Penaklukan Panarukan 28

Berulang kali dari telapak tangan mereka melesat sinar yang terlontar saat salah satu dari mereka saling menahan tekanan dari yang lain. Walaupun begitu, berkas-berkas sinar itu belum dapat menyentuh bagian tubuh mereka masing-masing.

Pada satu kesempatan terjadi benturan yang membuat lubang besar sedalam mata kaki yang melingkar dibawah kaki mereka. Ketika itu Batara Keling menyerang Pangeran Parikesit dengan sangat hebat dan begitu kuatnya hingga lawannya terdorong mundur beberapa langkah jauhnya. Kaki tangan Batara Keling bergantian melakukan sabetan mendatar, kadang-kadang menusuk bagian lambung hingga Pangeran Parikesit seperti terangkat ke udara saat menahan semua serangan Batara Keling yang membadai.

Kedalaman hati dan keluasan wawasan seorang Pangeran Parikesit membuatnya dapat menilai perkembangan unsur gerakan lawannya. Tanpa mengurangi kewaspadaan, Pangeran Parikesit memanfaatkan setiap sentuhan dan tangkisan untuk mengangkat tubuhnya agar dapat melayang. Sehingga pada saat itu, kaki dan tangan Batara Keling serasa bagaikan anak tangga bagi Pangeran Parikesit. Ketika ia telah memperkirakan kemungkinan yang akan terjadi, tubuh sang pangeran tiba-tiba berputar lebih cepat dari gasing melesat beberapa tombak lurus diatas kepala Batara Keling.

Batara Keling merasa dirinya seperti terhisap oleh pusaran angin topan yang sanggup menerbangkan seekor  lembu. Ia kemudian membagi tenaga inti pada bagian bawah agar bobot tubuhnya menjadi berlipat ganda dan semakin berat. Akibatnya adalah kakinya perlahan-lahan terbenam ke tanah dan kedua kakinya terlihat seperti akar pohon yang tertancap kuat di bawah tanah.

Daun-daun kering dan ranting beterbangan di sekeliling tubuh Pangeran Parikesit. Debu mengepul tebal membungkus rapat tubuh sang pangeran. Dan sekejap kemudian, tubuh pangeran yang berputar lebih cepat dari gasing dan dan semakin lama semakin cepat mendadak menukik deras seperti layaknya seekor rajawali yang menyambar mangsa. Suara menggelegar terdengar memukul pendengaran dan merontokkan isi dada ketika Pangeran Parikesit meluncur ke bawah begitu deras. Lebih deras dari gelontoran lahar panas dari puncak Merapi. Perubahan yang begitu cepat mengakibatkan ledakan yang mendentum keras, tiba-tiba saja daun dan ranting serta debu yang membungkus tubuh sang pangeran terlontar ke segala penjuru. Beberapa daun layu bahkan menancap cukup dalam pada beberapa batang pohon yang masih tegak berdiri.

Olah gerak yang sangat dahsyat dari Pangeran Parikesit mampu menghentikan laju serangan Batara Keling yang sebelumnya sangat deras mengalir. Meskipun mereka terpisah beberapa tombak, namun  Batara Keling merasakan bahaya datang dari sebelah atas sedang menuju urat lehernya. Udara yang terdorong oleh hempasan tenaga inti Pangeran Parikesit sanggup melabrak tembok pertahanan Batara Keling, orang yang menunjukkan jalan pengasingan Prabu Brawijaya yang melewati Padang Bubrah.

Pada saat itu, pendengaran Pangeran Parikesit menangkap suara Ki Getas Pendawa yang dilambari tenaga inti,” “Kau akan berada di tempat ini hingga Pangeran Parikesit memutuskan yang berbeda.”

Batara Keling yang hendak melompat menjauhi serangan tajam sang pangeran merasa tubuhnya seolah terkunci. Kedua kakinya tidak lagi dapat digerakkan sekalipun ia telah menarik semua tenaga inti yang sebelumnya disalurkannya pada bagian kaki. Bahkan ia tetap terpaku di tempatnya sekalipun telah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah menjulang tinggi.

“Gandrik!” Batara Keling mengumpat seraya memutar kedua tangannya. Menghimpun seluruh tenaga inti yang ia miliki. Dalam waktu yang kurang dari sekejap mata itu, Batara Keling berada dalam keadaan tersudut namun ia tidak menyerukan kata untuk menyerah. Bahkan Batara Keling seolah membiarkan dirinya menjadi mangsa yang mudah dilahap. Kecepatan berpikirnya memang luar biasa, ia bahkan memutuskan untuk membuat perangkap bagi lawannya.

Salah satu kelebihan ilmu Kapuk Rangsang adalah seluruh tubuh pemiliknya akan menjadi lunak dan empuk, lalu setelah terjadi persentuhan bagian tubuh maka ilmu ini akan merangsang semua tenaga inti lawan menjadi liar dan tidak terkendali. Tenaga inti yang berasal dari Kapuk Rangsang akan menyusup memasuki sentuhan itu dan menjalar cepat pada setiap pembuluh darah dan membuat kekacauan di dalamnya. Bagi orang berkepandaian tinggi, ilmu Kapuk Rangsang akan menjadi sebab kelumpuhan seluruh bagian tubuhnya. Dan oleh karena bahaya yang ditimbulkan oleh ilmu ini, maka Linduk Sengkelat memutuskan untuk menulis sembilan bagian dari apa yang ia ketahui tentang Kapuk Rangsang.

