KKG – Agung Sedayu Terpedaya 13

Saat hari semakin menjadi hangat, keadaan di dalam rumah Agung Sedayu menjadi semakin membara. Lontaran tenaga cadangan mengalir dari telapak tangan Ki Garu Wesi yang menyentuh lantai rumah seketika menjadikan udara menjadi hangat. Ki Jagaraga tidak dapat berbuat lain selain memusatkan perhatiannya pada lawannya itu.  Dalam pada itu, Ki Jagaraga merasa telah memasuki jebakan yang sengaja dilakukan oleh Ki Garu Wesi. Ia salah membuat perhitungan karena ternyata Ki Garu Wesi benar-benar bertindak diluar batas.

Sementara itu udara telah berubah cepat menjadi panas dan lantai yang diinjaknya seolah seperti api yang membakar telapak kakinya. Terkadang Ki Jagaraga merasakan sambaran angin panas yang keluar dari balik lantai rumah Agung Sedayu. Tubuh Ki Garu Wesi terkurung dalam udara panas yang memendarkan warna kemerahan. Sambaran angin semakin sering terjadi dan semakin lama semakin panas.

Serangan Ki Garu Wesi menjadi semakin dahsyat dan tenaga inti miliknya seolah sudah tidak dalam kendalinya lagi. Ki Jagaraga tidak mempunyai pilihan lagi selain bertarung antara hidup dan mati. Ia menyadari meskipun pada akhirnya Ki Garu Wesi dapat meloloskan diri namun perlawanan keras darinya akan dapat merubah keadaan dan pendapat orang lain terhadap dirinya. Ki Jagaraga juga memahami bahwa kematian Ki Garu Wesi pun tidak akan dapat mengurangi korban yang berjatuhan dari rakyat Tanah Perdikan. Tidak ada saat yang terbaik untuk mengalahkan Ki Garu Wesi melainkan saat-saat yang ia hadapi sekarang ini, pikir Ki Jagaraga.

Maka yang terjadi kemudian adalah Ki Jagaraga mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya. Lalu ia melepaskan tenaga intinya ketika tangannya telah terjulur menyentuh lantai. Benturan dua kekuatan raksasa pun kemudian terjadi. Namun dalam pada itu tidak ada suara ledakan yang terdengar. Kedua ilmu yang mempunyai kemampuan meruntuhkan bukit batu itu bertumbuk dengan halus namun akibatnya adalah tanah bergetar hebat seperti terjadi gempa bumi. Tiang penyanggah rumah Agung Sedayu pun tergetar seperti terhantam batu hitam yang berukuran besar. Sambaran angin panas yang keluar melalui tenaga inti milik Ki Garu Wesi pun beubah menjadi jilatan api saat berbenturan dengan ilmu Panjer Bumi.

Dengan demikian, maka di dalam rumah Agung Sedayu telah terjadi pertemuan besar dua kekuatan raksasa. Keduanya telah mengerahkan segala kekuatan yang ada dalam diri mereka masing-masing.

Sementara Ki Jagaraga dan Ki Garu Wesi tenggelam dalam adu kekuatan dahsyat, Ki Gede Menoreh telah memasuki halaman rumah Agung Sedayu. Ia dapat merasakan udara panas yang keluar dari bagian dalam rumah. Sambaran angin panas sesekali keluar dari dalam rumah dan menyambar para pengawal yang melangkah maju.. Sehingga kemudian para pengawal Menoreh bergeser menjauh. Hanya Ki Gede Menoreh seorang diri yang berdiri tegak selangkah dari pintu dan ia bertopang pada tombak pendeknya. Para pengawal itu menyadari, bahwa rumah Agung Sedayu bukan lagi menjadi tempat yang harus mereka amankan. Karena yang terjadi adalah nyawa mereka justru terancam apabila bergerak mendekati rumah Agung Sedayu.

Ki Gede menyaksikan kedua orang itu bertumpu pada lutut masing-masing dengan satu tangan menyentuh lantai. Ia dapat menilai keadaan yang terjadi di hadapannya. Meskipun terbersit keinginan untuk menolong Ki Jagaraga, namun keraguan pun datang  menyergapnya. Ia berpikir untuk membiarkan Ki Jagaraga menuntaskan perkelahian seorang diri, namun ia sendiri ingin dapat menangkap Ki Garu Wesi dalam keadaan hidup atau mati.

