Penaklukan Panarukan 18

“Hilangnya seorang pangeran akan mengguncang daerah pesisir, bahkan bukan tidak mungkin akan meledakkan puncak Merbabu,” berkata Ki Getas Pendawa.

“Kita berdua sudah paham tentang keputusan yang akan dijalankan oleh Angger Adipati,” Ki Buyut Mimbasara berucap lirih,”Masih bersemayam dalam hatiku, apakah Paman Pangeran Parikesit dapat membantu kita meski sekedar memberi keterangan alasan penculikan ini.”

“Kakang,” Ki Getas Pendawa mencoba menghibur kerabatnya yang berusia tidak terpaut jauh dengannya,”Aku dapat pastikan bahwa Paman Pangeran akan mengerahkan seluruh yang ia miliki untuk menemukan Pangeran Benawa. Namun yang aku risaukan adalah Paman Pangeran akan kehilangan pengamatan dalam dirinya.”

“Paman Parikesit adalah orang yang telah sangat mendalam mengenali dirinya sendiri,” kata Ki Buyut Mimbasara.

Ki Getas Pendawa mengangguk. Katanya kemudian,”Tetapi kita juga paham bahwa Paman Pangeran akan menjungkirbalik Merbabu demi cucunya.”

Ki Buyut Mimbasara menarik nafas dalam-dalam, ia membenarkan kata-kata Ki Getas Pendawa. Ia bergumam kemudian,”Dan itu bukan pekerjaan yang sulit baginya.” Sejenak kemudian ia bangkit berdiri. Katanya,”Aku kira Angger Tanur telah dapat menenangkan dirinya, harapanku adalah perawatan padanya semalam akan mampu menunjang keinginannya untuk menjelaskan kepada kita.”

Maka kemudian dua orang berilmu tinggi dan berwawasan luas itu mengayun langkah menuju sebuah pondok kecil tempat Kang Tanur ditempatkan.

“Bagaimana keadaanmu?” bertanya Ki Buyut sambil menganggukkan kepala.

Kang Tanur membalas pertanyaan itu dengan senyum dan mengedipkan mata. Ia meringis kesakitan ketika mencoba untuk duduk.

“Tetaplah berbaring,” kata Ki Buyut kemudian,”Kau harus dapat menenangkan diri, Tanur.” Kang Tanur mengangguk pelan.

“Apakah kau dapat berbicara walau sedikit?” bertanya Ki Getas Pendawa lalu ia menoleh pada Ki Buyut. Ki Buyut mengangguk pelan. Kang Tanur mengangguk sambil tetap berusaha menahan rasa sakit yang mendera bagian dalam tubuhnya.

“Aku mendengarmu menyebut satu nama, Kiai Rontek. Benarkah?” bertanya Ki Buyut. Pada saat itu Ki Getas Pendawa beringsut maju lalu memegang kedua telapak kaki Kang Tanur. Sesaat kemudian aliran tenaga inti Ki Getas Pendawa merambat memasuki pembuluh darah hingga bagian dada. Terasa oleh Kang Tanur udara hangat menerobos dan melonggarkan setiap pembuluh darah dan mengendurkan simpul otot sehingga tubuhnya mulai bergetar. Tiba-tiba angin dingin seperti mengusir udara hangat yang sedang bekerja di dalam tubuhnya. Wajah Kang Tanur yang sebelumnya seperti tak teraliri darah pun berubah terlihat lebih segar. Sebenarnya Ki Getas Pendawa sedang mengobati bagian dalam tubuh Kang Tanur dengan tenaga inti yang mempunyai dua watak yang berbeda. Demikianlah kemudian peluh bergulir menuruni kening Ki Getas Pendawa yang bergaris banyak. Garis yang membujur lintang itu seperti sebuah lukisan dari pejalanan panjang hidupnya. Setiap kerut yang terlihat padanya menyimpan satu makna yang dalam. Ki Getas Pendawa mengalami peralihan tahta dari Majapahit pada Demak. Ia juga menjadi salah satu orang yang bersinggungan dengan apa-apa yang terjadi dalam lingkar kekuasaan di Demak. Sejenak kemudian, Ki Getas Pendawa menarik kedua telapak tangannya. Ia menarik nafas lega melihat perubahan yang terjadi pada Kang Tanur.

Dalam pada itu, Kang Tanur seperti memperoleh tenaga baru. Lambat laun ia mulai dapat menggerakkan lebih banyak anggota tubuhnya. Dengan dibantu seorang cantrik muda, ia mencoba duduk diatas pembaringan dan bersandar pada dinding papan. Setelah beberapa saat ia mencoba mengingat kembali perjalanannya di masa lalu bersama Kiai Rontek, Kang Tanur lalu berkata,” Benar, Ki Buyut. Bahkan aku mengenalnya untuk masa yang cukup lama.”

Dahi Ki Buyut Mimbasara berkerut mendengar ucapan Kang Tanur. Lalu katanya,”Ceritakanlah atau mungkin kau pernah menceritakan itu padaku tetapi aku membutuhkan seseorang untuk dapat mengerti letak persoalan ini.”

