KKG _ Agung Sedayu Terpedaya 21

Swandaru terperanjat mendengar jerit Pandan Wangi. Ia mengguncang bahu Agung Sedayu, kemudian,”Bagaimana dengan Sekar Mirah, Kakang?”

Rahan Swandaru tampak mengeras dan ia menggeretakkan giginya. Suaranya terdengar terbata-bata ketika berkata,”Siapapun yang melukainya akan aku lumat dengan kedua tanganku ini!” Kedua tangannya terkepal dan tergetar.

Agung Sedayu hanya memandang wajah Swandaru tanpa kata-kata. Ia berpaling pada Ki Jayaraga dan Ki Gede Menoreh, setelah kedua sesepuh itu saling berpandangan maka kemudian mereka mengangguk. Setelah menarik nafas dalam-dalam, Agung Sedayu berkata,”Sekar Mirah saat ini bersama dengan Ki Bagaswara di sebelah pasar pedukuhan induk. Dan ia selamat dari kerusuhan yang terjadi.”

Tetapi Swandaru seperti belum merasa lega ketika ia mendengar adiknya masih berada di tempat terjadinya kerusuhan. Lalu,”Bagaimana Kakang meninggalkan Sekar Mirah di tengah kerusuhan?”

Ki Gede hanya menarik nafas untuk mengendalikan dadanya yang bergemuruh.  Sikap Swandaru yang belum berubah telah menempatkan Ki Gede dalam keadaan yang sulit. Ia merasa bahwa sebenarnya keselamatan Sekar Mirah di Tanah Perdikan telah menjadi tanggung jawabnya, namun ia sendiri memahami bahwa Agung Sedayu juga mengemban tanggung jawab yang besar.

Ki Jayaraga masih menahan diri untuk memberi kesempatan pada Swandaru menumpahkan isi hatinya. Meskipun ia tahu benar betapa Agung Sedayu mengalami guncangan hebat. Diam-diam Ki Jayaraga bersyukur bahwa Agung Sedayu ternyata mampu mengendalikan kemarahannya dan tidak menampakkan duka yang menghunjam dalam-dalam di hatinya.

“Swandaru,” berkata kemudian Agung Sedayu dengan suara yang menggetarkan udara sekitarnya,”Aku tidak menolak semua yang kau katakan padamu sekalipun kau harus tahu bahwa yang kau katakan itu tidak seluruhnya benar. “ Swandaru berpaling padanya dengan kening berkerut. Lalu,”Lalu jika tidak semua yang kukatakan itu benar, mengapa Kakang tidak sedikitpun menunjukkan keberatan?”

Agung Sedayu memalingkan wajahnya dan melihat seseorang berada di atas punggung kuda dengan dua orang berjalan kaki mengiringinya. Ia mengangkat tangannya lalu,”Sekar Mirah!” Semua orang segera menoleh pada arah yang ditunjuk oleh Agung Sedayu dan tampak oleh mereka tiga orang sedang mendekati kediaman Ki Gede Menoreh.

Pandan Wangi segera berlari menuruni tangga pendapa menyongsong kedatangan Sekar Mirah. Ia lantas memeluk adik iparnya yang terlihat seperti kehilangan gairah. Lirih Pandan Wangi berkata,”Sekar Mirah! Yang paling penting dari semua ini adalah kau dalam keadaan yang baik dan tidak mengalami luka-luka.” Pandan Wangi memeriksa lengan dan kaki Sekar Mirah lantas ia menganggukkan kepalanya.

Ki Bagaswara pun kemudian mengangguk hormat pada Ki Gede dan orang-orang lainnya. Ki Gede merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk membantu Agung Sedayu menjernihkan keadaan dengan Swandaru.

”Marilah, kita semua masuk ke dalam. Agaknya Sekar Mirah dan Sukra membutuhkan sedikit perawatan,” ajakan lembut Ki Gede agaknya dipahami oleh setiap orang. Maka yang tertinggal di pendapa adalah Agung Sedayu dan Swandaru Geni.

Sebenarnya Swandaru ingin mengatakan sesuatu pada adiknya namun Agung Sedayu memberinya tanda untuk menahan langkah. Meskipun Swandaru merasakan sesak dalam dadanya, namun ia tidak kuasa menolak perintah kakak seperguruannya.

Dengan wajah tegang, Agung Sedayu kemudian berkata,”Aku telah melakukan segalanya dengan persiapan dan perencanaan yang masak. Tetapi lebih baik aku mengatakan padamu tentang tujuan orang-orang yang tidak mempunyai jantung ini.” Agung Sedayu berhenti sejenak. Lalu katanya lagi,”Mereka adalah sekelompok orang yang dipimpin oleh orang yang bernama Ki Garu Wesi. Dan mereka sama sekali tidak mempunyai tujuan untuk merebut Tanah Perdikan atau menyerang Mataram.”

