Penaklukan Panarukan 29

Usianya yang kurang lebih sekitar seabad seolah tidak memberi pengaruh pada kekuatan wadag Pangeran Parikesit. Tidak terlihat rasa lelah pada Pangeran Parikesit meskipun ia telah melewati sejumlah kegiatan yang sangat menguras tenaga, termasuk pertarungannya dengan Batara Keling. Denyut nafasnya masih teratur dan tidak tampak darinya tanda-tanda kelelahan. Ia berhenti tiga langkah di depan Batara Keling yang bertopang lutut, Pangeran Parikesit berdiri dengan sorot mata  menggetarkan. Ia berkata dengan nada datar dan wajah membeku,”Dimanakah Tuhanmu sekarang, Batara Keling?”

Dengus nafas tidak teratur terdengar dari Batara Keling, peluh yang membasahi wajahnya membuatnya semakin kusam karena debu yang melekat. Lalu bibir Batara Keling menggetar,”Apa pedulimu, Orang Buangan?”

“Bukankah telah berkata bahwa denyut jantungmu yang masih berdetak hingga saat ini adalah wujud kasih Tuhan padamu? Lalu apakah Ia telah meninggalkanmu ketika aku memutus riwayatmu pada malam ini?” wibawa yang luar biasa memancar dari dalam diri Pangeran Parikesit. Batara Keling tak mampu membalas tatap mata sang pangeran yang seolah mengorek segala isi hatinya.

“Mengapa kau tiba-tiba menjadi bisu?”

Batara Keling mendengus lalu membuang pandangnya ke lain arah. Ia seperti dicekam perasaan yang sanggup menggetarkan kulitnya. Selintas terbayang kematian dan ia tidak mengerti apakah perasaan itu adalah sebuah ketakutan atau rasa cemas yang berlebihan. Namun ia mengerti kenyataan yang ia hadapi adalah selembar nyawa yang terkandung benar-benar berada di ujung jari Pangeran Parikesit. Tanpa mampu ia sembunyikan meski dalam malam yang pekat, wajah pucat Batara Keling terlihat jelas di mata Pangeran Parikesit.

“Aku tahu bahwa Tuhanmu telah meninggalkanmu sebagai anugerah untukku,” berkata Pangeran Parikesit,”Ia tidak akan pernah kembali untukmu, bukankah kau pun berpikir seperti itu?”

Lagi-lagi Batara Keling tidak dapat menjawab, ia hanya merasa bahwa kengerian kini merambat pelan dalam dadanya. Meskipun ia ingin membalas ucapan sang pangeran, tetapi tenggorokan Batara Keling seperti tersumbat dan seolah ia merasakan dadanya hampir saja meledak.

“Katakanlah, Batara Keling!” perintah Pangeran Parikesit. Sekilas ia mengerling pada Rambesaji yang masih terbaring tanpa daya, Pangeran Parikesit melangkah setapak maju lalu,”Apabila kau sama sekali tidak menyatakan keberatan, maka aku telah memutuskan hukuman kepadamu.” Sejenak Pangeran Parikesit memejamkan mata dengan wajah tengadah. Lalu ia bergumam pelan,”Tentu Angger Adipati telah berada dalam kepungan kawananmu, tetapi aku yakin Angger Adipati akan mampu mengatasinya terlebih Angger Getas Pendawa pasti mampu menyusulnya. Namun, siapakah yang dapat membawamu lepas dari tanganku?”

Pangeran Parikesit bergerak maju dan satu kibasan tangan telah melempar Batara Keling ke tempat yang berdekatan dengan Rambesaji. Lelaki yang berjalan dengan setengah membungkuk itu sama sekali tidak menunjukkan kelemahannya sebagai orang yang nyaris berusia seabad. Seolah-olah ia tidak terpengaruh dengan keadaan wadagnya. Kecepatan dan kekuatan Pangeran Parikesit pun telah berada di puncak yang sulit dijangkau oleh siapapun. Oleh karena itu, Batara Keling dan Rambesaji pun menyimpan pertanyaan besar pada saat terakhir yang mereka miliki, namun begitu mereka juga tidak merasa yakin akan dapat menemukan jawabannya.

Setelah Pangeran Parikesit mengikat erat kedua orang yang telah banyak membuat kekacauan di masa lalu, ia duduk di atas sebuah batang pohon yang tumbang karena hempasan kekuatan raksasa yang baru saja terjadi di lingkungan itu. Setelah menarik nafas panjang, Pangeran Parikesit berkata dengan suara rendah,”Apakah pada saat ini kalian mengingat masa-masa saat mengawali pengejaran Ramanda Brawijaya di lereng Lawu?”

Suasana hening dan riuh binatang malam membungkus kedua orang penentang itu dalam gelisah. Mereka tidak dapat membayangkan bentuk hukuman dari Pangeran Parikesit, sementara mereka berdua telah mendengar bahwa lelaki tua yang duduk di dekat mereka adalah orang yang kejam di masa mudanya.

