KCG – Pertempuran di Rawa-rawa Ujung Galuh 19

“Aku sudah tidak mempunyai tempat untuk bersembunyi. Bagiku saat ini adalah mencari kesempatan untuk menyelesaikan semua persoalan ini. Dan andai saja ada kesempatan lagi untuk bertemu dengan dengan Bondan,” ungkap Ubandhana yang sedikit cemas tapi juga mempunyai harapan untuk berhadapan lagi dengan Bondan.

“Baiklah, jika demikian kita akan menuju pedukuhan Bulak Banteng. Aku mempunyai kawan yang merupakan seseorang yang terpandang di sana. Seseorang yang terhempas ke dalam jurang tak berbatas karena hak yang direbut dari Sri Jayakatwang.”

“Benar. Memang tak seharusnya ayah Sri Jayanegara merebut tahta Kediri. Apalagi ia begitu licik dengan mengarahkan prajurit berkulit kuning itu ke Kediri.” Ubandhana berkata dengan tangan terkepal. Kemudian ia bertanya lagi,“sungguh menarik. Tentunya orang ini masih belum begitu tua ketika dia membantu Sri Jayakatwang. Tetapi mengapa kiai tidak pergi ke padepokan Alas Cangkring?”

“Justru karena Mpu Gemana terbunuh maka aku datang ke Bulak Banteng. Tidak mungkin bagiku berada di padepokan yang berada dalam pengawasan prajurit dari kotaraja. Di Bulak Banteng akan ada seorang teman yang senang jika kita dapat bekerja sama merebut kotaraja.”

“Oh, siapakah dia?”

“Dulu dia seorang senapati dalam pasukan Jayakatwang. Kemudian ia memilih Bulak Banteng untuk mengumpulkan kekuatan yang berserakan. Namun kematian Mpu Gemana ternyata mengusik ketenangannya.” Ia terdiam sejenak sambil memandangi kapaknya. Ia melanjutkan,“beberapa hari yang lampau, dia mengirim utusan untuk menemuiku dan bertanya tentang kebenaran berita kematian Mpu Gemana. Dan dia juga menawarkan kepadaku untuk turut serta bergabung menuntut balas kematian Mpu Gemana sekaligus menggantikan Jayanegara dengna orang lain yang berada di kisaran kotaraja. Yah, orang ini bernama Ki Sentot Tohjaya,” Ki Cendhala Geni mengakhiri penjelasannya.

“Ki Sentot Tohjaya? Aku pernah mendengar nama itu.”

“Agaknya engkau memang pantas menjadi seorang rangga di pasukan Ki Sentot,” derai tawa Ki Cendhala Geni ketika melirik wajah Ubandhana yang serius menyimak penjelasannya.

Lalu kedua orang ini pun tertawa sambil melangkahkan kaki membelah rumput ilalang menuju jalan setapak yang akan membawa mereka menuju pedukuhan Bulak Banteng. Beberapa lama kemudian mereka telah melihat sejumlah rumah beratap ijuk di luar pedukuhan. Sambil berjalan melintasi pategalan yang ditumbuhi ubi dan ketela, mereka berdua cukup terlindungi dari sinar matahari sore oleh sederet pohon pisang yang seperti berbaris di sepanjang jalan.

“Kita akan memasuki pedukuhan induk Bulak Banteng selepas senja.”

“Hmm, baiklah. Memang lebih baik sedikit orang yang tahu tentang kehadiran kita di tempat ini, kiai.”

Sejenak kemudian kedua orang ini lantas menepi dan merebahkan diri di atas rumput kering yang berada di sekitar pohon pisang di tepi jalan. Parit yang mengalir di bawah mereka ternyata cukup jernih untuk sekedar membasuh tangan dan muka. Bagaimanapun juga tubuh kedua orang ini mengalami kelelahan setelah pertempuran menjelang dini hari sebelumnya.

“Kita istirahat bergantian. Aku yang pertama, bangunkan aku jika matahari barat sudah menyilaukan mata,” kata Ki Cendhala Geni sembari merebahkan tubuhnya.

“Baiklah kiai. Aku yang berjaga dulu,” kata Ubandhana dengan muka masam.

Selain sedikit terlindung dengan semak yang tidak seberapa tinggi juga keadaan yang menjelang senja itu tampaknya membuat orang menghindari perjalanan di gelap malam.

Pada malam yang sama di Kahuripan, Ki Srengganan menjadi murka mendengar laporan seorang pengawal yang mengatakan jika Ki Cendhala Geni telah meninggalkan kepatihan. Tangan kanannya terkepal dan nampak membara hingga pangkal siku. Bibirnya terkatup erat lalu ia bangkit dari tempatnya duduk dan berkata,”aku akan membunuhnya!” Kemudian ia berjalan keluar ruangan dan seorang pembantunya yang setia mengikuti dengan tombak pendek terhunus.

Ra Pawagal didampingi Gajah Mada berjalan memasuki halaman keraton Kahuripan. Agaknya kedatangan mereka telah diketahui oleh Ki Srengganan yang berdiri tegak dengan sebuah tombak panjang tergenggam.

“Seluruh pasukan yang bersamamu telah terkurung dan menyerah, Ki Srengganan,” seru Ki Ra Pawagal lantang. Ia meneruskan,”jika kau menyerah, aku akan meminta Sri Jayanegara untuk memberi ampunan padamu.”

Tinggalkan Balasan