Kang Tanur menarik nafas dalam-dalam. Ia akan mengatakan apa saja yang ia ketahui tentang Kiai Rontek. Memang sedikit rasa khawatir mendatangi hatinya, namun Kang Tanur telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Pangeran Benawa lebih dari apa yang ia miliki maka Kang Tanur telah bersiap dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi. Sesaat Kang Tanur menatap mata dua orang Pajang yang mempunyai ketinggian ilmu melebihi Adipati Pajang, kemudian,”Kiai berdua, aku harap keterangan yang akan aku utarakan ini akhirnya dapat membuat penyebab penculikan Pangeran Benawa menjadi jelas.”

Ki Buyut Mimbasara bergantian memandang dengan Ki Getas Pendawa, lalu keduanya menganggukkan kepala. Maka kemudian Kang Tanur menceritakan awal perkenalannya dengan Kiai Rontek.

****

Memang sebenarnya Kiai Rontek telah jauh meninggalkan padepokan beratus-ratus tombak jaraknya. Tubuh Pangeran Benawa yang berada diatas pundaknya sama sekali tidak memberi pengaruh yang cukup besar pada kecepatan Kiai Rontek yang sangat lincah menyusup setiap celah pohon dan menembus pekat malam dalam belantara yang rapat. Dalam keadaan seperti itu, Pangeran Benawa tetap bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa. Bersama Ki Buyut dan kadang-kadang Arya Penangsang, ia terbiasa melakukan perjalanan yang tidak dapat dijangkau nalar. Tetapi bagaimanapun Pangeran Benawa adalah seorang anak yang berusia belia, ketika ia mengingat ayah dan ibunya, Ki Buyut dan sanak kadang lalu ia pun merasa pilu.

Di tengah malam yang pekat dan kabut yang rapat menutup lereng Merbabu, Kiai Rontek berdesis,”Aku tidak akan membunuhmu malam ini. Kematianmu akan menjadi peristiwa yang sangat mudah dilupakan oleh Mas Karebet. Selain itu, kau memang tidak pantas menerima kematian dan aku mempunyai alasan yang kuat untuk membiarkanmu hidup saat ini.” Sorot  matanya yang tajam seakan mampu menembus jantung Pangeran Benawa.

Walalupun Pangeran Benawa tidak menjadi takut saat mendengar ancaman Kiai Rontek yang akan membunuhnya, tetapi jantungnya mendadak berdentang keras. Terbayang olehnya bahwa ia tidak akan dapat lagi bertemu dengan semua orang yang disayanginya. Wajah Ki Buyut Mimbasara, Adipati Hadiwijaya, ibunya, kakeknya dan saudara tua angkatnya Danang Sutawijaya bergantian membayangi pelupuk mata Pangeran Benawa. Dalam pada itu, keyakinan Ki Buyut Mimbasara bahwa Jaka Wening adalah bocah lelaki yang mempunyai watak tenang pun terbukti. Pangeran Benawa segera menenangkan hatinya, ia mencoba mengalihkan kenangan-kenangan itu pada upaya untuk mengamati keadaan. Nalar Pangeran Benawa bekerja keras mencatat setiap kekhususan yang ia lihat sepanjang perjalanan pada malam buta dalam kecepatan Kiai Rontek yang melebihi anak panah.

Kiai Rontek menurunkan Pangeran Benawa kemudian ia berdiri tegak menghadap lubang besar. Lubang besar terlihat dihadapannya tampak seperti rongga mulut seekor ular yang menganga lebar. Sementara itu Pangeran Benawa mencoba untuk bergerak, namun betapa ia kemudian menjadi jengkel karena tidak ada satu jari pun yang dapat ia gerakkan karena Kiai Rontek telah melumpuhkan simpul utama pada tubuhnya.

“Kau akan menetap disini hingga semua urusanku dengan Mas Karebet telah selesai,” kata Kiai Rontek seraya menebar pandang. Tebing batu berdiri tegak lurus menjulang angkasa. Bebatuan hitam semakin lekat dengan gelapnya malam di sebuah lereng yang terapit oleh dua gunung besar.

“Pangeran!” bergetar bibir Kiai Rontek sambil tajam memandang Pangeran Benawa,”Aku tidak akan menempatkanmu di dalam gua. Kau akan berada di tempat ini barang satu atau dua hari. Aku yakin kau akan dapat menjaga diri bila ada binatang buas yang mendatangimu karena lapar. Aku ingin kau dapat merasakan kepedihan kala kau akan sendirian di lembah ini seorang diri. Mungkin kau akan dapat mengambil sebuah pelajaran karena memang seperti itulah Ki Kebo Kenanga memberi gemblengan pada muridnya.”

“Kau akan melihat apa saja yang aku tinggalkan untukmu, kau akan melihatnya tatkala matahari mulai bersinar terang. Tetapi kau tidak akan pernah mencoba kabur dariku, percayalah!” usai mengatup rapat bibirnya, tubuh Kiai Rontek tiba-tiba menghilang dari pandang mata Pangeran Benawa.

Tinggalkan Balasan