Penaklukan Panarukan 33

Kucing besar itu semakin lama semakin beringas dengan aliran serang Pangeran Benawa yang datang beruntun. Sekali-kali taringnya mampu menembus dinding tebal Pangeran Benawa yang berkelahi dengan tekad kuat. Olah gerak Pangeran Benawa nyaris tidak ada bedanya dengan apa yang dilakukan oleh kucing hutan yang berukuran sama dengan seekor anak lembu. Bahkan ketika harimau itu mengangkat kedua kaki depannya maka tubuhnya begitu kokoh dan lebih tinggi dari Pangeran Benawa. Di sisi lain, Pangeran Benawa pun merasa terkejut dengan kemajuan yang ia capai sementara ia sama sekali tidak merasa melakukan latihan yang cukup keras. Meski begitu, ia dapat merasakan bahwa tubuhnya kini menjadi lebih ringan dan lebih bertenaga.

Pertarungan yang berlangsung sangat ketat itu lambat laun semakin memudar. Keduanya bergerak semakin lamban dan tenaga mereka telah terkuras nyaris tidak tersisa. Berulang kali Pangeran Benawa terjatuh karena kedua kakinya hampir tak mampu lagi menyanggah berat tubuhnya, sementara harimau loreng itu sesekali mengaum tanpa melakukan serangan yang yang tajam.

“Kucing hutan, apakah kau telah merasa lelah?” seru Pangeran Benawa dengan senyum yang lebar. Ia seperti tidak merasakan kelelahan yang sedang menderanya dengan hebat. Meskipun dalam pandang matanya sangat jelas terlihat bahwa harimau itu juga kelelahan tetapi Pangeran Benawa tidak gegabah untuk mendekatinya. Dalam pada itu, Pangeran Benawa sekali-kali melakukan serangan yang hampir tidak lagi membawa arti.

Setelah berkata dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh harimau, Pangeran Benawa lantas meraih sebatang ranting sepanjang kakinya. Ia menyentuh tubuh harimau itu untuk mengetahui apakah binatang buas yang ditakuti oleh seluruh penghuni hutan di lembah Merbabu itu masih tangkas menghindar, ternyata seperti yang telah ia duga sebelumnya bahwa kucing besar itu tak lagi mampu mengelak sentuhan ranting Pangeran Benawa. Kecerdasan nalar yang ada dalam diri Pangeran Benawa membuatnya segera melambari ranting kayu itu dengan ilmu Jendra Bhirawa yang tak lagi memancarkan kekuatan yang sangat hebat. Meskipun aliran tenaga intinya mulai melemah, namun sentuhan-sentuhan yang dilakukan olehnya mampu mengunci simpul otot harimau loreng yang kemudian roboh tergolek lemas.

Sejenak kemudian, Pangeran Benawa berjalan dengan kaki terseret-seret mendekati harimau itu lalu duduk di samping lambung kucing besar itu, katanya,”Kau tak mampu melawanku, kucing besar. Dan aku akan membawamu pulang.” Usai berkata demikian, Pangeran Benawa lantas meletakkan kepalanya berbantal lambung harimau. Sementara itu harimau besar itu hanya mampu menatap ulah lawannya yang bertubuh lebih kecil disertai seringai lemah. Lalu, tak lama kemudian, Pangeran Benawa pun lelap dalam kelelahan yang luar biasa. Ia tak lagi merasakan lapar yang sebenarnya telah membelitnya sejak matahari melintasi tanjakan menuju puncak langit. Ia tak mampu lagi membendung rasa haus dan lapar bercampur dengan keletihan.

Ki Buyut Mimbasara pun tersenyum kala melihat tingkah laku Jaka Wening dari kejauhan. “Jika itu yang kau kehendaki, kita akan membawa pulang harimau itu pulang,” senyum Ki Buyut yang mendengar ucapan Jaka Wening meskipun jarak mereka lumayan jauh. Ki Buyut lantas berjalan dengan menuntun kedua kuda yang dibawanya serta dari pedukuhan Ki Jenar. Beberapa sentuhan tangan Ki Buyut pun bergerak cepat memeriksa keadaan tubuh Jaka Wening dan beberapa butir ramuan telah ia masukkan melalui bibir kecil cucunya. Luka-luka yang diderita oleh cucunya itu pun telah tertutup dengan ramuan yang telah disiapkannya saat pertarungan masih berlangsung. Untuk beberapa saat Ki Buyut mengamati keadaan Pangeran Benawa, lalu ketika tidak terjadi perubahan yang mengkhawatirkan maka kemudian Ki Buyut mengelus kepala harimau yang hanya mampu menggerak-gerakkan matanya itu sambil berkata,”Terima kasih, binatang tangguh. Kau telah menjadi lawan tanding yang cukup hebat bagi cucuku ini. Kau akan pulang bersama kami, aku kira kau memang pantas mendapatkan kewajaran dari kami.” Lantas ia memeriksa keadaan harimau itu dengan kedua tangannya menyisir lembut setiap bagian tubuh binatang yang telah bertarung habis-habisan melawan putra Adipati Pajang.