Dahi Swandaru berkerut, ia bertanya,”Lalu apa tujuan mereka?”

“Kitab guru yang sedang kau pelajari,” jawab Agung Sedayu. Ia memandang tajam kedua mata Swandaru.

“Dan mengapa mereka membumihanguskan Tanah Perdikan?” gumamnya dalam hati meski kemudian ia telah menjawabnya sendiri. “Mereka tentu mengira bahwa kitab itu ada padamu, Kakang.” Swandaru mematung dengan tatap mata membeku. Ia berdesis,”Tetapi mereka tidak akan mendapatkan apapun.”

“Kau pasti melakukan kesalahan dengan pendapat seperti yang baru kau katakan,” kata Agung Sedayu. Swandaru mengalihkan pandangannya. Kemudian Agung Sedayu melanjutkan kata-katanya,”Justru apa yang mereka perbuat hari ini tidak lebih dari usaha yang memperdaya kita semua. Mungkin mereka hari ini berada di Sangkal Putung dan membawa kerusakan hebat di sana.”

Jantung Swandaru seperti lepas dari pangkalnya. Dada Swandaru berdentang kencang. Katanya,”Tidak mungkin mereka dapat mengguncang Sangkal Putung. Aku telah memberi pesan pada seluruh pengawal kademangan.”

“Tetapi dengan keberadaanmu dan Pandan Wangi di Menoreh, apakah ada orang lain yang mempunyai ilmu sejajar dengan kalian?” tajam Agung Sedayu menyahut.

Tubuh Swandaru seperti membeku. Ia membenarkan pendapat kakak seperguruannya bahwa Sangkal Putung mempunyai lubang kelemahan besar apabila ia dan Pandan Wangi tidak berada di kademangan. Maka dengan begitu, Kademangan Sangkal Putung akan menjadi tempat yang mudah untuk disusupi ataupun dilumat hingga habis.

Hanya dengus nafas yang terdengar dari Swandaru. Lalu ia berkata dengan wajah tertunduk,”Maafkan aku, Kakang.”

Agung Sedayu berpaling padanya. Lalu Swandaru meneruskan ucapannya,”Aku tidak sepantasnya menyalahkanmu dengan kejadian yang menimpa Tanah Perdikan. Tetapi aku memang merasa heran melihatmu begitu tenang sedangkan keadaan dapat saja berubah menjadi lebih buruk.”

“Kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan,” kata Agung Sedayu. “Sebenarnya aku akan memberi penjelasan padamu tentang orang yang bernama Ki Garu Wesi dan seorang kawannya yang berilmu tinggi. Tetapi, sudahlah, sekarang kita pikirkan cara terbaik untuk mencegah kerusuhan menjalari Sangkal Putung.”

Swandaru mendongakkan wajahnya menatap langit. “Matahari hampir tenggelam dan aku akan tiba di Sangkal Putung saat gelap,” ia menatap lurus wajah sosok yang terkadang terlihat olehnya seperti Kiai Gringsing. Kening Agung Sedayu berkerut seperti memikirkan sesuatu, sejenak kemudian ia berkata,”Kita akan berangkat dengan dua orang pengawal.”

Agung Sedayu kemudian beranjak masuk ke bagian dalam rumah Ki Gede. Sejenak ia merasakan ada sesuatu yang belum pernah ia saksikan ketika tatap matanya beradu pandang dengan seorang demi seorang yang berada dalam ruangan.

“Apakah aku akan mendengarkan sesuatu yang mungkin akan kalian katakan padaku?” bertanya Agung Sedayu. Tiba-tiba ia melihat Swandaru berdiri disampingnya dengan raut wajah yang menyiratkan keheranan. Dalam pada itu, sinar mata Ki Gede, Ki Jayaraga, Pandan Wangi dan yang lain memang memancarkan cahaya yang sebelumnya tidak pernah dilihat Agung Sedayu. Ki Gede Menoreh dan Ki Jayaraga serta Ki Bagaswara kemudian memandang Sekar Mirah lekat-lekat.

Ki Jayaraga tersenyum sambil berkata,“Apakah kau akan mengatakan itu pada suamimu hanya berdua atau kami diperkenankan untuk mendengarnya?”

Sekar Mirah tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia berkata,”Biarlah Kakang Agung Sedayu terlebih dulu menyampaikan rencananya.  Mengingat keamanan Tanah Perdikan juga berada dalam tanggung jawabnya.”

“Katakan, Sekar Mirah!“ desak Swandaru sementara Agung Sedayu menatap wajah cantik Sekar Mirah yang seperti menyimpan sebuah arti.

