Penaklukan Panarukan 23

Kepergian Adipati Pajang beserta rombongannya memang tidak menarik perhatian. Mereka mengenakan pakaian prajurit dengan sedikit tanda kebesaran, bahkan Adipati Hadiwijaya mngenakan tanda pangkat seorang rangga. Dengan jumlah tak lebih dari sepuluh orang, maka tak lama kemudian mereka dengan cepat telah mencapai tapal batas kota.

“Ayah, apakah ada kemungkinan Kiai Rontek membayangi perjalanan kita?” bertanya Adipati Hadiwijaya pada Ki Buyut Mimbasara ang berkuda disebelahnya.

“Kemungkinan itu akan selalu ada, namun aku kira ia tidak akan membayangi kita dari wilayah sekitar Pajang,” Ki Buyut Mimbasara menatap lurus ke depan. Ia masih memperkirakan tempat dimana Kiai Rontek menyembunyikan Pangeran Benawa.

Adipati Hadiwijaya menarik nafas panjang setelah melihat raut wajah ayahnya. Sejenak kemudian mereka berdiam diri, hanya sesekali saja Adipati Hadiwijaya melambaikan tangan pada para petani yang berada di sawah. Dan mereka pun membalas lambaian tangan itu karena mengira orang yang menyapanya adalah seorang senopati Pajang.

Setelah dua bidang sawah mereka lalui, Adipati Hadiwijaya memberi aba-aba untuk mempercepat perjalanan. Debu mengepul tebal oleh derap kaki-kaki kuda yang menapak kokoh pada jalan yang telah dipadatkan. Di depan mereka telah tampak rerimbun pohon sebuah hutan kecil lalu Ki Getas Pendawa menganggukkan kepala pada Pangeran Parikesit yang berpaling padanya.

“Kita akan segera berpisah,” kata Pangeran Parikesit pada Adipati Hadiwijaya. Adipati pun menoleh ke belakang lalu mengangguk. Tangan Adipati Hadiwijaya terangkat lalu memberi pertanda khusus, dan tiba-tiba prajurit yang berada di barisan belakang segera memacu kuda lebih cepat menyusul barisan yang berada di depan. Dan yang terjadi kemudian adalah enam penuggang kuda telah melingkari empat orang lainnya ketika mereka hampir memasuki hutan. Sekejap kemudian Ki Getas Pendawa dan Ki Buyut Mibasara telah lenyap dari atas punggung kuda pada saat iring-iringan itu telah beberapa langkah berada dalam hutan.

Yang terjadi sebenarnya adalah tubuh Ki Getas Pendawa dan Ki Buyut Mimbasara melenting ke atas dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa. Mereka berdua secara mengejutkan telah berpijak pada sebatang dahan sebuah pohon yang melintang di atas mereka.

“Kita tetap berada disini hingga hari menjadi gelap, Ki Buyut,” Ki Buyut Mimbasara mengangguk. Lantas ketika ia berpaling pada Ki Getas Pendawa, maka terlihat olehnya segurat kekhawatiran membayang. Seolah mengerti isi hati Ki Getas Pendawa, Ki Buyut kemudian bertanya pada keponakannya,”Apakah kau belum mempunyai perkiraan letak Wayah Pangeran?”

“Belum, Paman,” jawa Ki Getas Pendawa dengan nafas panjang.

“Aku hanya mempunyai perhitungan kecepatan Kiai Rontek bergerak,” kata Ki Buyut kemudian. Ki Getas Pendawa mengerutkan keningnya.

Lalu Ki Buyut meneruskan,”Sebuah tempat yang memungkinkan dia bergerak dan meninggalkan Jaka Wening dalam semalam adalah celah diantara Merbabu dan Merapi.”

Ki Getas Pendawa mendengarnya sambil manggut-manggut dengan mata bergerak-gerak ke kiri dan kanan. Tampak jelas Ki Getas Pendawa sedang berusaha mengingat daerah yang telah dikenalnya dengan baik.

“Ada beberapa goa yang terletak pada celah itu,” kata Ki Getas Pendawa kemudian.

“Akan menjadi sangat sulit apabila Kiai Rontek menempatkan Wayah Pangeran dalam sebuah rumah,” sahut Ki Buyut Mimbasara.

“Benar,” kata Ki Getas Pendawa.

Namun percakapan mereka terpotong ketika dari kejauhan tampak beberapa bayangan berkelebat cepat menembus keremangan senja memasuki belantara. Ki Getas Pendawa berkata lirih,”Mereka berkepandaian tinggi.”

Ki Buyut pun mengangguk lalu ia lekat menatap pergerakan orang-orang yang bergerak secepat kuda terbang. Dan tak lama kemudian mereka melintas di bawahnya. Ki Buyut memandang Ki Getas Pendawa lalu mengangguk, sekejap kemudian dua orang Pajang ini berpisah tanpa menimbulkan suara pun melesat menuju arah berlawanan. Ki Buyut Mimbasara bergerak menuju padepokan dan dari sana ia akan memulai pencarian Pangeran Benawa, sementara Ki Getas Pendawa menyusul di belakang ornag-orang yang mengejar rombongan Adipati Hadiwijaya.

