KKG – Agung Sedayu Terpedaya 17

Para pengikut Ki Garu Wesi mendengus marah, tetapi mereka tidak dapat melakukan apapun. Angan-angan dan mimpi serta harapan yang telah setia menemani selama ini menjadi pupus. Beberapa diantara mereka bahkan tidak mempunyai keberanian untuk sekedar berharap dapat hidup. Dalam keadaan terikat dan berada dalam pengawasan lekat para pengawal Menoreh yang telah telanjang senjata, pengikut Ki Garu Wesi merasa tidak ada lagi yang dapat diharapkan memberi pertolongan.

Tampak beberapa orang Menoreh berusaha mendesak para pengawal yang berbaris mengelilingi para tawanan. Nampaknya mereka ingin melampiaskan kekesalan dan amarah pada gerombolan yang baru saja menyalakan kerusuhan di Tanah Menoreh. Dalam pada itu, berbagai senjata teracung liar ke arah para tawanan. Wajah-wajah yang dirundung duka bercampur marah terpancar jelas dari raut wajah orang-orang yang menjadi korban. Tetapi para pengawal dengan sabar mengingatkan rakyat Menoreh agar tetap bersabar menunggu keputusan Ki Gede Menoreh. Diantara pengawal pun ada yang menjadi korban kerusuhan, namun pengawal-pengawal itu sadar bahwa keadaan akan menjadi tak terkendali apabila mereka menuruti kata hati.

Demikianlah kemudian Prastawa berulang-ulang mengirim petugas penghubung untuk membantunya meredakan suasana yang nyaris tidak terkendali. Untuk kesekian kali, rakyat Menoreh kembali menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang dapat mengendalikan diri dan berjiwa besar. Kecintaan mereka pada tanah kelahiran dan Ki Gede Menoreh serba sedikit telah membantu memulihkan hati yang terluka. Kebersamaan mereka telah membuat mereka tidak merasa sendiri dalam derita. Dalam waktu yang tidak lama, ketenangan telah memenuhi setiap penjuru Tanah Perdikan.

Ketenangan dan kebersamaan itu pun akhirnya menyusup dalam relung hati orang-orang yang berada di sekitar lingkar tawanan. Perubahan yang terjadi semakin membuat gentar hati pengikut Ki Garu Wesi. Mereka saling memandang tetapi tidak berkata-kata. Sorot mata cemas tentang nasib mereka juga terpancar jelas.

“Ki Tunggul Pitu! Memang tidak terjadi pertempuran seperti yang direncanakan, tetapi bukankah kau sendiri telah mendapat keuntungan atas kerusuhan yang terjadi?” teriak salah seorang pengikut Ki Garu Wesi. Lalu terdengar seorang lagi menimpali,”Kemudian kau tinggalkan gelanggang layaknya seorang pengecut!”

“Sudah barang tentu aku mendapatkannya, dan aku tidak mengerti maksudmu tentang pengecut,” sahut Ki Tunggul Pitu. Kemudian ia berpaling pada Agung Sedayu,”Namun tidak seorang pun dari orang biasa di Menoreh yang merasa kehilangan atas apa yang aku lakukan.” Tatap mata penuh arti dari Ki Tunggul Pitu membuat Agung Sedayu mengernyitkan dahinya.

Agung Sedayu masih belum dapat menduga maksud Ki Tunggul Pitu. Namun kemudian ia melambai memanggil seorang pengawal. Agung Sedayu membisikkan satu dua patah kata yang diiringi anggukkan kepala pengawal. Sejenak kemudian, pengawal itu meninggalkan Agung Sedayu dan berlari kecil keluar dari kerumunan banyak orang.

“Guru!” terdengar Pager Waja berteriak memanggil Ki Tunggul Pitu. Pada saat itu, Pager Waja terduduk lemas di hadapan Sukra yang tampak berusaha tegar berdiri.

“Apakah kau akan meninggalkanku dengan sekumpulan orang-orang bodoh ini?” Pager Waja nyaris tidak percaya ketika ia mendengar kata-kata Ki Tunggul Pitu.

“Apa lagi yang dapat aku lakukan untukmu, murid sial?” sahut Ki Tunggul Pitu.

“Tetapi aku adalah muridmu satu-satunya,” kata Pager Waja yang berusaha untuk berdiri.

“Dan kau ternyata sama-sama bodohnya dengan orang-orang Ki Garu Wesi,” Ki Tunggul Pitu seperti benar-benar tidak peduli nasib Pager Waja.

“Pengkhianat!” Pager Waja membentak keras dan ia mencoba meloncat panjang menerkam Ki Tunggul Pitu. Tetapi perkelahiannya dengan Sukra ternyata telah menguras habis seluruh kekuatannya. Maka kemudian ia jatuh terguling.

Pager Waja yang tengkurap lemah menyambar wajah gurunya dengan sorot mata berkilat. “Benar yang dikatakan oleh mereka,” desis Pager Waja,”bahwa kau seorang pengecut!”

Ki Tunggul Pitu tertawa keras. Kemudian ia berkata,”Lihatlah dirimu, murid sial! Bertahun-tahun kau menyerap ilmu dariku tetapi kau tidak dapat mengalahkan seorang petani bodoh.” Ia menarik nafas panjang, lalu katanya lagi,”Pager Waja! Aku akan tinggalkan dirimu bersama pengikut Ki Garu Wesi. Aku berharap kau dapat mengenali kelemahan yang ada dalam dirimu bersama petani bodoh yang menjadi lawanmu. Namun apabila Ki Gede menghendaki keputusan yang berbeda dengan harapanku, aku harap kau dapat mengingat pelajaran penting pada hari ini. Kemudian kau akan belajar tentang kebaikan sifat pengecut.”