Kekejaman Pangeran Parikesit tergambar melalui caranya memberlakukan kedua orang yang menjadi tawanannya. Mereka terikat ketat dengan akar-akar pohon yang tumbang, begitu mudah sang pangeran memutus akar-akar itu dan merajutnya menjadi untaian tali yang panjang. Keduanya diikat dalam keadaan berhadapan, dengan bagian kepala Batara Keling menghadap punggung kaki Rambesaji dan sebaliknya. Sehingga keduanya seperti saling mencium kaki satu sama lain.

Bagi orang yang menerima perlakuan semacam ini maka tak ubahnya sebuah penghinaan yang teramat besar. Bagian muka seorang tahanan harus menempel pada bagian kaki tahanan yang lain. Dan pada saat itulah sang pangeran seperti melemparkan ingatan dua tahanan itu ke masa puluhan tahun yang berlalu.

“Sebenarnya aku mengetahui rencana yang disusun oleh Rakryan Luru Sumpil. Tetapi aku tidak dapat menghalangi tekad Ramanda Prabu yang memilih untuk menepi dari keramaian,” kata Pangeran Parikesit menerawang kembali ke dalam ruang dan waktu saat ia berusia belasan tahun.

Batara Keling yang masih meyakini adanya jalan keluar, lantas dengan lantang ia berteriak,”Pangeran Buangan, tidak layak kau perlakukan kami seperti ini. Kau bukan lagi bangsawan tinggi Majapahit. Kau hanya bagian dari sekumpulan orang-orang terusir!” Sekalipun ia tidak dapat membendung kemarahan dan rasa malu yang luar biasa, namun hanya mereka bertiga yang berada di tepi hutan itu dalam selimut malam.

Kerling mata Pangeran Parikesit hanya sekilas melihat wajah Batara Keling. Sang pangeran bangkit berdiri dan melangkah menghampiri mereka, katanya,” Rakryan Luru Sumpil sudah jelas ingin berbagi tahta dengan Kakang Sultan Demak, oleh karena itu ia kemudian memburu Ramanda Prabu. Dan kau tentu telah mendengar akhir kisah Luru Sumpil.” Sambil meletakkan telapak kakinya pada sisi kepala Rambesji, Pangeran Parikesit berkata rendah,” Kau orang rendahan, Rambesaji. Begitu murah kau menjual rencana perjalanan Ramanda Prabu pada orang-orang yang menggilai kekuasaan. Sedangkan kau tahu jika kami semua akan menahan diri dari pertumpahan darah yang lebih mengerikan. Kau mampu mengambil keuntungan dari keputusan yang telah sepakati.”

“Karena kau begitu bodoh, Pangeran,” dengus Rambesaji. Ia meneruskan,” Kau dapat membawa pasukan yang tersisa dan menahan ayahmu di padang bubrah. Kau dapat memaksanya untuk memberikan tahta itu kepadamu, bukan? Tetapi kau menyerah pada keinginan orang dungu dari pesisir.”

Pangeran Parikesit tersenyum kecil. Katanya,”Kau berkata dengan benar dan jujur, Rambesaji. Satu hal yang aku suka darimu adalah kejujuranmu. Kau tidak mengingkari keinginan hatimu untuk menjadi seorang tumenggung atau rakryan meskipun itu berarti kau akan membenturkan aku dengan Kakang Sultan Demak. Kau juga tidak ragu mengorbankan banyak orang untuk kehilangan nyawa, harta benda, terpisah dari sanak keluarganya dan kau lakukan itu tanpa sedikitpun keraguan. Berita demi berita kau sebarkan dari waktu demi waktu. Kau mampu menjaga semua yang pernah memenuhi udara di sekitar Lawu, Merpapi dan Merbabu. Atas semua kebohongan itu, kau mampu menjadi penguasa yang tak dapat disentuh oleh Demak.”

Tiba-tiba suara Batara Keling terdengar membelah malam. Namun ia kemudian mengalami kesakitan yang luar biasa tatkala ia mencoba membangkitkan tenaga intinya dan merambatkan melalui suara untuk menyerang Pangeran Parikesit yang berdiri dengan anggun. Tiba-tiba saja bagian dalam tubuh Batara Keling menderita gatal-gatal. Tubuh Batara Keling berkelojotan dan ia semakin menderita karena tubuhnya tidak dapat leluasa bergerak karena ia terikat erat pada Rambesaji. Keadaan yang dialami oleh Batara Keling pun membawa derita yang luar biasa pada Rambesaji. Leher Rambesaji berulang kali tercekik oleh tali yang dilingkarkan pada kaki Batara Keling. Geliat kaki Batara Keling semakin membuat kencang tali yang melilit leher Rambesaji sehingga Pangeran Parikesit sekali-kali harus mengendalikan geliat Batara Keling agar Rambesaji tidak mati kehabisan nafas.

“Kau dapat mengulang rencanamu yang sudah pasti gagal, Batara Keling,” dingin wajah Pangeran Parikesit tatkala menggetarkan bibirnya,” Lalu kalian berdua akan perlahan-lahan mati mengenaskan di tempat yang sepi ini. Kematian yang memalukan bagi orang yang pernah memburu Ramanda Prabu. Dunia akan menertawakan kematian kalian yang pernah bertempur melawan dua abdi Ramanda Prabu.”

Tinggalkan Balasan