Penaklukan Panarukan 34

Keadaan itu berlangsung hingga malam berlalu. Pangeran Benawa pelan-pelan membuka kelopak matanya dan ia tersenyum lega melihat sosok penuh wibawa dan menyiratkan kegagahan tiada tara telah berada disampingnya. Rasa takut yang dirasakan olehnya cukup lama mencegkeram hatinya pun sirna. Kegelisahan yang mendekapnya bila tak bertemu kembali dengan orang tuanya seolah menyingkir seperti kabut gelap terhembus angin.

Wajah Jaka Wening tampak bersinar cerah. “Eyang!” Jaka Wening berseru lemah sambil memegang tangan Ki Buyut Mimbasara. Kemudian ia bertambah gembira saat mengetahui bahwa harimau yang akan memangsanya telah berada di ujung kakinya.

Meskipun Jaka Wening sempat terperanjat kaget, namun ia menebar senyum lebar lalu katanya,”Kau akan ikut kami berdua kembali ke Pajang?”

Seolah mengerti maksud Pangeran Benawa, harimau itu mengaum kemudian kembali.menempatkan kepalanya di dekat kaki sang pangeran. Kegembiraan jelas terpancar dari raut wajah Jaka Wening. Ia menggeser tubuhnya yang masih lemah lantas mendekatkan wajahnya berhadapan dengan muka lebar harimau yang besar itu.

“Aku tidak akan pernah takut padamu, Kajoran!” pelan suara Jaka Wening.

Ki Buyut mengerutkan alis, lalu”Kajoran? Kau beri harimau itu sebuah nama?”

Jaka Wening mengangguk pelan. “Ia akan menemaniku sepanjang hari, Eyang,” kata Jaka Wening. Ki Buyut mengangguk kemudian ia bangkit lalu,”Marilah, kita berjalan pulang sambil berburu sedikit makanan. Tentu kalian berdua merasa lapar setelah berkelahi karena kalian tidak saling mengenal.” Jaka Wening mengerutkan dahi karena bagian terakhir yang diucapkan kakeknya sepenuhnya belum dapat ia mengerti tetapi ia menganggukkan kepala karena memang sebenarnya ia sangat lapar.

Demikianlah saat sinar matahari dapat menyentuh batang ranting yang basah, mereka bertiga beriringan menuju kota Pajang. Dalam waktu itu, empat ekor kelinci hasil perburuan Ki Buyut yang bekerja sama dengan Kajoran telah mengisi perut lapar mereka.

***

“Kau tidak akan pernah sampai di Demak, Mas Karebet!” tajam suara itu menggores pendengaran Adipati Hadiwijaya yang sedang berpacu cepat diatas derap kudanya. Sesaat ia terkejut mendengar suara yang disertai dengan tenaga inti. Pada saat itu Adipati Hadiwijaya mengerti bahwa hanya ia seorang diri yang mendengarnya. Ketika ia telah menguasai dirinya kembali lantas teringatlah sebuah kenangan kelam di masa lalunya.

“Sarpakenaka!” desis Mas Karebet. Sarpakenaka adalah julukan yang secara khusus ia berikan pada orang yang dikenal sebagai Kiai Rontek. Adipati Hadiwijaya pernah menjalani sebuah perkelahian melawan Kiai Rontek di masa mudanya. Ketangguhan ilmu Sarpakenaka atau Kiai Rontek ini terus membayang dalam benak Mas Karebet muda. Oleh karena itu, keberadaan Sarpakenaka menjadi salah satu sebab yang membuat Mas Karebet terus menerus menyerap ilmu dari berbagai penjuru.

Sekilas Adipati Hadiwijaya menggerakkan bola matanya lalu kemudian ia mengerti bahwa Kiai Rontek masih berada jauh didepannya. Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba bumi bergetar sangat kuat. Kuda yang ditungganginya nyaris terjerembab jatuh, namun Adipati Pajang ini adalah penunggang yang mahir sehingga mampu menguasai laju kudanya. Keadaan yang berbeda dialami oleh para pengawalnya. Mereka terlempar dari punggung kuda ketika secara mendadak kuda mereka mengangkat kedua kakinya dan bergerak sangat liar.

Mempertimbangkan kedudukan yang tidak memberinya keuntungan, Adipati Hadiwijaya lantas meluncur deras dari atas punggung kuda dan tiba-tiba ia telah berada belasan tombak di depan kudanya yang masih berderap cepat. Sekelebat bayangan mendadak muncul dan melayang sangat cepat melintas diatas tubuh para pengawal yang bergulingan jatuh.

Kedua kaki sosok ini menjejak tanah dengan sangat ringan dihadapan Adipati Hadiwijaya yang telah memutar tubuh dan menunggunya.

“Aku harap kau tidak terkejut melihatku malam ini, Mas Karebet!” kata lelaki bertubuh kekar dengan pakaian yang cukup ketat membungkus bagian atas tubuhnya.