“Diam!” Sukra membentak Ki Tunggul Pitu. Lalu,”Kau adalah orang tua licik dan culas yang bernasib baik karena tidak melawanku sejak semula.” Sukra dengan cerdik berusaha memancing kemarahan Ki Tunggul Pitu. Ia menyadari bahwa ilmunya beum seujung kuku hitam Ki Tunggul Pitu, tetapi Sukra berharap dapat menarik kendali Ki Tunggul Pitu sehingga Agung Sedayu akan lebih mudah mengalahkan guru Pager Waja.

Tetapi Ki Tunggul Pitu agaknya mengerti permainan Sukra. Tanpa menoleh pada pengawal Menoreh yang kekuatannya mengejutkan itu, ia berkata,”Sudahlah, kau belum pantas untuk memulai perang tanding denganku.”

Ki Tunggul Pitu memandang sekelilingnya. “Kita akan berjumpa lagi, Agung Sedayu,” lantang Ki Tunggul Pitu berkata. Lalu ia mendorongkan kedua tangannya yang terkembang ke arah Agung Sedayu. Tiba-tiba dari kedua telapak tangannya keluar angin  kencang menerjang tubuh Agung Sedayu. Dorongan tenaga inti itu dirasakan oleh Agung Sedayu seperti sebongkah batu sebesar kerbau, ia terdorong surut beberapa langkah namun ia masih dapat menahan tubuhnya agar tidak roboh terjengkang. Debu-debu mengepul tebal menganggu pandangan mata banyak orang. Dan ketika debu telah menjadi tipis dan deru tenaga inti Ki Tunggul Pitu telah sirna, maka sosok Ki Tunggul Pitu telah lenyap dari tempatnya berdiri.

Agung Sedayu sebenarnya mengetahui Ki Tunggul Pitu berkelebat pergi, namun ia menahan diri karena sebuah pertimbangan yang telah ia putuskan. Maka kemudian ia hanya memandang arah kepergian Ki Tunggul Pitu, sementara orang-orang Menoreh hanya menatapnya dengan mata yang menyimpan keheranan.

Sementara itu sepasang mata yang tajam mengamati Sukra pun beringsut mundur dan ia memutuskan untuk bermalam di Tanah Perdikan. Tetapi langkah kakinya kemudian berhenti saat ia mendengar lirih pelan isak tangis seorang wanita.

“Apa yang terjadi pada Ki Rangga?” tanya seorang yang memegang kain basah.

“Aku tidak tahu,” jawab orang disebelahnya.

Prastawa yang mendengar mereka kemudian berkata,” Ki Rangga tentu mempunyai pemikiran lain sehingga ia membiarkan lawannya melarikan diri. Tetapi, kita akan disibukkan dengan para tawanan ini. Marilah, Ki Sanak berdua membantu para pengawal untuk mengurusi orang-orang ini di rumah Ki Gede.”

Beberapa orang kemudian mengikutinya, namun tiba-tiba terdengar lengking suara yang menyiratkan kemarahan dan kesedihan yang berbaur menjadi satu. Orang-orang menoleh pada arah suara. Agung Sedayu terperanjat karena ia sangat mengenal suara yang didengarnya setiap saat. Maka kemudian Agung Sedayu berkelebat sangat cepat lalu ia melihat Sekar Mirah duduk bersimpuh dengan isi dada terguncang hebat.

“Sekar Mirah!” Agung Sedayu berseru seraya menghampiri istrinya. Ia duduk dihadapan Sekar Mirah, ia bertanya dengan kedua tangan menyentuh bahu istrinya,”Apa yang terjadi?”

Sekar Mirah tidak lekas menjawab pertanyaan suaminya, ia terisak dengan wajah tertunduk. Beberapa perempuan kemudian duduk mengelilingi keluarga yang sangat disegani di Tanah Perdikan itu. Mereka tidak mampu berkata-kata, hanya mata mereka yang bergantian memandang Agung Sedayu dan Sekar Mirah.

“Sekar Mirah!” Agung Sedayu mengguncang lembut bahu istrinya. Sekejap kemudian Sekar Mirah mengangkat wajahnya lalu,”Rumah kita, Kakang.”

Telinga Agung Sedayu mendengar langkah kaki yang ringan sedang berjalan mendekati mereka berdua. Tanpa disadarinya, tiba-tiba Agung Sedayu telah mengurai cambuk yang melilit di pinggangnya.

“Kendalikan dirimu, Ngger,” suara ramah itu menyentuh bagian dalam Agung Sedayu. Ia bangkit berdiri dan memutar tubuhnya. Ingatan tajam Agung Sedayu segera mengenang raut wajah seseorang yang telah berdiri dihadapannya.

“Ki Bagaswara?” bertanya Agung Sedayu dengan perasaan lega.

Orang yang disapa sebagai Ki Bagaswara itu mengangguk. Kemudian berjalan mendekati Sekar Mirah lalu berkata,”Tenangkan hatimu, Nduk.”

Tinggalkan Balasan