Penaklukan Panarukan 20

Kidang Tlangkas menundukkan kepala, terasa dentang jantungnya menghantam dinding bagian dalam dada orang kepercayaan Pangeran Parikesit itu. Darah Kidang Tlangkas seolah berhenti mengalir lalu kemudian ia mengangkat wajahnya dan berpaling pada Pangeran Parikesit. Pangeran parikesit tersenyum lalu mengangguk. Jantung Kidang Tlangkas semakin berdebar lebih  kencang dan terasa tidak ada darah yang mengalir di balik kulit wajahnya.

“Katakanlah, Ngger,” lembut Ki Buyut Mimbasara memberi perintah. Ki Buyut mengerti apabila apa yang akan dikatakan Kidang Tlangkas merupakan satu bagian dari rangkaian yang menjadi sebab penculikan cucunya, Pangeran Benawa.

Sejenak Kidang Tlangkas mengerling pada Ki Getas Pendawa, dan saat ia melihat ketenangan terpancar dari wajah lelaki keponakan Ki Buyut Mimbasara maka Kidang Tlangkas pun menjadi sedikit lebih mampu mengendalikan diri. Ia mengumpulkan keberanian dalam dadanya. Dan kini mengertilah Kidang Tlangkas bahwa penjelasan darinya akan dapat membantu menemukan Pangeran Benawa kembali.

Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh tinggi dan mengenakan pakaian yang menunjukkan keagungan berjalan memasuki ruangan.

“Ayah!” sapa lelaki yang pada masa mudanya dikenal sebagai Mas Karebet. Sejenak kemudian ia memberi hormat pada Ki Buyut Mimbasara dan kedua orang lainnya. Lalu Adipati Hadiwijaya itu menatap tajam Kidang Tlangkas beberapa lamanya.

Kemudian,”Aku tidak mengira apabila Paman Pangeran dan Paman Getas Pendawa akan duduk bersama ayah,” kata Adipati Hadiwijaya membuka percakapan. Ketiga orang yang duduk melingkar dihadapannya saling bertukar pandang sesaat. Pandang mata Adipati Pajang itu kemudian menebar sekeliling seperti mencari seseorang yang ingin ditemuinya.

“Aku tidak melihat Jaka Wening,” berkata Adipati Hadiwijaya dengan mata bertanya. Lalu untuk waktu yang cukup lama, Adipati Hadiwjaya berdiam dan tatap matanya bergantian memandang ketiga orang sesepuh Pajang.

Sejenak kemudian, Ki Buyut Mimbasara menarik nafas dalam-dalam dan berkata,”Wayah Pangeran telah diculik semalam.”

Adipati Hadiwijaya seketika diam tak bergerak dan duduk mematung. Meskipun ia sangat terkejut dan heran, namun ia masih berdiam diri. Adipati Hadiwijaya tidak dapat begitu saja meluapkan kemarahannya dengan cara apapun, ia tahu meskipun kedudukannya sebagai Adipati memberinya tempat untuk itu. Tetapi orang yang memberitahu penculikan Pangeran Benawa adalah ayahnya sendiri, Ki Buyut Mimbasara atau Kebo Kenanga. Maka dalam diam, kecerdasan Adipati Pajang mulai mencoba merangkai segala keterangan yang didengarnya dari prajurit sandi dan senapati yang lain. Meski begitu, Adipati Pajang tidak dapat menyembunyikan kegelisahan mengenai keselamatan Pangeran Benawa.

“Aku meninggalkan padepokan sekitar dua malam yang lalu,” Ki Buyut mencoba mengurutkan peristiwa yang tentu akan membuat Pajang menjadi gempar.

“Pada malam itu aku berkunjung ke rumah Kakang Parikesit,” lalu Ki Buyut Mimbasara menceritakan pertemuannya dengan Ki Getas Pendawa namun ia tidak menjelaskan apa yang mereka bicarakan pada malam itu. Adipat Hadiwijaya mendengarkan penuh seksama dengan sekali-kali dahinya berkerut, tetapi ia tidak merubah letak duduknya.

“Apakah ayah mempunyai sebuah gambaran tentang pelakunya?” bertanya Adipati Pajang pada Ki Buyut Mimbasara.

Ki Buyut Mimbasara menghela nafas, namun kemudian Ki Getas Pendawa menjawab,”Ada sebuah nama yang mungkin kau akan mengingatnya, Ngger.”

Adipati Hadiwjaya menoleh pada pamannya dengan alis yang tertaut. Katanya,”Aku tidak merasa mempunyai seorang musuh di seluruh wilayah Pajang. Namun aku mengerti bila seseorang dapat saja menyimpan kedengkian padaku. Dan jika itu memang pernah terjadi, sudah barang tentu ada sebuah peristiwa yang terjadi belasan tahun silam sebelum kelahiran Jaka Wening. Tetapi aku tidak mengerti bagaimana ia menghubungkan Jaka Wening dengan peristiwa belasan tahun yang lalu.”

Ayah kandung Pangeran Benawa itu kemudian melanjutkan kata-katanya,“ Paman, aku tidak dapat mengingat satu demi satu peristiwa yang aku alami di masa lalu. Namun tentu saja aku dapat bercerita tentang satu atau dua yang membuatku terkesan. Jadi, sebuah nama mungkin belum dapat memberi banyak bantuan untuk persoalan Jaka Wening.”

Pangeran Parikesit memandang Adipati Hadiwijaya dengan seksama, ia seperti ingin membaca isi hati  lelaki yang masih berusaha untuk tenang.  Tetapi sesaat kemudian ia berpaling kepada Kidang Tlangkas, lalu,”Apakah kau akan bercerita di depan ayah Pangeran Benawa?”

