KCG – Pertempuran di Rawa-rawa Ujung Galuh 18

“Terima kasih Ki Banawa. Aku akan sampaikan ini kepada Ki Demang. Dan secara pribadi aku harap ayah sudi mengundang para prajurit terutama Ki Banawa untuk sekedar mengucap terima kasih atas pertolongan ini,” kata Arum Sari sambil terisak tangis. Dadanya terasa lapang dan lega karena seolah dia telah bebas dari cengkeraman serigala dan anjing liar.

“Ah sudahlah. Ini adalah kewajiban kami semua selaku pengemban keamanan wilayah Majapahit,” Ken Banawa merendah.

“Siapa anak muda yang berjalan kemari itu, Ki?” tanya Arum Sari ketika melihat Bondan berjalan perlahan menuju ke tempat mereka.

“Dia Bondan. Bondan Lelana seperti kami biasa menyebut namanya.”

“Oh,” desah Arum Sari dan hampir saja terlontar pertanyaan serupa ketika dia melihat seorang anak muda dengan busur di punggungnya. Tetapi dia menahan dirinya agar tak dinilai sebagai gadis yang tidak tanggap keadaan.

Ken Banawa lantas memerintahkan untuk segera merawat yang terluka dan menyelenggarakan jenazah bagi yang meninggal dunia dari kedua pihak.

“Bondan, bagaimana dengan luka-lukamu?” Ken Banawa menghampiri Bondan yang sedang merawat luka-lukanya dengan serbuk obat yang dibawanya sendiri.

“Agak lebih baik, paman. Darah sudah berhenti dan mungkin satu dua hari ini lukanya akan menutup,” jawab Bondan sambil menahan rasa pedih yang disebabkan oleh obat.

“Bagaimana menurutmu jika Ra Caksana dan beberapa pengawal menyertaimu melacak jejak Ki Cendhala Geni dan Ubandhana?”

“Tak mengapa karena rasanya mereka juga tidak akan berlari jauh kembali ke Wringin Anom ataupun Sumur Welut.”

“Baiklah dengan begitu aku tinggalkan beberapa orang besertamu dan Gumilang akan menyertaiku mengantarkan Arum Sari ke Wringin Anom. Segera beritahu kami jika engkau mempunyai kabar penting tentang kedua orang itu.”

“Baiklah, paman. Selamat jalan.”

“Selamat jalan, ngger.”

Kedua kelompok ini segera berpisah dan sekilas Bondan menatap wajah Arum Sari namun dirinya segera memalingkan mukanya. Entah mengapa ada semacam desir aneh yang merambati hatinya.

Kelompok yang dipimpin Ken Banawa segera bertolak ke Wringin Anom dengan membawa beberapa tawanan dan orang yang terluka. Sedangkan Bondan dan Ra Caksana beserta beberapa prajurit berkuda ke arah selatan menyusuri sungai.

“Perjalanan ini akan berat, Arum Sari. Selain kita membawa prajurit yang terluka juga ada tawanan yang terluka. Aku harap tidak ada keberatan darimu bila kita menempuhnya dengan berjalan kaki,” kata Ken Banawa perlahan kepada Arum Sari yang berjalan di sampingnya.

“Tidak, paman. Keadaan ini jauh lebih baik meskipun perlahan tetapi kita secara pasti menuju Wringin Anom.”

“Semoga demikian. Dan aku harap kawanan Ki Cendhala Geni tidak mengejar kita karena aku pikir mereka sudah tidak ada kepentingan dalam hal ini.”

“Semoga begitu, paman.”

Siang itu matahari bersinar terang namun tak begitu terasa panas. Semilir angin yang berhembus sela-sela beberapa hutan kecil yang mereka lalui cukup memberi rasa damai di hati Arum Sari. Namun tidak demikian bagi para tawanan yang merasa perjalanan ini sangat mencekam. Karena bagaimanapun juga sebagian tawanan adalah prajurit Majapahit dibawah pimpinan Patraman.

Sementara itu Bondan dan kelompok yang dipimpin Ra Caksana mulai menyusuri sungai kecil yang melintas di tepi Alas Jatipurwo. Setelah menyeberangi jembatan kecil, mereka berpencar dalam kelompok kecil.

Terdengar suitan nyaring ketika Ki Cendhala Geni melintas di bawah pohon asam yang besar batang pokoknya seukuran dua lengan orang dewasa. Tak lama kemudian dari rerimbun semak terdengar desir langkah orang berjalan mendekatinya.

“Mereka benar-benar licik, kiai,” kata Ubandhana sambil meloncat kecil menghampiri Ki Cendhala Geni.

“Hmm, aku tak menyangka ternyata engkau cerdik juga, anak muda. Aku kira engkau cukup berani dengan bertempur sampai akhir,” Ki Cendhala Geni menyahut sambil terus berjalan tanpa melihat mata Ubandhana.

“Aku kira sangat bodoh jika pertempuran tadi harus diakhiri dengan kematianku. Bukankah kiai sudah mengetahui kekuatan tiga orang itu? Ditambah lagi dengan pasukan mereka yang ternyata cukup lumayan kemampuannya.”

“Iya engkau benar-benar cermat. Sejujurnya aku sangat kecewa sekali dengan kekuatan orang yang dibawa oleh kedua orang dungu dari Wringin Anom itu. Seharusnya mereka membawa orang yang lebih banyak.”

“Kemana kiai akan pergi?”

“Hmm, Kahuripan sekarang bukanlah tempat yang aman untukku. Mungkin sekarang sudah dikuasai kembali oleh prajurit Majapahit. Dan tidak menutup kemungkinan orang-orang Wringin Anom akan mencariku ke sana.”

“Mengapa kita tidak mencoba untuk mengambil kembali gadis itu, Kiai? Bukankah saat ini mereka pasti menuju Wringin Anom?”

“Tidak. Kita hanya berdua saja, sedangkan mereka sekalipun pasukannya tidak utuh lagi tapi ada kemungkinan telah mengirimkan kabar itu ke Wringin Anom. Sehingga dengan demikian, ki demang dapat saja mengirim bantuan atau mungkin juga ada sejumlah prajurit yang menyusul ke rawa melalui jalan yang mereka lewati saat berangkat. Kita sama sekali tidak tahu.”

“Jadi menurut kiai, apakah kita akan bersembunyi sekarang?”

“Tentu saja. Ki Srengganan mungkin sudah dihukum mati oleh utusan dari kotaraja. Sementara ini kita harus mencari tempat yang cukup aman untuk menghilang dari kejaran prajurit-prajurit Majapahit. “

Tinggalkan Balasan