“Aku pasti katakan pada Kakang Agung Sedayu, tetapi pada saat ini ada kepentingan yang lebih besar sedang menunggu keputusan kita bersama disini,” kata Sekar Mirah lalu Pandan Wangi meraih kemarinya dan mengenggam erat jari-jari adik iparnya itu.

Senapati Mataram itu menarik nafas dalam-dalam. Ia memang harus secepatnya mengambil keputusan sebelum Sangkal Putung dilanda bara api kebuasan pengkut Ki Garu Wesi yang mungkin saja telah berada di Sangkal Putung. Karena itu ia berkata,”Aku bersama Swandaru akan pergi ke Sangkal Putung sore ini. Kita semua belum dapat menduga rencana Ki Garu Wesi yang telah meninggalkan tempat ini tanpa membawa kitab Kiai Gringsing.”

“Kakang Agung Sedayu mempunyai dugaan bahwa orang-orang itu dapat saja mendatangi dan membuat onar di Sangkal Putung,” tatap mata Swandaru lurus memandang Pandan Wangi bergantian kemudian ia menoleh pada Ki Gede dan Ki Jayaraga.

Ki Gede kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu berkata,”Mereka mungkin tidak akan kembali ke Tanah Perdikan malam ini. Bahwa Ki Jayaraga dan Ki Bagaswara adalah kekuatan utama yang akan menemaniku melewati malam yang panjang. Bukan begitu kiai?” Ki Jayaraga dan Ki Bagaswara mengangguk dan mengembangkan senyum lebar.

Demikianlah kemudian Agung Sedayu dan Swandaru mempersiapkan diri untuk menuju Sangkal Putung. Sementara Ki Bagaswara sedikit terlibat dalam pembicaraan sungguh-sungguh dengan Ki Jayaraga. Dalam pada itu, Ki Gede Menoreh berulang kali mengucap syukur dalam hatinya atas anugerah Yang Maha Agung yang terlimpah pada keluarga besar mereka sekalipun rasa duka belum sepenuhnya berlalu dari hati mereka.

Ketika bayangan semakin panjang dan rimbun pohon mulai menyembunyikan matahari, dua ekor kuda melesat cepat keluar dari pekarangan rumah Ki Gede Menoreh. Dua murid utama Kiai Gringsing dengan wajah tegang semakin jauh meninggalkan pedukuhan induk. Mereka berdua berharap apapun kemungkinan buruk yang telah dipikirkan Agung Sedayu tidak akan terjadi di Sangkal Putung.

Dalam pada itu, tiga orang bertemu di sudut sebuah pedukuhan kecil yang terletak di sebelah utara Jatianom.

“Bagaimana dengan kekuatan Agung Sedayu sendiri, Ki Tunggul Pitu?” kata orang yang baru menyandarkan punggungnya pada sebuah tebing batu.

“Memang benar apa yang dikatakan orang,” jawab Ki Tunggul Pitu. “Akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan usaha sedikit lebih keras untuk dapat mengalahkan Agung Sedayu, Ki Garu Wesi.”

Ki Garu Wesi manggut-manggut mendengar jawaban itu, lalu,”Aku pun terlibat perkelahian  ketika senja belum berakhirberbahaya dengan orang yang bernama Ki Jayaraga. Aku tidak mengira bahwa Menoreh ternyata menyimpan kekuatan dahsyat dibalik tenangnya perbukitan yang berjajar dan sawah yang hijau.”

“Tetapi kau dapat meloloskan diri,” kata Ki Tunggul Pitu.Ki  Garu Wesi mengangguk kemudian,”Agung Sedayu telah menolongku ketika ia datang saat aku mengerahkan puncak ilmuku.”

Ki Tunggul Pitu mengernyitkan keningnya,”Maksudmu?”

“Agung Sedayu tiba-tiba memasuki perkelahianku dengan Ki Jayaraga, namun orang-orang Menoreh mampu menahan laju Agung Sedayu yang dahsyat itu. Maka dalam waktu sekejap itulah aku melepas ikatan yang makin membuat sempit ruang gerakku,” jawab Ki Garu Wesi.

Tak lama kemudian datang seseorang dari sebelah timur dengan kecepatan yang luar biasa. Ia berlari bahkan dengan kecepatan melebihi kuda yang tegar. Sekejap kemudian ia telah bergabung bersama Ki Garu Wesi dan Ki Tunggul Pitu.

“Ki Hariman!” seru kedua orang itu serentak.

Ki Hariman menganggukkan kepala dan tersenyum lebar. Ia memasukkan tangan ke bagian dalam bajunya lalu tiba-tiba sebuah kitab telah diangkatnya tinggi-tinggi.

“Kitab Kiai Gringsing!” kata Ki Hariman.

 

 

#Bab 1 Agung Sedayu terpedaya telah berakhir. Dan akan berlanjut ke babak Jatinom Obong.

Tinggalkan Balasan