Penaklukan Panarukan 25

Orang-orang di sekitar mereka terbelalak dan berdiri mematung dengan pandang mata tidak percaya. Bahkan Ki Getas Pendawa terkejut bukan kepalang. Sepanjang hidupnya ia hanya mendengar penuturan orang tentang ketinggian ilmu Pangeran Parikesit dan Ki Buyut Mimbasara. Hingga pada malam itu, ia menjadi saksi mata kehebatan saudara dari ayahnya itu ketika mengubah alur tenaga inti Batara Keling dan meleburnya di dalam tanah.

Jantung Batara Keling berdegup kencang saat ia mengetahui bahwa tenaga inti yang dilepaskannya ternyata mampu diubah arahnya dan dilebur oleh orang yang disebutnya sebagai Pangeran Yang Terbuang. Pada bagian lain dari dirinya, tumbuh rasa enggan untuk melanjutkan pertarungan beradu dada menghadapi Pangeran Parikesit. Sementara akar keangkuhan yang telah sangat dalam menancap erat dan berkembang dalam hatinya terus memaksa Batara Keling untuk melanjutkan perkelahian.

Dalam pada itu, Batara Keling dengan kecepatan gerak yang melebihi burung sikatan datang menyambar Pangeran Parikesit. Gerak ayun tangan dan kakinya masih mengeluarkan udara panas yang mampu membakar kain pakaian orang yang berada dalam jarak sepuluh langkah darinya. Untuk kedua kalinya, kedua orang  berilmu sangat tinggi ini kembali saling membelit dan melibat. Pertarungan jarak dekat itu sangat menggetarkan. Mereka bergerak diluar batas wajar penglihatan dan tidak terdengar seruan-seruan tertahan dari bibir mereka. Pertarungan yang hanya dipenuhi dengan suara benturan-benturan dua kekuatan ilmu.

“Ternyata kau tidak terlena dalam pembuanganmu, Pangeran,” kata Batara Keling di sela perkelahian yang sangat dahsyat itu. “Seharusnya kau mengundurkan diri dari pusaran yang terjadi di Demak. Tetapi yang aku saksikan justru kau semakin sombong dengan mengambil kedudukan di sebelah Mas Karebet sebagai penasehat. Aku jadi berpikir, apakah kau memang telah merasa bahwa Mas Karebet dapat dikalahkan?”

“Batara Keling!” sahut Pangeran Parikesit,”Angger Adipati dapat dikalahkan oleh siapa saja dan aku akan selalu berada disisinya untuk memastikan bahwa Angger Adipati tidak akan menyimpang dari paugeran sebagai seorang pemimpin.”

“Kau selalu menyuruhnya untuk berpegang pada harapan palsu, Pangeran!” sergah Batara Keling sembari mengibaskan punggung telapak tangannya.

Pangeran Parikesit menatapnya tajam. Ia pun meningkatkan lapis pertarungan. Dalam waktu kurang dari sekejap, keduanya nyaris berada dalam tingkat puncak kemampuan masing-masing. Udara panas yang selalu mengiringi pergerakan Batara Keling semakin meningkat tajam. Terkadang benturan tangan kosong yang terjadi pada keduanya mampu menimbulkan percikan cahaya merah. Tak jarang lidah api keluar pada saat mereka berpapasan saling menerjang.

Sementara itu, empat orang penentang kawanan Batara Keling telah berloncatan mengurung Ki Getas Pendawa dengan serangan yang hebat.

“Ki Getas!” seru Rambesaji,“Menyerahlah! Jangan kau berkata kemudian apabila akhirnya seluruh keluargamu tidak lagi dapat berjalan di atas bumi.” Gerak Rambesaji yang ringan dan cekatan memainkan tongkat berwarna kuning yang menderu-deru menerbangkan debu ke arah Ki Getas Pendawa.

“Kau masih saja bermain-main dengan tongkat yang kau rampas dari gurumu, Rambesaji,” berkata Ki Getas Pendawa.

Tenggorokan Rambesaji tercekat. Ia tidak mengira jika Ki Getas Pendawa dapat mengenali tombak kuningan dengan ujung seekor kepala naga milik gurunya. “Ini milikku,” sahut Rambesaji. “Guruku sudah tak dapat lagi memainkan senjata ini.”

“Senjata itu pernah aku gunakan untuk berlatih di masa hidup Mpu Sangginang. Untuk masa yang singkat, ia memberiku pengajaran tentang tombak,” kata Ki Getas Pendawa sambil menghindari serangan-serangan dari tiga orang kawan Rambesaji.

“Itu tidak berarti kau adalah saudara seperguruanku, cucu raja kecil!” Rambesaji tergelak dan ia belum mengurangi tekanan pada lawannya ayng bertempur seorang diri.

“Aku masih menghormati gurumu dengan memperingatkanmu. Menyingkirlah, Rambesaji! Aku tidak akan segan melangkahi mayat Mpu Sangginang dengan membunuhmu.”

