Penaklukan Panarukan 32

Serangan yang datang dengan cara mengejutkan itu tidak lantas dapat menjadikan hati Pangeran Benawa menjadi gentar. Sekalipun ia terlempar dan jatuh terguling, namun ia masih mampu mempertahankan diri dari jangkauan kaki depan harimau loreng yang datang beruntun. Pangeran Benawa yang bertarung dengan punggung melekat pada hamparan rumput masih mencari celah untuk dapat bangkit berdiri tetapi agaknya harimau itu tidak mau melepaskan tubuh kecil yang nyaris tak berdaya itu dari hadapannya. Kedua kaki kecil sang pangeran sekali-kali menyusup masuk diantara kibasan kedua kaki kucing besar itu. Namun binatang itu seperti tidak merasakan sakit tatkala kaki pangeran mampu menggedor lambungnya. Justru raja rimba itu semakin kuat menggandakan serangan setiap kali bagian tubuhnya terkena hantaman tumit Pangeran Benawa.

Kemudian harimau dewasa yang berukuran besar itu semakin cepat menggerakkan tubuhnya dan pada saat itu Pangeran Benawa terkesima melihat sebuah gerakan yang terangkai dengan cara yang luar biasa. Tubuh harimau itu mencelat kesana kemari mengurung Pangeran Benawa dengan kegesitan yang tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya. Bahkan seringkali terlihat jika ia seperti melayang di atas permukaan tanah karena begitu cepat ia berpindah dan menebas tubuh pangeran yang masih terbaring diatas tanah.

Harimau itu ternyata memang luar biasa, rangkaian gerak dan loncatan yang dilakukannya seperti gerak tari para penari di istana Pajang. Keempat kakinya bergerak bergantian dan seperti mempunyai mata yang terpisah maka kemudian serangan yang dilancarkannya semakin berbahaya.

“Apakah aku akan menjadi mangsa seekor harimau? Tidak!” geram Pangeran Benawa dalam hatinya. Diawali dengan suaranya yang melengking tinggi, tiba-tiba Pangeran Benawa mencelat keatas dengan cara memukulkan telapak tangannya pada tanah. Lengking suara yang dilambari dengan tenaga inti yang bersumber dari ilmu Jendra Bhirawa membuat ucing besar itu meloncat mundur. Raja rimba itu seperti merasa terkejut ketika pendengarannya seperti mendapat sebuah tusukan yang mampu menembus tulang kepalanya.

Dada Pangeran Benawa terlihat turun naik dengan cepat. Ia harus segera mengatur pernafasan agar tubuhnya tidak menjadi semakin lemah sementara harimau yang berada dua tiga langkah didepannya telah merunduk dengan sorot mata mengerikan.

“Kemarilah, kucing besar. Aku akan menjadi makananmu yang paling nikmat,” desis Pangeran Benawa. Tiba-tiba muncul keingingan dalam hatinya untuk meniru gerak binatang buas yang menjadi lawannya. Maka kemudian Pangeran Benawa bertingkah aneh karena gerak-geriknya sekilas mirip dengan harimau loreng yang menjadi lawannya. Yang terjadi kemudian adalah pertarungan aneh antara seekor binatang buas dengan manusia yang bertingkah mirip seekor harimau. Kedua tangna Pangeran Benawa membentuk tata gerak seperti layaknya dua kaki depan harimau loreng. Tubuh Pangeran menggeliat dan tampak seperti menari dengan loncatan-loncatan yang tidak teratur namun terlihat sebagai satu rangkaian yang mengalir lancar.

“Apakah kau kebingungan, kucing hutan?” seru Pangeran Benawa. Perlahan-lahan keadaan hatinya menjadi riang. Ia seperti menemukan kembali apa yang ia rindukan selama ini. Kawan untuk bermain. Tanpa mengurai kesiagaan, Pangeran Benawa dengan nyaris sempurna berhasil meniru setiap gerak harimau besar yang sepertinya adalah pemangsa paling buruk di kawasan hutan itu. Tak lama kemudian, keduanya saling memutar, saling mengamati dengan tatap mata yang sama-sama tajam. Setiap kali harimau itu mengaum, Pangeran Benawa membalasnya dengan lengkingan bernada tinggi. Maka pergerakan keduanya pun terhenti sesaat, mereka saling membenturkan kekuatan dengan cara mengeluarkan suara-suara yang mampu mengguncang jantung dan membuat orang menjadi kehilangan keberanian.

Matahari beranjak turun dari punggung Merbabu tatkala Pangeran Benawa mulai mengerahkan tenaga inti yang bersumber dari ilmu Jendra Bhirawa. Kekuatan Pangeran Benawa yang tanpa disadarinya telah menjadi berlipat ganda secara tiba-tiba menghentak Ki Buyut Mimbasara yang berada ribuan tombak dari tempatnya bertarung melawan kucing hutan yang berukuran besar.

