Penaklukan Panarukan 31

Ki Jenar tidak menggetarkan bibirnya. Ia melirik Kidang Tlangkas yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka berdua. Kidang Tlangkas yang sebenarnya ingin turut serta dalam pencarian sahabat kecilnya itu mencoba menahan diri. Ia memalingkan wajah dari mereka, namun Ki Buyut seperti tahu isi hati Kidang Tlangkas, katanya,” Pencarian ini mungkin akan membahayakan dirimu. Kau tidak dapat mengandalkanku seorang diri sementara kita belum tahu bahaya yang dapat mengancam kita di depan.”

Kidang Tlangkas membenamkan wajah pada kedua telapak tangannya. Ia menggigit bibirnya untuk mengalihkan suasana hatinya yang tak menentu. Kemudian terdengar suaranya bergetar ketika berkata,” Aku tidak dapat membayangkan keadaan Pangeran yang sudah pasti dalam kesulitan. Mungkin Pangeran dapat bertahan hidup dengan air, itupun bila ada.”

“Malam ini adalah malam ketiga dari saat Wayah Pangeran hilang dari padepokan,” berkata Ki Buyut,” Kau tidak perlu terlalu meresahkan keadaan Jaka Wening, Kidang Tlangkas. Ia akan bertahan, dan kau mengenalnya lebih baik dari sekedar membayangkan kejadian yang sebenarnya belum tentu menimpa dirinya.”

Membasah mata Kidang Tlangkas mendengar nama Jaka Wening disebutkan oleh Ki Buyut. Seolah ia melihat sosok Pangeran Benawa sedang berada dihadapannya. Kidang Tlangkas menyeret langkah mendekati Ki Buyut lalu menyalami guru Pangeran Benawa dan kemudian ia melangkah surut.

“ Ki Jenar, kau dapat tinggal di padepokan selagi aku belum membawa Wayah Pangeran kembali ke Pajang. Kau dapat katakan itu pada Kanjeng Adipati bila ia datang mendahuluiku,” kata Ki Buyut lalu sekejap kemudian ia menghentak lambung kuda dan derap kuda segera menjauhi Ki Jenar yang berdiri mematung menatap punggung Ki Buyut.

Derap dua ekor kuda yang berlari tidak terlalu kencang  cukup membawa suasana yang lain sepanjang perjalanan Ki Buyut Mimbasara menuju celah diantara Merapi dan Merbabu. Berulang kali Ki Buyut harus berjalan lambat dan sekali-kali ia menghentikan laju kuda. Dalam pada itu, Ki Buyut mencoba memusatkan nalar, menelusuri getar-getar tenaga yang mungkin masih dapat ia rasakan. Bagaimanapun, Pangeran Benawa telah berada dalam bimbingannya semenjak kecil sehingga setiap kali Pangeran Benawa mengerahkan tenaga inti yang tersimpan dalam dirinya, maka Ki Buyut akan dapat mengenali dan melakukan penelusuran melalui getaran yang bergelombang datang bersama dengan angin.

Udara basah yang melingkupi segenap dataran yang berada di sekitar dua gunung yang menjulang terasa menyusup dibalik kulit. Langit yang bersih tanpa penghalang menjadikan malam begitu gemerlap dengan bintang. Walaupun keping mendung sesekali terlihat melintasi garis langit, namun ia tidak mempunyai keinginan untuk berhenti. kembali bersih dan mendung yang semula begitu tebal lenyap tersapu angin yang berembus demikian deras. Bayangan hitam dengan berbagai bentuk menjadi pandangan mata sejauh ia memandang.

Dalam pada itu, pendengaran Ki Buyut seperti mempunyai kemampuan yang nyaris tiada batas. Betapa ia mampu mendengar kepak sayap burung malam yang sebenarnya masih berjarak ratusan tombak dari jalan yang ia lewati. Tetapi sekalipun Ki Buyut telah mengerahkan segenap kemampuannya, namun sepanjang perjalanan itu Ki Buyut Mimbasara sangat sedikit bersentuhan dengan getar tenaga inti Pangeran Benawa. Itu adalah keadaan yang wajar karena Pangeran Benawa sendiri tidak dapat melakukan perlawanan ketika ia berada dalam kuasa Kiai Rontek.

