Utusan dari Pajang 4

Serba sedikit keempat orang prajurit Majapahit itu bertukar kata. Ki Lurah Wanabaya tampak menaruh perhatian cukup besar terhadap perkembangan yang terjadi di kotaraja.

Dalam pada itu, seorang pelayan khusus yang bertugas di dalam istana Pajang telah menghadap Bhre Pajang di keraton yang cukup besar. Beberapa tiang kayu penyangga atap ruangan berukir sangat halus dan menggambarkan keadaan Pajang di masa lalu. Bhre Pajang duduk bersandar pada kursi kayu berukuran besar. Bagian atas sandaran kursi terukir burung garuda dan seekor naga yang dipahat sangat halus. Ia menatap tajam pelayannya dan memperhatikan setiap kata yang diucapkan oleh pelayan khusus istana.

“Sri Batara, Ki Tumenggung Nagapati telah memasuki wilayah Pajang. Saat ini ia berada beberapa puluh tombak dari dinding perbatasan kota. Sejumlah besar orang pengikutnya juga turut menyertai kedatangannya di Pajang,” kata pelayan.

“Apa maksudmu dengan orang yang mengikutinya? Apakah mereka itu sekelompok prajurit?” bertanya Bhre Pajang.

“Sebagian besar memang prajurit, Sri Batara. Namun Ki Tumenggung Nagapati juga mengatakan jika ada sejumlah kecil wanita serta anak-anak yang berada di dalam pengikutnya.”

“Lalu, apakah Ki Nagapati mengatakan tentang sesuatu kepadamu? Aku maksudkan adalah Ki Nagapati akan menyerang Pajang, apakah kau melihat kemungkinan itu?”

“Sri Batara, aku tidak melihat Ki Nagapati dalam keadaan akan memaksakan keinginannya di Pajang. Ia mengatakan jika hanya ingin bertemu dengan Sri Batara.”

Bhre Pajang terdiam sesaat. Sejenak ia melepaskan kemungkinan-kemungkinan yang akan dilakukan oleh Ki Nagapati. Tubuhnya beringsut sejengkal, ia menoleh ke arah Ki Tumenggung Ragapadma yang berada tak jauh darinya seakan meminta pendapat Ki Tumenggung Ragapadma. Agaknya Ki Ragapadma sendiri juga belum mempunyai pendapat yang sekiranya dapat mengurai kepentingan Ki Nagapati.

Lalu katanya,”Baiklah, katakan kepada Ki Nagapatih jika aku akan menemuinya menjelang tengah malam nanti.”

Pelayan khusus itu kemudian meminta diri dan bergegas keluar dari keraton.

Sepeninggal pelayan khusus itu, Ki Ragapadma bangkit berdiri lalu,” Sri Batara, kita tidak dapat begitu saja menerima seorang pengecut seperti Ki Nagapati di tlatah Pajang. Ia dengan sombong telah berani menentang keputusan Sri Kertarajasa Jayawardhana. Kemudian dengan angkuh ia mengepung istana Sri Jayanegara. Lalu sekarang ia berada di wilayah Pajang. Jika bukan untuk menduduki kota ini, apakah ada kemungkinan lain yang sekiranya dapat diterima dengan nalar?”

“Ki Ragapadma, aku mempunyai penalaran yang sama denganmu. Akan tetapi aku tidak dapat berbuat lebih jauh mengingat Ki Nagapati juga mempunyai jasa besar dalam membantu Sri Kertarajasa Jayawardhana.”

“Bukan Ki Nagapati, Sri Batara. Lembu Sora tidak dapat dihubungkan dengan Ki Nagapati.” Raut wajah Ki Ragapadma sedikit mengeras. Rona merah yang melintas di wajahnya sedikit disamarkan dengan keadaan keraton yang tidak begitu terang. Dengan begitu, Bhre Pajang tidak mengetahui perubahan wajah yang terjadi pada salah satu tumenggung terkuat di Pajang.

“Dan aku tidak dapat begitu saja menganggapnya akan menyerang Pajang, Ki Tumenggung. Sementara ini aku akan menemuinya,” Sri Batara bangkit dari tempat duduknya dan beranjak masuk ke bagian belakang keraton.

