Penaklukan Panarukan 16

Kiai Rontek dapat melihat raut wajah heran Kang Tanur dalam keremangan malam, ia berkata kemudian,”Sudah pasti kau akan mengingat kembali apa yang dulu pernah kukatakan padamu. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi anak Mas Karebet. Lebih baik kau katakan semua yang kau ketahui tentang diriku apabila kau masih berumur panjang, Tanur.”

Sementara itu, Ki Gurasan hanya dapat melihat dua orang yang ternyata saling mengenal itu dengan rasa ingin tahu. Ia bekata kemudian,”Kiai, apakah orang ini pernah menjadi muridmu?”

Kang Tanur melirik tajam Ki Gurasan melalui sudut matanya, ia semakin dekat dengan Pangeran Benawa. Kang Tanur diam-diam telah menghentak ilmu yang dipelajarinya dari Ki Buyut Mimbasara. Kang Tanur tidak ingin menghindari benturan dengan Kiai Rontek meskipun ia mengakui dalam hatinya bahwa ia masih berada jauh di bawah lelaki tua yang selalu mengenakan pakaian panjang. Kecerdasan Pangeran Benawa membuat Kang Tanur dapat bernafas sedikit lega. Betapa putra lelaki Adipati Pajang itu secara diam-diam terus bergeser menjauhi Ki Gurasan dan Kiai Rontek. Agaknya perhatian kedua orang itu terpusat pada Kang Tanur seorang diri.

Kiai Rontek menggeleng pelan, lalu,”Aku bertemu dengannya saat ia berjalan jauh. Dari hutan ke hutan, menyusur setiap lurah dan lembah. Ketika ia bertemu denganku, ia hanya mengatakan ingin mencari sebuah ketenangan yang akan menjadi akhir perjalanannya.” Tiba-tiba Kiai Rontek menggeram. Ia dapat merasakan getar hebat yang mendadak mencuat dan mendesak setiap pembuluh darahnya. Sorot matanya berkilat seolah menusuk kalbu Kang Tanur.

“Serahkan anak Mas Karebet, Tanur!” desis Kiai Rontek.

“Bermimpilah, Kiai!” sahut Kang Tanur.

Ki Gurasan yang berdiri di belakang Kiai Rontek merasa takjub dengan lambaran tenaga inti Kang Tanur yang mampu menyusup lalu menebar hawa panas. “Luar biasa! Ia mampu menembus lapisan luar Kiai Rontek,” desis Ki Gurasan dalam hatinya.

Meski Kang Tanur telah mempersiapkan diri atas Kiai Rontek yang dapat saja melakukan serangan tiba-tiba, tetapi ia tetap saja terpaku ditempatnya ketika sosok tubuh Kiai Rontek meluncur datang menyerang sangat cepat. Kedua telapak Kiai Rontek mengembang dan mengeluarkan angin kencang mendahulu tenaga intinya. Tubuh Kang Tanur seperti tertancap ke dalam tanah. Ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya untuk melakukan sesuatu atas serangan bahaya Kiai Rontek. Tiba-tiba lengking nyaring terdengar dari sisinya, Pangeran Benawa yang sebenarnya telah mempelajari Jendra Birawa meloncat menghadang laju serangan Kiai Rontek.

Dalam pada itu, Kang Tanur seperti tersentak bangun dari tidurnya ketika sudut matanya menangkap bayangan tubuh Pangeran Benawa melesat menyongsong Kiai Rontek. Ia menghentak kecepatannya sepenuh tenaga. Maka tubuhnya meluncur melebihi kecepatan Pangeran Benawa dan udara bergetar hebat ketika dua kekuatan besar tenaga inti bertemu di udara.

Pangeran Benawa terhuyung surut dan nyaris kehilangan keseimbangan, pada saat itu Ki Gurasan bergerak cepat menyambar tubuh Pangern Benawa. Namun anak lelaki yang tangguh itu menjatuhkan diri dan bergulingan menjauh dari Ki Gurasan. Sekejap kemudian ia berdiri dengan lutut sedikit merendah. Pangeran Benawa dapat menemukan keseimbangannya kembali.

Kiai Rontek terperanjat ketika ia membentur tenaga yang sangat kuat. Ia tidak menyangka bahwa Kang Tanur dapat menahan serangannya dengan nyaris sempurna. Kiai Rontek kembali menyerang Kang Tanur dengan serangan mematikan yang datang bergelombang sedangkan Kang Tanur yang terhuyung ke belakang masih berusaha menata keseimbangan.

“Kau tidak akan pernah melihat matahari esok pagi!” geram Kiai Rontek. Sementara itu sambaran kaki dan tangannya terus menerus melepaskan tenaga inti yang menghantam tubuh Kang Tanur hingga cantrik Ki Buyut ini merasakan kesemutan pada bagian dalam dadanya.

“Aku tidak peduli!” tukas Kang Tanur yang bergerak semakin lambat. Ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk mengelak setiap serangan Kiai Rontek. Dan pada saat ia akan meloncat surut, telapak kiri Kiai Rontek terjulur dengan kekuatan yang lebih dahsyat dari yang pertama. Kang Tanur melihat bahaya datang menghampirinya, ia tidak mempunyai pilihan yang lebih baik kali ini. Kang Tanur menyambut pukulan Kiai Rontek dengan tenaga terakhir yang ia miliki.

