Penaklukan Panarukan 36

Adipati Hadiwijaya memutar tubuhnya agar kedudukan dua lawannya ini tetap berada pada sisi kiri dan kanan. Namun kedua orang itu tetap bergerak mengitarinya dengan cara yang berlawanan. Ketika Kiai Rontek bergeser ke kiri, terkadang ia melakukannya sambil tetap menekan Adipati Hadiwijaya. Dalam pada itu, Lembu Jati bergerak ke kanan seraya melepaskan tusukan-tusukan melalui jari jemarinya dari jarak sedikit jauh.
Dengan begitu Adipati Hadiwijaya seolah menerima serangan berupa senjata rahasia yang berujung tajam dan berbentuk kecil. Kulit Adipati pun terasa perih oleh tusukan angin yang didorong tenaga inti Lembu Jati.

Sementara di bagian lain, Adipati Hadiwijaya harus menerima sambaran angin yang dilepas Kiai Rontek. Kibasan telapak tangan Kiai Rontek yang kadang menebas menyilang benar-benar menjadikan Adipati Pajang itu berada dalam himpitan yang sangat kuat. Beberapa kali dada ayah Pangeran Benawa itu terasa pepat hingga kesulitan mengatur pernafasan.

“Lebih baik kau pikirkan penawaran Gagak Panji,” kata Kiai Rontek pada Adipati Hadiwijaya.

“Apa yang ingin ia katakan padaku?” Adipati Hadiwijaya sedikit merasa longgar saat Kiai Rontek mengurangi tekanan.

“Ia akan meluangkan jalan bagimu untuk menetapi tahta Demak,” Kiai Rontek meloncat surut.

Jarak yang renggang dan tekanan yang sedikit berkurang mampu dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Adipati Hadiwijaya dengan memukulkan tapak tangannya pada permukaan tanah. Inilah salah satu kehebatan puncak Adipati Hadiwijaya dengan ilmunya Bumi Awulung. Nama unik yang diberikan oleh salah satu gurunya. Sebuah ilmu yang mampu membuat tenaga inti memiliki semacam saluran tersendiri dibawah tanah lalu tiba-tiba menghantam dari bawah kaki tubuh lawan dan disertai bongkahan-bongkahan tanah berbagai ukuran. Tanah yang bergumpal-gumpal ini sanggup menembus batang pohon yang berukuran serentang tangan orang dewasa.

“Gandrik!” hampir bersamaan umpatan itu keluar dari mulut Kiai Rontek dan Lembu Jati. Secara mengejutkan dari bawah tubuh mereka keluar dorongan angin disertai bongkahan tanah dengan kekuatan dahsyat. Telapak kaki kedua lawan Adipati Hadiwijaya mampu merasakan getar bahaya yang datang membuat keduanya harus melejit deras menjauhi serangan mendadak itu.

Bumi bergetar sangat hebat. Pohon-pohon terguncang kuat. Begitu kuatnya tenaga yang dilepaskan oleh Adipati hingga mampu menggerakkan udara di sekitar lingkar perkelahian mereka. Pusara udara yang berlangsung singkat itu seperti mempunyai mata karena berusaha menggapai kedua lawan Adipati Hadiwijaya. Dalam pada itu bongkahan tanah meluncur sangat cepat namun kedua orang itu mampu menghindari bahaya yang dikirimkan Adipati Hadiwijaya lebih cepat, tetapi keduanya terbelit dalam angin yang berkisar hebat.

“Biadab!” geram Kiai Rontek yang kemudian menyesali dirinya sendiri karena memberi kesempatan pada pemimpin Pajang itu untuk melepas serangan balik.

“Sialan kau, Jaka Tingkir!” umpat Lembu Jati yang sebenarnya hendak melakukan terjangan mendadak bila Adipati Hadiwijaya mengucap kata menanggapi Kiai Rontek.

Tubuh kedua lawan Mas Karebet atau Adipati Hadiwijaya ini bergetar hebat saat melayang di udara. Ternyata Adipati Hadiwijaya mampu mengembangkan ilmu Bumi Awulung menjadi sedemikian luar biasa sehingga mampu menghimpit tubuh lawan. Maka kedua orang yang mengaku sebagai pengikut Gagak Panji ini merasakan dada dan seluruh tubuhnya dalam belitan ular raksasa.

Lembu Jati yang menguasai ilmu Jagat Manunggal dengan paripurna lantas memutar otaknya. Ia menyadari bahwa ia tidak akan mampu mengerahkan ilmunya apabila ia tidak bersentuhan dengan tanah. Sementara dari sisi yang lain, ia tidak ingin Adipati Hadiwijaya mengetahui kelemahannya.

Lalu,” inikah Bumi Awulung?” Lembu Jati menduga-duga dalam hatinya. Sepenuh daya kemudian ia melawan arah putaran angin yang membelit dan meremas-remas tubuhnya itu dengan cara yang rumit. Sebuah kejutan mendadak terjadi saat Lembu Jati mengubah kedudukan kakinya yang kini saling membelit. Kemudian diawali dengan teriakan panjang suaranya yang parau, Lembu Jati mampu memutar tubuhnya berlawanan arah dengan pusaran angin kuat ilmu Bumi Awulung.

