KCG – Pertempuran di Rawa-rawa Ujung Galuh 17

Bentakan keras terdengar bersamaan ketika keduanya saling serang lagi. Pada satu kesempatan ketika keduanya surut terdorong ke belakang, Gumilang melayang cepat menerjang Patraman. Jantung Patraman berdesir karena dia melihat pedang Gumilang kini berada dalam genggaman tangan kiri. Perubahan yang demikian cepat benar-benar mengacaukan perhatian Patraman sekalipun begitu dia cepat menyesuaikan diri. Semakin dekat Gumilang dan selangkah lagi keduanya akan bertumbuk keras. Kaki Gumilang secara tiba-tiba menghunjam tanah dan tubuhnya melayang melintasi kepala Patraman. Patraman cepat menyesuaikan dirinya dengan melontarkan diri ke bagian kiri namun justru pada saat itu Gumilang sangat cepat memindahkan pedang ke tangan kanan. Terdengar pekik tertahan dan Patraman telah roboh dengan pedang yang menghunjam bagian dadanya.

Sesaat kemudian setelah mencabut pedangnya, Gumilang mengamati pertarungan Bondan dengan Ki Cendhala Geni yang mulai mendesak Bondan.

Serangan demi serangan Ki Cendhala Geni yang beruntun disertai pengalaman bertarung beratus-ratus kali menjadikan Bondan terancam bahaya. Sekalipun dirinya sanggup mengelak dari sabetan kapak namun angin yang ditimbulkan kapak mampu membuat kulitnya terasa pedih. Sedikit demi sedikit Bondan mulai terdesak. Ketika kaki kanan Ki Cendhala Geni menjulur ke lambungnya, Bondan menarik langkah mundur seketika dia melihat cahaya putih mengarah ke lehernya. Bondan berhasil mengelak namun ujung kapak masih menyentuh pundaknya dan meninggalkan selarik luka menganga.

Dengan keris yang tak lagi berada dalam genggaman, Bondan merasakan betapa sulitnya bertarung dengan lawannya. Namun begitu dia tidak merasa putus asa namun luka-luka di pundaknya kini mempengaruhi daya tahannya. Dia menyadari tubuhnya akan semakin lemah bila darah tak segera dihentikan. Tetapi melepaskan diri dari perkelahian bukanlah ciri-ciri ksatria. Dalam kebingungan Bondan mencari jalan keluar, tiba-tiba Gumilang telah menerkam Ki Cendhala Geni. Satu bentakan dahsyat mengawali serangan Gumilang.

“Baguslah jika demikian! Dua tikus Majapahit ini pasti akan berbahagia bila mati bersama-sama!” Ki Cendhala Geni menggeram penuh amarah.

“Kiai! Lihatlah ke pesisir!” seru Ubandhana sambil menghindari serangan Ken Banawa.

Ki Cendhala Geni segera melayangkan pandangan ke arah yang ditunjuk Ubandhana. Dia melihat bahwa pengawal Majapahit berhasil mendesak anak buah Patraman. Kini dirinya menghitung kemungkinan akhir dari pertempuran kecil ini. Jika pasukan Majapahit berhasil menumpas habis kawanan Patraman dan Laksa Jaya, maka kemungkinan besar yang terjadi adalah mereka akan membagi kelompok untuk membantu Ken Banawa dan kedua anak muda dari Trowulan ini.

Meskipun kemampuan tandang Ki Cendhala Geni sangatlah mumpuni namun dirinya juga harus memperhatikan akibat buruk jika Ubandhana akhirnya terbunuh. Tanpa dia sadari, ternyata Ubandhana juga berpikir seperti jalan pikiran Ki Cendhala Geni. Tanpa ada perintah atau tanda yang diberikan, dalam sekejap kemudian kedua orang ini serentak menyerbu lawannya masing-masing.

Ubandhana meningkatkan daya serangnya. Tombaknya berputar-putar meliuk-liuk menghantam setiap bagian pertahanan Ken Banawa. Angin yang tergerak karena tombaknya makin berdesir kencang. Ken Banawa tidak menyangka bahwa angin dari tombak lawannya itu sanggup menyakiti kulitnya.