Selanjutnya yang terjadi adalah suara keras berdentum menggetarkan halaman yang luas itu. Kang Tanur terlempar jauh dan pekik nyaring Pangeran Benawa terdengar menyayat telinga.

“Paman!” teriak Pangeran Benawa lalu sekejap kemudian ia meningkatkan kekuatannya berusaha menekan Ki Gurasan yang masih mencoba untuk menangkapnya hidup-hidup. Dalam hati Pangeran Benawa sebenarnya ia ingin melihat keadaan Kang Tanur yang lunglai tergeletak dengan dada bergerak turun naik satu demi satu. Bagi Pangeran Benawa, Kang Tanur adalah teman terbaik yang sangat mengerti perasaannya. Sekalipun mereka terpaut usia yang sangat jauh, namun Kang Tanur selalu dapat menjadi teman bermain ahli waris Adipat Pajang itu. Kerap kali mereka berdua berjalan menyusur sungai dan pematang untuk memenuhi hasrat Pangeran Benawa yang ingin memperoleh belut atau ikan yang masuk dalam pliridan yang terpasang pada malam sebelumnya. Selain Ki Buyut Mimbasara, Kang Tanur adalah orang yang selalu berada disisinya saat ia membutuhkan kawan.

Senyampang kemudian ia melihat para cantrik telah jatuh bergelimpangan, maka Pangeran Benawa seperti mendapatkan kekuatan yang tidak diketahui asalnya. Ia benar-benar ingin menumpahkan semua perasaan yang menderanya. Ia merasa kesedihan yang membungkus hatinya saat melihat tubuh Kang Tanur terpental dan roboh terkulai. Ia dikuasai amarah yang membakar hatinya ketika ia mengetahui saudara seperguruannya telah jatuh tak berdaya di tangan para penyusup. Lalu tandang Pangeran Benawa benar-benar melampaui perkiraan Kiai Rontek dan Ki Gurasan.

“Kalian adalah orang jahat!” bibir kecil Pangeran Benawa bergetar seiring ia menerjang menggebrak pertahanan Ki Gurasan. Tongkat pendeknya meluncur pada pangkal leher lawannya yang bertubuh lebih tinggi. Lalu menyusul kedua kakinya bergantian melabrak sepenuh tenaga. Sorot mata Pangeran Benawa yang selalu terlihat bening dan tenang, kini berubah menjadi pancaran kilat yang mampu membakar apapun yang terlihat olehnya.

“Ki Gurasan!” bentak Pangeran Benawa dengan suara yang terdengar mengerikan. Namun ia sama sekali tidak mengurangi kecepatan dan kekuatannya.

“Kau benar-benar layak menjadi anak Mas Karebet,” seru Kiai Rontek yang terkesima dengan tandang hebat Pangeran Benawa. Namun ia merasa khawatir akan keselamatan bocah kecil yang berkelahi seperti seekor harimau lapar. “Ki Gurasan dapat saja bertingkah bodoh dan akhirnya membunuh anak Jaka Tingkir, sedangkan anak itu mempunyai harga yang tidak akan dapat dijangkau sekalipun ditukar dengan seisi Kesultanan Demak,” gumam Kiai Rontek dalam hatinya.

Kedengkian yang telah berakar kuat dalam hati Kiai Rontek hampir mendorongnya untuk turun tangan melumpuhkan Pangeran Benawa. Kiai Rontek telah berpikir tentang harga yang akan ia katakan pada Adipati Pajang. Tetapi ia adalah lelaki yang penuh perhitungan. Ia tidak ingin mengotori tangannya untuk menghadapi Pangeran Benawa. Oleh karena itu, ia berteriak memberi perintah pada Ki Gurasan,”Cepat kau lumpuhkan anak iblis itu! Tentu kau tidak ingin bertemu dengan Kebo Kenanga.”

Ki Gurasan mengangguk.  Dalam satu tarikan nafas, ia meluncur deras melebihi kecepatan Pangeran Benawa sementara kai dan tangannya seolah datang dari berbagai arah. Pangeran Benawa yang masih berusia muda itu kehilangan ketenangan, ia merasa gugup melihat terjangan dahsyat orang yang berpengalaman jauh diatasnya. Seperti tidak mempunyai jalan yang berbeda, Pangeran Benawa memutar tubuhnya seperti gasing lalu  membenturkan tongkatnya pada tangan Ki Gurasan yang terkepal.

Demikianlah kemudian tubuh Pangeran Benawa terlontar jauh dan jatuh bergulingan diatas rumput halaman. Seruan tertahan terdengar dari para cantrik yang menyaksikan perkelahian yang sengit itu. Lalu suara lega terdengar ketika para cantrik melihat Pangeran Benawa yang kesulitan untuk bangkit berdiri.

Pancaran cahaya dari obor-obor yang mengelilingi halaman mampu menggapai wajah halus Pangeran Benawa. Para cantri padepokan Ki Buyut Mimbasara memandang wajah putra lelaki Adipati Pajang itu dengan hati gentar. Betapa raut wajah cantrik termuda di padepokan itu terlihat seperti memancarkan kekuatan dahsyat yang sanggup membuat lereng Merapi menjadi longsor.

“Aku belajar untuk tidak menyerah!” desis Pangeran Benawa, lalu ia menunjuk pada para cantrik padepokan,”Mereka akan meratap jika aku menyerah.”

Tinggalkan Balasan