KKG – Agung Sedayu Terpedaya 14

Rahang Pager Waja nampak mengeras. Ia merasa telah dipermalukan oleh Sukra dengan tamparan keras yang mendarat pada pipinya. Kini ia meloncat sambil menggerakkan pedangnya mematuk lambung Sukra. Sukra terkejut dengan sambaran pedang Pager Waja yang sedemikian cepat dan nyaris merobek lambungnya. Namun Sukra cukup cekatan dan sigap ia meloncat surut. Dan kemudian yang terjadi adalah Pager Waja mengalirkan serangan yang tiada terputus.

Tata gerak Pager Waja memberi Sukra pengalaman baru dalam perkelahian. Sukra telah banyak melihat unsur-unsur gerak dari orang-orang berilmu tinggi di Menoreh. Dari Perguruan Kedungjati hingga Ki Sadewa, namun apa yang dilakukan Pager Waja pada siang itu benar-benar memaksa Sukra untuk meningkatkan selapis lebih tinggi dari kemampuan yang ia miliki.

“Kau akan segera mengerti kerasnya sebuah tamparan, petani sial!” umpat Pager Waja yang terus mengejar Sukra dengan sengatan pedang.

“Terserah padamu,” kata Sukra,”Kalau kau yakin dapat berbuat apa saja, maka lakukanlah. Aku akan menunggu hingga kau berada di batas akhir kemampuanmu.”

“Sombong!” seru Pager Waja yang kemudian meloncat ke samping sambil menebaskan senjatanya hendak membelah lambung Sukra. Sukra yang belum mendapat kesempatan untuk menggunakan senjatanya, kembali bertumpu pada kecepatan geraknya yang luar biasa. Bahkan Pager Waja harus mengakui dalam hatinya bahwa kecepatan Sukra telah berada pada tingkat yang sama dengannya.

Sejenak Pager Waja meloncat surut, tetapi ia tidak memberikan Sukra kesempatan untuk memperbaiki kedudukan. Deru serangan Pager Waja kali ini datang lebih membadai. Senjatanya menebas silang, menyambar bahkan sering terlihat seperti gulungan cahaya yang membungkus tubuh Sukra.

Prastawa merasa cemas dengan perkembangan yang terjadi, ia mengira Sukra telah berada dalam keadaan bahaya maka kemudian ia memberi perintah para pengawal Menoreh lainnya yang berada di dekat lingkar perkelahian untuk segera mengepung rapat. Namun tiba-tia terdengar Sukra berteriak,”Biarkan aku tangani orang ini sendirian, Kakang. Aku masih baik-baik saja!”

Prastawa menarik nafas lega sekalipun ia masih khawatir dengan keselamatan Sukra, tetapi ia akhirnya memberi perintah mundur pada para pengawal.

Pager Waja yang melihat sikap Sukra pun dapat menyadari bahwa Sukra agaknya benar-benar telah bersiap dalam keadaan yang sebenarnya tidak memberinya keuntungan. Dalam pada itu. Sukra telah beralih cara bertempurnya. Gerakan Sukra kali ini lebih mantap, ia tidak lagi banyak menghindari serangan Pager Waja. Yang terjadi kemudian adalah Sukra mampu mengimbangi tata gerak Pager Waja yang awalnya telah membawa kebingungan terhadap dirinya. Sukra dalam waktu yang pendek telah membuat penilaian dan mampu melihat celah kelemahan yang ada dalam tata gerak lawannya. Dengan begitu, Sukra lebih percaya diri untuk membenturkan kekuatannya secara langsung.

Sukra pun kemudian mendapat kesempatan untuk meraih senjatanya berupa belati yang mempunyai panjang seukuran lengan mulai memberi perlawanan keras. Dada Pager Waja berdegup keras karena tata gerak Sukra ternyata dapat mengimbanginya meskipun goresan-goresan senjata telah menyentuh tubuh Sukra sebelumnya, namun agaknya luka-luka yang mengalirkan darah itu sama sekali tidak mengurangi sepak terjang Sukra.

“Anak petani! Bukankah memang lebih baik kau keroyok aku dengan bantuan dari teman-temanmu?” Pager Waja memancing kemarahan Sukra.

Namun Sukra tidak bergeming, justru ia menyahut,”Kau dapat buktikan padaku tentang namamu. Apakah benar kulitmu akan menjadi sekeras baja?”

“Petani sial!” bentak Pager Waja. “Anak muda Menoreh memang terlalu sombong. Ibumu akan menyesali kematianmu dengan terburainya isi perutmu dan kau sunguh-sungguh akan mengutuk dirimu sendiri karena sikapmu terhadapku. Pager Waja!”