Upaya keras Ki Buyut untuk menelusuri jejak yang berasal dari getar tenaga inti Pangeran Benawa terus dilakukan tanpa henti. Ketika fajar hampir menjelang, kala bintang mulai bergeser menapak jalan untuk kembali, Ki Buyut menghentikan pencarian. Ia berdiri mematung di tepi aliran sungai kecil yang melintas di bawah pohon beringin. Dua ekor kuda telah tertambat dan keduanya juga didera kelelahan setelah sepanjang malam terus bergerak tanpa henti. Sekalipun Ki Buyut berada dalam keadaan berdiri, sebenarnya yang terjadi adalah Ki Buyut dalam keadaan paripurna untuk beristirahat. Ia merenggangkan seluruh urat syaraf dan ototnya namun tetap membuka simpul-simpul tenaga inti agar dapat merasakan getar yang mungkin saja dapat terjadi.

Nun jauh diseberang arah yang berbeda dengan Ki Buyut, tanpa disadari oleh Pangeran Benawa bahwa keputusannya untuk mengisi perutnya dengan dedaunan dan buah-buahan lambat laun tanpa disadarinya telah membuat tenaga intinya semakin memancar kuat. Diawali oleh rasa iba ketika terbayang darah yang keluar dari leher seekor kelinci, Pangeran Benawa mencari dan mengumpulkan dedaunan serta buah yang sekiranya dapat ia jadikan makanan. Banyak unsur gerakan yang ia lakukan setiap kali ia berpindah tempat. Ia melakukan semua itu dengan hat gembira dan membayangkan dirinya sedang berada di dalam padepokan. Tanpa berniat untuk menempa diri dengan latihan keras, namun apa yang ia lakukan sebenarnya adalah bagian latihan yang akan diajarkan oleh Ki Buyut. Oleh karena Pangeran Benawa sendiri sering mengulang olah gerak yang diajarkan oleh kakek buyutnya, ditambah dengan makanan yang kurang menunjang kekuatan wadagnya maka tubuh sang pangeran pun menjadi semakin lemah.

“Aku tidak dapat menyerah dengan keadaan ini,” Pangeran Benawa menancapkan niat kuat untuk melewati masa sulit itu.

Dalam pada itu, Pangeran Benawa tidak menyadari bahwa sebenarnya sepasang mata yang telah mengintainya untuk beberapa lama perlahan berjalan mengendap tanpa suara. Rimbun dedaunan perdu telah melindungi sosok tubuhnya yang besar dari terpa sinar matahari. Lantas ia berhenti dalam jarak beberapa belas langkah dari samping Pangeran Benawa yang masih berdiri dan berupaya keras mencapai keadaan puncak dalam menyatukan cipta dan karsanya. Memang sulit dipercaya bahwa dalam usia yang belia itu, Pangeran Benawa mampu melakukan olah rasa yang biasanya hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berusia lebih banyak darinya. Tetapi sikap Ki Buyut yang tidak ingin membedakan pengajaran untuk para cantriknya sepertinya telah memaksa Pangeran Benawa untuk selalu melakukan lompatan lebih tinggi. Oleh karena itu, pendengaran Pangeran Benawa akhirnya mampu menangkap suara halus yang berasal dari sisi kanannya. Meski begitu, sudut mata sang pangeran belum dapat menangkap bayangan yang sedang berdiam diri di balik rerimbun daun.

Derap kaki yang dilapisi oleh bulu yang tebal, membuat kedatangan harimau berwarna kuning keemasan dengan beberapa garis hitam memanjang pada bulunya tidak diketahui oleh Pangeran Benawa. Dalam waktu kurang dari sekejap mata, sudut mata Pangeran Benawa baru dapat melihat bahaya yang menerjangnya dari samping kanan. Lompatan panjang yang berasal dari pijakan kuat kaki harimau benar-benar mengejutkan Pangeran Benawa. Ia tidak lagi mempunyai waktu untuk mengelak. Dalam keadaan tubuh yang lemah, pewaris tahta Kadipaten Pajang itu menyilangkan kedua tangannya diatas kepala. Sekalipun ia telah memperkuat kedudukan kakinya, tetapi hantaman harimau yang setara dengan tenaga seekor kerbau tidak dapat dibendungnya. Tubuh Pangeran Benawa terlempar surut dan jatuh bergulingan. Tetapi harimau loreng itu tidak berhenti mengejar sang pangeran, seperti halnya saat ia berburu kelinci maka seperti itu pula yang dilakukannya pada Pangeran Benawa. Kedua kaki depan harimau loreng itu berulang kali mencoba meraih bahkan memukul bagian wajah sang Pangeran.

Tinggalkan Balasan