Dada Kidang Tlangkas berdesir  dan jantungnya berguncang. Ia tidak menyangka bahwa Pangeran Parikesit akan memerintahkannya menuturkan perjalanannya mengellilingi lereng Merbabu dan Merapi. Dan benarlah perkiraan Kidang Tlangkas, penguasa Pajang itu kemudian bangkit dan berjalan mendekatinya.

Kidang Tlangkas merasa tubuhnya menjadi beku. Lidahnya terasa kelu namun kemudian ia mendengar Ki Buyut Mimbasara berkata lirih,”Aku percaya padamu, Ngger. Tentu Kakang Pangeran tidak akan memintamu melakukan perbuatan yang membahayakan Pangeran Benawa. Bahkan aku tahu kau tidak akan mampu menyakiti Wayah Pangeran.”

“Kidang Tlangkas, aku minta kau tidak menjadikan keadaaan ini semakin sulit dimengerti. Keterangan darimu akan membantu Wayah Pangeran kembali ke Pajang secepatnya,” berkata Ki Getas Pendawa.

Sebenarnyalah Kidang Tlangkas tidak mengerti mengapa Pangeran Parikesit justru memintanya untuk menjelaskan rencana yang disusun Pangeran Parikesit sendiri.

“Bukankah akan lebih mudah jika Pangeran Parikesit yang menjelaskan pada semua orang,” gumam Kidang Tlangkas dalam hati.

Seperti mengetahui jalan pikiran Kidang Tlangkas, Pangeran Parikesit menarik nafas. “Apakah kau benar-benar tidak ingin bercerita, Kidang Tlangkas?”

Pertanyaan Pangeran Parikesit benar-benar membingungkan anak muda yang tumbuh besar dalam lingkungan rumah Pangeran Parikesit itu. Dan memang Kidang Tlangkas merasa seperti terombang-ambing oleh sikap Pangeran Parikesit namun ia menyadari bahwa Pangeran Parikesit pasti mempunyai alasan kuat untuk mendorongnya bercerita. Meski begitu, Kidang Tlangkas kemudian menjadi gemas dalam hatinya.

Tidak” ia menjawab kemudian.

Setelah ia meminta Adipati Pajang kembali duduk, Pangeran Parikesit berkata pada Kidang Tlangkas,”Aku tidak memintamu mengambil alih tanggung jawabku. Aku ingin mengajarkanmu tentang bagaimana kau melindungi Wayah Pangeran ketika kami semua telah tiada. Namun aku melihatmu dalam keraguan dan ketakutan. Sedangkan kau mengerti bahwa tidak ada seorang pun di tempat ini akan membunuhmu hanya karena kau bercerita tentang perjalananmu dan menyampaikan apa rencanaku.”

KidangTlangkas mengerutkan keningnya lalu ia mengakui dalam hatinya bahwa ia benar-benar berada dalam keadaan seperti yang dikatakan oleh Pangeran Parikesit. Ia lalu berkata dengan terputus-putus,”Aku akan menceritakan semuanya, Pangeran.”

“Baik” sahut Pangeran Parikesit sambil mengangguk.

Kemudian Kidang Tlangkas menuturkan dari awal bagaimana ia menerima perintah dari Pangeran Parikesit. Adipati Hadiwijaya menjadi kagum dengan kecerdasan nalar Kidang Tlangkas yang nyaris tidak melewatkan satu bagian perjalanannya. Bahkan ia sesekali menggelengkan kepala ketika Kidang Tlangkas dengan cekatan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Ki Buyut dan Ki Getas Pendawa. Dalam pada itu, Pangeran Parikesit merasa bersyukur bahwa Kidang Tlangkas telah berkembang sesuai dengan harapannya.

Setelah Kidang Tlangkas mengakhiri kisahnya, maka Adipati hadiwijaya berkata padanya,”Kidnag Tlangkas, aku baru menyadari bahwa ternyata kau adalah sebutir mutiara yang tersimpan. Kau mempunyai kecerdasan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk menunjang Pajang. Dan tentu saja, Jaka Wening akan lebih membutuhkan dirimu jika masanya telah tiba. Oleh karena itu, aku harus berterima kasih padamu dan aku ingin berpesan padamu untuk tidak berhenti mengembangkan semua yang ada dalam dirimu. Aku yakin kau pasti akan melakukannya. Bila kau enggan melakukannya untuk Pajang, maka lakukan itu untuk Jaka Wening.”

Pada saat itu, Kidang Tlangkas merasa seperti mendapatkan tanggung jawab baru. Sebuah tanggung jawab yang mungkin baru diemban di masa mendatang namun segala sesuatunya harus dimulai secepatnya. Pangeran Parikesit tersenyum melihat perubahan wajah Kidang Tlangkas. Kemudian atas permintaan Adipati Hadiwjaya, Kidang Tlangkas kemudian meninggalkan ruangan.

Untuk sesaat mereka tenggelam dalam renungan. Selain Pangeran Parikesit, tidak ada seorang pun yang menduga bahwa rencana Pangeran Parikesit benar-benar mampu memancing keluar seseorang yang selama ini tidak menunjukkan permusuhan namun sangat berbahaya.

“Waktuku akan segera tiba,” kata Adipati Hadiwjaya kemudian. Ia berpaling pada Pangeran Parikesit,”Aku harus berterima kasih sekali lagi pada Paman. Sebuah siasat yang cemerlang dan itu membuatku harus banyak lagi membaca perubahan-perubahan yang berkembang di Pajang.”

“Demak,” potong Ki Getas Pendawa.

“Dan Demak,” kata Adipati Pajang itu sambil mengangguk pelan.

Tinggalkan Balasan