Penaklukan Panarukan 37

Gelisah hati Lembu Jati mengkhawatirkan ucapan itu terjadi. “Bilakah masa itu telah tiba pada malam ini?”

Tetapi kalut hati Lembu Jati tak berlangsung lama. Geliat ilmu Sigar Kendang telah menjalar sepenuh tubuhnya. Tubuh Lembu Jati berhenti berputar, begitu pun pusar angin yang membelitnya tetapi ia masih mengapung di udara. Adipati Hadiwijaya mengerti perlawanan kuat dari Lembu Jati melalui tapak tangannya yang masih menyentih tanah. Tenaga inti Bumi Awulung seperti terhisap keluar kala bersentuhan dengan hawa panas, meski begitu terkadang tenaga inti itu mampu memukul mundur apabila yang menerjang adalah hawa dingin
Salah satu kehebatan ilmu Sigar Kendang adalah ilmu ini mampu menghisap kekuatan lawan melalui hawa panasnya, tetapi ia juga mampu memukul pusat tenaga lawan dengan hawa dingin.

“Luar biasa dahsyat! Begawan Abiyasa benar-benar seorang resi yang duduk bersimpuh di puncak Raung!” desah orang telah mengamati pertarungan itu dari kejauhan. Melalui pendengaran dan sedikit bantuan dari penglihatan, orang ini telah merasakan getar-getar dahsyat yang meledak keluar dari lingkaran perkelahian yang luar biasa.
Begitu tinggi ilmunyang ia miliki, pendengaran dan kulitnya yang terluar mampu mengggantikan peran kedua matanya.
Kini ia semakin mendekati pertarungan itu dengan kecepatan melebihi lintasan burung walet yang berkelebat.

Ketika Lembu Jati terkungkung dalam jerat ilmu Bumi Awulung, Kiai Rontek telah mencapai upayanya untuk membebaskan diri. Ia membiarkan tubuhnya berputar sangat cepat seperti gasing, namun ilmu yang ia siapkan merupakan kekuatan yang pernah menggetarkan tanah Jawa pada masa Ken Arok.

Perubahan yang terjadi dibalik pusaran dapat dirasakan oleh Adipati Hadiwijaya meskipun getaran itu sangat halus. Permukaan kulit dan panggraita Adipati mampu menangkap perubahan yang terjadi. Oleh karenanya, ia meningkatkan tekanan pada Lembu Jati dalam waktu nyaris bersamaan.

“Tidak! Itu tidak boleh menimpa Kakang Adipati!” desis pemilik sepasang mata yang telah berjarak dua tombak dari lingkar pertarungan.

“Aku akan menghadangnya, Kakang!” seru orang itu sambil melepas belasan bola cahaya dari kedua telapak tangannya.

“Ki Getas Pendawa!” Adipati Pajang menganggukkan kepala lantas melepas himpitan tenaganya pada Kiai Rontek. Kini ia sepenuhnya menghadapi Lembu Jati yang masih melayang di udara.

Kiai Rontek sempat terkejut ketika pusaran angin yang membelitnya dengan kekuatan raksasa itu tiba-tiba terhenti. Namun ia telah berada dalam jalan ilmu yang telah siap diledakkan. Gumpalan asap panas tiba-tiba menyelimuti tubuh Kiai Rontek yang telah berdiri sedikit merendah dengan dua tangan tertangkup yang bagian runcingnya menghadap ke tanah. Dari sepasang telapak yang bertangkup itulah muncul kepulan tipis asap panas lalu dengan cepat membungkus sekujur tubuh Kiai Rontek.

“Wedhus Gembel!” seruan tertahan Ki Getas Pendawa tatkala ia melihat perubahan yang dilakukan Kiai Rontek mulai menggeleparkan udara menjadi panas..

Entah mengapa ilmu itu dinamakan Wedhus Gembel, batin Ki Getas Pendawa bertanya-tanya.

Sebenarnya ilmu itu memang pantas disebut sebagai Wedhus Gembel. Asap yang mulanya begitu tipis dan hangat telah berubah dengan cepat menjadi kepulan tebal yang bergumpal-gumpal dan sangat panas. Kiai Rontek yang tak lagi dapat dilihat karena terbungkus rapat oleh asap yang terus menerus menggumpal mulai bergerak maju. Lalu tiba-tiba asap panas itu menyambar Ki Getas Pendawa.

Seketika Ki Getas Pendawa memapas semburan panas Wedhus Gembel dengan angin yang terdorong keluar dari tapak tangannya. Semburan asap panas mendadak menggapai ke segala arah ketika hembusan angin yang kuat seperti berubah menjadi dinding batu Merbabu. Perang tanding antara Ki Getas Pendawa dengan Kiai Rontek pun tak lagi dapat dielakkan. Gerakan mereka yang lambat tidak menjadi ukuran dahsyatnya daya rusak yang ditimbulkan. Setiap kaki Kiai Rontek berpijak maka ia akan meninggalkan bekas hitam seperti terbakar. Dan jilatan asap panas yang tak mencapai sasaran pun semburat ke banyak penjuru lalu membakar apapun yang terkena udara panasnya.

Sementara itu, Lembu Jati masih menggetarkan serangannya melalui jalur yang sama dengan tenaga inti Adipati Hadiwijaya yang masih mengikatnya. Kelebihan lain Sigar Kendang adalah ilmu ini mampu menyerang melalui aliran yang dengan tenaga inti lawannya.