Pangeran Parikesit telah mengenal segala kelebihan ilmu Kapuk Rangsang, maka ia cermat memperhitungkan daya gedornya. Tiba-tiba saja kepal tangannya menjadi sangat dingin dan seolah membeku saat menyentuh telapak Batara Keling. Batara Keling terkejut bukan kepalang tatkala tenaga inti yang berasal dari Kapuk Rangsang kini justru berbalik arah dan melawan arus tenaga yang ia dorong keluar. Arus tenaga itu memukul balik dan bagian dalam tangan Batara Keling terasaseperti tertusuk pedang hingga pangkal bahunya.

Dalam keadaan tubuh masih melayang, Pangeran Parikesit kembali melakukan peralihan watak dari tenaganya. Seketika kepal tangannya yang membeku menjadi lunak dan pada saat bersamaan Batara Keling merasa tenaga intinya mengalir keluar di luar kendalinya. Pangeran Parikesit menghisap bagian penting Kapuk Rangsang, namun ia melepaskan sentuhan tangannya sebelum aliran Kapuk Rangsang memasuki pembuluh darahnya. Yang terjadi kemudian adalah tenaga inti Batara Keling merayap keluar melalui telapak tangannya dan terlontar secara sembarangan ke semua arah. Rangkaian tenaga inti itu menghantam batu, pohon, tanah dan udara kosong karena Batara Keling tidak lagi mampu mengatur tangannya yang bergerak liar.

Pangeran Parikesit dengan cepat menjejakkan kaki ke tanah dan melejit ke arah Rambesaji lalu menarik tubuhnya menjauh dari Batara Keling. Seperti melempar seonggok barang yang tidak terpakai, Pangeran Parikesit dengan ringan melepas cengkeramannya dari pundak Rambesaji yang kemudian tergolek tak berdaya di bawah kaki pangeran. Katanya,”Rambesaji, sebenarnya aku ingin memberimu hukuman mati.” Ia melirik Batara Keling yang masih kesulitan mengendalikan gerakan sementara kakinya masih terkunci akibat terhimpit pada bagian dalam oleh tenaga inti Pangeran Parikesit.

“Ampun, Pangeran,” Rambesaji mengiba,”Biarkan aku menjalani satu kesempatan lagi.”

Pangeran Parikesit tajam menatapnya, lalu katanya,” Aku mempunyai seorang cucu yang aku yakini ia masih hidup saat ini. Dan ia akan dapat bertahan meskipun aku belum mengetahui keberadaannya. Oleh karena itu, aku membutuhkanmu untuk memperkaya wawasannya. Dan bila waktu itu telah tiba baginya, kau pun tidak akan sanggup melawannya.”

“Dan kau dapat meracuninya dengan berita-berita bohong tentang eyang buyutnya dan semua keluarganya yang pernah kau katakan sebagai pengecut,” kata-kata Pangeran Parikesit tajam menyayat Rambesaji.

“Ampun, Pangeran!” desah pelan Rambesaji yang masih terbaring diatas rerumputan layu.

Pangeran Parikesit menarik nafas dalam-dalam. Dengan dahi berkerut ia berkata,”Apakah aku harus melumpuhkan seluruh ilmu yang kau miliki? Dan kau akan berjalan-jalan di atas tlatah Demak sebagai orang yang lemah karena aku bermimpi bahwa setiap orang yang pernah kau sakiti dapat membalaskan dendam. Mereka akan meludah di atas wajahmu, anak-anak kecil akan melemparimu dengan batu-batu jalanan, dan para perempuan akan memenuhi seluruh ruang kepalamu dengan penghinaan. Aku membayangkan bahwa itu adalah pemandangan yang sangat indah.”

“Ampun, Pangeran!” pinta Rambesaji yang tiba-tiba menangis dengan tangis yang mengguncang dada.

Sang pangeran lalu mengerling pada Batara Keling yang mulai kehabisan tenaga, saudara seayah Raden Fatah itu kemudian meneruskan ucapannya ketika ia mengalihkan tatap matanya ke Rambesaji,”Atau membawamu ke saudara seperguruanmu lalu menyerahkan dirimu pada mereka pun bukan gagasan yang buruk. Mereka akan senang bila kau kembali pada lingkungan yang kau khianati. Saudara-saudara seperguruanmu tentu sudah melupakan tentang perbuatanmu pada gurumu, bukan begitu Rambesaji?”

“Bunuh aku, Pangeran!” Rambesaji setengah membentak dalam tangisnya. Ia terus mengulang-ulang permintaannya pada Pangeran Parikesit. Ia tidak dapat membayangkan kemarahan saudara-saudara seperguruannya yang karena hasutannya maka mereka semua menentang guru mereka sendiri.

“Kau adalah orang yang tidak mempunyai pendirian, Rambesaji. Kau memintaku untuk memberi pengampunan agar kau tetap hidup, namun sekarang kau memintaku untuk membunuhmu. Permintaanmu akan aku kabulkan, Rambesaji,” sahut Pangeran Parikesit yang kemudian berjalan menuju Batara Keling yang telah membungkuk dan berpegang pada kedua lututnya.

“Kau memang biadab, cucu raja kecil!” Rambesaji memaki. Ia kemudian berteriak lantang,”Seorang pengecut akan melahirkan seorang pengecut pula! Mari, kita tuntaskan ini semua dengan perang tanding, anak raja pengecut!”

Langkah Pangeran Parikesit terhenti saat ia mendengar teriakan kasar Rambesaji, ia berpaling lalu menatap wajah Rambesaji sejenak. Sang pangeran hanya melepaskan senyum kecil padanya, namun senyum Pangeran Parikesit terlihat bagai taring serigala buas yang kelaparan. Sseiring langkah pangeran yang menjauhinya, Rambesaji tiada henti mengeluarkan kata-kata kasar.

Tinggalkan Balasan