Ki Buyut bangkit berdiri dan mengedarkan pengamatan sekitarnya. “Inilah gua yang mungkin menjadi tempat Kiai Rontek menyembunyikan Wayah Pangeran,” gumam Ki Buyut saat matanya melihat sebuah lubang yang tidak seberapa besar pada tebing batu. Sejenak ia mendongakkan wajah ketika matahari telah berada di balik punggung gunung. Lalu Ki Buyut mengalihkan perhatiannya dengan memandang dua tubuh yang tergolek didekatnya kemudian katanya,”Aku tidak akan memindahkan kalian kedalam gua karena kalian membutuhkan udara segar yang lebih banyak.” Lantas dari pelana kuda, Ki Buyut mengeluarkan sekantung kulit yang berisi air bersih dan memberi harimau itu minum sepuasnya. “Minumlah, kau tak perlu takut padaku dan pada cucuku ini,” kata Ki Buyut sembari mengangkat kepala harimau itu agar mudah untuk menelan air dari katung yang ia sodorkan.

Demikianlah pada malam itu mereka bertiga bermalam di padang terbuka dengan ditemani angin dingin yang turun dari kedua puncak gunung yang berada di kedua sisi mereka. Ketinggian ilmu Ki Buyut Mimbasara atau Ki Kebo Kenanga ini menjadikannya mungkin membuat dinding yang sulit ditembus oleh terjangan badai. Lingkar tenaga inti Ki Buyut menjadikan hawa yang sangat dingin dan angin yang berhembus kencang seolah tidak dirasakan oleh Pangeran Benawa yang masih lelap dalam tidurnya. Sekali-kali Jaka Wening mengigau dengan memanggil-manggil kakeknya dengan suara lirih. Meskipun Ki Buyut adalah orang yang telah sangat dalam menyelami pengertian-pengertian kehidupan, tetapi ia tetap manusia biasa. Ia terenyuh saat mendengar lirih suara Jaka Wening memanggilnya berulang-ulang. Dalam hati Ki Buyut, ia mengakui bahwa pada saat itulah ia dapat merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Jaka Wening. Tak mampu lagi ia menahan basah air mata yang menggenang pada kedua pelupuknya.

“Tidak akan ada bahaya yang aku biarkan mendekatimu, dan bila aku telah tiada, aku akan menjagamu dalam arti yang berbeda, Pangeran,” bisik lirih Ki Buyut dengan suara bergetar penuh perasaan. Bahkan rerumputan dan angin pun akan terlarut dalam suasana seandainya mereka dapat mendengar serta mengerti luapan perasaan Ki Buyut.

Dalam pada itu, sekali-kali harimau mencoba menggerakkan tubuhnya namun ia masih terikat dalam keadaan yang terkunci. Untuk beberapa saat Ki Buyut mengamati gerak gerik hewan tangguh itu lalu,” Kau akan kubebaskan dari keadaan ini. Namun aku ingin kau dapat mengingat wajah cucuku dengan baik karena mungkin kau akan berjumpa lagi dengannya kelak. Suatu hari. Suatu saat.” Tiga langkah yang menjadi jarak yang memisahkan mereka tidak menjadi penghalang bagi Ki Buyut untuk membebaskan simpul-simpul syaraf yang terkunci. Cukup sekali ia mengibaskan tangannya dan harimau itu telah bangkit diatas keempat kakinya. Setelah ia mengibas-kibaskan bulu dengan menggoyangkan tubuhnya, harimau itu meregangkan otot-otot yang mungkin dirasakan olehnya menjadi kaku. Tak lama kemudian ia berjalan dengan gagah mendekati Ki Buyut yang duduk bersilang kaki dengan kepala Pangeran Benawa yang telah berbantal pada pahanya. Tiba-tiba saja kepala harimau itu merunduk saat ia semakin dekat dan berbaring di sisi yang berlainan dengan Pangeran Benawa. Hal yang menakjubkan pun terjadi tatkala harimau loreng itu seperti menyerahkan nasibnya ditangan Ki Buyut ketika kepalanya begitu dekat dengan paha cucu Prabu Brawijaya itu.

“Baiklah, aku mengerti keinginanmu. Kau dapat tinggal bersama kami di Pajang dan kau pun dapat meninggalkan kami kapan saja jika kau inginkan,” telapak tangan Ki Buyut lantas membelai kepala harimau itu penuh kasih. Seolah mengerti maksud kata orang yang telah menolongnya, harimau itu menjulurkan kepala lebih dekat pada Ki Buyut dan menjilatkan lidahnya pada telapak tangan orang yang membelainya.

Lalu sepanjang malam itu, Ki Buyut menenggelamkan diri dalam kesempurnaan yang ia rasakan telah meliputi hatinya. Ia melarutkan sesuatu yang dikenalnya sebagai pengakuan atas diri sendiri, melebur pengakuan itu dalam kehampaan dan kesunyian. Kehadiran Pangeran Benawa pun semakin mendapatkan tempat tersendiri dalam hatinya dan perasaan itu pun ia lebur dalam kelembutan alam yang menyapanya. Dalam keheningannya mencipta, Ki Buyut merasa bahwa ia bukan lagi sesuatu yang berarti bagi orang lain. Ia tak lagi merasa sebagai siapa dan telah melupakan apa yang telah diperbuatnya sepanjang hidup. Segenap jiwa dan nalar Ki Buyut Mimbasara atau Ki Kebo Kenanga telah menjangkau bibir samudera yang telah disediakan oleh Sang Pencipta bagi mereka yang mau mengenalnya.

Tinggalkan Balasan