KKG – Agung Sedayu Terpedaya 19

Sebenarnya yang terjadi di rumah Agung Sedayu adalah kehancuran yang luar biasa akibat dua kekuatan raksasa yang berbenturan.  Udara panas yang keluar dari dalam tanah, menerobos setiap lubang-lubang kecil pada permukaan tanah lalu menyambar Ki Jayaraga. Dalam pada itu,Ki Jayaraga yang telah bersiap dengan ilmu Panjer Bumi telah membentengi tubuhnya dengan lambaran tenaga cadangan yang tak kalah besarnya. Maka kemudian yang terjadi adalah kilatan-kilatan api yang menjilati udara di seluruh bagian rumah Agung Sedayu. Lalu tanah disekitarnya menjadi bergetar hebat hingga mampu merobohkan tiang-tiang penyanggah rumah Agung Sedayu yang kokoh dan besar. Beberapa dinding menjadi terbakar dan udara semakin panas memanggang.

Ki Gede Menoreh melangkah surut beberapa langkah saat angin panas menghantam bagian dadanya. Meskipun ia lincah mengelak, namun benturan tipis tidak dapat dihindarkan. Ia mengangkat tombak pendeknya dan menangkis sambaran angin panas yang menerjangnya. Namun angin panas itu berasal dari dua kekuatan yang masih saling melibat dan itu berarti Ki Gede Menoreh secara tiba-tiba telah menerima  luapan tenaga cadangan dua kali lebih besar dari kekuatannya sendiri.

Hampir saja Ki Gede terjatuh namun dua pengawal yang berdiri didekatnya cepat menahan tubuhnya. Dibantu dua orang pengawal, Ki Gede kemudian bergeser sedikit lebih jauh.

Kedatangan Agung Sedayu nampaknya diketahui oleh Ki Garu Wesi tetapi ia belum dapat melepaskan diri dari tekanan Ki Jayaraga yang mengerahkan seluruh kekuatannya. Dalam pada itu, tanpa ada kata-kata yang diucapkan, Agung Sedayu telah memusatkan tatap matanya tepat pada Ki Garu Wesi.

“Aku harus minta maaf padamu, Ngger,“ berkata Ki Jayaraga ketika ia melihat Agung Sedayu berdiri mematung didekatnya.

“Ki Jayaraga tidak bersalah,” kata Agung Sedayu tanpa mengendurkan kekuatannya yang merambat dan berpusat pada tatap matanya.

Dalam waktu itu, Ki Garu Wesi dapat membaca perkembangan yang terjadi di Tanah Perdikan Menoreh. Ia meyakini apabila Ki Tunggul Pitu telah berhasil melepaskan diri dari apapun yang dapat mengikat dirinya dalam satu perkelahian. Dan kehadiran Agung Sedayu di rumahnya telah memberi satu petunjuk yang pasti bahwa kekuatan para pengawal dan rakyat Menoreh memang sulit ditundukkan. Bagi Ki Garu Wesi, kemenangan atau kekalahan yang dialami oleh pengikutnya bukanlah akhir dari usahanya. Justru ia merasa berhasil karena telah tujuannya untuk mengalihkan perhatian Agung Sedayu telah tercapai. Meskipun Agung Sedayu telah berada dihadapannya, Ki Garu Wesi belum merasa perlu untuk membuat satu kejutan.

Agung Sedayu mulai menghentak kekuatannya melalui sorot mata yang dapat meremukkan isi dada seseorang. Ki Garu Wesi menyadari bahaya yang mengintai melalui sorot mata Agung Sedayu kemudian mengibaskan lengannya. Selarik cahaya keluar dari telapak tangannya menyambar mata senapati pasukan khusus Mataram dengan kecepatan yang luar biasa.

Benturan dua kekuatan raksasa pun kembali terjadi. Puing-puing reruntuhan bangunan pun bergetar dan sebagian terlempar ke segala penjuru.

Ki Jayaraga melompat surut. Ia terperanjat dengan sikap Agung Sedayu yang tiba-tiba memutuskan untuk mempengaruhi perkelahiannya dengan  Ki Tunggul Pitu.

“Agung Sedayu!” seru Ki Gede. Bahkan Ki Jayaraga pun turut berusaha menghentikan gerak Agung Sedayu yang akan menggebrak Ki Tunggul Pitu dengan kekuatan penuh.

Namun ketika mendengar seruan dari dua orang yang ia hormati, Agung Sedayu perlahan-lahan dapat menguasai dirinya kembali. Ia pun berdiri tegak mematung menatap lurus Ki Tunggul Pitu. Dalam pada itu, Agung Sedayu telah memasang tekad untuk tidak membiarkan Ki Garu Wesi pergi begitu saja seperti Ki Tunggul Pitu.

Sekejap waktu yang terjadi kala itu dimanfaatkan oleh Ki Garu Wesi dengan mengerahkan kekuatan yang berasal dari ilmu Cakra Abang. Maka yang terjadi kemudian adalah udara sekitarnya menjadi sangat panas dan kibasan tangannya telah membuat angin puting beliung yang mampu mengangkat seluruh benda-benda reruntuhan. Lantas dengan satu hentakan kuat, benda-benda itu terdorong maju beserta udara yang dapat membakar kulit menghantam setiap orang yang berada di depan Ki Garu Wesi.

