KKG _ Agung Sedayu Terpedaya 15

Sukra bergerak lincah. Dua bambu yang tergenggam erat olehnya mematuk dan menyambar pager Waja dari segala arah. Ia tidak mempunyai keraguan kala merasa harus menetak pedang Pager Waja. Pager Waja mengumpat tiada henti kala Sukra mulai dapat mencari keseimbangan. Setiap kali Pager Waja berusaha menekan Sukra, maka yang terjadi adalah Sukra selalu mampu berkelit darinya. Bahkan tak jarang bambu yang menjadi senjata Sukra dapat memukulnya apabila ia tidak mempunyai kecepatan yang sama dengan Sukra. Maka semenjak Sukra bersenjatakan dua bilah bambu, perkelahian itu menjadi sulit diperkirakan.

Kedua anak muda yang mempunyai jalur yang berbeda dalam mengembangkan olah kanuragan itu benar-benar terlibat sangat dalam dan menggetarkan. Keduanya saling membelit dan menerkam, sementara senjata mereka saling menyambar dan menebas. Namun dalam pada itu, nyatalah bagi Pager Waja bahwa Sukra sebenarnya mempunyai kekuatan yang terpendam tanpa disadari oleh Sukra sendiri.

Sukra yang sering melihat Sekar Mirah berlatih tenaga cadangan sebenarnya diam-diam menirukan setiap gerakan Sekar Mirah yang terpahat dalam jantungnya meski hanya sekilas melihatnya. Pada perkelahian itu, Sukra yang beberapa kali meloncat surut agaknya  berusaha keras mengingat gerakan-gerakan Sekar Mirah. Selain itu, ia juga mendapat tempaan dari Ki Jagaraga tentang tata cara mengatur pernafasan. Maka yang terjadi kemudian adalah Sukra telah menyalurkan tenaga cadangan yang merambati setiap bagian senjatanya. Oleh karena itu Pager Waja merasa bahwa angin tidak lagi berpihak padanya. Ia menyaksikan sendiri kedua bambu di tangan Sukra tidak mengalami kerusakan yang cukup berarti sekalipun berulangkali berbenturan dengan kedua sisi tajam senjatanya. Pager Waja yang tidak ingin menerima kekalahan dari lawan yang dianggapnya sebagai anak ingusan pun membenahi tata geraknya.

Pada saat itu di lingkaran lain, Agung Sedayu hanya sekali-kali mengamati perkelahian Sukra, ia tidak dapat terlalu lama melepaskan perhatian pada Ki Tunggul Pitu yang sangat tangguh dan ulet. Agung Sedayu menganggukkan kepalanya kemudian katanya dalam hati,”Aku tidak pernah mengetahui sejak kapan anak itu melatih kedua tangannya untuk memegang senjata. Lagipula aku dan Sekar Mirah belum berjalan jauh bersamanya mengenai tenaga cadangan. Tetapi ia memang tidak mengecewakan orang-orang Menoreh.”

Sementara itu sepasang mata yang membaur dengan orang-orang lainnya pun berulang kali mengangguk. Sekali-kali ia mengamati pertarungan Agung Sedayu, namun agaknya ia lebih banyak memperhatikan Sukra yang belum menunjukkan kemunduran.

“Petani sial! Kau belajar darimana cara berkelahi semacam ini? Agaknya kau merambah semua jalur yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan,” geram Pager Waja bertanya.

“Diamlah!” sahut Sukra. “Aku katakan padamu bahwa aku mempunyai jalur perguruan yang khusus dan satu-satunya yang ada di Mataram.”

“Dasar petani sial!” Ia menusukkan pedang pada lambung Sukra, tetapi Sukra dengan sigap melangkah surut dan tiba-tiba membuat loncatan pendek ke samping lalu menyambar Pager Waja dengan sabetan yang sangat deras. Bilah bambu itu secepat kilat menghantam kepala Pager Waja, tetapi ia bukanlah anak muda yang baru belajar kanuragan sepekan yang lalu. Ia telah bersiap saat dilihatnya Sukra meloncat ke samping. Maka ia dengan tangkas memapas serangan Sukra dengan menghantamkan bagian tajam pedangnya dengan kekuatan sepenuhnya. Benturan itu demikian kerasnya hingga keduanya merasakan kesemutan hingga pangkal lengan. Namun begitu, Pager Waja dengan cepat menyerang Sukra dengan pedangnya yang telah beralih ke tangan kiri. Tetapi Sukra ternyata lebih memilih untuk menghindar. Ia meloncat surut, kadang-kadang berlari menjauh. Dan ketika dirasakan olehnya rasa kesemutan itu menghilang, Sukra memenerjang lawannya dengan garang.

