Penaklukan Panarukan 30

Batara Keling mengenang kemudian ketika ia menjadi penunjuk jalan bagi pasukan yang dipimpin langsung oleh Rakryan Luru Sumpil ketika mengejar Prabu Brawijaya. Usianya yang tidak terpaut jauh dari Pangeran Parikesit tidak menjadi penghalang baginya untuk menggali kembai kedaaman ingatannya. Pada saat itu, Rakryan Luru Sumpil berusaha mewujudkan keinginan untuk berbagi tahta dengan Raden Fatah dengan berusaha menjadikan Prabu Brawijaya sebagai jaminan untuk memaksa kesediaan penerus tahta Majapahit. Namun Rakryan Luru Sumpil sama sekali tidak menduga jika dua abdi dalem sang prabu ternyata mempunyai ilmu yang tiada tara. Ratusan orang yang mengikuti keinginan Luru Sumpil pun jatuh berguguran seperti daun kering luruh ke tanah.

Meskipun Luru Sumpil mempunyai ketajaman siasat dan rencana yang hebat dalam pengejaran dan menyusun gelar perang, namun lawan yang ia hadapi adalah penguasa tertinggi Majapahit beserta dua abdinya. Orang-orang yang tergabung dalam pengejaran yang dipimpin oleh Luru Sumpil sebenarnya bukan sekumpulan orang biasa. Mereka adalah orang-orang yang telah lama mengenal olah kanuragan dan mendapatkan latihan keprajuritan secara khusus di barak prajurit yang terletak di lereng Wilis. Oleh karena itu, kemampuan mereka sangat disegani oleh seluruh satuan prajurit Majapahit. Dengan cekatan mereka berkelebat mengepung penguasa tertinggi Majapahit yang berjalan dengan diiringkan oleh dua abdinya yang setia. Seolah tidak mendapatkan gangguan yang berarti, sang prabu meneruskan perjalanan menuju puncak. Salah seorang abdi dalem kemudian berkata dengan badan sedikit membungkuk,”Hyang Prabu, mereka tidak akan lebih jauh dari tempat ini.”

Prabu Brawijaya berhenti sejenak sambil menghadapkan wajahnya ke bawah, ia berkata lirih,”Kau dalam perkenanku, Jalak Pameling.” Guncangan dahsyat yang terjadi dalam kerajaannya seperti tak lagi membekas dalam gurat wajah dan sorot mata Sang Prabu. Di angkasa Majapahit santer menyebar warta berita yang mampu meluluhkan orang yang paling keras hatinya. Keterangan yang banyak dikatakan orang telah melampaui batas wajar yang dapat diterima oleh nalar sehat. Sang Prabu melanjutkan langkahnya dengan lebar namun ketenangan sangat jelas terpancar dari setiap gerak tubuhnya.

Ki Jalak Pameling lantas menghentikan langkah lalu memutar tubuh dalam kedudukan sedikit merendah. Ia berkata pada kawannya,” Jalak Pati! Ini adalah perpisahan terindah anugerah Dewata karena di tempat ini pula kelembutan Hyang Prabu telah mencapai puncaknya.” Jalak Pati mengangguk kemudian katanya,” Aku akan menantimu di puncak sisi timur, Kakang.” Jalak Pameling menarik nafas panjang. Sekilas ia menatap kepergian Jalak Pati yang melangkah cepat menyusul Prabu Brawijaya. Ia merasa terharu karena Jalak Pati baginya adalah bagian lain dari seluruh jiwanya. Begitu banyak peristiwa yang ia lewatkan bersama Jalak Pati kala melayani Prabu Brawijaya.

Jalak Pameling dengan kaki renggang kini telah memegang selarik selendang dengan kedua tangannya. Lantang ia berkata,” Luru Sumpil! Tidak ada lagi penghormatan bagimu pada hari ini dan selamanya. Kau akan terkubur dalam dan namamu akan dilupakan seolah kau tidak pernah ada di muka bumi.”

“Berkatalah semaumu, pelayan hina!” seru Rakryan Luru Sumpil sambil memberi aba-aba pada pengikutnya untuk memulai satu gelar pembuka.

***

Sekali-kali Ki Buyut Mimbasara menoleh ke belakang. Tampak olehnya serombongan orang yang mengejar Adipati Pajang telah melewati pohon yang menjadi tempat persembunyiannya dengan Ki Getas Pendawa. Keyakinan kuat Ki Buyut bahwa Ki Getas Pendawa akan dapat mengatasi persoalan yang akan timbul membuatnya semakin cepat melesat mendekati kota Pajang. Tiba-tiba ia mengalihkan tujuan, Ki Buyut lantas mengambil jalan menuju sebuah pedukuhan kecil yang berada di batas luar kota sebelah barat.

