Toh Kuning – Jalur Banengan 2

Ia menatap Ken wajah Ken Arok lalu,” Apakah kau benar-benar pulih sepenuhnya?” Ken Arok menjawabnya dengan anggukkan kepala.

Sebenarnyalah Ken Arok dan Toh Kuning telah sering menganggu perjalanan banyak orang yang melintasi lereng Gunung Arjuna atau biasa disebut sebagai Jalur Banengan. Keadaan jalanan yang telah dipadatkan dengan bebatuan, para peronda dari keprajuritan Kediri pun sering melakukan kegiatan di sekitar jalur itu. Maka dengan begitu, para pedagang mendapatkan rasa aman meskipun mereka melintasi jalur itu pada malam hari.

Sri Baginda Kertajaya memang memberi perhatian khusus pada perdagangan yang dilakukan di Kerajaan Kediri. Ia memerintahkan pendirian banyak gardu jaga di sepanjang jalur Arjuna. Gardu-gardu jaga dibangun dalam jarak yang dapat diperkirakan akan cepat dicapai dengan berkuda apabila ada masalah yang terjadi. Jaminan keamanan yang diberikan oleh Sri Baginda Kertajaya rupanya menarik minat para pedagang dari luar wilayah Kediri untuk melakukan pertukaran barang antar daerah yang berjauhan.

Akan tetapi jaminan keamanan itu mulai terusik dengan kehadiran Ken Arok dan Toh Kuning. Mereka berdua adalah pemuda yang berusia mendekati dua puluhan atau lebih sedikit dan sering kali menganggu perjalanan banyak pedagang yang melintasi jalur Banengan. Meski mereka tidak berbuat jahat dengan merampas harta benda atau membunuh korbannya, namun perbuatan mereka berdua telah tersebar hingga kotaraja. Namun apa yang mereka berdua lakukan telah mendapat perhatian khusus dari kerajaan sebagai akibat dari kerjasama dengan Ki Ranu Welang.

Beberapa pekan sebelumnya, sebuah iring-iringan panjang muncul dari timur. Roda-roda pedati dan kereta kuda mengepulkan debu tipis. Cuaca hangat menemani mereka dan memberi harapan sesuatu yang lebih baik akan menyambut mereka apabila mereka tiba di Kabuyutan Tertek. Jalanan yang berkelok dan berbatas tebing dan jurang memberi pemandangan yang berbeda bagi para pedagang yang dipimpin oleh Ki Jawani. Meski belum pernah ada kejahatan berat yang terjadi sepanjang Jalur Banengan, namun mereka tidak mau mengalami kejadian buruk yang dapat menganggu kelancaran usaha mereka. Para pedagang ini telah sepakat untuk menyewa jasa keamanan dari sebuah kelompok pengawal bayaran.

Gemeretak suara roda pedati dan kereta terdengar memecah kesunyian yang sekeliling iring-iringan Ki Jawani. Teriakan nyaring perintah berhenti terdengar dari pimpinan pengawal yang berada di ujung depan barisan pedagang.

“Apakah kita mengalami masalah?“ bertanya Ki Jawani pada seorang pengawal bayaran yang berdiri bersebelahan dengan kereta kudanya.

“Tidak ada, Ki Jawani. Hanya sebuah kerikil kecil yang akan segera terlempar ke dalam tebing,” jawab pengawal yang bercambang tipis.

Seorang lelaki dengan kain yang menutupi wajahnya berdiri tegak menghadang iring-iringan pedagang dan menatap wajah pimpinan pengawal dengan sorot mata dingin. Mendadak tangan lelaki itu meraih keris yang terselip di belakang pinggangnya. Dengan gerakan yang ringan ia melayang dan dan kini hanya berjarak tiga langkah dengan pimpinan rombongan.

“Aku mengira bahwa kalian adalah sekelompok pedagang yang berhasil mengubah keadaan,” berkata orang yang menghadang rombongan. Ia bertubuh sedang dengan kaki yang kokoh seperti batu karang.

“Menyingkirlah Ki Sanak! Kami tidak mempunyai urusan yang harus diselesaikan denganmu,” kata pemimpin rombongan dari atas punggung kudanya dengan sebatang pedang yang terjulur.

“Ya,” kata penghadang itu. “Aku akan segera menyingkir dari hadapanmu dengan beberapa benda yang dapat kau jadikan sebagai hadiah untukku,” ia menutup kalimatnya dengan tawa perlahan. Lalu ia berjalan mondar mandir di depan rombongan layaknya seorang guru yang sedang mengajar di depan para cantriknya.

Ia berkata lagi,” Selain jumlah pengikutmu yang banyak, agaknya pedati-pedati itu juga memuat sesuatu yang dapat kami jadikan sebagai hadiah bagi pemimpin kelompok kami.”

Tinggalkan Balasan