“Wayah Pangeran!” desah pelan Ki Buyut yang dalam sekejap telah larut dalam keheningan ciptanya. Sekejap kemudian tampak perubahan terjadi pada air muka Ki Buyut. Ia seperti tidak percaya dengan kedahsyatan tenaga Pangeran Benawa yang tergetar sangat hebat melalui udara bebas.

“Aku sama sekali tidak meragukan pemilik tenaga yang luar biasa ini, tetapi bagaimana ia dapat meningkatkannya menjadi sedemikian hebat!” Ki Buyut lantas menyentak lambung kuda dan berpacu cepat menuju celah sempit yang terletak diantara Merbabu dan Merapi. Ki Buyut mengingat dengan baik tingkatan ilmu yang dimiliki putra Adipati Pajang itu. oleh karenanya ia mempunyai keyakinan bahwa Pangeran Benawa akan dapat bertahan dari serangan binatang buas atau cuaca sekalipun sangat buruk. Tetapi ia benar-benar terkejut setelah mengenali unsur tenaga yang terpancar keluar dari lingkar pertarungan hidup mati Pangeran Benawa.

Sayup-sayup Ki Buyut mendengar suara yang saling membelit dan berbenturan. Akibat yang ditimbulkan kedua suara yang hebat itu memang cukup dahsyat. Binatang-binatang berlarian sejauh puluhan tombak dari tempat mereka berhadapan. Kedua suara itu terdengar sangat menakutkan bagi para penghuni hutan kecil yang mengelilingi padang rumput yang terletak di celah Merapi. Dalam pada itu, Ki Buyut berdecak kagum dengan kemampuan yang ada dalam diri cucunya. Senyum lebar menghias raut muka teduh Ki Buyut. Ia memang layak untuk merasakan kebahagiaan, bahkan ia seperti mendapatkan karunia yang jauh melampaui harapannya. Ia semakin yakin bahwa Pangeran Benawa akan mampu menjadi pewarisnya yang tangguh.

Adalah Pangeran Benawa  yang tidak mengetahui kedatangan Ki Buyut mengawali serangan dengan satu gebrakan yang hebat. Ia telah menghafal oleh gerak harimau itu dalam waktu yang singkat, dan kini Pangeran Benawa menyerang harimau itu dengan cara yang menakjubkan. Olah gerak yang sama namun dilakukannya lebih cepat dari harimau itu sendiri ternyata menjadi cara yang ampuh untuk menebar kebingungan bagi binatang buas penguasa hutan. Sekali-kali tubuh Pangeran Benawa lenyap dari pandangan harimau itu yang berulang kali harus memutar tubuh dan seperti berkejaran dengan ekornya sendiri.

Bahkan yang terjadi saat itu adalah Pangeran Benawa mampu menyerap unsur baru dari gerakan yang sebenarnya asing baginya. Sementara itu, harimau loreng semakin lama semakin terdesak oleh tekanan yang dilakukan Pangeran Benawa hingga suatu ketika ia mengayunkan kaki depannya dengan kuku yang berkilat-kilat.

“Kau benar-benar ingin memangsaku, kucing besar!” Pangeran Benawa berseru keras ketika kaki depan harimau itu menembus kain yang ia kenakan. Hangat darah mengalir mulai menggoyahkan keteguhan hati Pangeran Benawa. Sementara harimau itu semakin beringas ketika ia mencium bau darah yang keluar dari bagian depan tubuh Pangeran Benawa.

Namun betapa Ki Buyut menjadi terkejut ketika ia meIihat Pangeran Benawa berada dalam kedudukan tubuh berlumuran darah sedikit merendah sedang berhadapan dengan seekor harimau yang cukup besar. Nyaris dalam waktu kurang dari sekejap mata, ia hampir saja turun menyelamatkan cucunya yang menurut Ki Buyut berada dalam bahaya. Tetapi mendadak ia membatalkan niatnya ketika melihat raut muka gembira tergurat kuat pada wajah Pangeran Benawa. Sejenak Ki Buyut memicingkan mata mengamati keadaan pertarungan.

“Deru kematian harus dapat dilewatinya. Ia harus mampu melakukannya,” gumam Ki Buyut kemudian dengan kepala mengangguk-angguk,”Binatang itu dalam keadaan lapar hendak menjadikan Jaka Wening sebagai mangsa. Dan sekarang Jaka Wening harus mampu mempengaruhi kucing itu melalui segenap ilmunya.” Ki Buyut menggelengkan kepala dan tanpa rasa khawatir sepertinya ia menikmati perkelahian antara Pangeran Benawa dengan harimau loreng yang tergelar dihadapannya.

Dalam penilaian Ki Buyut, olah gerak Pangeran Benawa yang menirukan harimau itu memang belum dapat dikatakan sempurna, namun ia merasa bangga bahwa cucunya ternyata mampu menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar.

Tinggalkan Balasan