Sejenak kemudian ia telah berada di dalam halaman sebuah rumah kecil yang asri. Beberapa pohon tumbuh dan agaknya terawat dengan baik. Ketika seorang lelaki berjalan melalui lorong kecil di samping rumah, ia terkejut melihat sosok yang tidak asing baginya.

“Ki Buyut!” sapa lelaki itu memberi hormat.

Langkah lebar Ki Buyut Mimbasara mendekati lelaki yang tampak lebih muda darinya, katanya,”Ki Jenar.” Ki Buyut mengangguk. Ia memegang kedua bahu Ki Jenar kemudian,”Aku akan membawa kudamu yang paling tegar. Itupun bila kau tidak keberatan, Ki.”

“Ki Buyut, aku akan berikan apapun yang kau kehendaki. Marilah!” ajak Ki Jenar menuju kandang kuda yang berada di haaman belakang. Penuh kagum Ki Buyut memperhatikan beberapa ekor kuda yang berdiri kokoh, ditambah keadaan kandang yang cukup bersih dan terawat bahkan Ki Buyut tidak mendapati bau yang semestinya melekat pada kandang kuda.

“Kau membuatku bangga, Ki Jenar,” kata Ki Buyut.

Ki Jenar menundukkan wajahnya, kemudian,”Pemberian Ki Buyut adalah sebuah kepercayaan. Aku tidak pernah menganggp sepasang ekor kuda itu adalah milikku. Aku merawatnya sebagaimana dulu keduanya masih berada di padepokan Ki Buyut.”

“Dan kini mereka telah berkembang,” sahut Ki Buyut Mimbasara kagum.

“Tentu atas doa Ki Buyut.”

Ki Buyut Mimbasara menunjuk seekor kuda yang masih muda dan berwarna gelap, lantas  Ki Jenar yang kemudian dibantu oleh cekatan seorang anak muda menyiapkan seluruh keperluan Ki Buyut Mimbasara. Ki Buyut menatap heran pada anak muda itu, kemudian,” Kidang Tlangkas?”

Anak muda yang disebut namanya kemudian menoleh pada Ki Buyut sambil membungkuk hormat. Ia berkata,” Kanjeng Pangeran memberiku perintah untuk menunggu Ki Buyut di kediaman KI Jenar.” Ki Buyut hanya menarik nafas panjang mendengar kalimat singkat Kidang Tlangkas. Dalam pada itu, Ki Jenar memandang wajah Ki Buyut berulang-ulang seperti tak percaya bahwa Ki Buyut juga membutuhkan perlengkapan untuk anak usia belasan tahun. Namun ia menahan diri karena  Ki Buyut pun belum memberitahukan kepentingannya.

Malam turun bersambut kabut menutup jalanan pedukuhan yang mulai lengang. Beberapa orang telah mempersiapkan diri untuk mengambil masa istirahat. Sebagian orang menggunakan peralihan waktu untuk mengheningkan cipta. Mereka mencoba menghadirkan kembali kekuasaan dan kesempurnaan Sang Hyang dalam ciptanya. Sekalipun kehidupan mereka jauh dari pemandu batiniah, tetapi mereka berupaya keras mengingat setiap petuah yang dituturkan oleh penunjuk jalan. Suasana  kerohanian menyatu dalam setiap detak nadi kehidupan yang ada di pedukuhan. Dalam keheningan itu, sebagian kecil orang membiarkan jiwanya menziarahi relung-relung yang sulit dimengerti oleh orang lain. Begitu pula yang dilakukan oleh Ki Buyut pada masa itu. Di atas punggung kuda, Ki Buyut berdiam diri menelusuri jejak-jejak yang ada dalam dirinya. Ki Buyut melihat kembali dalam jiwanya dan bertanya, memperhatikan tujuannya dan bertanya kembali. Wajah Pangeran Benawa melintasi ruangan yang ada dalam bentang jantungnya. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu membuka matanya.

Ki Jenar yang berdiri disamping kuda, berpaling padanya lalu,” Apakah ini semua tentang Wayah Pangeran, Ki Buyut?”

Ki Buyut menundukkan kepala. Lalu katanya,” Apakah Kidang Tlangkas memberitahumu tentang Wayah Pangeran?”

“Dia tidak berkata apapun, Ki Buyut. Aku hanya menduga karena Ki Buyut membawa beberapa perlengkapan yang dahulu pernah dipakai oleh Wayah Pangeran,” Ki Jenar berhenti sejenak. Lalu,” Apabila Ki Buyut berkenan, aku dan Kidang Tlangkas akan berada di sisi Ki Buyut hingga Wayah pangeran ditemukan.”

“Tidak,” tegas Ki Buyut,” Kehadiranmu di tempat ini lebih mempunyai banyak arti karena Pangeran Parikesit dan Angger Adipati dapat saja tiba-tiba menuju lingkungan ini. Dan bila itu terjadi, peristiwa yang sangat penting akan membutuhkan wawasan yang kau miliki.”

Tinggalkan Balasan