Penaklukan Panarukan 26

Secara mendadak berulang kali udara panas saling mendesak dan mendorong udara dingin. Benturan yang tidak tampak oleh mata biasa itu memang membingungkan. Yang terjadi sebenarnya adalah Rambesaji dan kawan-kawannya bergantian mendesak Ki Getas Pendawa dengan udara yang berlainan watak, sementara dalam ada itu Ki Getas Pendawa mempertahankan diri dengan tenaga inti yang sama sekali tidak mengeluarkan sifat panas dan dingin. Disinilah kehebatan Ki Getas Pendawa yang sebenarnya, ia mampu membelit dan membenturkan gabungan tenaga inti yang berlainan tanpa disadari oleh lawan-lawannya. Dalam benturan-benturan seperti itu, lawan-lawan Ki Getas Pendawa mengira sedang berusaha menembus benteng pertahanan cucu Prabu Brawijaya.

Beberapa kejap mata kemudian, tiba-tiba Ki Getas Pendawa lenyap dari pandangan. Dalam suasana gelap, bayangan tubuh Ki Getas Pendawa sudah tidak dapat terlihat lagi meski Rambesaji telah mengerahkan puncak ilmunya untuk mempertajam penglihatannya. Barisan pengepung Ki Getas mendadak berubah menjadi tidak teratur, mereka kebingungan memperkirakan kedudukan Ki Getas Pendawa yang seperti lenyap ditelan bumi. Indra pendengaran mereka juga tidak dapat menangkap getar bunyi yang ditimbulkan Ki Getas saat bergerak.

Selagi kelompok penentang berada dalam kebingungan, bola-bola cahaya putih meluncur deras dari segala penjuru menembus dinding-dinding udara panas dan dingin yang tak terlihat mata. Bola-bola itu seperti tidak mengalami hambatan untuk mencapai tubuh para pengepung Ki Getas Pendawa. Di tengah gerakannya yang luar biasa cepat, Ki Getas Pendawa mampu melontarkan serangan yang tidak diperkirakan oleh Rambesaji beserta kawan-kawannya.

“Tua bangka gila!” geram Rambesaji ketika melihat puluhan bola api terlontar ke arah mereka dari delapan penjuru angin. Kening Rambesaji mengembun, sementara empat orang kawannya merasakan keberanian mereka menjadi lenyap. Kematian segera membayang di pelupuk mata mereka ketika tidak ada lagi jalan keluar yang terlihat saat bola-bola cahaya putih itu datang membawa berita maut.

Rambesaji dengan suara menggelegar memberi perintah yang anya dipahami olehnya dan pengikutnya. Maka kemudian yang terjadi adalah empat orang kawannya melingkari Rambesaji dengan bertumpu pada satu lututnya. Sementara Rambesaji yang berada di tengah lingkaran dengan kedua tangan membentang seperti rajawali membuka sayap. Ia berdiri dengan kedua kaki berpijak sekokoh tebing batu Merbabu. Mata Rambesaji tajam menatap lurus ke depan. Ia bersiap menyambut hujan bola cahaya putih yang dalam sekejap akan mencapai garis lingkaran mereka.

Lalu terdengar suara berdentum yang mengguncang isi dada dan beberapa pohon tumbang ketika bola-bola cahaya putih membentur gabungan tenaga inti yang terlontar keluar dari kedua telapak tangan Rambesaji. Sebagian bola putih itu kemudian memudar dan lenyap, namun beberapa bola mampu menembus gabungan tenaga inti dan telak menghantam orang-orang yang melingkari Rambesaji. Bahkan Rambesaji pun harus melentingkan tubuhnya ke atas untuk menghindari terjangan bola-bola putih yang mampu menembus dinding tenaga inti.

Lengking suara kesakitan membahana memenuhi udara malam. Dua orang kawan Rambesaji terpelanting roboh dan tak mampu bangkit lagi. Dan dua orang lainnya terdorong mundur, tatap mata kedua orang itu menyiratkan amarah tatkalan masih mencari-cari sosok Ki Getas Pendawa yang masih bergerak di sekitar mereka dengan kecepatan melebihi batas kewajaran.

“Siluman seperti apa yang sedang kita hadapi?” bertanya seorang diantara mereka.

“Ia benar-benar anak dari siluman Merbabu,” sahut kawannya sambil memperbaiki tata pernafasan untuk melonggarkan dadanya yang terasa seperti ada dua ekor gajah sedang berdiri diatas kedua bahunya. Ia melirik keadaan kawannya yang bertanya dan tampak olehnya bahwa keadaan temannya jauh lebih parah darinya. Sealiran darah terlihat keluar dari telinga dan hidungnya. Sejenak kemudian, ia melihat Rambesaji dengan tubuh sedikit merendah telah berada di tengah lingkaran pertarungan mereka. Meski begitu, pengikut Rambesaji itu masih belum dapat memperkirakan letak Ki Getas Pendawa.