Pager Waja pun kemudian meniru Sukra yang berlarian saat menghindar dari serangannya. Maka yang terjadi kemudian adalah keduanya saling berkejaran, saling menjauh saat salah satu diantara mereka menyerang dengan garang. Sekali-kali Pager Waja mengeluarkan ejekan untuk membongkar ketahanan hati pengawal Menoreh yang tangguh ini. Namun sampai pada waktu itu, Sukra masih mampu bertahan atas kata-kata kasar yang keluar dari mulut Pager Waja.

Sukra membalas setiap ucapan Pager Waja dengan serangan-serangan yang sangat berbahaya. Melihat keadaan lawannya yang tidak terpancing kata-katanya, Pager Waja pun membalas serangan Sukra dengan gebrakan yang tak kalah garang. Pertempuran antara keduanya kembali menjadi semakin sengit.

Orang-orang yang melingkari mereka pun sampai menahan nafas karena pertarungan itu sedemikian sengit dan seru. Mereka tidak mempunyai perkiraan tentang siapa yang kalah dan menang karena kedua anak muda itu berada dalam kedudukan yang seimbang. Satu dua orang mencoba berbisik pada orang yang berdiri disebelahnya, namun kebanyakan dari mereka hanya menggelengkan kepala. Akan tetapi orang-orang itu sepakat dalam sebuah pendapat bahwa Sukra memang lebih maju dengan pesat jika dibandingkan enam bulan sebelumnya.

“Aku tidak akan mampu melawannya dengan kemampuannya saat ini,” berkata seorang pengawal pada temannya yang menyodorkan bambu pada Sukra.

Lalu ia membuka mulutnya dan berkata,”Mungkin kita akan seimbang jika kita bertiga melawan Sukra yang sendirian saja.”

Beberapa pengawal yang mendengar percakapan mereka berdua kemudian menganggukkan kepala. Nampaknya Sukra memberi kebanggaan tersendiri dalam dada para pengawal.

Pedang Pager Waja berputar-putar sangat cepat seolah berubah menjadi selimut cahaya yang rapat menutup tubuhnya dari serangan balasan Sukra. Meski begitu, bambu di tangan Sukra masih mampu untuk menyengat lawannya. Apabila bambu yang di tangan kiri membentur pedang Pager Waja, maka secepat itu pula bambu yang di tangan kanan mematuk bagian leher Pager Waja. Maka dengan begitu keduanya kini terlibat saling menerobos selubung rapat pertahanan lawannya. Satu tusukan benda tumpul dari Sukra dapat berujung maut bagi Pager Waja dan sebaliknya satu goresan pedang Pager Waja akan dapat mencabut nyawa Sukra.

Mereka berdua telah bertarung mengerahkan segenap kemampuan hingga batas puncak yang mereka miliki. Sepasang mata yang lekat mengamati Sukra menggelengkan kepala, ia bergumam pelan,”Keduanya akan habis.”

Memang sebenarnya tanpa disadari oleh Sukra dan Pager Waja, kekuatan mereka sesungguhnya telah menurun. Mereka berdua terlihat masih tangkas dan cekatan dalam bergerak, tenaga keduanya pun seolah masih berkekuatan raksasa namun bagi mata orang yang berilmu tinggi maka pertarungan itu akan mencapai batas akhir.

Untuk beberapa lama mereka masih terlibat pusaran tinggi perkelahian. Namun sepertinya Sukra dan Pager Waja mulai sadar dengan perubahan yang terjadi pada diri mereka.

“Pager Kayu! Apakah kau mempunyai nyawa cadangan?” bertanya Sukra. Kemudian,”Lihatlah dirimu, kau mulai tersengal-sengal. Menyerahlah padaku, aku akan menjadikanmu seorang kawan bermain.”

“Petani sial! Kau memang tak punya malu, anak kecil! Lihat kedua lututmu yang mulai gemetar karena kau begitu takut padaku,” sambil berkata demikian, Pager Waja menebaskan senjatanya pada kaki Sukra yang dekat dengannya.

Sukra sedikit terlambat menarik kakinya, maka ujung pedang Pager Waja mampu menyentuhnya. Darah pun mengalir dan itu ternyata membuat Pager Waja terlena. Sukra lantas mengambil kesempatan itu dengan sangat cepat, ia memukulkan bambu pada tulang kering Pager Waja. Sekejap kemudian keduanya kembali saling serang dengan kekuatan yang telah berkurang.

Tinggalkan Balasan