KCG – Pertempuran di Rawa-rawa Ujung Galuh 20

Tiba-tiba Ki Srengganan tertawa hingga dadanya berguncang, kemudian menatap tajam ke arah Pawagal,”Ampunan? Ra Pawagal, mungkin kau bermimpi jika orang lemah itu mau memberi ampunan. Sedangkan kita telah mendengar apa yang terjadi pada Ki Nagapati. Justru aku akan memberi rajamu sebuah pengampunan.” Ia kembali tertawa keras lalu melompat turun ke halaman.

Pawagal melihat sekelilingnya yang telah dipenuhi para prajurit Majapahit yang setia pada Sri Jayanegara. Untuk sesaat ia sempat berpikir,”Ki Srengganan adalah orang yang membantu Dyah Wijaya memulai semua ini selain pengikut dan kawan-kawan yang lain. Akan tetapi kekecewaannya pada peguasa sekarang justru menjadikannya sebagai orang yang hanya mengejar kesenangan. Maka dengan begitu ia mudah menerima ajakan dari mendung hitam di kotaraja untuk bergerak melawan arah.” Ia menghela nafas panjang, lalu,”lalu apa artinya semua ini, Ki Srengganan? Bukankah kau tidak memperoleh perkembangan yang berarti? Setidaknya kau sendiri tidak tahu apa yang akan kau perbuat esok untuk rakyatmu di Kahuripan.”

“Tidak perlu kau berbicara sepanjang itu, KI Pawagal. Dahulu kita adalah kawan dekat yang sama-sama berjuang untuk membentuk kerajaan ini. Akan tetapi, malam ini kita harus melupakan itu semua.” Ki Srengganan merendahkan lututnya dan diam-diam menghimpun tenaga. Melihat itu, Gajah Mada mendekati KI Pawagal,”kiai, harap bergeser sejenak. Biarkan aku yang muda ini menghadapi Ki Srengganan.”

Ra Pawagal menggelengkan kepala,”biarkan aku yang mengurusnya. Kau dapat meringkus pembantunya.” Selepas itu, Ki Ra Pawagal merundukkan tombak yang telah terlepas dari selongsongnya. Gajah Mada pun akhirnya mengikuti kemauan KI Pawagal yang memang berwatak keras. Ia menyadari jika ia semakin memaksa orang tua pengikut Dyah Wijaya, maka justru akan terjadi benturan antara dirinya dengan Ki Pawagal. Kini Gajah Mada berdiri lurus menghadapi pembantu Ki Srengganan yang melangkah setapak demi setapak memutar ke arahnya.

Mata yang tajam memandang lurus kedua lawannya tidak mengurangi rasa jerih yang tertulis dalam hati Ki Srengganan, meskipun begitu, untuk terakhir kali ia berkata lantang,”kalian berdua tidak datang sebagai orang yang akan mengadili aku. Akan tetapi kedatangan kalian tak lebih dari pejabat Kahuripan lainnya yang hanya hidup dari belas kasihan penjudi seperti aku. Terutama kau, KI Pawagal! Kau masih saja berusaha membela orang lemah sedangkan ia tidak mau mengerti sedikitpun kebaikan yang pernah kau berikan untuk ayahnya!” Ia maju setapak. Tenaga yang telah terhimpun di kedua lengannya semakin kuat, kini lengannya tergetar halus. KI Pawagal tidak mau kehilangan kewaspadaan, ia pun kini maju setapak.

“Ambillah kerismu, orang tua! Agar aku dapat mengakhiri hidupmu dengan wajah tegak,” desis Ki Srengganan.

“Aku akan menangkapmu hidup-hidup!” Ki Pawagal meluncur cepat dengan diiringi gelegar suaranya yang mampu menembus rongga jantung lawannya. Ia tidak ingin kata-kata Ki Srengganan terdengar oleh prajurit yang meulai berdatangan mengepung tempat itu. Menurut Ki Pawagal, semakin banyak yang dikatakan oleh Ki Srengganan itu sama artinya dengan mencoreng nama baik Ki Srengganan sendiri.

Ki Srengganan menyambut serangan lawannya dengan kekuatan yang menggetarkan. Saat itu Ki Pawagal harus menarik kerisnya dengan cepat karena tombak Ki Srengganan yang berputar dalam genggamnya tiba-tiba meluncur deras seolah dilemparkan. Terdengar suara nyaring ketika keris bertemu ujung tombak dan percikan api segera berhamburan. Sekejap kemudian nampak sinar putih bergulung-gulung ketika Ki Srengganan mengalirkan serangan dengan sabetan yang ganas sekaligus menutup tubuhnya dari tusukan-tusukan Ki Pawagal yang berkelebat seperti kilat menyambar.

Tinggalkan Balasan