“Sebenarnya aku ingin terkejut tetapi kecerdasanku ternyata jauh berada diatas perkiraanmu, Lembu Jati,” suara tenang keluar dari bibir menantu Sultan Trenggana.

Tawa berderai lepas dari orang yang bernama Lembu Jati, kemudian,” Kau tentu masih ingat saat-saat mengerikan yang kau alami ketika roboh terkulai oleh Jagat Manunggal.”

Adipati Pajang pun tertawa, lalu katanya,” Jagat Manunggal tentulah sebuah ilmu yang berada di puncak langit.”

Lembu Jati mengangguk. Lubang hidungnya sedikit membesar dan katanya,” Pastinya kau masih ingin melampauinya. Bukan begitu, Jaka Tingkir?”

Ayahanda Pangeran Benawa menjawabnya dengan gelengan kepala. Lalu ia menggerakkan bibirnya,” Keinginan itu telah pupus semenjak Jaka Wening lahir di dunia ini.”

” Kau enggan untuk berkata jerih tetapi aku dapat mengerti gelisah hatimu, Mas Karebet,” sahut Lembu Jati.

” Lembu Jati, bagiku saat ini sebuah pertarungan bukan lagi sekedar mencari siapa yang lebih kuat. Aku adalah seorang Adipati Pajang,” kata Adipati Hadiwijaya.

Lembu Jati menarik nafas panjang. Ia membuang muka lalu berkata,” Kedudukan seseorang tidak dapat menghalanginya dari sebuah tantangan. Tetapi, itu bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai hati yang kecil.” Ia diam sejenak, lalu,” Seperti kau sekarang ini, Mas Karebet. Aku melihat jiwamu telah terkungkung dalam satu liang sempit yang gelap hingga kau tak mampu melihat cahaya matahari.”

“Aku berada dalam satu ruang yang terhampar begitu luas,” sahut Adipati Hadiwijaya.

“Kehadiran Jaka Wening adalah penjara untukmu. Kaki dan tanganmu terikat pada dirinya,” tukas Lembu Jati dengan suara meninggi. Lembu Jati sedikit memelototkan mata lantas,” Perhatikanlah tujuanmu ke Demak, Mas Karebet. Bukankah dapat menggantikan kedudukan Raden Trenggana? Kau mempunyai kelebihan untuk merancang sebuah gerakan seperti yang pernah kau lakukan di masa mudamu.”

” Lanjutkan upayamu untuk membuatku keluar dari batasan yang ada saat ini,” Adipati Hadiwijaya berkata dingin.

“Aku tak ingin menjadikanmu orang yang melampaui batas. Aku sekedar mengingatkan bahwa sekarang ini kau mendapat kesempatan untuk menjadi penguasa tahta Demak.”

“Jadi, berita itu ternyata memang benar. Para petugas sandi telah memberiku peringatan.”

Kedua alis Lembu Jati pun tertaut. “Kau tidak mengerti apapun yang sedang terjadi di Demak.”

“Keinginan untuk duduk dan memerintah sebagai orang tertinggi karena merasa sebagai orang yang terpilih,” kata Adipati Hadiwijaya,” Lembu Jati, kau dapat katakan kepada orang yang berkuasa atas dirimu bahwa Mas Karebet tidak akan melepaskan Demak ataupun Pajang padanya.”

“Orang itu masih kerabatmu sendiri, Jaka Tingkir!” usai berkata demikian, lengan kiri Lembu Jati menggantung si sisi lambungnya sementara tangan kanannya terangkat tinggi-tinggi. Ia berdesis,”Ki Rangga Gagak Panji. Aku berikan nama itu kepadamu supaya kau merasa lega jika ternyata hanya nama seorang Jaka Tingkir yang harus kembali pulang.”

Jantung Adipati Pajang berdentang kencang. Darahnya seolah berhenti mengalir saat nama Gagak Panji dengan lantang diucapkan oleh Lembu Jati. Walaupun sebenarnya ia sedikit tertekan dalam hatinya tetapi Adipati Hadiwijaya adalah seorang petarung sejati, Ia mengabaikan gelisah yang membalut perasaanya. Bahkan ia seperti menantang kebenaran dari keterangan lawannya. Tanpa mengubah kedudukan tubuhnya dan ketenangan yang masih terpancar dari matanya, Adipati Pajang pun berkata,”Akan menjadi peristiwa yang sangat menyenangkan bila Kakang Gagak Panji yang menyusun perangkap ini. Ia memang orang luar biasa karena dapat membuatmu bersimpuh mencium ujung kakinya.”

Bibir Adipati Hadiwijaya mengatup rapat. Kedua kakinya bergeser cepat menyusur tanah, merangsek maju menyerang Lembu Jati dengan sebuah terjangan yang hebat.

Tinggalkan Balasan