Sementara itu, pendengaran Pangeran Parikesit dan Adipati Hadiwijaya telah menangkap getar bunyi yang timbul dari orang-orang yang menyusul mereka dengan kecepatan luar biasa.

“Lanjutkan perjalananmu, Angger Adipati!” seru Pangeran Parikesit lalu memutar kudanya diikuti oleh dua orang prajurit, dan empat prajurit lainnya terus melaju di belakang pemimpin mereka.

“Gandrik!” umpat Ki Gurasan saat dilihat olehnya tiga orang berkuda menyambut mereka dengan senjata teracung lurus ke arah mereka. Namun Ki Gurasan yang mengenal sosok Pangeran Parikesit berbelok arah dengan tajam menghindari benturan keras. Ia lebih memilih bertarung dengan Adipati Hadwijaya semakin jauh berada di depan.

Pangeran Parikesit yang menyadari perubahan arah dari pengejar Adipati kemudian melayang deras di belakang Ki Gurasan. Tiba-tiba desir angin terdengar menyambar dari arah pelipis kanannya. Dengan sigap Pangeran Parikesit mengelak dengan sedikit menggoyangkan kepala tanpa mengurangi kecepatannya mengejar Ki Gurasan. Satu bayangan hitam berkelebat melebih kecepatan Ki Gurasan datang menerjang Pangeran Parikesit. Kedua orang ini tak dapat lagi mengelak dari benturan yang sangat keras.

Pangeran Parikesit yang terdorong ke samping dapat segera menguasai keseimbangan, sementara orang yang belum dikenalinya itu bergulingan lalu meloncat berdiri.

“Batara Keling!” seru Pangeran Parikesit kala mengenali orang yang berusaha menghadangnya dengan kekuatan seperti puluhan ekor kerbau yang marah.

“Tidak salah kau melihat, kawan!” kata Batara Keling yang bertubuh lebih kecil dari Pangeran Parikesit namun ilmu dan namanya sangat disegani di tlatah Demak hingga pesisir timur.

“Apakah aku sedang menghadapi seorang patih Demak?” bertanya Pangeran Parikesit lalu menyindirnya dengan memberi hormat. Pangeran Parikesit tidak pernah melupakan orang yang telah menyalakan api kekacauan di sekitar lereng Lawu hingga Gunung Wilis. Batara Keling adalah sebuah kekuatan penting yang meniupkan ketakutan serta kegelisahan pada penduduk di sekitar dua gunung itu dengan menyebarkan berita kematian Raden Fatah, namun di saat lain orang-orang Batara Keling menghembuskan kabar kematian Prabu Brawijaya ditangan Raden Fatah. Dan bersamaan dengan kedua berita yang bertolak belakang itu, Batara Keling mengambil keuntungan untuk menjarah dan menguasai harta benda yang ditinggalkan oleh penduduk.

Geram hati Batara Keling mendengar nada ejekan dari Pangeran Parikesit, ia tidak ingin membuang waktu seperti yang pernah dilakukannya di masa lalu. Maka sejenak kemudian ia mulai menghimpun seluruh tenaga inti yang dimilikinya dan berniat merobohkan Pangeran Parikesit dalam satu gebrakan. Puluhan tahun telah berlalu dan ia yakin dengan kekuatan dan latihannya selama ini, ia akan mampu membunuh saudara seayah dari Ki Buyut Mimbasara ini.

“Lakukan apa yang kau inginkan, pangeran yang terbuang!” desis Batara Keling. “Kau tidak akan dapat bernafas lagi sebelum gelap semakin buta.”

“Aku akan katakan padamu supaya kau dapat menjadi lega setelah berpisah dengan jasadmu. Aku akan membersihkan nama keluargaku, patih Demak!” tenang berkata Pangeran Parikesit.

“Kau telah terbuang, Pangeran! Kakakmu tidak menyisakan kedudukan bagimu, bahkan ayahmu tidak memberi pesan apapun untukmu!”

“Selama aku hidup memang tidak ada yang lebih berbahaya dari dua wajah yang berbeda, kau tentu tahu itu, Batara Keling. Dan sekarang kau katakan hal buruk mengenai Ramanda Prabu, sementara pada masa yang lewat kau berkata padaku tentang segala hal kebaikan Ramanda untuk sebuah pengampunan dari kerabatku.”

“Pangeran Buangan, kau juga tahu betapa penting arti sebuah kehidupan yang bahkan Sang Mahadewa pun melarang makhlukNya saling berbunuhan,” kata Batara Keling dengan bahu terangkat. Ia melanjutkan kemudian,”Satu pengampunan darimu bukanlah perbuatan yang dapat dibanggakan. Kau bebaskan aku dari kematian, dan Sang Mahadewa memang menghendaki itu terjadi. Dan kau dapat saksikan sekarang bahwa aku adalah manusia yang Ia kasihi, Pangeran yang Terbuang.”

 

Tinggalkan Balasan