Bara di Borobudur – Utusan dari Pajang 2

Oleh karenanya pada masa pemerintahan Sri Jayanegara sering mendapat gangguan keamanan. Hingga akhirnya Patih Mpu Nambi memerangi pasukan Lembu Sora dan Gajah Biru dan mampu menghalau mereka keluar dari kotaraja. Pasukan yang setia pada kedua panglima itu kemudian bergerak menuju Pajang dibawah pimpinan Ki Tumenggung Nagapati. Semua orang yang tergabung dalam pasukan itu rela meninggalkan kotaraja, sanak keluarga dan kerabatnya. Mereka meninggalkan kotaraja dengan hati teriris sebilah bambu. Betapa kedua panglima mereka dihukum mati dengan cara mengenaskan. Kedua panglima mereka dibunuh tanpa alasan. Lalu upaya mereka untuk membicarakan masalah pengampunan selalu ditolak oleh Sri Jayanegara. Maka atas saran dari Ki Patih Mpu Nambi, pasukan Ki Nagapati melakukan perjalanan panjang. Demikianlah kemudian mereka bergerak menuju Pajang dengan sebuah harapan akan diterima oleh Bhre Pajang yang masih saudara dekat Ra Dyan Wijaya.

Di pembaringannya, Ki Swandanu membayangkan wajah keras Bondan yang tergambar dari lekuk rahang dan tatap matanya. Ki Swandanu terhanyut oleh kenangan di masa lampau. Ia mengingat ketika Bondan memasuki regol halaman rumah Resi Gajahyana dalam gendongan ibunya yang datang bersama suaminya. Bondan adalah anak satu-satunya dari Panji Alit yang mewarisi kekuasaan sebagai Bhre Pajang dari ayahnya. Namun agaknya Panji Alit tidak begitu tertarik dengan tata pemerintahan sehingga akhirnya ia menarik diri dari lingkaran istana. Sri Kertanegara kemudian menunjuk keturunan Panji Saprang sebagai penguasa Pajang sebagai penggantinya. Kemudian Panji Alit bersama dengan istrinya mendatangi Resi Gajahyana meminta kesediaannya untuk merawat dan membesarkan Bondan.

Sepeninggal kedua orang yang menetapkan diri sebagai pertapa di Gunung Sindoro, Resi Gajahyana mengajarkan Bondan tentang ilmu tata bela diri, sastra, ilmu perang dan kehidupan. Resi Gajahyana melihat bakat yang begitu besar dalam diri Bondan. Sepanjang usianya semenjak berada dalam pengasuhan Resi Gajahyana, Bondan satu dua kali ditengok oleh kedua orang tuanya. Sekitar 4 tahun sejak diasuh Resi Gajahyana, kedua orang tua Bondan berpulang kembali asal tempatnya datang.

Ki Swandanu yang berada di dekat Bondan semenjak kecil terkadang membawa Bondan melakukan perjalanan yang cukup jauh bagi seorang anak kecil. Demak, Trowulan, Daha, Madiun dan beberapa tempat lainnya telah didatangi Bondan. Sebab itulah Ki Swandanu kemudian menambahkan sebutan Lelana setelah nama pemberian orang tuanya. Perjalanan jauh yang ditempuh Bondan bersama Ki Swandanu telah mengajarkannya tentang banyak hal. Kemudian di Pajang ia kembali mendapatkan bekal dari Resi Gajahyana. Tumbuh berkembang di bersama-sama orang yang telah matang garam kehidupan telah mendorong Bondan untuk bersikap lebih masak jika dibandingkan anak muda seusianya. Ia mampu menilai satu pertentangan. Ia dapat menghindar dari permusuhan akan tetapi mampu bertahan dalam benturan keras.

Tersentak kecil Ki Swandanu mendengar Ki Hanggapati bergeser duduk di tepi pembaringan.

“Agaknya kakang Swandanu sedang mengenangkan Bondan. Seperti itulah yang kita lihat dalam diri Bondan pada malam ini, serba sedikit ia telah mematangkan diri dengan pengalaman-pengalaman yang menyedihkan dan sangat keras,” berkata pelan Ki Hanggapati.

“Aku sependapat denganmu. Dan aku harap Bondan benar-benar telah meningkat olah rasa dalam jiwanya selain olah kanuragan yang telah dikuasainya sejak kecil. Karena persoalan yang sedang terjadi di lereng Merapi hingga Pajang mungkin akan menyebabkan satu pertentangan timbul dalam hatinya.”

