Penaklukan Panarukan 38

Bayang kelam membayangi hati Adipati Hadiwijaya. Ia mempunyai pendapat yang sama dengan ayahnya, Ki Buyut Mimbasara, bahwa Pangeran Benawa masih belum dapat mengambil alih tanggung jawab tentang masa depan Pajang. Oleh karena itu ia berlipat tekad untuk keluar dari kebakaran hutan dan desakan hebat Lembu Jati walau itu semua terlihat mustahil dilakukan.

Pada mulanya ia enggan untuk menambah khazanah ilmu, tetapi ia berubah pikiran ketika ia mendengar keterangan dari Ki Kebo Kenanga tentang watak dan unsur yang ada pada Jendra Bhirawa. Adipati Hadiwijaya baru mengenal ilmu yang berada dalam lapisan tinggi itu saat Pangeran Benawa mulai menuntut pengetahuan pada Ki Buyut Mimbasara. Oleh karena itu ia berniat bulat untuk menjadikan Jendra Bhirawa sebagai ilmu terakhir yang disadapnya, dan pada malam itu Jendra Bhirawa adalah ilmu yang sebenarnya belum tuntas ia pelajari. Tetapi pemimpin Pajang itu memiliki daya jelajah yang tinggi kala usianya masih muda oleh karenanya ia  sedikit tenang mengatasi tekanan hebat Lembu Jati. Sedangkan Lembu Jati sendiri telah mengetahui banyak hal tentang lawannya sehingga ia tidak menjadi heran ketika waktu semakin terulur panjang. Namun keduanya sadar bahwa keselamatan mereka tidak tergantung pada belas kasih orang yang menjadi lawan.

“Jaka Tingkir!” Lembu Jati meloncat surut dan menghentikan serangannya.

Orang yang dipanggil pun berhenti bergerak. Kedua orang itu kini saling berhadapan namun Adipati Hadiwijaya memandang Lembu Jati dengan dahi berkerut. Ia berpikir keras memperkirakan rencana Lembu Jati selanjutnya.

Pada lingkaran yang lain, Ki Getas Pendawa telah menapak ilmu yang dipelajarinya dari jalur Ki Jalak Pameling. Ia melihat satu kemungkinan bahwa Wedhus Gembel akan dapat dihadang dengan ilmu yang nyaris dilupakannya. Hanya karena Pangeran Parikesit di depan ayahnya memintanya untuk merawat peninggalan Ki Jalak Pameling, lantas Ki Getas Pendawa mengambil masa panjang untuk kembali mengulang dasar-dasar yang ia dapatkan dari Ki Kebo Kenanga.

Kiai Rontek dengan gumpalan asap masih saja terus berkisar dan menyambar Ki Getas dengan julurannya yang panas. Dan ia semakin menambah kecepatan geraknya saat ia melihat lawannya sempat mengamati.keadaan Adipati Hadiwijaya. Lalu ia tersentak ketika Ki Getas Pendawa tiba-tiba mengubah sepenuhnya olah gerak dan watak tenaga intinya. Bila sebelumnya lambaran tenaga inti Ki Getas mampu mengubah udara menjadi semacam benteng batu yang sangat kuat, lalu dengan adanya perubahan yang mendadak dilakukannya maka kedudukan mereka kini menjadi seimbang.

Pada dasarnya ilmu yang diwariskan Ki Jalak Pameling pada Ki Kebo Kenanga atau Ki Buyut Mimbasara lantas diserap olehnya itu tidak memiliki nama. Tetapi oleh Ki Buyut kemudian disebut sebagai Suwung Bawana. Penamaan ini bukan tanpa sebab namun sesuai dengan watak dari ilmu itu sendiri. Dalam pergaulannya dengan Ki Jalak Pameling, Ki Kebo Kenanga meresapi betapa ilmu itu sebenarnya tidak mempunyai kekuatan yang hebat. Ilmu ini tidak mempunyai watak dasar untuk menghancurkan dan merusak keseimbangan. Tetapi kehebatan ilmu Suwung Bawana akan muncul apabila orang yang mempelajarinya dapat menenggelamkan dirinya dalam pusaran alam sekitarnya. Lalu akibat dari pengerahan ilmu itu akan datang untuk menuntaskan kerusakan yang terjadi kemudian keseimbangan akan tersusun ulang dari awal.

Ki Getas Pendawa berloncatan menjaga jarak dengan kecepatan rendah, sementara tangannya bergerak tanpa henti dengan telunjuk seperti melukiskan sesuatu yang tak nampak di udara. Dalam pada itu, jilat api yang mengarah padanya seperti terhalang dinding yang tak nampak oleh mata wadag. Semakin lama dinding itu semakin luas bahkan sanggup mendesak Adipati Hadiwijaya yang seperti merasakan sepasang tangan berkekuatan raksasa sedang menghalaunya agar menjauh.

