Penaklukan Panarukan 27

Rambesaji dengan mulut terbuka menatap kepergian Ki Getas Pendawa dengan rasa takjub.

“Aku hanya mendengar dari orang-orang tentang Jendra Bhirawa. Apakah orang itu telah berada di puncak ilmunyang dahsyat tersebut?” ia bertanya-tanya dalam hatinya. Selanjutnya dalam keadaan tubuh yang membeku dan tertanam sedalam lutut,  ia berusaha menghubungkan garis ilmu Ki Getas Pendawa dengan Toh Kuning berdasarkan berita yang ia dengar secara turun temurun.

Ketika Rambesaji masih  berkelahi dengan sengit mengeroyok Ki Getas Pendawa, Batara Keling seolah ingin menunjukkan kemajuan yang dicapainya di hadapan Pangeran Parikesit. Di lingkar yang berjarak puluhan langkah dari perkelahian Ki Getas Pendawa, sekali-kali sorot mata Batara Keling berubah menjadi merah. Perubahan yang terjadi dalam tubuh Batara Keling adalah pengaruh ilmu Kapuk Rangsang. Sebuah ilmu yang mempunyai watak yang tidak sesuai dengan namanya. Para pemilik ilmu ini akan mempunyai sorot mata berwarna merah sebagai tanda bahwa ia telah mencapai puncaknya. Maka dari itu, Batara Keling sesekali mengerahkan kemampuannya yang tertinggi untuk mempengaruhi ketahanan hati Pangeran Parikesit.

Namun Batara Keling mengabaikan satu hal yang penting bahwa sebenarnya Pangeran Parikesit tidak duduk bertopang dagu dalam masa yang panjang. Pangeran Parikesit tidak berhenti menggali kedalaman watak dari ilmunya yang mempunyai ciri yang berbeda dengan ilmu-ilmu tingkat tinggi lainnya. Dengan tatap mata yang menunjukkan kedalaman hatinya, Pangeran Parikesit sama sekali tidak menunjukkan kekaguman atau perasaan yang lain.

Dalam pada itu, belum tampak terlihat perubahan yang dapat menyebabkan keseimbangan berubah. Kedua orang berkepandaian tinggi itu saling menarik dan mendorong dengan kekuatan yang tidak terlihat oleh mata wadag. Ledakan-ledakan kecil masih kerap terdengar setiap kali mereka membenturkan tenaga.

Jauh di relung hatinya, sebenarnya Pangeran Parikesit ingin memberi pelajaran pada orang yang banyak menebar berita bohong pada akhir masa pemerintahan ayahnya. Bahkan karena ulah Batara Keling, beberapa saudara Pangeran Parikesit memilih untuk mengasingkan diri di sekitar puncak gunung Lawu. Mereka semua percaya dan menyerahkan masalah keamanan pada Raden Fatah. Meski Pangeran Parikesit merasa pedih hatinya saat mengingat pertemuan mereka yang terakhir, namun demikian ia berupaya keras menahan rasa dendam itu agar tidak mempunyai gejolak dalam dadanya. Pesan terakhir ayahnya agar ia selalu turut serta dalam menjaga kedamaian di wilayah Demak telah menjadi sumber tenaga yang tiada habisnya. Tanpa diketahui oleh Batara Keling, sebenarnya Pangeran Parikesit telah mengetahui bahwa dirinya telah berhasil menguasai Kapuk Rangsang. Sebuah ilmu yang dikabarkan telah lenyap di masa Raden Wijaya, namun beberapa orang yang berada dalam lingkaran terdekat Prabu Brawijaya mengetahui bahwa Kapuk Rangsang masih beredar pada kalangan tertentu.

“Dari siapakah Batara Keling berhasil menyadap ilmu yang menakutkan itu?” bertanya Pangeran Parikesit dalam hatinya. Sebuah nama yang terlintas dalam pikirannya adalah Linduk Sengkelat. Tetapi Linduk Sengkelat telah meninggalkan dunia fana ini jauh sebelum ayahnya menjadi Raja Majapahit. Selagi ia berusaha membuat perkiraan, perkelahiannya dengan Batara Keling semakin menggentarkan alam semesta.

Tubuh mereka seperti hilang dari pandangan, gelapnya hutan saat menjelang malam ditambah kecepatan mereka yang luar biasa menjadikan pertarungan itu tak ubahnya perkelahian dua siluman. Betapa udara sekitar mereka berhembus sedemikian kencang oleh karena gerakan-gerakan mereka yang sangat cepat dan bertenaga. Sekali-kali keadaan menjadi terang benderang seperti sambaran kilat mengenai tempat itu. Berkas-berkas cahaya berlompatan menerjang segala arah ketika dua tenaga berbenturan dengan dahsyat.

“Tentu saja kau mencuri ilmu itu dari Linduk Sengkelat, Batara Keling!” tiba-tiba Pangeran Parikesit berkata di tengah gemuruh suara angin yang timbul dari pergerakan mereka.

