KKG – Agung Sedayu Terpedaya 12

Ki Jagaraga mengikuti pergerakan lawannya dengan kecepatan tinggi. Namun dadanya berdetak kencang, ia mulai khawatir terhadap perkembangan yang mungkin terjadi. Rumah Agung Sedayu dapat saja menjadi terbakar atau bahkan hancur lebur apabila ia tidak dapat mengekang Ki Garu Wesi secepatnya. Namun ia terlambat untuk menghadang Ki Garu Wesi yang berkelebat kesana kemari sambil menghantam perabot rumah Agung Sedayu. Bahkan dinding bilik Agung Sedayu telah hancur terhantam gelombang tenaga cadangan yang ia lepaskan.

Ki Jagaraga hampir tidak dapat menguasai diri. Ia menggeram marah melihat bagian dalam rumah Agung Sedayu yang porak poranda seperti terhempas angin puting beliung.

“Hentikan Ki Garu Wesi!” Ki Jagaraga menyerang Ki Garu Wesi dengan segenap kemampuan.

“Marilah!” Ki Garu Wesi menyambut Ki Jagaraga dengan melemparkan sebuah bangku kecil.

“Nasibmu akan berubah pada hari ini. Kau akan menyesali apa yang kau lakukan di rumah ini, Ki Garu Wesi!”

Serangan Ki Jagaraga menjadi semakin dahsyat. Ia ingin secepatnya mengalahkan Ki Garu Wesi sebelum terjadi hal buruk yang mungkin saja dapat terjadi. Tetapi tidak mudah bagi Ki Jagaraga untuk melumpuhkan Ki Garu Wesi. Ki Garu Wesi menghadapinya dengan cara yang berbeda. Ia tanpa segan membalas setiap serangan Ki Jagaraga.

“Kau seharunsya memberiku jalan, Ki Sanak,” berkata Ki Garu Wesi. “Dengan bertarung melawanku di dalam rumah ini, aku pastikan usiamu tidak akan lama lagi. Sementara kau sendiri tidak mengalami kerugian apapun bila kau biarkan aku membawa kitab milik Agung Sedayu.”

“Yang aku lakukan adalah kewajiban seorang keluarga. Agung Sedayu sudah aku anggap sebagai anakku. Begitu pula Kiai Gringsing yang telah mempercayaiku untuk mengamati Agung Sedayu. Aku tidak akan membiarkanmu berbuat semamumu!” sahut Ki Jagaraga sambil menghantam lambung Ki Garu Wesi.

Maka tubuh Ki Garu Wesi berputar semakin cepat. Sesaat kemudian ia membelit Ki Jagaraga dalam pusaran serangan yang datang beruntun. Benturan ilmu pun kemudian kerap terjadi pada keduanya.  Kekuatan Ki Garu Wesi benar-benar dirasakan oleh Ki Jagaraga seperti hantaman batu-batu yang longsor dari tebing. Sementara tubuh Ki Garu Wesi sangat gesit bergerak secepat belalang berloncatan.

Dalam benturan selanjutnya, keduanya semakin meningkatkan daya serang. Kedua orang yang telah berusia lanjut ini saling membelit, saling berputar dan saling menyerang seperti badai lautan. Bagian dalam rumah Agung Sedayu kini berubah menjadi medan pertempuran. Perabotan rumah berserakan dan hancur ketika angin dari tenaga cadangan datang menerjang. Benturan-benturan tenaga cadangan yang berbeda jalur perguruan telah menggetarkan dinding rumah.

Ki Jagaraga berusaha keras memancing lawannya agar bertarung di luar rumah, namun sepertinya Ki Garu Wesi tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya.

“Apakah orang ini telah kerasukan setan?” bertanya Ki Jagaraga dalam hatinya. Ki Garu Wesi sungguh seperti orang tak berperasaan. Sorot matanya menyala mengumbar keinginan yang belum padam.

Sambaran angin tenaga cadangan yang keluar dari setiap gerak tangannya tiada henti menerpa Ki Jagaraga. Dalam pada itu, Ki Jagara meningkatkan daya tahan tubuhnya namun ia masih bertarung dengan perhitungan matang.

Sejenak ia meloncat surut, kemudian Ki Jagaraga berkata,” Ki Garu Wesi, inikah yang kau lakukan untuk menjadi yang terbaik? Kau anggap bahwa merusak harta pribadi seseorang itu suatu kebenaran, kau anggap setiap tujuan harus dapat dicapai tanpa pengekangan diri. Lalu siapakah sebenarnya dirimu, Ki Garu Wesi?”

“Berhentilah berbicara, orang tua!” tukas Ki Garu Wesi. Ia berdiri di sudut ruang dan benda-benda rumah tangga Agung Sedayu telah berserakan di lantai rumah. Ia berkata kemudian,”Apakah kau menganggap dirimu adalah orang suci? Bukankah kau juga mempunyai keinginan, Ki Jagaraga? Kemudian kau musnahkan segala keinginan yang tumbuh dalam hatimu dan tanpa sadar kau telah membohongi dirimu sendiri.”