“Marilah kita lihat,” sahut Sukra kemudian.”Apakah kau memang terlalu pandai bicara atau kau memang pantas membuat onar di Tanah Perdikan.”

Maka sejenak kemudian mereka bertempur dengan sengitnya. Tubuh mereka berloncatan sangat lincah dan sama-sama cekatan menghindari setiap serangan yang datang. Salah seorang dari mereka sekali-kali tampak terlihat seperti burung rajawali yang turun menukik tajam menyambar mangsa dengan garang. Pager Waja yang sebelumnya memandang rendah kemampuan Sukra menjadi geram dan marah, meskipun kadang-kadang ia mengagumi kehebatan Sukra. Betapa Sukra mampu menahan arus serangannya yang tidak berhenti mengalir dan sesekali Sukra membuatnya semakin berhati-hati karena Sukra mampu menerobos setiap bagian pertahanannya yang lemah.

Bercak darah yang bercampur terlihat berkilat-kilat tertimpa sinar matahari. Perkelahian itu semakin seru dan semakin membahayakan kedua anak muda itu. Lingkaran perkelahian kemudian menjadi semakin luas, sementara di tempat lain para pengawal Tanah Perdikan pun tampak mulai mengurangi kegiatannya ketika kerusuhan mulai berada dalam kendali Ki Gede Menoreh dan Prastawa. Mereka telah mengumpulkan teman-teman mereka yang mendapatkan luka, sebagian dari pengawal bahkan terlihat mulai membantu orang-orang yang kehilangan rumahnya karena terbakar.

Panas matahari yang mulai menyengat kulit tidak dirasakan oleh Sukra maupun Pager Waja. Lalu kemudian Pager Waja menyadari kemampuan Sukra yang luar biasa, akhirnya melapisi pertahanannya dengan ilmu kebal yang ia miliki. Oleh karena itu, setiap ujung senjata Sukra yang menembus gulungan pedangnya tidak lagi membuatnya kewalahan. Kulit Pager Waja telah berubah sekeras besi tebal.

“Gila! Kulitnya benar-benar sekeras baja!” desis Sukra dalam hatinya.

Pager Waja menyeringai tajam, kemudian katanya,”Apakah kau telah bersiap untuk mati, petani sial?”

“Tidak ada cara lagi untukku selain menang, Pager Kayu!” sahut Sukra seraya memukulkan belatinya pada pergelangan tangan Pager Waja.

Pager Waja menjadi terperanjat ketika lengannya bergetar dan rasa sedikit pedih merambati pangkal lengannya. Sebenarnya Sukra memang belum menyentuh kedalaman ilmu yang diajarkan oleh Ki Jagaraga dan Agung Sedayu hingga ia belum mengerti tentang tenaga cadangan. Namun ia sering menyaksikan Sekar Mirah berlatih tenaga cadangan lalu diam-diam Sukra memahat setiap gerakan Sekar Mirah dalam benaknya.

Lantas ia bergerak surut mendekati salah seorang pengawal yang berdiri sangat dekat dengan lingkaran perkelahian. Tampak Sukra membisikkan sesuatu pada pengawal itu yang kemudian menganggukkan kepala lalu menyusup keluar dari kerumunan orang-orang yang mengelilingi perkelahian Sukra. Sejenak kemudian Sukra melemparkan senjatanya dan tegak berdiri menghadap Pager Waja.

“Kau telah putus asa, petani sial,” berkata Pager Waja dengan nada menghina. Kemudian,” Kau belum  mengenal nama Pager Waja dan kau pasti mengalami kesusahan pada hari ini meski kau telah mengemis pertolongan pada kawan-kawanmu. Aku pastikan sekali lagi kau akan menyesal karena memilih Tanah Perdikan sebagai tempat tinggalmu.”

Dalam pada itu, pengawal Tanah Perdikan telah kembali dan mengulurkan sepasang bambu berukuran pendek. Pager Waja mengerutkan keningnya melihat Sukra kini bersenjatakan dua bilah bambu yang berukuran tidak terlalu besar. keris itu. Kemudian ia berteriak,”Kau akan melawanku dengan bambu? Lihatlah dirimu, petani sial! Kau bahkan tidak mampu menggores kulitku dengan belati dapur itu.”

“Diamlah, Pager Kayu!” sahut Sukra,”Kau perhatikan baik-baik apa yang akan aku lakukan dengan bambu ini padamu.”

Tinggalkan Balasan