Penaklukan Panarukan 14

“Dia hanya seorang anak kecil,” geram Ki Gurasan. Ia memandang tajam Pangeran Benawa yang terlihat tenang berdiri di samping Kang Tanur. Sebatang tongkat dengan panjang yang sesuai dengan tinggi badannya kokoh dalam genggaman tangan Pangeran Benawa. Tiba-tiba Ki Gurasan bersuit nyaring lalu beberapa orang berhamburan mendatanginya dan membentul lingkaran mengelilingi Ki Gurasan.

“Sebenarnya masih ada jalan bagi kalian untuk tetap berbakti pada guru kalian dengan damai,” berkata Ki Gurasan sambil menebar pandangnya memperhatikan para cantri padepokan Ki Buyut yang datang mengepungnya dan kelompoknya. Ia melanjutkan ucapannya,”Kalian dapat menyerahkan anak lelaki Adipati Pajang pada kami lalu kami akan tinggalkan tempat ini.”

Jantung para cantrik padepokan berdesir cepat. Mereka menjadi terkejut. Darah para cantrik seperti berhenti mengalir karena menyadari bahwa Pangeran Benawa berada tepat di depan Ki Gurasan. Lalu kemudian mereka melihat ketenangan yang ditunjukkan oleh Kang Tanur dan Pangeran Benawa sendiri maka serba sedikit sikap mereka berdua dapat membantu para cantrik untuk mempersiapkan diri lebih tenang.

Bagaimanapun para cantrik itu mengerti bahwa keselamatan Pangeran Benawa akan menjadi pertaruhan hidup mati mereka. Pangeran Benawa banyak berhubungan dengan para cantrik padepokan dalam keseharian dan para cantrik pun mengakui kerendahan hati putra Adipati Pajang itu. Pangeran Benawa selalu menempatkan dirinya berada dalam kedudukan yang sama dengan cantrik Ki Buyut Mimbasara. Maka Pangeran Benawa pun mendapat tempat tersendiri dalam hati setiap orang yang berguru pada Ki Buyut Mimbasara. Oleh karena itu para cantri padepokan pun merasa bahwa menjaga keselamatan Pangeran Benawa adalah hal paling penting yang harus mereka lakukan.

Para cantrik padepokan pun tidak menjadi terkejut ketika tiba-tiba Ki Gurasan berkata,”Kita telah berhasil memasuki padepokan ini. Dan berikutnya adalah kita harus dapat membawa anak lelaki Adipati Pajang keluar dari tempat ini!”

Para cantrik memandang Ki Gurasan dengan heran. Sepertinya ia tidak mengenal wajah Pangeran Benawa, pikir para cantrik. Tetapi mereka sepertinya paham untuk tidak melakukan gerakan yang membahayakan Pangeran Benawa. Mereka dalam keadaan bersiap sepenuhnya dengan tongkat erat tergenggam, sebagian cantrikpun telah mengurai cambuk masing-masing.

Ketegangan merambat pelan dalam dada setiap orang yang saling berhadapan di halaman tengah padepokan.

“Lekas kalian habisi semua orang lalu kita cari anak lelaki itu!” perintah Ki Gurasan.

“Baiklah,” Kang Tanur menyahut,”Kalian tidak diundang untuk datang di padepokan ini. Tentu kami akan berbuat apa yang harus kami lakukan. Setiap orang dari kalian mungkin akan menyesali kebodohannya dengan mendatangi tempat ini, namun kematian kami akan menjadi kebanggan tersendiri bagi orang-orang yang kami tinggalkan.”

“Ki Gurasan! Kita tidak mempunyai waktu untuk bercakap dengan sekumpulan cantrik bodoh ini!” teriak salah seorang dari kawanan Ki Gurasan.

Lalu tanpa disangka-sangka salah seorang dari mereka dengan cepat menerjang barisan cantrik yang mengepung mereka. Malam yang belum gegitu pekat dan kabut menyelimut tipis seperti tidak menjadi hambatan bagi kawanan Ki Gurasan yang berjumlah enam orang. Serentak mereka kemudian menyerang barisan cantrik yang telah bersiaga menerima serangan mereka. Dengan cekatan para cantrik menyusun tatanan yang teratur. Beberapa orang dari mereka berkelahi bersama-sama menghadapi seorang dari kawanan Ki Gurasan, sementara Kang Tanur dan Pangeran Benawa masih tegak mematung ditempatnya.

Suara cambuk yang meledak-ledak memecah keheningan malam. Dengung tongkat kayu para cantrik berputar-putar mengurung lawan-lawannya. Dalam waktu singkat, para cantrik Ki Buyut memberi kejutan yang menggetarkan jantung untuk berdentang lebih keras menghantam rongga dada. Betapa susunan gerak itu mengalir sedemikian rapi dan kokoh, setiap ada dua atau seorang cantrik berpinda lingkaran maka kedudukan mereka cepat digantikan oleh temannya. Yang kemudian terjadi adalah setiap orang dari kawanan Ki Gurasan seperti tidak mempunyai jalan keluar dari tekanan. Namun mereka adalah orang-orang yang telah mempunyai perjalanan panjang dalam perkelahian.

“Ki Gurasan!” teriak salah seorang dari kawanan,”Apakah terpikir olehmu bahwa anak kecil yang berada dihadapanmu itu adalah Pangeran Benawa?”

