebenarnya mempunyai masa lebih panjang darimu. Ilmu atau apapun yang kita berikan sebagai sebutan pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menjangkau apa yang tidak pernah kita gapai sebelumnya.” Ki Jayaraga maju setapak. Ia meneruskan,”Kitab Kiai Gringsing mempunyai isi yang tidak akan dapat kau kuasai seluruhnya.”

Ki Garu Wesi tertawa pelan. Kemudian katanya,”Kau tidak seharusnya mempunyai sifat iri terhadap apa yang akan aku gapai, Kiai. Kau baru saja mengatakan bahwa apa yang kita ketahui mempunyai masa yang lebih panjang daripada raga yang menampungnya. Dan itu memberi pengertian tentang sesuatu yang baru yang akan berkembang di masa mendatang. Lalu aku kira kau tidak perlu khawatir mengenai perkembangan itu.”

Ki Jayaraga menyadari bahwa benturan keras tidak akan dapat dihindari. Ia mencoba untuk menahan Ki Garu Wesi hingga Agung Sedayu telah kembali ke rumah.

“Ki Garu Wesi,” berkata Ki Jayaraga, “aku kagum dengan semangatmu untuk bergerak maju. Meskipun kau tidak peduli dengan cara yang kau tempuh, namun aku harus mengakui bahwa untuk masa sekarang memang sudah jarang dapat ditemui orang tua dengan gairah yang menggelora. Tetapi kau akan menghadapi Agung Sedayu.”

Ki Garu Wesi tidak menjawab, hanya tatap matanya yang berkilat geram menyambar Ki Jagaraga.

“Tetapi dia akan mati,” sahut KI Garu Wesi dingin,”Ia harus menjadi kebodohan orang tua yang akan bersikap seperti pahlawan baginya.”

“Kau benar-benar lupa diri, Ki Sanak!” Ki Jayaraga yang kemudian melihat bagian belakang Ki Garu Wesi. Dan yakinlah Ki Jagaraga bahwa Ki Garu Wesi mendatangi rumah Agung Sedayu seorang diri.

Ki Garu Wesi telah mengukur waktu yang ia miliki. Demikian ia bersiap lalu bentakan nyaring terdengar dari mulutnya. Bentakan yang mengandung getaran yang sanggup mengguncang isi dada. Angin yang kuat keluar menyambar dari mulut Ki Garu Wesi menyerang Ki Jayaraga yang masih berdiri tegak dengan kedua lengan bersilang di depan dada.

Lalu dorongan tenaga itu hampur menerpa dada Ki Jayaraga, tiba-tiba telapak tangan Ki Jayaraga mengembang menyambutnya. Keduanya menjadi terkejut karena benturan dua tenaga yang tidak terlihat mata itu mampu menggetarkan seonggok batu yang berada di dekat mereka. Dalam pada itu, tubuh Ki Jayaraga tetap tegak berdiri. Sedangkan Ki Garu Wesi sendiri juga tidak bergoyang sedikit pun.

Ki Garu Wesi yang tidak pernah mendengar nama Ki Jayaraga menjadi penasaran terhadap ketinggian ilmu lawannya. Ia menerjang maju dengan serangan yang ganas dan mematikan. Terkadang ia melambari serangannya dengan bentakan-bentakan keras yang menggetarkan seisi halaman rumah. Namun Ki Jayaraga masih belum sepenuhnya mengerahkan kemampuannya. Ia masih berupaya untuk mengulur waktu sekaligus berusaha memancing lawannya agar menyerangnya semakin ganas dan tajam.

Meskipun serangan Ki Garu Wesi ganas dan tajam, akan tetapi sebenarnya ia tidak terlalu banyak bergeser tempat. Hanya tangan dan kakinya yang menyambar setiap bagian tubuh yang berbahaya. Maka yang terlihat adalah gerakan-gerakan sederhana yang mematikan sehingga tak jarang terjadi benturan-benturan yang sangat keras.

Ki Garu Wesi lambat laun menyadari apabila lawannya hanya mengulur waktu karena Ki Jayaraga tidak sekalipun membuat serangan yang berbahaya. Sambil menyerang lawannya, Ki Garu Wesi membuat perhitungan kekuatan sebenarnya dari Ki Jayaraga. Setelah ia mempunyai kesimpulan mengenai Ki Jayaraga, maka Ki Garu Wesi dengan penuh keyakinan, merasa tidak akan dapat meladeni perlawanannya dalam waktu lama. Ia harus segera lepas dari Ki Jayaraga yang terus  menerus mampu membendung serangannya.

”Lawan yang tangguh!” ucap Ki Garu Wesi dalam hatinya. “Aku tidak dapat berlama-lama di tempat ini.”

Karena itu, Ki Garu Wesi kemudian meningkatkan selapis demi selapis lebih tinggi dalam setiap serangannya.

Namun Ki Jayaraga yang menjadi lawannya tentu saja tidak dapat menyerah begitu saja. Ia semakin rapat membentengi dirinya dari serangan lawan yang tiada henti mengalir deras. Maka dengan begitu kemudian Ki Garu Wesi masih merasa membentur dinding kokoh. Semakin kuat ia menekan, semakin kuat perlawanan Ki Jayaraga. Setiap serangan Ki Garu Wesi berbalik memantul, kadang-kadang seperti meluap melebih tanggul sungai.

Tiba-tiba tubuh Ki Garu Wesi seolah lenyap dari pandangan mata. Begitu cepat ia bergerak dengan mendadak agaknya mampu mengelabui KI Jayaraga. Ki Jayaraga yang terkejut dengan perubahan sangat cepat itu tiba-tiba terdorong mundur ke belakang ketika sentuhan tangan lawannya yang membentur lengannya. Meskipun begitu, Ki Jayaraga dengan cepat mengembalikan keseimbangan lalu ia mencoba membalas dengan kaki yang terjulur menghantam pangkal paha Ki Garu Wesi.

Namun kemudian Ki Garu Wesi memutar tubuh dengan cepat. Sebuah tipuan gerakan berhasil mengecoh Ki Jayaraga saat tendangannya tidak mencapai sasaran. Kelengahan Ki Jayaraga akhirnya dapat digunakan oleh Ki Garu Wesi untuk melompat masuk ke dalam rumah Agung Sedayu.

2 tanggapan pada “KKG – Agung Sedayu Terpedaya 11”

    1. Ngapunten ki Totok..typo.. Bukan maksud hati tidak mengundang bancakan, tapi pasar sedang kebakaran.. hahaha.. matur nuwun..

Tinggalkan Balasan