Tenggorokan Batara Keling tercekat. Dadanya berdentang keras. Sedikit ia menurunkan tekanan karena rasa terkejut dengan pertanyaan Pangeran Parikesit yang terasa seperti sebuah anak panah yang menancap pada keningnya.

Ia mendengus lalu membuang diri menjauhi lingkar pertempuran. Sekejap ia mengerling untuk melihat keadaan para pengikutnya yang saat itu masih gigih menyerang Ki Getas Pendawa. Kata Batara Keling kemudian,”Linduk Sengkelat adalah nama yang sepatutnya mendapat penghormatan darimu, Pangeran.”

Perkelahian mereka tiba-tiba mereda, Pangeran Parikesit bergeser setapak ke samping lalu ia berkata,”Aku selalu menaruh hormat padanya meskipun aku tidak pernah bertemu dengannya. Dan nama Linduk Sengkelat telah menjulang tinggi melampaui bintang di langit maka sepatutnya aku menaruh hormat padanya.”

“Maka dengan begitu, kau seharusnya menyerah padaku, Pangeran,” sahut Batara Keling.

Pangeran Parikesit mampu menahan gemuruh dalam hatinya meski ia berulang kali menerima kata-kata kasar bernada penghinaan dari Batara Keling. Ia membuka lebar telapak tangannya yang tergantung pada kedua sisi tubuhnya, lalu katanya,”Menghormati Linduk Sengkelat bukan berarti harus menghormatimu, Batara Keling. Mengakhiri perjalananmu adalah upaya terhormat untuk memberi penghargaan tertinggi padanya. Kau telah mengotori nama Linduk Sengkelat dengan menerapkan ilmu itu menurut kehendakmu sendiri.”

“Masih saja kau bermulut tajam, Orang Buangan,” bentak Batara Keling.

“Linduk Sengkelat tidak mempunyai murid untuk mewarisi ilmunya,” tenang berkata Pangeran Parikesit.

“Kau menuduhku sebagai pencuri?” mata Batara Keling melotot saat menatap tajam orang kepercayaan Adipati Pajang itu.

Pangeran Parikesit menghela nafas, lalu,”Sebenarnya aku ingin kau mau mendengar pengakuan dariku pada saat terakhir seperti ini, Batara Keling.”

Batara Keling mengerutkan keningnya, kemudian,”Katakan padaku, Pangeran.”

“Baiklah,” berkata Pangeran Parikesit,”Aku harus mengakui bahwa aku sangat bahagia malam ini karena hutan ini akan menjadi tempat tinggalmu yang terakhir kali.” Satu loncatan panjang yang sangat cepat dilakukan oleh Pangeran Parikesit sebelum ia tuntas berkata-kata.

Untuk menghindari terjangan dahsyat Pangeran Parikesit, Batara Keling bergeser ke samping dengan kecepatan yang sama. Ia menggeram marah,”Pengecut!”

Terdengar Pangeran Parikesit tertawa pendek, kemudian,”Aku tahu kau mempelajari Kapuk Rangsang dari kitab yang ditulis oleh Linduk Sengkelat. Aku tahu bahwa telah terjadi keributan yang melibatkan banyak perguruan ketika kabar Linduk Sengkelat meninggalkan ilmunya di dalam sebuah kitab.”

“Darimana kau mengetahuinya?”

“Aku adalah Parikesit!”

Batara Keling berteriak marah. Ia membentak dengan dahsyat diikuti sebuah gebrakan yang sanggup merobohkan sebatang pohong beringin berukuran raksasa. Perkelahian pun menjadi semakin ganas. Benturan-benturan dua kekuatan raksasa tidak dapat lagi  terhindarkan. Sesekali mereka berdua terdorong mundur, namun tiba-tiba keduanya kembali menghilang dalam gelap, saling membelit, bergantian untuk melepaskan serangan yang menyengat. Maka pergumulan mereka pun terdengar seperti suara ribuan tawon yang mendengung mengerikan. Suara yang ditimbulkan oleh kekuatan sangat besar itu mampu menusuk dan menyakiti gendang telinga, bahkan beberapa pohon pun terlihat bergoyang sangat keras seperti tertiup angin yang sangat kencang. Daun-daun menjadi layu dan jatuh berguguran sementara kedua orang berlmu tinggi itu sama sekali tidak menyentuh bagian pohon manapun.

Berulang kali dari telapak tangan mereka melesat sinar yang terlontar saat salah satu dari mereka saling menahan tekanan dari yang lain. Walaupun begitu, berkas-berkas sinar itu belum dapat menyentuh bagian tubuh mereka masing-masing.

Pada satu kesempatan terjadi benturan yang membuat lubang besar sedalam mata kaki yang melingkar dibawah kaki mereka. Ketika itu Batara Keling menyerang Pangeran Parikesit dengan sangat hebat dan begitu kuatnya hingga lawannya terdorong mundur beberapa langkah jauhnya. Kaki tangan Batara Keling bergantian melakukan sabetan mendatar, kadang-kadang menusuk bagian lambung hingga Pangeran Parikesit seperti terangkat ke udara saat menahan semua serangan Batara Keling yang membadai.

Tinggalkan Balasan