Penaklukan Panarukan 22

Ki Buyut mengangguk pelan. Sementara Adipati Hadiwijaya mempunyai lintasan prasangka yang ia sendiri berharap bahwa dirinya akan salah. Namun kemudian ia merasa lega bahwa ternyata ia memang salah menduga ketika Pangeran Parikesit mengutarakan keinginannya,” Aku ingin bertemu dengan Kanjeng Sultan untuk menyatakan keberatan terhadap rencananya menyerang wilayah timur.”

“Bukankah keberatan itu terlambat apabila dibandingkan dengan persiapan Kanjeng Sultan yang telah siaga sepenuhnya?” Adipati Hadiwijaya mengernyitkan keningnya.

“Tidak ada yang terlambat jika dibandingkan dengan ribuan nyawa yang akan berhadapan di medan perang,” Pangeran Parikesit kembali ke tempat duduknya. Ia menghirup udara bersih dengan penuh perasaan. Lantas ia berkata lagi,”Ki Buyut dan Angger Getas Pendawa akan tetap berada di Pajang, sementara aku akan menyertaimu ke Demak.”

“Aku kira itu adalah usul yang tepat, Kakang Adipati,” Ki Getas Pendawa berkata.

Adipati Hadiwijaya merenungi usul Pangeran Parikesit, sejenak kemudian ia berkata,”Baiklah. Tidak ada keberatan dariku mengenai saran dari Paman Parikesit. Tetapi aku minta kita semua terlihat berangkat menuju Demak. Dan Ki Buyut serta Ki Getas Pendawa dapat kembali ke sini setelah keadaan memungkinkan.”

Ketiga orang yang berada didekatnya kemudian mengangguk setuju. Mereka mengerti bahwa siasat itu sengaja dilakukan oleh penguasa tertinggi Pajang untuk mengelabui petugas sandi dari kelompok penentang.

Demikianlah ketika matahari telah bergeser menuju tangga pertama untuk turun dari tempatnya, rombongan Adipati Hadiwijaya bergerak keluar dari halaman istana Pajang.

Benarlah perkiraan Adipati Hadiwijaya bahwa beberapa pasang mata lekat mengawasi mereka sejak keluar dari regol istana.

“Adipati itu membawa semua penasehatnya. Tetapi Kiai Rontek telah berada di batas luar kota,” berkata salah seorang pengamat kelompok penentang.

“Tidak selamanya orang licik itu dapat dipercaya, Ki Gurasan” sahut kawannya yang bertubuh agak gemuk.

“Kau benar,” kata Ki Gurasan,” mungkin mereka sengaja menjebak kita di dalam lingkungan istana. Karena seharusnya mereka keluar bersama para prajurit untuk mencari anak Mas Karebet.” Ki Gurasan mendengus kemudian,”Marilah, kita pergi dari sini dan mengikuti mereka.”

“Lalu bagaimana dengan anak itu?”

“Kita tidak tahu kemana Kiai Rontek menyembunyikannya,” jawab Ki Gurasan sambil menarik lengan temannya bergegas pergi membayangi iring-iringan Adipati Hadiwijaya.

***

Anak lelaki itu duduk bersandar di mulut gua. Tubuhnya sedikit terlindungi dari angin malam yang datang menyusur celah sempit di lereng Merbabu. Udara pegunungan yang dingin terasa menusuk hingga bagian dalam tubuhnya. Pangeran Benawa merasakan tulang kaki dan tangannya seperti diremas oleh tenaga yang tidak terlihat. Dalam pada itu, rasa lapar datang mendera putra kandung Jaka Tingkir dan melilit bagian dalam perutnya.

Sejauh mata memandang, Pangeran Benawa hanya melihat bentuk-bentuk hitam yang menjulang tinggi. Bintang terasa dekat untuk diraihnya namun rasa damai saat melihat bersihnya langit tidak mampu menyingkirkan derita Pangeran Benawa.

Terbayang di pelupuk matanya wajah tenang Ki Buyut Mimbasara dan ayahnya, lalu ia berdesah pelan,”Aku tidak akan kalah, Eyang. Aku akan berkawan dengan semua yang ada disini.”

Pangeran Benawa mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mengulang olah gerak yang ia pelajari dari Ki Buyut Mimbasara. Dengan merapatkan kedua lututnya pada perut, ia membaringkan tubuh pada lantai goa. Sekejap kemudian, Pangeran Benawa mulai mengatur nafas di tengah-tengah udara dingin dan rasa lapar yang sangat terasa perih pada lambungnya. Ia memusatkan budi dan rasa saat keadaan sulit menimpanya. Dalam ruang ingatan yang ia miliki, Pangeran Benawa memulai pembukaan olah gerak satu demi satu dengan tertib. Bintang semakin enggan berkelip dan mereka semakin redup ketika Pangeran Benawa menuntaskan sebuah rangkaian ilmu dalam benaknya.

Tubuh yang awal mulanya meringkuk, kini terasa hangat dan Pangeran Benawa merasakan keanehan. Betapa udara dingin dan rasa lapar seolah lenyap dari sekitarnya. Namun ia kemudian menyadari bahwa kegiatan yang ia lakukan ternyata mampu mengurangi deritanya.