Bagian hutan yang menjadi ajang pertempuran empat orang berkepandaian tinggi pun membara. Angin yang terhempas dari kibasan tangan Ki Getas Pendawa makin menambah pilu suasana. Betapa hutan yang semula asri dan hijau mendadak dilanda kebakaran dahsyat. Sekalipun kebakaran itu belum meluas namun Adipati Hadiwijaya dilanda rasa gelisah.

Ia menyadari bahwa kehidupan banyak orang di Pajang yang serasi dan seimbang itu tidak lepas dari kemauan mereka menjaga alam sekitarnya. Orang-orang Pajang dan sekitarnya bahu membahu saling mengamati setiap perkembangan yang terjadi pada lingkungan mereka. Mereka berdiri saling bersandar punggung, mereka berjalan dalam derap yang seirama lalu esok hari mereka akan menjumpai satu kerusakan yang kembali terulang. Mereka akan mengingat kembali kisah turun temurun bahwa Pajang pernah membara di masa Majapahit. Peristiwa getir pada masa Sri Jayanegara kembali terulang.

Di tengah-tengah pertarungan hidup dan mati, Adipati Hadiwijaya merasa tekanan semakin berat menggebrak jantungnya. Ia merasa bersalah dengan keputusannya untuk menghadapi Lembu Jati dalam hutan.

“Aku tidak mempunyai pilihan lain,” hati Adipati Pajang itu bergolak. Ia mencoba membenarkan tindakannya,” Aku pun tak mengira bila Kiai Rontek ternyata menguasai ilmu Wedhus Gembel dan melepaskan ilmunya di dalam hutan yang cukup rapat ini.” Pergolakan batin sang adipati pun menjadi sebab Lembu Jati mampu menggeliatkan tubuhnya. Tiba-tiba satu teriakan nyaring membelah malam yang ramai oleh gemeretak daun dan ranting yang terbakar.

Lembu Jati memutar tubuhnya lebih cepat dari gasing, setelah satu kakinya menjejak tanah lalu ia menggebrak pemimpin Pajang itu dengan satu terjangan hebat. Lutut Lembu Jati melayang menggapai dada Adipati Hadiwijaya sementara kedua tangannya terbuka sebentang sayap rajawali.

“Matilah engkau, Mas Karebet!” suara geram Lembu Jati diikuti oleh dua dorongan dari kedua tangannya yang telah terlambari ilmu Sigar Kendang.

Dingin wajah Adipati Hadiwijaya melihat serangan ganda yang dilontarkan oleh lawannya, ia bergeser surut dengan memutar kaki sebelahnke samping. Dengan gagah Adipati Hadiwijaya mampu mengapit lengan kanan Lembu Jati dengan sebuah pitingan lalu dari bibir Lembu Jati keluar teriakan yang memilukan.

Yang terjadi sebenarnya adalah lengan Adipati Hadiwijaya dengan sangat kuat mampu mematahkan sendi Lembu Jati. Setelah sedikit merunduk, dengan cepat Adipati Hadiwijaya menahan laju tangan lawan yang membentang lurus dengan jepitan dari bagian dalam sikunya. Keyakinan Adipati Hadiwijaya pada kemampuan ilmu kebalnya membuatnya berani membenturkan bagian tubuh yang sebenarnya sangat berbahaya.

Dalam perjalanannya menyadap olah kanuragan, Jaka Tingkir berhasil memadukan kekuatan Bumi Awulung dengan Rog Rog Asem. Lalu perpaduan kedua ilmu inilah yang kemudian mampu mematahkan tulang sendi Lembu Jati. Ia membiarkan tenaga inti Bumi Awulung terhisap keluar lalu pada saat ia mampu menyentuh kulit Lembu Jati maka Rog Rog Asem pun menggelepar kuat. Hawa tenaga Rog Rog Asem merembes keluar melalui pori-porinya lalu sedemikian dahsyatnya mematuk lengan Lembu Jati.

Lengking menyayat yang keluar dari tenggorokan Lembu Jati terdengar seolah mengiris bagiam dalam telinga Adipati Hadiwijaya. Ia merasakan bagian dalam.kepalanya seakan-akan hendak meledak maka cepat ia melepas jepitannya lantas bergerak ke samping dengan satu lengan menutup bagian pendengarannya. Kala Lembu Jati berteriak kesakitan, ia mampu melihat celah terbuka pada bagian lambung Adipati Hadiwijaya. Seraya memutar tubuh dan mengubah arah ke samping, ujung tumit Lembu Jati mendarat landai tepat pada dada Adipati Hadiwijaya.

Sejenak kemudian, kedua orang yang menyimpan ilmu tiada banding itu roboh terguling bersamaan. Adipati Hadiwijaya seolah merasa remuk pada bagian tubuh sebelah dalam. Sedikit kesulitan ia mengangkat tubuhnya, namun dalam pada itu sudut matanya mendapati Lembu Jati telah mapan dengan duduk setengah berjongkok.

“Gandrik! Patahnya tulang tak membuatnya surut!” seru Adipati Hadiwijaya dalam hatinya. Meski ia mampu menutup rasa kaget namun ia tak meningkari ketangguhan Lembu Jati benar-benar akan dapat mengubah hasil akhir.

“Dan jika itu terjadi, maka Jaka Wening akan berada dalam bahaya besar. Ki Buyut pun akan menjumpai masa penghabisan baginya,” gumam Adipati membatin sedangkan ia mencoba melihat ke jauh ke dalam dirinya sendiri. “Rakyat Pajang akan kembali dalam masa yang kelam.”

“Pertarungan ini belum usai, Mas Karebet! Hanya karena satu tanganku telah patah, kau tentu berpikir bahwa kau akan keluar sebagai pemenangaya,” kata Lembu Jati.

Tinggalkan Balasan