Bara di Borobudur – Kao Sie Liong 1

”Ki Banyak Abang,” ulang Bhre Pajang. Ia bangkit berjalan maju setapak demi setapak, dengan tombak terjulur ke arah leher senapatinya, ia berkata,” bukan kau pernah berjanji rela mati jika kubunuh?”

Kepala Ki Banyak Abang terangkat sedikit oleh ujung tombak Bhre Pajang. Kulit lehernya kini bersentuhan dengan bagian lancip senjata yang teracu.

Ia mengedipkan mata dengan kepala sedikit terangguk.

”Jika begitu, apakah kau akan mati untukku bila aku perintahkan menyerang kotaraja?”

Hampir saja Ki Banyak Abang melompat surut. Kata-kata Bhre Pajang seperti suara geledek yang menembus gendang telinganya. Terasa olehnya getar kakinya yang seakan-akan memaksanya berlutut. Ia menguatkan hati dan mencoba bersikap tenang. Satu pertanyaan yang tidak akan pernah ia bayangkan. Bahwa Bhre Pajang, salah seorang keluarga dekat Sri Kertarajasa Jayawardhana, kini berencana menyerbu kotaraja.

Ki Banyak Abang termangu-mangu tenggelam dalam kekalutan yang meremas-remas tiap jengkal jantungnya.

Dalam pada itu Bhre Pajang kemudian melanjutkan,” Kau tentu sedikit banyak telah mengetahui kedatangan Ki Nagapati dengan pasukannya. Dan aku yaki kau juga tahu bagaimana kemampuan pasukan Ki Nagapati dalam peperangan.” Bhre Pajang berjalan memutari Ki Banyak Abang. Ia berhenti di belakang Ki Banyak Abang dan meletakkan ujung lancip tombaknya di bahu kanan senapati kepercayaannya.

Lalu katanya,” Dan boleh jadi kau telah mengetahui jumlah pasukan Ki Nagapati.”

”Sri Batara, aku belum menugaskan orang untuk melakukan pengamatan,” kata Ki Banyak Abang.

”Apakah menurutmu ia akan melakukan serangan ke Pajang?”

”Aku tidak dapat memberi kesimpulan apapun. Seperti yang aku katakan, aku sama sekali belum menugaskan orang untuk mengamatinya.”

”Apakah kau setuju jika aku katakan, Ki Nagapati datang kemari untuk membalas sakit hatinya? Ia mempunyai kekuatan yang cukup dan alasan yang kuat. Ditambah ketajaman pikirannya serta pengalaman yang ia miliki. Seharusnya kau dapat menjangkau hingga jauh ke belakang.”

”Aku mengenal secara mendalam tentang kecakapan dan kemampuan pasukan Ki Nagapati. Kemampuan pasukan Pajang akan mampu berhadapan dengan Ki Nagapati. Namun begitu, atas landasan seperti apa yang menjadikannya gelap mata dengan menyerang Pajang?”

”Sebuah penolakan. Penolakan yang menjadikannya merasa terhina.”

”Penolakan seperti apa yang menjadikan Ki Nagapati merasa terhina? Sri Batara, Ki Nagapati adalah kakak seperguruanku. Kematangan jiwanya telah menyentuh khayangan. Lagipula, manusia seperti apa yang begitu berani menolak Ki Nagapati?”

”Sri Jayanegara menolak membuka pengadilan untuk kakang Lembu Sora dan kakang Gajah Biru. Selain itu pula, dimasuki Patih Mpu Nambi mengusirnya keluar dari kotaraja.”

Ki Banyak Abang sejenak merenungkan perjalanan Lembu Sora dan Gajah Biru. Ia memejamkan mata dengan kepala sedikit tengadah. Satu hela nafas panjang, perlahan ia membuka mata dan melihat Bhre Pajang sedang menatap dirinya dengan pandangan yangbsangat tajam. Ki Banyak Abang seakan merasakan sorot mata itu mulai menyayat setiap sisi kalbumya. Keduanya berdiri berhadapan.

Kemudian terdengar,”Sekarang aku memintamu menyerang kotaraja. Aku perintahkan kau untuk membunuh Jayanegara!” desis Bhre Pajang sambil mengarahkan ujung tombaknya ke dada Ki Banyak Abang.

Kao Sie Liong

Di tempat lain, Nyi Wardani telah memanggil seorang prajurit yang terbiasa menemui Resi Gajahyana. Ketika mereka bertemu, Ki Mutaram mengeluhkan keadaan dirinya yang nyaris pingsan apabila bertatap muka dengan Resi Gajahyana. Kata Nyi Wardhani,” Eyang Resi telah melalui banyak lelaku. Semenjak jaman Eyang Prabu Jayawisnuwardhana, ia berusaha melepaskan diri dari segala keterikatan. Ia berusaha berdamai dengan kematian yang menimpa istrinya. Eyang pun tak berusaha mencegah kepergian anak cucunya yang diperintahkan Eyang Prabu Kertanegara ke Bali.”

”Apakah Eyang Resi juga tak memperlihatkan kekhususan jika ia teringat keluarganya?” bertanya Ki Mutaram.

Nyi Wardhani sedikit menggeleng, lalu,” ia tidak pernah membicarakan tentang keturunannya. Akan tetapi, beberapa pekan lalu seorang putra wayah eyang telah berkunjung ke padepokan. Namun begitu, aku tidak melihat perubahan khusus padanya. Agaknya eyang resi telah mencapai batasan-batasan tertinggi yang sewajarnya digapai manusia.”