Demikianlah ketika Bhre Pajang meninggalkan ruangan, Ki Ragapadma bergegas menuju satu bangunan yang tempatnya bekerja. Bangunan itu berukuran tidak terlalu besar dan terletak di luar dinding halaman keraton. Tanpa setahu Ki Ragapadma, Bhre Pajang memanggil seorang pelayan khusus.

“Perintahkan Ki Banyak Abang untuk segera menemuiku di dalam bilik. Kau harus laporkan kesediaanya kepadaku sebelum matahari tenggelam.”

“Baik, Sri Batara.”

Pelayan khusus itu segera pergi mengambil kudanya dan memacu kuda cepat-cepat ke arah selatan.

“Apa yang sebenarnya menjadi tujuan Ki Nagapati datang ke Pajang dengan begitu banyak pengikut? Aku mengetahui jika permintaannya telah ditolak oleh kakang Jayanegara. Apakah mungkin dia akan mengajakku bergabung dengannya dan menduduki kotaraja?” desis Bhre Pajang dalam hati. Dalam pada itu, di lingkungan keraton telah hadir dua orang asing yang berasal dari daratan Tiongkok.

Terdengar derit pintu yang perahan didorong dari luar. Seorang perempuan setengah baya memasuki bilik sambil menuangkan wedang sere sejenak setelah ia duduk tak jauh dari Bhre Pajang.

“Kakang, serba sedikit aku mendengar kedatangan sepasukan besar dari kotaraja. Bahaya apalagi yang akan mengancam wilayah ini?” tanya perempuan yang rambutnya tergelung rapi ke belakang. Sepasang konde terselip diantara gelungan rambutnya. Alis matanya yang tipis semakin memberi kesan ketajaman nalar yang dimilikinya.

“Ki Nagapati, nyi,” jawab Bhre Pajang pendek.

“Ki Nagapati. Untuk apa ia datang dengan kuda-kuda yang sangat banyak?” desah perlahan yang sepertinya hanya dapat ia dengar sendiri. Sambil menarik nafas panjang, ia berkata,” kakang, apakah tak sebaiknya kakang mengirim petugas sandi ke perkemahan mereka?”

“Aku telah memanggil Ki Banyak Abang. Sebelum malam tiba, ia akan segera memasuki ruangan ini. Wardhani, bukankah kau telah menjadi istriku sejak lama?”

“Apa yang sedang kau pikirkan, kakang?” bertanya Nyi Wardhani yang kemudian bangkit berdiri mendekati suaminya.

“Duduklah,” berkata Bhre Pajang lalu,” aku ingin bertemu dengan Resi Gajahyana. Agaknya aku membutuhkan keluasan wawasan dan ketajaman panggraita yang terbenam dalam dirinya.”

“Tentang Ki Nagapati?”

“Kedatangannya dari kotaraja tidak membuatku khawatir jika ia akan menyerangku. Namun jika ia memaksa perang untuk terjadi, sudah barang tentu kau tahu kesiapan prajurit-prajurit Pajang. Sebenarnyalah aku merisaukan kedatangan kedua orang asing dari negeri seberang. Aku masih mengira kedatangan mereka kemari adalah suatu kebetulan. Akan tetapi mereka juga membawa pertanda jika mereka adalah duta dari rajanya. Kau tahu maksudku?”

Terdiam Nyi Wardhani mendengar pertanyaan suaminya. Sebenarnyalah ia telah mempunyai perkiraan sendiri namun ia tidak ingin menjadi penyebab keguncangan dalam hati suaminya. Nyi Wardhani mengerti jika keadaan Pajang akan dapat diamati dan dikembangkan jika suaminya dapat bekerja dengan tenang. Maka dengan begitu, Nyi Wardhani tidak memberi tahu suaminya tentang apa yang telah ia dengar dari para pelayan dan prajurit yang biasa melayaninya. Termasuk ketika kedua orang asing itu mendapat kesempatan untuk berbincang dengannya. Dalam pada itu, Nyi Wardhani juga merasa perlu untuk mengumpulkan bahan-bahan yang sekiranya dapat digunakan suaminya untuk menjaga keamanan wilayah Pajang.

Nyi Wardhani menggelengkan kepala. Dengan kening berkerut, ia bertanya,” kakang, apakah kakang memintaku untuk mengirim utusan ke Resi Gajahyana?”