“Kakang Swandanu berkata benar. Kita telah sama mengerti apa yang diajarkan oleh Eyang Resi kepada Bondan dan kita berdua, meski kita tidak pernah menjadi murid Eyang Resi, akan tetapi perhatian Eyang Resi kepada kita sudah lebih dari cukup.”

Ki Swandanu mengangguk-anggukkan kepala. Sejenak kemudian ia membaringkan tubuhnya, maka terasa olehnya rasa lelah menjalar sekujur tubuhnya. Tak lama kemudian ia telah lelap dalam istirahatnya di malam yang tersisa. Ki Hanggapati tersenyum kecil melihat Ki Swandanu yang telah lelap sesaat kepalanya menyentuh bantalan kain di atas pembaringan. Seraya mengatur pernafasan, sebagai orang yang terlatih olah kanuragan, Ki Hanggapati segera menyusul beristirahat dengan membawa satu harapan besar.

Dalam pada itu, Bondan telah memasuki biliknya. Ia duduk di tepi pembaringan sambil menatap lantai masih membayangkan pesan dari Resi Gajahyana.

“Eyang seharusnya masih ingat jika sebenarnya aku baru akan kembali ke Pajang setelah setahun berada Trowulan. Tentu saja keadaan sangat penting telah terjadi di Pajang sehingga eyang mengirimkan paman berdua menyusulku kemari,” kata Bondan dalam hati,”eyang memang sudah berusia lanjut tetapi ia masih mempunyai ingatan setajam belati yang biasa ia gunakan di ladang.”

Bondan membuka telapak tangannya, ia mengalihkan pandangan menatap lekat kedua telapak tangannya. Ia membatin,” Sejauh ini aku tidak berhenti untuk meningkatkan kemampuanku. Aku masih berada dalam tataran yang belum seperti kehendak Eyang Gajahyana.”

Bondan menarik nafas dalam-dalam. Pada malam itu, untuk ke sekian kalinya, ia menyadari kemampuan besar yang ada dalam dirinya. Ia mengingat pesan Resi Gajahyana jika tidak ada seorang pun di bumi ini yang tidak tertandingi, akan tetapi setiap orang akan dapat mencapai puncak tertinggi yang dapat ia kuasai. Luka-luka yang pernah ia dapatkan ketika melawan Ki Cendhala Geni agaknya menorehkan kesan mendalam dalam hatinya. Betapa ia hampir saja menemui dewa kematian jika saja pasukan Ken Banawa dan Gumilang tidak datang tepat pada waktunya. Saat itu, Bondan merasakan seperti berada di jajaran tertinggi dalam olah kanuragan. Tetapi perkelahian yang nyaris merenggut nyawanya telah mengubah Bondan dalam banyak hal.

Sejenak Bondan merebahkan diri dan mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya. Ia akhirnya tenggelam dalam tidurnya.

Ketika matahari didahului rona merah di ufuk timur, orang-orang yang tinggal di dalam rumah itu telah berada dalam kegiatan sehari-hari. Sela Anggara telah berada di dekat sumur untuk mengisi jambangan, Bondan berjalan hilir mudik memberi makan kuda dan membersihkan kandangnya. Seorang lagi terlihat membersihkan halaman dan beberapa perempuan sudah bercanda akrab dengan asap di dapur.

Dalam pada itu, Ki Swandanu dan Ki Hanggapati telah berada di bawah regol halaman. Agaknya kedua tamu dari Pajang itu terbiasa bangun di awal hari. Keduanya terlihat sedikit banyak mengeluarkan keringat ketika membantu membersihkan halaman.

“Silahkan paman berdua membersihkan diri terlebih dahulu. Segala sesuatu telah kami siapkan bagi paman berdua. Sementara, aku tidak dapat menemani paman berdua untuk makan pagi karena sesuatu yang cukup penting harus aku kerjakan di sebelah utara keraton,” berkata Sela Anggara kepada kedua tamunya yang saat itu sedang duduk diatas tlundakan pendapa.

“Terima kasih, Ngger. Kau terlalu baik bagi kami,” berkata Ki Hanggapati dengan senyum di bibirnya. Keduanya bangkit dan beranjak mengikuti Sela Anggara menuju halaman belakang.

