Penaklukan Panarukan 24

“Melihatmu dapat berkata dengan lancar dan masih berjalan tegak tak ubahnya melihat mayat yang berjalan. Mungkin Tuhan mempunyai tujuan lain tetapi itu bukan karena Ia mengasihimu,” Pangeran Parikesit masih mampu memegang kendali perasaannya.

Dan tiba-tiba Pangeran Parikesit bergeser dua tiga langkah ketika Batara Keling secara mendadak menggebrak dengan kekuatan dahsyat. Terdengar Batara Keling menggeram marah ketika serangannya  hanya menerjang tempat kosong. Pangeran Parikesit belum menampakkan keinginan untuk membalas serangan Batara Keling. Ia masih berdiri tenang dalam keadaan siaga saat lawannya kembali mempersiapkan diri menyusun tata gerak.

Sekejap kemudian, bayangan tubuh Batara Keling telah hilang dari penglihatan. Gerakan yang ia lakukan sangat cepat dan mengeluarkan suara berdengung seperti lebah. Kibasan kedua tangan Batara Keling yang melepaskan angin panas mampu menggetarkan batang-batang pohon yang berada di dekat lingkar pertarungannya dengan Pangeran Parikesit. Menyadari kemampuan lawannya yang tinggi, Pangeran Parikesit meningkatkan kemampuannya selapis demi selapis mengimbangi kekuatan Batara Keling.

“Bersiaplah untuk menemui ayahmu, Pangeran Yang Terbuang. Aku akan membunuhmu dan dua prajurit itu.”

“Batara Keling!” sahut Pangeran Parikesit,”Mengapa kau tidak segera saja berhenti untuk melanjutkan perbuatan-perbuatan yang banyak membuat orang lain menderita? Berhentilah, karena hanya dengan berhenti maka Tuhan akan mengasihimu.”

“Lanjutkan itu dalam mimpimu, Pangeran. Jauh di belakangku telah bersiap pasukan sehamparan tebasan parang. Dan kau mungkin dapat menyaksikan jika Tuhan akan menuruti kehendakku.”

“Sekalipun aku tidak ingin membunuhmu,” Pangeran Parikesit melenting surut,”Tetapi menghentikanmu adalah satu tugas yang harus aku tunaikan, Batara Keling.”

Lantas yang terjadi kemudian adalah kedua orang yang telah lama saling mengenal ini tenggelam dalam sebuah perkelahian yang sengit. Pertarungan yang lain yang terjadi di dekat mereka pun terpaksa harus menjauhi keduanya. Betapa angin panas yang keluar dari telapak Batara Keling seringkali menyambar tubuh mereka hingga terasa perih.

Sementara itu, dua orang pengawal Adipati Pajang yang menyertai Pangeran Parikesit telah berpencar.  Dua orang prajurit ini adalah bagian dari Pasukan Khusus Pengawal Istana yang mempunyai kemampuan setara dengan lima belas orang. Meskipun mereka telah berada dalam lingkaran yang dikelilingi orang-orang Batara Keling, dua orang pengawal ini dapat memberi perlawanan dengan gerakan yang gesit dan lincah. Tubuh mereka terlihat sangat ringan sekali menghindari serangan demi serangan yang dilontarkan para penentang secara bergantian.

Akan tetapi, empat orang yang menjadi lawan mereka bukanlah prajurit dengan kemampuan pada tataran rendah. Empat orang penentang ini merupakan orang-orang yang telah lama berlalu lalang dalam pergumulan olah kanuragan. Demikianlah, maka keadaan pertempuran yang melibatkan enam orang itu kemudian berubah. Keseimbangan tidak lagi dapat dijaga oleh dua prajurit dari Pajang. Perlahan dan penuh kepastian kedudukan prajurit Pajang telah berada dalam bahaya. Sekali-kali tubuh mereka nyaris yang dapat terhantam serangan para penentang yang datang membadai.

Lalu secara mengejutkan, keadaan di sekitar lingkaran pertempuran itu menjadi terang benderang dan menyilaukan. Tiba-tiba beberapa bola cahaya berukuran kecil melesat deras menerpa para pengepung prajurit Pajang. Penglihatan mereka tiba-tiba menjadi gelap karena cahaya yang keluar dari bola-bola kecil itu sangat menyilaukan mata. Empat orang pengeroyok itu menjadi sangat terkejut, mereka dengan cepat menghindar dengan sembarangan. Namun terdengar suara nyaring saat satu dua orang dari mereka terlambat menghindari sambaran bola-bola bercahaya putih menyilaukan dan tubuh mereka terjengkang roboh. Namun mereka kemudian berusaha bangkit berdiri.

Dua orang pengawal Adipati Pajang dapat mengenali orang yang datang membantunya melalui suara yang telah mereka kenal.

“Kalian harus cepat menyusul Kanjeng Adipati!” perintah orang yang baru datang itu.

“Baik, kiai!” sahut bersamaan dua orang prajurit Pajang yang kemudian dengan ringan telah meloncat ringan di atas punggung kuda. Lalu tak lama kemudian mereka bergerak menjauh menembus hutan dalam malam yang gelap.

