Penaklukan Panarukan 35

Lembu Jati pun menggerakkan kaki tanpa mengangkatnya dari permukaan tanah. Setiap langkahnya yang lebar saling menyilang menyebabkan udara bergerak seperti dihentak dengan kipas raksasa. Debu dan dedaunan membumbung tinggi hingga mencapai leher Lembu Jati. Lalu tiba-tiba satu dorongan dari tangannya membuat pusaran udara itu seolah menjadi runcing dan menggapai dada Adipati Hadiwijaya.

Pemimpin tertinggi Pajang lantas menyambutnya dengan kibasan yang sangat kuat membuyarkan serangan Lembu Jati. Kehebatan Lembu Jati memang nyaris tiada banding. Betapa benturan angin yang digerakkan oleh tenaga inti yang bersumber dari ilmu Jagat Manunggal telah meninggalkan rasa perih pada bagian luar kulit Adipati Hadiwijaya.

Tetapi jantung Adipati Hadiwijaya seakan berhenti berdetak tatkala para pengawal terhempas cukup jauh. Sebenarnya mereka telah menepi dari jalanan. Saat itu mereka saling merawat luka yang disebabkan senjata rahasia yang dilepaskan oleh Lembu Jati ketika melayang melintas diatas mereka. Namun karena hentakan tenaga inti yang keluar dari ilmu tingkat tinggi terlalu hebat bagi prajurit Pajang dahsyat maka tubuh mereka terseret angin hingga belasan langkah.

Kerling mata Adipati Hadiwijaya belum mendapatkan bayangan salah satu pengawal yang menandakan mereka masih hidup. Dan yang ia hadapi adalah seorang yang tangguh dan memiliki ilmu serta kekuatan yang berselisih tipis dengannya. Meskipun dengan berat hati pemimpin Pajang itu menjatuhkan keputusan tetapi menghentikan Lembu Jati adalah pilihan terbaik baginya.

Lantas dengan sebangsal ilmu yang telah menyatu dalam diri putra Kebo Kenanga, kini dengan cepat ia mengalirkan ilmu Lembu Sekilan untuk melapisi pertahanannya. Sekali-kali ia berteriak memanggil nama pengawalnya satu demi satu namun pendengarannya belum menangkap getar suara dari para pengawal.

Kehebatan seseorang memang tidak dapat diukur berdasarkan kecepatan semata. Dan seperti itulah pertarungan antara Adipati Hadiwijaya dengan Lembu Jati. Keduanya bergerak lambat tetapi setiap kali tangan-tangan mereka bergerak maka selalu saja menimbulkan suara seperti angin yang bergemuruh. Apabila perkelahian itu dilakukan dalam suasana yang cukup terang maka akan terlihat betapa kulit pepohonan telah tersayat. Bahkan kulit kayu pun dapat terkelupas dan itu terjadi pada banyak pohon yang muda usia.

Lembu Jati sama sekali tidak memandang rendah Adipati Pajang yang mempunyai banyak ilmu. Ia cukup menjaga kehati-hatian dengan meningkatkan kemampuan selapis demi selapis dengan cepat. Bahkan Lembu Jati sama sekali tidak mengeluarkan unsur gerakan yang rumit dalam melakukan serangan. Ia lebih cenderung untuk menggunakan seluruh olah gerak yang biasa dipelajari oleh cantrik yang baru saja memasuki lingkungan padepokan. Hanya saja yang membedakan mereka dengan cantrik baru adalah pengerahan tenaga inti yang berlapis-lapis dalam setiap geliat kaki dan kibasan tangan.

Suasana begitu mencekam dapat dirasakan hingga belasan tombak dari lingkar perkelahian itu. Ilmu Jagat Manunggal benar-benar menjadi ancaman yang mengerikan bagi setiap makhluk bernyawa. Betapa udara yang bergerak karena dorongan tenaga inti dapat berubah seperti sayatan belati yang tajam. Kadang-kadang secara mendadak berubah menjadi angin yang mampu membakar daun yang basah oleh embun. Dan tak jarang Adipati Hadiwijaya menjadi terkejut karena tiba-tiba tenaga inti Lembu Jati berubah menjadi sangat dingin. Malam itu adalah malam kematian bagi setiap binatang yang tanpa sengaja telah berada dalam jangkauan ilmu Jagat Manunggal.

Perubahan aliran ilmu Jagat Manunggal  yang kerap kali terjadi telah berulang membunuh binatang yang kebetulan masih dalam pengaruhnya. Beberapa kelinci secara mendadak telah terkulai roboh dengan lambung yang robek memanjang. Bahkan seekor burung malam pun akhirnya deras meluncur menghunjam bumi karena bulunya terbakar angin panas yang keluar dari ilmu yang diyakini oleh banyak orang  telah musnah itu.

Lantas orang kepercayaan Sultan Trengaana itu mengeluarkan puncak tertinggi dari ilmu Lembu Sekilan. Meskipun begitu, pengaruh ilmu Jagat Manunggal tetap saja mampu mempengaruhi daya tahan Adipati Hadiwijaya.

Hutan yang tak begitu rapat dengan pepohonan berbaris sedikit berjauhan menjadikan mereka berdua semakin leluasa mengembangkan ilmu masing-masing. Kepekatan malam tidak menjadi penghalang karena penglihatan mereka justru semakin tajam oleh pengerahan ilmu tingkat yang mereka kuasai. Pertarungan jarak dekat yang mereka lalui dengan lambat banyak meninggalkan guratan yang dalam pada setiap bagian tanah yang tersentuh telapak kaki mereka.