Ki Mutaram termenung beberapa lama menguak maksud ucapan Nyi Wardhani.

”Aku akan bertanya tentang batasan itu apabila bertemu dengan resi,” kata Ki Mutaram dalam hatinya. Lalu ia mengalihkan pembicaraan, dengan mengurut lututnya yang tak lelah,” Nyi, agaknya aku pernah melihat seorang anak muda menginap beberapa lama di padepokan.”

”Ia adalah Wong Swastika. Seorang anak muda yang mempunyai harapan tinggi seperti kakeknya,” kata Nyi Wardhani.

Sejenak kemudian Ki Mutaram meminta diri berangkat menuju padepokan Resi Gajahyana.

Malam beranjak sejengkal demi sejengkal menuju kegelapan. Seorang penunggang kuda melintasi bulak panjang dengan derap sangat cepat. Seolah sedang mengejar bayangan setan, sesekali ia melecutkan cambuk agar kudanya berderap lebih kencang. Hingga akhirnya nampak olehnya pohon beringin yang batangnya dua kali lingkar tangan lelaki dewasa.

”Seperti perintah yang aku terima, kuda ini harus ditambatkan di bawah pohon ini,” katanya dalam hati. Sedikit keraguan muncul dalam hatinya karena mungkin kudanya akan menjadi mangsa binatang buas atau dicuri orang. Sebenarnyalah keadaan di lereng sebelah timur Gunung Merbabu belum ada gangguan keamanan yang berarti. Berbeda dengan daerah di sebelah barat, utara dan mulut lembah Merbabu.

Utusan Nyi Wardhani kemudian memutuskan untuk menambatkan kuda di balik rerimbun tanaman perdu. Ia berjalan setapak demi setapak menyisir pematang panjang yang membelah persawahan yang melingkari padepokan. Sesekali ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya mendung tebal menutupi bintang dan bulan yang sedang terbelah. Angin bertiup sedikit kencang dan dinginnya hawa pegunungan menyusup hingga tulang belulangnya. Sesekali terdengar desah darinya mengusir rasa dingin yang membalut tubuhnya. Semakin dekat ia dengan padepokan yang sudah terlihat di depannya. Api dari beberapa pelita kecil terkadang merunduk tertiup angin.

“Eyang resi agaknya tidak menambah penghuni padepokannya,” desahnya perlahan.

Setelah melompati parit kecil ia telah berada di pintu samping padepokan. Ia meraba bagian dalam ikat pinggangnya. Sebatang bambu kecil seukuran kelingking digenggamnya. Satu siulan panjang melengking tinggi.

Derit pintu terdengar dan perlahan terbuka. Seorang lelaki bertubuh sedang tepat berdiri di tengah pintu yang telah lebar terbuka. Rambut putih keperak-perakan tersisir rapi menjuntai melewati bahunya. Kerut di wajahnya semakin menambah wibawa besar yang terpancar dari sorot matanya. Tidak seorang pun dapat memperkirakan usia lelaki tua yang sebenarnya sudah hampir seabad.

Jantung utusan Nyi Wardhani seakan lepas dari tangkainya. Ia mendesis,” berulang kali aku berhadapan dengan eyang, selalu saja aku nyaris pingsan.”

Sebenarnyalah getar sukma Resi Gajahyana telah menyusup relung hati Ki Mutaram. Getaran yang bukan berasal tenaga cadangan yang terungkap, akan tetapi terpancar dari dalam diri Resi Gajahyana. Sosok sepuh yang telah berhasil merubah dirinya menjadi sebuah samudera. Ki Mutaram pernah mendengar dari Nyi Wardhani jika sorot mata Eyang Resi sanggup memadamkan hutan yang terbakar.

Tiba-tiba saja Resi Gajahyana telah berdiri di hadapannya. Pertemuan itu kembali menyentak jiwa Ki Mutaram kembali ke alam kasunyatan. Tanpa bercakap, Resi Gajahyana membuka jalan masuk bagi Ki Mutaram. Resi Gajahyana menarik lengan Ki Mutaram yang berlambat-lambat berjalan di belakangnya.

“Janganlah kau membuatku merasa tinggi dengan berjalan di belakangku,” suara lembut Resi Gajahyana mendorong Ki Mutaram menerawang jauh menembus awan. Ia menyiapkan dirinya untuk menyimak lebih mendalam. Keduanya lalu berjalan berdampingan menyusur lorong kecil yang ada di sebelah dinding bangunan induk. Kini mereka telah berada dibagian tengah padepokan.

Seseorang berdiri dan memberi hormat pada Resi Gajayana dan Ki Mutaram. Yang satu segera menyambut Resi Gajahyana dan menyiapkan tempat duduk bagi orang tua yang gagah dan penuh wibawa itu.

Ki Mutaram terkejut dengan dua orang yang tidak ia kira sebelumnya. Kini ia duduk dalam satu lingkaran dengan kedua orang asing yang sempat bermalam di istana Bhre Pajang. Namun kemudian kedua orang itu tidak terlihat lagi olehnya hingga malam ini.

“Ki Mutaram,” berkata hangat orang asing yang berbadan tinggi dan lengan yang padat berisi.

“Kao Sie Liong, apa kabar? Tiba-tiba kau tidak tampak lagi di istana Bhre Pajang,” Ki Mutaram tidak dapat menahan keingintahuan.

Tinggalkan Balasan