“Benar. Aku sendiri tidak dapat memberi keterangan lebih banyak kepadamu. Sementara itu, kau perintahkan seseorang untuk menemui Resi Gajahyana. Suruhlah orang itu untuk bersiaga karena aku tidak ingin siapapun mengetahui jika ada utusan dariku pergi menemui Resi Gajahyana.”

Nyi Wardhani menunduk dalam-dalam. Ia seperti telah merasakan bahwa akan datang arak-arakan mendung tebal menutupi Pajang. Mereka berdua terdiam untuk beberapa lama.

Satu ketukan dari daun pintu menghentakkan mereka berdua kembali dari keheningan.

“Siapa?” bertanya Nyi Wardhani seraya berjalan mendekati pintu.

“Aku, nyai. Ki Banyak Abang,” terdengar satu suara tegas dan penuh wibawa dari sebelah luar.

Nyi Wardhani menoleh ke suaminya, untuk sesaat, Bhre Pajang menganggukkan kepala dan memberi tanda jika ia ingin berbicara hanya berdua dengan Ki Banyak Abang.

“Silahkan masuk Ki Banyak Abang,” berkata Nyi Wardhani ketika pintu telah lebar terbuka. Seorang lelaki setengah baya yang bertubuh tegap dan gempal berdiri dengan gagah di hadapannya. Belasan atau puluhan belati kecil tergantung di sekeliling pinggang Ki Banyak Abang. Keriput di wajahnya tidak mengurangi kesan gagah dan menunjukkan sifat pemberaninya sejak masa muda. Ki Banyak Abang adalah seorang lurah prajurit yang telah bertugas lama di Pajang. Ia telah memasuki dunia keprajurtan sejak Majapahit dipimpin oleh Sri Kertarajasa Jayawardhana. Bhre Pajang mengagumi orang perkasa ini yang menolak tunduk pada perintah Jayakatwang. Bersama puluhan pajurit yang dipimpinnya, ia kemudian mengarungi lereng selatan Gunung Merapi demi menghindari kejaran pasukan Jayakatwang. Ki Banyak Abang merupakan satu dari senopati yang mempunyai peran penting ketika Sri Kertarajasa menjatuhkan perintah untuk merebut Pajang dari tangan Jayakatwang.

Ki Banyak Abang adalah orang tua yang gagah. Ia segera menundukkan kepala ketika dilihatnya Nyi Wardhani berdiri di depannya. Ia bergeser setapak ke sebelah kiri, dengan kepala tertunduk dalam ia memberi jalan Nyi Wardhani untuk keluar dari bilik.

“Ki Banyak Abang tentu menyimpan banyak persoalan yang ingin ditanyakan kepada Bhre Pajang. Temuilah, aku meminta diri,” berkata Nyi Wardhani perlahan dan Ki Banyak Abang sedikit membungkukkan badan.

Beberapa langkah Nyi Wardhani menjauhi pintu, Ki Banyak Abang telah melangkah masuk melewati tlundakan. Ia tersenyum dan memberi hormat kepada Bhre Pajang yang telah duduk di sebuah kursi berwarna sedikit gelap dengan sebuah tombak pendek dalam genggaman. Dengan kening berkerut, ia menatap heran wajah Bhre Pajang yang justru menebarkan senyum lebar. Berbagai macam angan segera memenuhi setiap jengkal dalam benaknya. Karena pada malam itu, ia melihat Bhre Pajang tidak seperti dalam keadaan yang biasa ia ketahui.

Ki Banyak Abang menatap lantai tempatnya berdiri. Berdebar hatinya menunggu apa yang akan dikatakan oleh Bhre Pajang. Hatinya berderap cepat seolah ia sedang berhadapan dengan pembunuh terburuk di kolong langit. Ia merasakan jika saja ada orang melihat senyum Bhre Pajang, hampir dapat dipastikan jika orang itu akan bunuh diri. Ki Banyak Abang mengenal baik watak Bhre Pajang, maka Bhre Pajang yang tersenyum dengan tombak pendek yang merunduk telah menjadikan dirinya khawatir.

”Ki Banyak Abang,” kata Bhre Pajang lalu ia terdiam beberapa lama.

Tinggalkan Balasan