“Ki Garu Wesi,” sahut Ki Jagaraga,”Dengan perbuatanmu dan setiap sikap yang dilakukan oleh pengikutmu terhadap Tanah Menoreh maka sesungguhnya kau tidak pantas disebut sebagai manusia lagi. Kau telah mendorong rakyat tanah ini untuk jatuh ke dalam jurang binasa. Meskipun aku tahu kekuatan hati rakyat Menoreh, tetapi aku tidak akan membiarkanmu dapat memenangkan pertempuran yang terjadi di seluruh Tanah Menoreh.”

Ki Garu Wesi tertawa keras mendengar kata-kata Ki Jagaraga. Katanya,”Kejujuran yang selama ini kau banggakan sebenarnya penipuan yang meminjam nama kebersihan hati.”

“Aku tidak bangga dengan kejujuranku!” bantah Ki Jagaraga.

“Tentu saja kau akan berkata seperti itu,” sahut Ki Garu Wesi. “Dalam anggapanku, kejujuran dan kesetiaanmu adalah perbuatan keji yang terjadi begitu saja di Tanah Menoreh.”

“Lakukanlah sesuatu agar kau benar-benar dapat menjadi manusia suci, Ki Garu Wesi!” seru Ki Jagaraga sambil meloncat panjang menerjang Ki Garu Wesi. Dengan dahsyat ia menyerang lawannya, gerakan Ki Jagaraga berpusar hebat menimbulkan gemuruh angin seperti badai yang menyapu lereng Merapi. Sepasang kaki dan tangannya berputar melibat lawannya.

Dengan demikian maka perkelahian itu menjadi semakin sengit. Meskipun kulit keduanya telah memar namun keseimbangan perkelahian belum terpengaruh. Keduanya bertarung semakin garang. Selapis demi selapis perkelahian itu semakin menuju puncak. Namun tiba-tiba Ki Garu Wesi meloncat surut jauh, ia menyeringai tajam pada Ki Jagaraga. Tubuhnya sedikit merendah pada kedua lututnya yang renggang. Satu kepalan tinju telah siap memukul lantai rumah Agung Sedayu.

“Sulit!” desis Ki Jagaraga menghadapi perkembangan yang tidak terduga. Agaknya Ki Garu Wesi akan mengetrapkan ilmu yang mirip dengan ilmu Panjer Bumi miliknya. Maka Ki Jagaraga merasa segala sesuatu akan mengakibatkan rumah Agung Sedayu menjadi hancur. Dalam pada itu, Ki Jagaraga dihadapkan pada pilihan yang serba sulit. Karena ilmu Ki Garu Wesi akan tetap membuat rumah Agung Sedayu menjadi hancur berkeping-keping sekalipun ia menghindari benturan tenaga. Dan ia sendiri tidak yakin dapat lolos dari terjangan tenaga inti Ki Garu Wesi.

Dan sebaliknya, ia akan dapat menangkap Ki Garu Wesi apabila ilmu Panjer Bumi dibenturkan pada tenaga inti milik lawannya. Ki Jagaraga tidak melihat pilihan yang lebih baik dari membenturkan ilmunya. Maka kemudian ia bersiap diri melepaskan ilmu Panjer Bumi.

Tubuh Ki Jagaraga bergetar hebat ketika segenap kemampuannya mulai merambat setiap urat syaraf dan pembuluh darahnya. Selain itu, ia juga merasa sangat marah terhadap Ki Garu Wesi yang benar-benar tidak peduli lagi dengan akibat yang bakal terjadi.

Dengan demikian, maka kedua orang itu pun saling berdiri berhadapan. Tubuh mereka kokoh seperti patung yang terpahat pada tebing gunung. Keduanya akan menghentakkan ilmu yang berkekuatan dahsyat. Dalam pada itu, Ki Garu Wesi harus mengakui bahwa kekuatan orang-orang Menoreh memang sulit ditundukkan. Ia telah mendengar orang-orang linuwih yang berdiam di Menoreh namun ia sendiri merasa bernasib baik dengan perkelahiannya melawan Ki Jagaraga. Ia tidak dapat membayangkan apabila ia berhadapan dengan Agung Sedayu sendiri atau Ki Waskita atau mungkin Empu Wisanata. Tetapi Ki Jagaraga yang tidak terlihat bekerja keras menandinginya telah membuat kesan tersendiri dalam hatinya.

Dari sorot mata Ki Jagaraga, maka Ki Garu Wesi telah mengerti jika lawannya tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya sendiri. Sebenarnya Ki Jagaraga memang telah mencapai batas akhir perhitungannya. Ia harus bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan Agung Sedayu kepadanya. Ki Jagaraga tidak mempunyai pilihan lagi selain membenturkan kekuatan raksasa yang dimiliknya. Menurut Ki Jagaraga, lebih baik rumah Agung Sedayu hancur seluruhnya daripada Ki Garu Wesi berhasil membawa kitab Kiai Gringsing, meskipun ia tahu bahwa kitab itu berada di Sangkal Putung.

Pada saat mata mereka saling menatap dan menjenguk ke bagian dalam perasaan masing-masing,  Ki Garu Wesi kemudian melakukan gerakan yang tidak terduga. Ia meloncat pendek lalu menghantam lantai rumah Agung Sedayu.

Tinggalkan Balasan