Batara Keling yang sempat terhenyak kemudian beringsut keluar dari lingkar pertarungannya. Tajam ia memandang sosok yang baru datang dengan cara yang mengejutkannya. Lalu tiba-tiba Batara Keling tertawa dengan suara yang membuat bulu kuduk meremang. Kedatangan Ki Getas Pendawa bukanlah bagian dari rencana yang telah ia susun, bahkan sama sekali tidak termasuk sesuatu yang ia harapkan. Namun kesombongan yang tumbuh subur mengakar dalam hatinya telah menjadikannya untuk menetapkan sebuah keputusan yang tidak wajar.

“Sulit untuk dipercaya tetapi inilah kenyataan yang terjadi!” kata-kata Batara Keling terdengar diantara gema tawanya yang mengerikan. Empat orang kawannya yang melangkah mendekatinya pun saling bertukar pandang, mereka belum memahami maksud kata-kata Batara Keling.

Batara Keling melihat pada mereka, lalu,“Paman dan keponakan telah berkumpul pada satu tempat, dan mereka sedang menanti hukuman dariku atas perbuatan mereka selama menjadi orang-orang yang terbuang.”

“Apakah mereka berdua anak cucu raja bernyali kecil?“ bertanya salah seorang dari para penentang.

“Tidak salah!” sahut Batara Keling.

“Marilah, Jagat Batara,” kata orang yang mengenakan ikat kepala berwarna merah sambil bertolak pinggang,”Kita tuntaskan pekerjaan ini dan menukar dua kepala ini dengan lantakan emas.”

Ki Getas Pendawa menarik nafas dalam-dalam lalu berpaling pada Pangeran Parikesit yang terlihat tenang. Ki Getas Pendawa kemudian mendesah lirih,”Ternyata masih ada orang yang menganggap kita berdua ini adalah sebuah hadiah, Paman.”

Pangeran Parikesit hanya diam saja mendengar Ki Getas Pendawa mengungkap perasaannya. Meski begitu, kedua mata Pangeran Parikesit tdak dapat menyembunyikan kemarahan yang tersimpan dalam dadanya. Ia berdiri tegak lekat menatap Batara Keling beserta pengikutnya.

Orang yang berikat kepala merah itu kemudian bertanya pada Batara Keling,” Apakah kita mempunyai pesaing, Batara?”

“Tentu saja, Rambesaji. Kita tidak sendirian dalam memburu emas lantakan,” jawab Batara Keling yang  memicingkan mata saat matanya bertemu pandang dengan Pangeran Parikesit. Dalam pada itu, Batara Keling merasa dadanya seperti dihunjam sebongkah batu berujung tajam dan tepat mengenai jantungnya. Betapa sorot mata Pangeran Parikesit mempunyai kekuatan yang seolah dapat meledakkan tebing batu pada lereng Merapi.

“Siapakah yang berani memberi harga untuk kepala kami berdua?” bertanya Ki Getas Pendawa.

Rambesaji menggeleng lalu jawabnya,”Kau tidak perlu tahu, cucu raja kecil. Yang perlu kau ketahui hanyalah hadiah besar telah menanti kami semua.” Rambesaji tergelak lalu tiba-tiba ia menggerakkan tangannya dan dorongan tenaga inti keluar darinya melabrak Ki Getas Pendawa.

Tanpa bersusah payah, Ki Getas Pendawa setapak melangkah ke samping menghindari tenaga inti Rambesaji, kemudian katanya,”Jangan terburu, Rambesaji. Aku mempunyai waktu yang sangat lama untukmu dan tentu menjadi kehormatan bagiku dapat menjadi hadiah.” Rambesaji merasakan nada hinaan dari kata-kata Ki Getas Pendawa. Ia bersiap untuk meningkatkan tenaga namun tiba-tiba niatnya seolah terhenti ketika suara Pangeran Parikesit datang membentur jantungnya.

“Kami tidak pernah menginginkan perang, kami hanya menginginkan sebuah kekuatan yang dapat membuat wilayah ini menjadi semakin kuat,” berkata Pangeran Parikesit tiba-tiba. “Tentu saja kalian tidak akan pernah menjadi bagian dari kekuatan yang aku harapkan. Karena justru awal kehancuran negeri ini disebabkan oleh sikap serta perbuatan kalian.” Suara Pangeran Parikesit terdengar seperti gelegar bebatuan yang runtuh dari puncak gunung.

Batara Keling mendengus marah. Dan tidak dinyana sama sekali, Batara Keling kemudian menghantamkan kakinya pada tanah lalu sebuah aliran tenaga inti merambat cepat menuju Pangeran Parikesit. Getar yang ditimbulkan oleh hantaman itu dapat menyesakkan nafas orang yang berkepandaian rendah, maka dengan begitu Pangeran Parikesit menyambut serangan itu dengan cara yang sama. Pangeran Parikesit pun kemudian menghentak kakinya dan melambarinya dengan lapisan tenaga inti untuk membendung serangan Batara Keling.

Tidak ada suara yang terdengar ketika dua kekuatan raksasa itu bertumbuk di dalam tanah. Namun tanah tempat orang-orang itu berpijak menjadi bergetar begitu hebat. Beberapa pohon besar bergoyang sangat keras, dan pada satu bagian lain menjadi merekah serta menumbangkan dua batang pohon.

Tinggalkan Balasan