Demikianlah Ken Banawa akhirnya harus mengimbangi serangan demi serangan Ubandhana yang semakin menggila. Lingkaran mereka semakin bergeser mendekati sungai kecil yang berada tak jauh dari rawa-rawa. Ken Banawa tentu akan mencegah tubuhnya terjatuh ke tebing sungai. Oleh karena itu dia mencoba mencari celah kelemahan serangan Ubandhana. Bersamaan dengan itu ketika dia melihat kelemahan Ubandhana, dengan cepat Ken Banawa menjulurkan satu pukulan ke bawah ketiak Ubandhana. Agaknya Ubandhana menyadari bagian yang terbuka lalu dengan cepat ia melontar ke samping dan secepat anak panah dirinya meloncat menuruni tebing. Ken Banawa sepenuhnya menyadari bahwa mengejar lawannya bukanlah tujuan utama pengejaran karena penyelamatan seorang putri dari pemimpin kadipaten adalah yang utama.

“Anak setan!” desis Ki Cendhala Geni mengumpat Ubandhana yang melarikan diri dari pertempuran. Namun kemudian senyumnya mengembang. Tanpa diduga kedua lawannya, ia menghantamkan kapaknya berturut-turut ke permukaan tanah.

Dalam sekejap tanah berhamburan menuju ke arah Gumilang dan Bondan. Serangan yang tidak disangka sangat membahayakan keduanya. Debu dan butiran tanah segera menghambur menutup mata serta wajah. Kulit keduanya terasa perih seperti ditusuk-tusuk jarum. Bondan dan Gumilang segera melentingkan tubuh satu putaran ke belakang. Karena tidak ada lagi tekanan yang menghimpitnya, Ki Cendhala Geni segera melesat meninggalkan rawa-rawa. Bondan menyadari hal itu dan segera mengejar Ki Cendhala Geni ke arah sungai. Sekalipun begitu, luka-luka di pundak Bondan masih mengalirkan darah begitu banyak hingga akhirnya ia menghentikan pengejaran. Dia hanya mampu melihat lawannya itu berlari cepat melintasi permukaan sungai menuju tebing sebelah selatan sungai lalu menghilang di balik rerimbun semak kering.

“Sungguh hebat. Siapa lagi yang dapat melakukan hal semacam itu?” gumam Bondan dalam hatinya melihat Ki Cendhala Geni ketika menjejakkan telapak kakinya ke permukaan air sungai.

Sementara itu di tempat yang berbeda, Ken Banawa segera memerintahkan para pengawal untuk merawat yang terluka meskipun itu dari pihak Laksa Jaya. Dia juga memerintahkan sebagian pengawal untuk merawat mayat yang terbunuh.

Kemudian berjalan mendekati Arum Sari yang belum sepenuhnya perubahan yang terjadi di sekitarnya.

“Arum Sari, keadaan sudah aman bagimu dan segera kami antar dirimu ke Wringin Anom,” kata Ken Banawa perlahan.

“Siapa engkau, Ki Sanak?” sahut Arum Sari.

“Ken Banawa. Aku seorang senapati Majapahit.”

“Tunjukkan padaku jika engkau benar pimpinan prajurit?”

“Gadis pemberani” gumam Ken Banawa dalam hatinya. Kemudian dia mengeluarkan sebuah besi berbentuk lingkaran dengan ukiran simbol prajurit Majapahit.

“Engkau mengenali apa yang ditanganku?” sambil menjulurkan tangannya yang mengenggam besi pertanda keprajuritan.

“Ya. Aku keluar sekarang,” jawab Arum Sari perlahan sambil memberi isyarat jika dia terikat.

Agaknya Arum Sari sedikit mengenal ciri khusus keprajuritan karena sering melihat kebiasaan para pengawal di Wringin Anom melakukan pertemuan di pendapa kademangan. Rupanya kebiasaan itu secara tidak sadar telah diingatnya dengan baik.

Tinggalkan Balasan