Sementara itu, Rambesaji harus mengakui keunggulan ilmu Ki Getas Pendawa yang benar-benar dirasa olehnya seperti berada di kaki langit.

“Aku mendengar orang terakhir yang mampu melakukan serangan dengan cara seperti itu adalah Toh Kuning, dan itu sudah berlalu ratusan tahun yang lalu,” gumam Rambesaji penuh kagum. Ingin rasanya ia mengakhiri perkelahian itu namun ia terikat oleh keadaan yang tidak akan memberinya keleluasaan untuk berbuat sekehendak hatinya.

Sosok Ki Getas Pendawa tiba-tiba berada dihadapannya. Kata Ki Getas Pendawa kemudian,”Pergilah, aku tidak akan mengejarmu.”

“Kau selalu bermimpi tentang kejahatan yang akan selalu kalah, cucu raja kecil,” sahut Rambesaji. Ia meneruskan,”Aku masih dipenuhi rasa penasaran tentang alasan bahwa kalian selalu menganggap kebenaran ada berada di pihak kalian. Sementara kebenaran dan kejahatan adalah buah dari sebuah tanggapan tentang peristiwa.”

“Aku tidak mempunyai waktu bertukar cakap denganmu, Rambesaji,” suara Ki Getas Pendawa terdengar begitu menggetarkan sekalipun ia tidak berkata dengan keras.

“Lihatlah dirimu, orang tua,” sahut Rambesaji sambil menunjuk pada Ki Getas Pendawa,”Tiada henti kau anggap kami adalah orang-orang yang merusak tatanan yang ada. Akan tetapi tidak satu pun perbuatan darimu dan keluargamu untuk mempertahankan tatanan itu. Lihat kenyataan, tahta telah beralih ke Demak dan kau terkucil dari pergaulan saudara-saudaramu.”

Ki Getas Pendawa menarik nafas panjang, ia berkata,”Rambesaji, aku tidak menyediakan waktu lebih banyak untukmu.”

Usai mengatup bibirnya dengan rapat, Ki Getas Pendawa menerjang maju. Dalam pada itu, lambaran tenaga inti miliknya telah merambat maju menyerang Rambesaji sebelum ia melakukan gerakan. Sehingga yang terjadi adalah tubuh Rambesaji bergetar hebat menerima gelombang tenaga inti Ki Getas Pendawa, sekejap mata kemudian tubuh Ki Getas Pendawa melayang deras dan sebuah telapak tangan terbuka darinya telah berada diatas kepala Rambesaji.

Tak ingin kepaalanya menjadi sasaran yang mudah dihantam, kedua lengan Rambesaji segera menyilang menutup celah yang terbuka lebar diatas kepalang. Sementara kedua kaki Rambesaji sudah tidak dapat lagi bergerak karena tekanan dari tenaga inti Ki Getas Pendawa begitu dahsyat menghimpit kedua kakinya.

Satu ayunan yang bergerak lebih lambat memukul kedua lengan Rambesaji yang bersilang terdengar bunyi ledakan yang cukup keras dan tiba-tiba Rambesaji telah terbenam ke dalam tanah setinggi kedua lututnya.

“Kau akan berada di tempat ini hingga Pangeran Parikesit memutuskan yang berbeda,” tatap mata dingin Ki Getas Pendawa berkilat menyambar Rambesaji. Sejenak kemudian kedua tangan Ki Getas bergerak dengan satu kibasan menghantam kedua pengikut Rambesaji yang duduk bersandar pada sebatang pohon. Pukulan jarak jauh dari Ki Getas Pendawa telah menjadikan mereka berdua pingsan di tempat mereka duduk.

Lalu dengan gagah, Ki Getas Pendawa yang berdiri tegak di hadapan Rambesaji yang menundukkan kepala,”Aku akan menjaga tatanan ini dengan cara yang aku mengerti. Aku menguasai apa yang tidak kau pahami. Aku mempelajari apa yang kau tidak pernah mau peduli. Selamat tinggal” Tubuh Ki Getas Pendawa lenyap dalam sekejap usai berkata-kata pada Rambesaji. Ia menyusul rombongan Kanjeng Adipati Pajang yang telah jauh berada di depan. Dalam gelap malam yang pekat, Ki Getas Pendawa melintas sangat cepat dengan pikiran yang resah. Ia merasa sulit membayangkan jika kemudian Kiai Rontek mampu menghentikan Adipati Hadiwijaya.

Tinggalkan Balasan