Kini ia mencoba untuk memberanikan diri mengenali watak ilmu Jendra Bhirawa. Pangeran Benawa yang mendapat pengajaran langsung oleh Ki Buyut Mimbasara kini telah bangkit berdiri. Namun sebelum ia menyelami lebih dalam tentang ilmu tingkat tinggi itu, Pangeran Benawa bergeser lebih dalam menyusur goa.

Selangkah dua langkah ia merayap maju, tidak ada yang dapat ditangkap oleh bola matanya.Suasana yang begitu gelap keadaan di dalam goa membuatnya tidak dapat melihat bahkan bagian tubuhnya sendiri. Pangeran Benawa hanya dapat memastikan bahwa dinding goa teraliri air saat tangannya meraba dinding goa. Ia akhirnya dapat memastikan bahwa bagian tengah goa terdapat satu atau dua tiang yang juga teraliri air. Pangeran Benawa dapat memperkirakan bagian yang runcing pada bagian tengah, lalu ia meminum air itu melalui telapak tangannya.

“Aku tidak dapat menyusur lebih jauh. Apalagi keadaan basah di bagian ini bukanlah pertanda baik untuk aku tempati sementara waktu,” desah Jaka Wening dalam hati. Lantas ia kembali ke tempatnya semula.

Tubuh Pangeran Benawa sedikit lebih bertenaga setelah tenggorokannya basah oleh air dari dalam goa. Pangeran Benawa yang kemudian duduk bersila, kini mencoba mengurai ingatan tentang Jendra Bhirawa. Sebuah ilmu yang sebenarnya sangat sulit dikuasai namun kecerdasannya dan kesabaran Ki Buyut Mimbasara membimbingnya, membuat ilmu puncak itu dapat dimengerti oleh putra kandung Mas Karebet itu.

Dalam usia yang terbilang muda, Pangeran Benawa telah memiliki pemahaman yang tinggi tentang keadaan sekitarnya. Ia akhirnya dapat menyingkirkan rasa takut yang sebelumnya sangat deras membanjiri isi dadanya. Simpul ingatan pun terurai satu demi satu. Dalam setiap tarikan nafasnya, Pangeran Benawa mencoba menyalurkan udara yang tertampung ke seluruh bagian tubuhnya. Dalam pada itu, ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia akan dijaga dan selalu bersama Yang Maha Sempurna. Dan seperti yang diajarkan oleh Ki Buyut bahwa setiap marabahaya atau ancaman yang dikhawatirkan akan datang menerjangnya akan selalu mencari ruang dalam dirinya untuk bersemayam. Oleh karena itu, Pangeran Benawa mencoba melebur  setiap rasa khawatir dalam pemusatan budi dan rasa pada saat itu.

Sementara itu di luar goa, angin berhembus pelan diantara dedaunan terdengar seperti kidung merdu yang memanjakan telinga Pangeran Benawa. Lamat-lamat ia mendengar gemericik aliran air dari kejauhan, tubuh Pangeran Benawa semakin hangat karena tenaga inti yang bangkit oleh pernafasan yang dilakukan olehnya merambat pelan membungkus sekujur tubuhnya. Tanpa sadar Pangeran Benawa pun terlelap dalam olah batinnya.

Malam pun menapak jalan untuk berlalu, berganti kicau burung yang menyambut hari baru. Kabut bergerak pelan meninggalkan celah sempit tempat Pangeran Benawa ditinggalkan oleh Kiai Rontek. Saat sinar matahari dapat menggapai ujung pohon yang tumbuh di dasar lembah, Pangeran Benawa kemudian terjaga. Ia beranjak keluar dan berdiri di mulut goa. Sejauh ia memandang yang terlihat adalah padang rumput yang luas dengan pohon-pohon besar menjulang tinggi mengelilingi padang rumput itu.

Sebenarnya ia ingin memburu seekor kelinci yang melintasi padang, namun seperti ada perintah dalam hatinya untuk mengurungkan niat berburu. Lalu sejenak kemudian ia berjalan berkeliling untuk mencari sesuatu yang dapat dijadikannya sebagai pengisi perut yang kosong. Beberapa lembar daun dan akar pun akhirnya ia peroleh dan dibawanya kembali ke goa. Setelah mengisi perut dengan sekedarnya, Pangeran Benawa pun melanjutkan pemusatan budi dan rasa berdasarkan petunjuk Ki Buyut Mimbasara yang telah terhunjam dalam benaknya.

Untuk beberapa hari Pangeran Benawa melakukan kegiatan yang sama, lambat laun kekuatan tubuhnya pun semakin lemah. Namun tanpa disadarinya, Pangeran Benawa telah mempunyai dasar yang sangat kuat untuk menunjang puncak Jendra Bhirawa. Oleh karena itu, luapan tenaga inti sering kali melejit keluar tanpa mampu dikekang oleh Pangeran Benawa. Begitu dahsyat luapan tenaga inti itu melesat keluar dari telapak tangannya, tubuh kecil Pangeran Benawa berulang kali jatuh dan membuatnya tak sadarkan diri.

 

Tinggalkan Balasan