Adipati Hadiwijaya yang mengetahui perlawanan Lembu Jati lantas mengerlingkan mata sekilas melihat olah gerak Lembu Jati. Kembali terjadi hentakkan ilmu yang membuat orang akan terpancang kaku melihatnya. Pusaran angin Bumi Awulung mendadak berubah dan kini menjadi searah dengan putaran tubuh Lembu Jati. Dalam pada itu, tubuh Lembu Jati semakin terangkat tinggi.

Dan lagi-lagi ayah Pangeran Benawa ini melakukan olah gerak sederhana namun membawa akibat yang dahsyat. Pertunjukan yang sangat hebat seperti tergelar bila ada orang yang menyaksikannya. Dan memang pada saat itu sepasang mata menjadi saksi kehebatan Jaka Tingkir.

Pada masa itu, dari kejauhan sepasang mata itu melihat tubuh Lembu Jati dipatuk berulang kali oleh angin berhawa tajam yang keluar dari angin. Mirip beberapa ekor rajawali yang terbang keluar dari kawanannya lalu menukik menyambar mangsa. Perkembangan itu memangbhanya dapat dilihat oleh orang-orang yang berkepandaian tinggi. Dan memang seperti itulah yang dirasakan oleh Lembu Jati.

Tubuhnya seperti mendapatkan cabikan yang menyakitkan padahal ia sendiri masih terkurung dalam kumparan angin yang seolah-olah ular raksasa sedang meremukkan tulang belulang mangsanya.

Lantas Lembu Jati melalui cakra yang berada dibagian perut bawah mengerahkan bagian ilmunya yang lain. Ia berusaha membangkitkan kekuatan dahsyat yang tersimpan dalam dirinya. Sigar Kendang. Lembu Jati memerlukan waktu belasan tahun untuk benar-benar menyadap sepenuhnya ilmu langka yang diajarkan oleh seorang brahmana yang tertipu oleh penampilan Lembu Jati.

Kala itu, Lembu Jati mendatangi tanah Blambangan dan mendaki lereng gunung Raung. Ia mendengar bahwa di sekitar gunung Raung tinggal seorang brahmana yang mempunyai ilmu nyaris menyamai lapisan langit. Berbagai kisah ia ungkapkan setelah bertemu dengan Begawan Abiyasa.

“Aku mengerti kau akan datang mencariku. Aku pun telah mengetahui bahwa kedua tanganmu akan menjadi pengantar untuk mengakhiri perjalananku yang tak begitu panjang” kata Begawan Abiyasa yang duduk bersila pada ujung sebuah bambu yang runcing.

“Lalu mengapa kau tetap mengajarkan padaku ilmu Sigar Kendang?” kedua alis Lembu Jati berkerut. Sementara itu ia belum melihat pengaruh racun yang ia tuangkan pada minuman hangat yang biasa dinikmati Begawan Abiyasa pada pagi hari.

Bibir Sang Begawan tersenyum lembut. Ia menggerakkan bibirnya dan lirih berkata,” Aku tidak akan menolakmu untuk menjadi muridku karena memang seperti itulah kehendak Sang Hyang. Kisah yang banyak kau ceritakan padaku pun seluruhnya aku mengerti bahwa itu semua adalah kebohongan. Tetapi aku tetap menjalankan kewajibanku sepenuh hati. Tiap malam aku lalui dengan keyakinan bahwa aku akan segera mati di tanganmu.” Begawan membuka matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Sorot mata yang menyiratkan ketenangan serta keyakinan hati yang luar biasa tampak jelas terpancar dari dua bola matanya.

“Bahwa pagi ini kau akan tetap melayaniku dengan serbuk kematian. Aku tahu itu, Lembu Jati,” senyum Begawan Abiyasa belum meninggalkan wajahnya. Keteguhan hatinya untuk tetap merayap dalam garis hidup yang telah dilihatnya ternyata makin memenuhi setiap ruang dalam jiwanya tentang kelembutan.

Ia berkata lagi,” Kau dengan begitu tamak telah menetapkan hati untuk mencegah orang lain menguasai ilmu Sigar Kendang. Tetapi, kau akan berada dalam satu masa yang sama dengan seorang pewaris ilmu ini. Kau akan mendatanginya. Dan ketika itu terjadi, sudah tentu aku hanya dapat menyaksikannya dari tempat yang berbeda. Selamat tinggal Lembu Jati!”

Dalam usahanya membebaskan diri dari kumparan angin yang timbul dari ilmu Bumi Awulung, Lembu Jati telah mengerahkan ilmu hebat tiada tara itu. Lalu pada saat itu tiba-tiba saja suara Begawan Abiyasa mengucap kalimat akhir seolah memasuki relung pendengaran Lembu Jati.

Tinggalkan Balasan