Embun di dedaunan berkilau cerah ketika matahari menanjak kaki langit. Iringan mendung terlihat mendekati langit kotaraja. Dalam pada itu, Ken Banawa memasuki regol halaman dengan langkah yang ringan dan tenang. Rambut panjangnya tergelung rapi di bagian belakang kepala. Sejenak ia berhenti untuk bercakap barang sedikit dengan orang yang sedang mencabut rumput halaman.

“Apakah ada kabar dari Gumilang, Ki Narto?” bertanya Ken Banawa setelah memberi salam kepada orang yang bernama Ki Narto.

“Belum, Ki Banawa. Agaknya angger Gumilang akan berada dalam tugasnya untuk waktu yang cukup lama,” jawab Ki Narto menganggukkan kepala.

“Ya, semoga angger Gumilang dapat menambah keluasan wawasan selama berada di Watu Golong,” kata Ken Banawa sambil mohon diri untuk menemui kedua tamu dari Pajang. Ki Narto menjawabnya dengan senyum dan anggukan kepala.

Kedua orang dari Pajang segera bangkit berdiri menyambut kedatangan Ki Ken Banawa di pendapa. Setelah bertukar salam dan saling bertanya keadaan masing-masing, Ki Banawa mempersilahkan keduanya untuk menikmati sedikit hidangan yang tersedia untuk pagi itu.

“Baru saja kami makan pagi bersama dengan angger Bondan, Ki Banawa. Agaknya kami berdua akan segera memasuki gandok lagi karena mata kami tak akan mampu menahan kantuk karena kekenyangan,” berkata Ki Hanggapati tersenyum lebar. Ki Swandanu menganggukkan kepala dengan senyum kecil menanggapi gurauan kawannya.

“Pertemuan ini akan menjadi menarik jika angger Gumilang dapat bergabung dengan kita. Sayang sekali, angger Gumilang tidak dapat menemani kiai berdua karena tugas untuk berlatih bersama pasukan berkuda di Watu Golong,” Ki Banawa berkata seraya menatap pintu pringgitan yang belum terbuka.

“Nyi Retno memang belum keluar menemui kami berdua, Ki Banawa. Seperti yang dipesankan oleh angger Sela Anggara bahwa ibunya akan keluar jika kiai telah hadir di pendapa,” berkata Ki Swandanu seakan mengerti isi pikiran Ken Banawa. Ken Banawa menganggukkan kepala lalu bangkit memanggil Ki Narto memintanya untuk memanggil Nyi Retno. Sejenak kemudian, perlahan-lahan derit pintu pringgitan terbuka dan Nyi Retno melangkahkan kaki menuju tempat ketiga lelaki yang seusia dengannya. Menyusul Bondan berjalan di belakang Nyi Retno Ayu. Bondan kemudian duduk sebelah menyebelah dengan Ki Swandanu dan berhadapan dengan Ken Banawa. Sedangkan Nyi Retno mengambil tempat duduk agak jauh dari ketiganya, lalu,” silahkan adi Banawa untuk membuka percakapan yang mungkin kiai bedua ini sudah menahan diri semalaman.” Meskipun Nyi Retno telah mencapai usia setengah abad, namun garis-garis ketegasan tampak jelas dari sorot matanya. Usia lanjut itu tidak menutup kecantikan yang pernah terukir di wajahnya semasa muda.

“Baik Mbakyu,” kata Ki Banawa lalu bergeser sedikit maju.

“Kiai berdua, tentu saja kedatangan kiai berdua dari Pajang bukan sekedar perjalanan biasa. Usia kita bertiga sudah terlalu banyak untuk melewatkan petualangan seperti di masa kita masih muda. Eyang Gajahyana rasanya akan sulit mencari landasan yang tepat untuk sekedar memanggil angger Bondan pulang ke Pajang,” kata Ki Banawa sambil menatap Bondan.

Keduanya saling menoleh, Ki Hanggapati kemudian mempersilahkan Ki Swandanu mewakili Resi Gajahyana.

“Pergeseran yang terjadi di kotaraja telah terdengar hingga Pajang. Berita-berita tentang apa yang terjadi di kotaraja, Sumur Welut dan Bulak Banteng tiba di Pajang secepat angin bertiup,” Ki Swandanu beringsut maju setapak.

“Begitu cepat pengamat sandi dari Pajang menebar keterangan sampai-sampai tidak secuil yang dapat terlewat,” berkata Ki Banawa.

Tinggalkan Balasan