Ki Gurasan terhenyak darahnya seperti berhenti mengalir. Ia memang tidak mempunyai dugaan sama sekali bahwa anak lelaki yang tegak berdiri dengan tenang didepannya adalah Pangeran Benawa. Ia mendesis kemudian,”Betapa buta mataku! Kau adalah anak Jaka Tingkir!”

Kang Tanur melirik Pangeran Benawa yang tidak berkata-kata. Sementara perkelahian yang melibat enam lingkaran menjadi semakin sengit.

“Sebaiknya kau perintahkan kawan-kawanmu untuk berhenti melawan, Ki Sanak!” nada suara Kang Tanur sedikit berubah. Ia membulatkan tekad untuk menjaga pewaris tahta Kadipaten Pajang. Dalam pada itu Pangeran Benawa tidak memperlihatkan rasa gentar ataupun panik menghadapi suasana yang telah lepas kendali. Ketenangan masih kuat memancar dari raut mukanya yang bening.

“Paman Tanur,” berkata Pangeran Benawa kemudian,”Aku ingin mereka ditangkap dalam keadaan hidup. Aku ingin tunjukkan pada Ayah bahwa Ki Buyut tidak akan pernah mengajariku tentang kekerasan.”

“Jaga jarak kalian!” perintah Kang Tanur saat ia melihat para cantrik masih berusaha menjaga tekanan. Lalu ia berpaling pada Ki Gurasan, katanya,”Kau adalah orang yang penting apabila aku membiarkanmu hidup.” Sorot mata buas Ki Gurasan lekat menatap Pangeran Benawa yang telah menata diri. Dalam hati Ki Gurasan, ia mengakui bahwa landasan ilmu Pangeran Benawa agaknya akan mampu menopang semua perkembangan yang dicapainya  kelak di kemudian hari. Tetapi Ki Gurasan memusatkan perhatiannya dengan sungguh-sungguh untuk menculik Pangeran Benawa.

Kang Tanur kembali memperhatikan enam lingkaran perkelahian, sejenak kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya enam orang kawan Ki Gurasan teah dapat diimbangi oleh susunan gerak para cantrik yang teratur rapi dan penuh kejutan. Betapa susunan itu mempunyai dasar yang kokoh dan sulit ditembus oleh kawan-kawan Ki Gurasan, sedangkan kemampuan pribadi setiap orang dari kawanan itu sebenarnya jauh lebih tinggi dari satu demi satu cantrik padepokan.

Terkadang susunan itu berbentuk bangun datar bersegi enam, lalu tiba-tiba berubah menjadi segi empat saat salah satu dari cantrik itu bergeser ke lingkaran yang lain. Ki Buyut Mimbasara atau Kebo Kenanga  telah berhasil menciptakan satu pola pengepungan yang benar-benar hebat. Tak jarang, Ki Buyut melibatkan Pangeran Benawa dalam satu latihan susunan gerak bersama dengan cantrik yang lain, sehingga dalam usia belia ia telah dapat melebur kemampuannya dalam satu susunan gerak.

Umpatan kasar keluar dari mulut kawanan Ki Gurasan. Mereka tidak mengira bahwa susunan gerak itu sangat kokoh meskipun salah seorang cantrik dapat disentuhnya dengan senjata, namun serangan mereka dapat dibendung oleh cantrik yang lain. Oleh karena itu, setiap kawanan Ki Gurasan menapak setingkat lebih tinggi namun para cantrik padepokan selalu dapat mengimbangi olah gerak lawan-lawannya.

“Susunan gelar yang luar biasa,” desis orang yang mengawasi pertempuran di halaman tengah dari sebuah atap bangunan. Ia duduk bersila dan cermat memperhatikan perkembangan dari setiap lingkaran. Ia mendesis kemudian,”Gurasan sungguh-sungguh bodoh! “ Ia mengangkat wajahnya menatap langit, sejenak kemudian ia memutuskan akan menangani keadaan di padepokan.

Dalam pada itu, Ki Gurasan tiba-tiba menyerang Kang Tanur dengan garang. Namun Kang Tanur sempat menghindar dan meloncat surut. Lalu sekejap kemudian mereka terlibat dalam satu perkelahian yang seru. Pangeran Benawa sedikit menjauh dalam keadaan siaga, agaknya ia sedang menguatkan keyakinan bahwa ia akan benar-benar melibatkan diri dalam perkelahian Kang Tanur dengan Ki Gurasan. Setelah merasa cukup untuk mengatur pernafasannya, Pangeran Benawa memutar tongkatnya dan menggebrak Ki Gurasan dalam satu terjangan yang dahsyat.

Mata Ki Gurasan terbelalak kaget. Ia tidak menyangkan bahwa anak kecil yang sempat ia remehkan ternyata mampu membuat lengannya bergetar hebat. Kekuatan Pangeran Benawa kala mengayunkan tongkat mematuk leher Ki Gurasan dapat ditangkis lawannya dengan lengan. Namun Ki Gurasan tidak dapat terkejut lebih lama karena serangan Kang Tanur telah datang membadai. Kini Ki Gurasan telah merasa kesulitan, ia mulai terganggu dengan kecepatan gerak Pangeran Benawa yang sangat lincah bermain tongkat.

Tinggalkan Balasan