Tidak ada bagian yang rumit dari gerak kanuragan yang dilakukan oleh Adipati Hadiwijaya. Kedudukan memang terlihat seimbang tetapi Adipati Hadiwijaya menambah lapisan benteng bagi tubuhnya dengan Tameng Waja. Bagian inti dari ilmu Jagat Manunggal mulai menyakitinya. Kulit tangan Adipati Hadiwijaya mengalirkan darah setelah berbenturan dengan tapak tangan Lembu Jati yang hendak menggapai bagian samping wajahnya.

Lapisan ganda dari dua ilmu kebalnya membuat Adipati Pajang sedikit merasa nyaman. Sekejap kemudian ia merasa lega karena beberapa bayangan nampak bergerak dan ia mengenali bahwa mereka adalah pengawalnya. Tetapi keleluasaan itu tidak berlangsung cukup lama, dalam waktu sangat singkat Adipati Hadiwijaya merasakan getar tenaga yang sudah tak asing lagi baginya.

“Bagus! Sekalian saja mereka berdua berkelahi bersama-sama!” desis orang yang di masa mudanya dikenal sebagai Jaka Tingkir itu.

Satu loncatan pendek dilakukan Lembu Jati untuk menjauhi Adipati Hadiwijaya.

“Kau tentu mengenal sumber tenaga ini, Mas Karebet!” kata Lembu Jati kemudian. Tak lama kemudian sebuah bayang berpakaian putih meluncur cepat di sela pepohonan lalu berhenti dan berdiri di samping Lembu Jati.

Wong gendeng!” kata orang yang baru datang itu pada Adipati Hadiwijaya.

Adipati Hadiwijaya hanya menggelengkan kepala melihat penampilan orang yang derap langkahnya mampu didahului oleh getar tenaga yang luar biasa. Kemudian Adipati membuka bibirnya dan katanya,” Kau sekarang terlihat berbeda. Aku harap warna putih itu adalah tanda bahwa kau telah berubah, Sarpakenaka.”

Sarpakenaka alias Kiai Rontek tertawa keras. Kemudian,” Kau ingin aku dapat merubah tingkah laku dan sikap hati untuk sesuatu yang baru, tapi lihatlah dirimu sebelum bicara tentang itu.”

Wong gendeng,” lanjut Kiai Rontek,” Memang aku tidak lagi pernah mendengarmu berbuat usil, tetapi bagaimana kau selalu mendapatkan cara untuk memenuhi bilik kamarmu dengan para wanita? Seharusnya tak kau lakukan itu.”

Adipati Hadiwijaya mengerti sepenuhnya dengan siasat Kiai Rontek yang berusaha membongkar kendali hatinya. Ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian,” Para perempuan itu datang ke istana bukan sebagai budak. Telah diberitahukan pada mereka semua tentang setiap tujuan yang akan kami lakukan.”

“Terlalu pandai kau bertukar alasan,” potong Kiai Rontek. Ia berpaling pada Lembu Aji lalu  berkata kemudian,” Mungkin Lembu Jati belum mengatakan padamu bahwa seorang kerabatmu berada di balik semua peristiwa yang tidak biasa terjadi.”

“Kakang Gagak Panji?” sambil membeliakkan mata, Adipati bertanya.

Kiai Rontek menggoyangkan kepala dengan bahu terangkat. Ia kemudian mengurungkan niatnya untuk meneruskan ucapan ketika Adipati Hadiwijaya bergerak maju disertai angin prahara yang sangat kencang.

“Mas Karebet! Aku tahu kau tidak dapat menerima julukanmu yang baru. Aku tidak ingkari kenyataan bahwa seorang pemimpin haruslah selalu mendapat penghormatan, tetapi seorang Adipati Pajang adalah perkecualian!” teriak Kiai Rontek yang suaranya muncul tenggelam dalam pusaran angin yang timbul dari Adipati Hadiwijaya yang menggeliatkan seluruh bagian tubuhnya dengan luar biasa.

Pertarungan yang tidak seimbang dari segi jumlah pun terjadi. Lembu Jati turut mengambil peran, ia tidak mengindahkan lagi tata krama dalam sebuah perkelahian.

“Aku akan menyiapkan jalan pulang bagimu, Mas Karebet!” kata Lembu Jati.

“Licik!”

“Ini bukan perang tanding ,wong gendeng!” sergah Kiai Rontek sambil menggeser tubuh melingkari Adipati Hadiwijaya.

Sebenarnya Adipati Pajang mempunyai rencana untuk menjalin hubungan dengan cara yang lebih baik. Ia melatih banyak perempuan muda dan beberapa anak lelaki untuk mendalami seni tari dan budaya dari kadipaten lain. Ia memandang cara seperti itu dapat menjauhkan dugaan buruk yang bisa saja akhirnya berujung pada kekerasan. Tetapi Raden Trenggana mempunyai rencana yang berbeda dan sekarang ini telah bersiap mengerahkan prajurit dalam jumkah besar menuju wilayah timur.

Dalam waktu itu, Adipati Pajang seperti dalam himpitan dua gunung yang saling mendekati. Dua ilmu kebal yang melapisinya seolah tidak berarti lagi saat ilmu Lembu Jati dan Kiai Rontek sama-sama membelitnya dengan ketat.

Tinggalkan Balasan