Kedatangan Ki Gede Menoreh di rumah Agung Sedayu bukanlah suatu kebetulan. Ketika Ki Jagaraga menghadang Ki Garu Wesi yang menyelinap memasuki pekarangna rumah, seorang pengawal sempat meklihatnya. Pengawal ini kemudian berlari menemui Ki Gede yang tengah berada di banjar pedukuhan. Ia melaporkan perkembangan yang terjadi di rumah Agung Sedayu, maka kemudian Ki Gede beserta beberapa orang pengawal pun memacu kuda menuju tempat pertemuan Ki Jagaraga dengan Ki Garu Wesi. Meskipun kedatangannya dapat dikatakan terlambat, tetapi Ki Gede telah dapat mengendalikan keadaan Tanah Perdikan Menoreh secara keseluruhan.

Di tempat yang lain, Sukra masih terlibat pertarungan keras dengan seorang lawan yang tangguh, Sukra mengalami keadaan yang sama dengan Ki Jagaraga. Ia harus bertempur dengan sekuat tenaganya.

“Anak petani sial! Hari ini adalah hari terakhir bagimu untuk bernafas di atas tanah ini,” kata lawan Sukra.

“Kau terlalu sombong, Ki Sanak. Lihatlah! Orang-orang sekelilingmu telah menyerah kalah lalu bagaimana kau dapat mengalahkan aku?” sahut Sukra.

Lawan Sukra itu pun segera menoleh sekelilingnya, ia menjadi tegang dan cemas karena Sukra memang berkata sebenarnya. Namun kemudian ia berkata,”Orang-orang biasa memanggilku sebagai Pager Waja. Kau akan mengalaminya sendiri, petani bodoh.”

Sukra menggeram marah mendengar hinaan anak muda yang menyebut dirinya sebagai Pager Waja. Namun Sukra masih dapat mengekang dirinya. Pesan-pesan yang sering ia dengarkan dari Agung Sedayu dan Ki Jagaraga agaknya terpahat kuat dalam jantungnya. Bahkan Sukra kemudian terbahak lalu berkata,” Pager Kayu, aku tidak tahu apakah saat ini aku sedang bermimpi atau memang menjalani sebuah kenyataan. Boleh jadi kau memang bernasib sial ketika memilihku sebagai lawan. Kau boleh tanyakan tentangku pada orang-orang Menoreh. Mereka akan menjawab bahwa aku adalah anak ajaib dari sungai Menoreh. Aku lahir di pliridan dan aku belajar kanuragan juga di dalam pliridan.”

Sementara Sukra masih merasa geli dengan kata-katanya sendiri, Pager Waja justru menjadi cemas. Ia tidak melihat rasa gentar dari sorot mata Sukra. Lalu ia dengan hati–hati membuat penilaian kembali tandang Sukra sebelum berkelahi melawannya.

Namun tiba-tiba Pager Waja dikejutkan oleh Sukra yang menyerangnya dengan tata gerak yang tidak terduga. Meskipun Sukra belum berhenti tertawa tetapi sikapnya itu membuat banyak orang merasa terkecoh. Tiba-tiba saja orang-orang disekitar mereka telah melihat Sukra melibat Pager Waja dalam serangan yang sengit. Sementara Pager Waja masih kebingungan dengan tata gerak Sukra yang dirasanya sangat aneh, tiba-tiba bagian luar telapak tangan Sukra telah menampar pipinya.

Kecepatan Sukra bergerak memang mengejutkan. Dan sepak terjang Sukra sepanjang pagi itu tidak lepas dari sepasang mata yang lekat mengawasinya. Orang ini berulang kali berdecak kagum dan sesekali menggelengkan kepala menyaksikan cara Sukra berkelahi. Ia telah membuat sebuah rencana maka karena itu ia datang ke Tanah Perdikan namun ia tidak berada pada saat yang tepat.

Dalam pada itu, Sukra bergerak dengan kecepatan melebihi kemampuan para pengawal pada umumnya.

Tinggalkan Balasan