Raut wajah Rambesaji menjadi merah. Ia merasa dianggap ringan oleh Ki Getas Pendawa sementara nama seorang Rambesaji telah jauh dikenal orang melebihi puncak Merapi. Ia memberi perintah pada kawan-kawannya untuk meningkatkan serangan. Rambesaji berkata kemudian,”Pangkal tombak ini akan menghisap darahmu hingga kering, setan keketan!”

Sejenak kemudian kelima orang itu bertarung dalam lapisan yang lebih tinggi dan lebih cepat. Ki Getas Pendawa sama sekali tidak membuat penilaian untuk masing-masing lawannya karena ia telah mendapatkan gambaran tentang kedalaman ilmu para pengeroyoknya. Senjata milik empat orang pengikut Batara Keling itu menghujani Ki Getas Pendawa tiada henti seperti air hujan yang turun sangat deras. Namun tidak ada seujung kain pakaian Ki Getas Pendawa yang menjadi sobek karena ujung senjata lawan-lawannya.

Tiba-tiba Ki Getas Pendawa melompat surut dan sepasang ranting telah tergenggam di kedua tangannya. Dengan cepat kemudian Ki Getas Pendawa mulai membalas serangan, namun dalam pada itu Ki Getas Pendawa agaknya masih berhitung untuk melepaskan bola-bola cahaya untuk mengakhiri perlawanan para penentang. Dan sebagai gantinya adalah sepasang ranting yang berada dalam genggamannya berputar semakin cepat. Terdengar letupan kecil berulang kali tatkala sepasang ranting Ki Getas Pendawa berbenturan dengan senjata dari empat orang lawannya.

Meskipun Ki Getas Pendawa tidak ingin tergesa-gesa untuk segera menuntaskan perlawanan para penentang, namun ia teringat Adipati Pajang yang mungkin saja menghadapi keadaan yang berbebda dengannya. Maka sesaat kemudian, tandang Ki Getas Pendawa menggetarkan hati lawan-lawannya. Sepasang ranting itu kemudian berputar lebih kuat bahkan setiap kali terjadi benturan maka hampir dapat dipastikan jka senjata lawannya akan terlepas. Para pengeroyok Ki Getas Pendawa sebenarnya telah memperhitungkan kekuatan ilmu sepupu Adipati Pajang itu, bahkan mereka memberi penilaian tersendiri atas keberadaan sepasang ranting yang panjangnya tak lebih dari sejangkauan tangan. Sekilas memang terlihat ganjil bahwa sepasang ranting itu tidak patah saat membentur senjata yang terbuat dari besi dan kuningan, tetapi Ki Getas Pendawa adalah orang berkepandaian tinggi sehingga ranting kayu pun mempunyai kelebihan ketika berada dalam tangannya.

Betapa kemudian mereka mengalami sendiri bahwa benteng tangguh Ki Getas Pendawa yang sangat sulit ditembus meski empat orang itu telah mencapai puncak ilmu mereka. Para pengikut Batara Keling merasa kedudukan tidak lagi seimbang, namun mereka masih menunggu perintah Rambesaji untuk melakukan tekanan secara bersamaan. Bahkan setiap kali Rambesaji harus menahan geram perasaan. Setiap kali mereka melakukan tekanan, Ki Getas Pendawa selalu dapat menjaga keseimbangan perkelahian. Bahkan ini mereka mulai terdesak oleh Ki Getas Pendawa yang mulai menapak lapis lebih tinggi.

“Mereka memberiku keterangan yang salah,” geram Rambesaji dalam hatinya. Sebelumnya ia memperkirakan bahwa iring-iringan Adipati Pajang akan dapat dibinasakan dengan mudah karena mereka mendapatkan laporan bahwa Adipati Hadiwijaya adalah satu-satunya orang berilmu tinggi dalam rombongan itu.

Meskipun demikian, Rambesaji dan kawan-kawannya belum menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah. Beberapa kali mereka berusaha menyerang bersama-sama, tetapi serangan mereka seperti tidak menimbulkan pengaruh yang berarti bagi pertahanan Ki Getas Pendawa. Dengan sebuah tanda yang hanya dikenali oleh kalangan mereka sendiri, Rambesaji dan kawan-kawannya kemudian melompat surut. Udara di sekitar lingkar pertempuran yang tidak seimbang dari segi jumlah itu kemudian berubah-ubah. Dalam waktu singkat, udara menjadi hangat lalu dengan tajam meningkat semakin panas lalu kemudian secara mendadak beralih menjadi sejuk dan dingin. Perubahan udara itu berlangsung begitu cepat dan silih berganti dari panas menjadi dingin, dari dingin menjadi panas. Debu-debu mengepul tinggi meskipun tidak ada pergerakan dari lima orang yang berada dalam lingkaran perkelahian itu. Daun-daun kering berputar-putar seperti tertiup oleh badai kecil yang melanda kawasan luar dari hutan kecil yang terletak jauh di luar kota Pajang.

Tinggalkan Balasan