Serangan yang mendadak dan sangat berbahaya itu membuat sibuk Agung Sedayu dan Ki Jayaraga. Agung Sedayu segera mengurai cambuknya dan menahan lontaran benda-benda panas dengan putaran cambuk yang sangat sulit ditembus. Sementara itu Ki Jayaraga melompat panjang ke sebelah Ki Gede Menoreh lalu menghantam tanah dengan satu pukulan yang dahsyat. Maka kemudian di depan Ki Jayaraga seolah ada dinding baja yang sangat tebal dan serangan Ki Garu Wesi pun gagal mengenai sekumpulan pengawal yang kesulitan untuk menghindari serangannya yang mematikan. Pada saat itu Ki Gede telah memutar tombak pendeknya dan berulang kali terdengar bunyi ledakan tatkala tombaknya bersentuhan dengan benda-benda panas yang melesat ke arahnya.

Kesibukan tiga orang berilmu tinggi dari Tanah Menoreh itu akhirnya seperti memberi kesempatan bagi Ki Garu Wesi untuk melepaskan diri dari Agung Sedayu dan Ki Jayaraga. Kepandaiannya yang tinggi membuatnya dengan sangat cepat menghilang dari pandangan mata lawan-lawannya.

Dari kejauhan terdengar Ki Garu Wesi berkata,”Agung Sedayu! Waktu akan meluncur secepat anak panah. Dan apabila masa itu tiba, kau akan mengakui aku sebagai pengganti gurumu. Aku akan mengajarimu bagian-bagian kitab gurumu yang belum kau pelajari. Aku minta kau dapat melupakan peristiwa yang terjadi hari ini. Rumah dan harta benda yang pernah kau miliki, tentu akan kembali padamu. Tetapi kitab Kiai Gringsing akan menjadi milikku dan kembali padamu sebagai ilmu yang telah matang.”

Agung Sedayu menangkap dengan jelas suara Ki Garu Wesi yang terdengar seperti berbicara di dekat telinganya. Kali ini Agung Sedayu benar-benar merasa geram dan sangat marah. Hampir saja ia menumpahkan perasaannya melalui senjatanya. Cambuk yang telah memendarkan warna biru dari ujung hingga pangkal membuat hati miris dan tergetar hebat. Kekuatan Agung Sedayu yang benar-benar nggrigisi terpancar jelas dari warna cambuknya.

Dalam pada itu. Ki Garu Wesi telah dapat meraba kekuatan Agung Sedayu dari kekuatan yang terlihat olehnya dari kejauhan.  Ia berkata pada dirinya sendiri,”Kehadiran senapati pasukan khusus itu pasti akan membawa kematian bagiku pada hari ini. Aku harap Ki Tunggul Pitu dapat melepaskan diri darinya. Kekalahan Ki Tunggul Pitu akan menjadi beban yang sangat sulit bagiku untuk menjadi orng terbaik di Mataram.”

“Jika ia mampu meninggalkan Tanah Perdikan dengan kitab guru, aku harus menjelajahi seluruh tlatah Mataram untuk membunuhnya tanpa peduli sampai kapan aku dapat menemukannya,” geram Agung Sedayu dalam hatinya.

Ki Gede Menoreh masih berada ditempatnya ketika Ki Jayaraga menghampiri Agung Sedayu lalu mengajaknya untuk meninggalkan rumahnya yang telah menjadi puing-puing berserakan. Agung Sedayu masih tajam memandang arah kepergian Ki Garu Wesi dengan dada berdentang sangat keras. “Aku harus segera mengabarkan ini pada Swandaru,” bisiknya dalam hati.

“Marilah, Ngger,” berkata Ki Jayarga,”Tidak ada lagi yang dapat kita perbuat di sini. Biarlah para pengawal membersihkan reruntuhan dan puing-puing yang bertebaran. Kita harus mampu mengamati gejolak dalam diri kita masing-masing.”

Agung Sedayu menggeleng lalu berkata,”Tidak apa-apa, Kiai. Aku dapat melihat apa yang sedang terjadi padaku hari ini. Agaknya semua ini terjadi karena aku keras kepala dan yakin pada rencanaku sendiri.”

Ki Gede yang ikut mendengarkan kata-kata Agung Sedayu kemudian berkata,”Benar apa yang dikatakan Ki Jayaraga, Ngger. Aku akan perintahkan para pengawal untuk membersihkan tempat ini, dan besok pagi-pagi kita akan membangun kembali apa yang telah hancur pada hari ini.”

Agung Sedayu menoleh pada Ki Gede. Ia melihat sinar mata Ki Gede yang seperti menyimpan rasa bersalah. Sejenak ia merenungi keadaan, lalu,”Aku akan menjemput Sekar Mirah terlebih dahulu.“

“Baiklah,” sahut Ki Gede,”Aku minta kalian tinggal di rumahku hingga segala sesuatu telah kembali wajar.” Ki Jayaraga menganggukkan kepala kemudian ia mendekati Ki Gede dan keduanya menunggu Agung Sedayu melangkahkan kaki.

Untuk beberapa lama mereka berdua menunggu Agung Sedayu meninggalkan tempat itu. Namun Agung Sedayu belum menunjukkan gelagat akan meninggalkan mereka. Ia berdiri terpaku memandangi reruntuhan rumahnya dengan hati yang pilu. Ki Jayaraga memandang Ki Gede dengan perasaan heran. Lalu ia berpaling pada Agung Sedayu dan bertanya,”Kenapa, Ngger?”

Tinggalkan Balasan