Toh Kuning – Jalur Banengan 3

Pemimpin rombongan yang bertubuh kekar itu melompat turun dari kudanya. Dan kemudian katanya, “Lalu, apakah engkau tetap memaksa diri untuk bersikap baik pada pemimpinmu?” Lantas pemimpin rombongan memberi isyarat pada pengikutnya untuk bersiap diri.

Penghadang itu menatap wajah pemimpin rombongan dengan wajah sedikit terangkat. Katanya,” “Bagaimana menurut pendapatmu?”

Sambil menggelengkan kepala, pemimpin rombongan menjawab,” Kami tidak mempunyai persoalan denganmu atau pemimpin kelompokmu. Tetapi jika kau ingin tetap mengambilnya, maka kami akan memberi pelajaran berharga bagimu.  Kami akan menyelesaikan masalah yang terjadi diantara kita saat ini dengan cepat dan tidak menyakitkan. Akan tetapi itu semua tergantung kepada keputusanmu. Seandainya terjadi perkelahian, apakah kau dapat bertahan melawan seluruh orang-orangku ?”

“Oh!” kata penghadang sedikit terkejut. Ia kemudian tertawa agak keras,”Kau belum mengetahui kekuatan kami. Menurut pendapatku, sebaiknya tidak ada korban nyawa atau terluka saat ini. Aku mempunyai kekuatan yang besar dan mereka telah mengepung kalian, dan aku kira sebaiknya kalian membuat pertimbangan sebaik-baiknya.”

Pemimpin rombongan dan pengikutnya mengedarkan pandangan sekeliling namun ia tidak melihat apa-apa yang mencurigakan. Ia bertanya kemudian,” Siapakah kau, Ki Sanak? Aku harus menghormati keberanianmu dan untuk itu aku merasa perlu dengan sebuah nama.”

“Seperti itukah?” bertanya penghadang itu dengan rasa kagum. Dalam hatinya, ia harus mengakui kejujuran dan kesetiaan pemimpin rombongan yang sama sekali tidak menawarkan upeti sebagai imbalan. Lalu ia menjawab seraya membuka kain penutup wajahnya,” Aku Toh Kuning.”

“Baiklah! Dengan begitu sekarang kita akan tentukan, apakah kami akan memberi kalian sebuah tanda kenangan atau kami akan memberi hadiah pada raja kami,” kata pemimpin rombongan lalu merenggangkan kaki dan membuat persiapan membela diri.

Maka sekejap kemudian pemimpin rombongan itu menerjang Toh Kuning dan berseru,” Kau akan menyesal sepanjang hari telah bertemu dengan Ki Selaksa Geni!”

Demikianlah, dalam waktu yang singkat Toh Kuning telah terlibat ke dalam perkelahian satu lawan satu dengan Ki Selaksa Geni. Beberapa pengawal bayaran bergegas mengelilingi lingkaran perkelahian itu dan mereka juga mengawasi lingkungan sekitar. Ternyata lawan Toh Kuning adalah orang yang sangat tangguh. Serangannya datang beruntun dan setiap sabetan pedang selalu mengirim pesan tanda bahaya bagi Toh Kuning. Sekali-sekali pertahanan Toh Kuning menjadi terguncang akan tetapi ia terus meningkatkan daya tahannya selapis demi selapis.

Sementara dari tempat yang tidak terlihat oleh para pengikut Ki Selaksa Geni, dua pasang mata mengawasi perkembangan yang terjadi di depan mereka.

“Apakah kau tidak membantu temanmu itu?” bertanya orang berbaju lurik dan berwajah tampan. Dahulu orang ini adalah penyamun yang berkeliaran di lereng Penanggungan dan Arjuna. Tetapi pada saat pihak kerajaan mulai meningkatkan keamanan maka orang ini telah dinyatakan sebagai buronan oleh Ki Panji Mahesa Wunelang. Dan semenjak itu Jalur Banengan menjadi aman. Tidak ada seorang pun yang menduga jika salah satu begal yang telah menjadi buruan pihak kerajaan adalah lelaki berwajah tampan dan berkulit halus.

“Tidak! Toh Kuning akan mampu mengatasi para pengawal bayaran itu, dan kita akan bertugas membersihkan emas dan barang berharga lainnya,” jawab Ken Arok dengan senyum di  wajahnya. Ia berkata kemudian,” Kau harus mengawasi pengikutmu dalam membersihkan barang-barang yang sekiranya dapat menjadi bukti bagi kerajaan jika kau kembali hadir di jalur ini.”

Tinggalkan Balasan