“Mustahil!” desis Adipati Hadiwijaya yang mengira dorongan itu berasal dari Lembu Jati yang tegak mematung didepannya. Tiba-tiba Adipati Hadiwijaya seperti berada di dalam sebuah ruang hampa ketika ia tak lagi merasakan hawa panas yang disebabkan api yang membakar sebagian hutan. Keanehan lain yang oa rasakan adalah ia seperti menjadi lumpuh. Tak ada lagi kekuatan yang berasal dari tenaga inti. Kejadian serupa juga dialami oleh Lembu Jati. Alis Lembu Jati saling bertaut dan matanya lekat menatap Adipati Pajang yang tampak kebingungan.

“Gerangan apa yang akan terjadi?” tanya Lembu Jati pada dirinya sendiri.

“Lembu Jati! Mendadak kau berhenti berkelahi denganku. Katakan!” Dalam kebingungan, Adipati Hadiwijaya akhirnya bersuara.

“Aku tak mungkin mati terbakar bersamamu, Mas Karebet!” teriak parau Lembu Jati.

“Maka bunuhlah aku!” derap kaki Adipati Hadiwijaya menerjang maju tapi ia terkejut saat pengerahan tenaga intinya mengalami kegagalan. Seketika ia melompat ke samping sambil heran mengamati keadaan dirinya.

“Apa yang terjadi?” sejenak Adipati Hadiwijaya memperhatikan perubahan sekitarnya. Akhirnya ia mendapatkan jawaban ketika ia melihat dinding api yang semula berjarak cukup dekat kini bergerak menjauh. Dengan kening berkerut ia mengamati pertarungan Ki Getas Pendawa dan Kiai Rontek.

“Bukan tidak mungkin Kakang Getas Pendawa yang menerapkan ilmu ini,” Adipati Hadiwijaya berkata dalam hatinya.

Ia lantas membagi perhatiannya dengan mengamati cara bertempur Ki Getas Pendawa.

Lembu Jati yang hendak bergeser menjauh dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh pun menjadi lemas. Sebelah tangan ia menutup mata lalu mendesah,” Apa yang terjadi denganku? Aku tak ingin mati terbakar di tempat ini!” Tiba-tiba saja air mata Lembu Jati leleh membasahi pelupuknya. Ia lantas mengingat kembali ucapan Begawan Abiyasa kemudian,”Jaka Tingkir tidak pernah belajar ilmu Sigar Kendang. Bahkan ia akan menemui kematian jika kebakaran ini tak pernah terjadi.” Sayu mata Lembu Jati melihat tanah yang dipijaknya. Tak lagi ia mampu mengangkat wajah dan tegak berbusung dada seperti yang telah berlalu.

Jauh di relung hatinya, Lembu Jati meronta tanpa daya ketika pintu keselamatan baginya telah tertutup. Ia menilai kembali untuk mencari sebab hilangnya segala ilmu yang terkandung dalam dirinya. Namun perhatiannya itu terdesak oleh gelisah bahwa malam itu adalah saat terakhir kehidupannya. Ia akan kehilangan segala kesenangan, Lembu Jati akan dilupakan oleh orang. Ketakutan pun kemudian melanda hati Lembu Jati yang seringkali terlihat sebagai orang yang berhasil membunuh rasa takut. Semakin dalam ia menunduk dan terbenam dalam jerat ketakutan.

Yang terjadi sebenarnya adalah dari kedua tangan Ki Getas Pendawa dan gerak tubuhnya keluar gelombang tenaga Suwung Bawana. Getar gelombang ini sangat lembut namun berkekuatan seperti lengan Batara Ismaya kala menggeser mendung yang menutup langit Jonggring Saloka. Karena sangat lembut dan nyaris tak terasa, getar ilmu Suwung Bawana mampu mengikat kendali Wedhus Gembel. Tak pelak, Kiai Rontek berulang kali menggeser langkah berolah gerak untuk melepaskan belit ilmu Suwung Bawana.

Tak dapat menahan gejolak hati untuk bertanya, penasaran Kiai Rontek berseru,” Wong gendeng! Ilmu sihir apa yang kau lakukan padaku?”

Kiai Rontek yang memiliki keyakinan atas Wedhus Gembel sebagai ilmu yang bertengger di puncak langit juga merasakan ada sebuah kekuatan yang hendak melumpuhkannya dari dalam. Ia mengalami kejadian yang sama persis dengan Adipati Hadiwijaya dan Lembu Jati.

Ki Getas diam tak menyahut namun sinar mata Ki Getas memang mengalami perubahan. Ia menatap lawannya dengan dingin dan wajah yang beku. Pandang matanya tak lagi memancarkan semangat hidup atau membayangkan kesedihan. Memang saat itu kehampaan sedang melanda Ki Getas Pendawa. Pengaruh ilmu Suwung Bawana perlahan menguasai segenap hati dan pikiran Ki Getas Pendawa. Sedikit lapisan lagi akan ia lewati dan pengerahan puncak Suwung Bawana bakal segera terjadi.

****

Pangeran Parikesit tiba-tiba menghentikan kisahnya. Ia menatap tajam dua orang yang terbaring tanpa daya di ujung kakinya.

“Apakah kalian mengenalinya?” tanya Pangeran Parikesit. Rambesaji dan Batara Keling menjawab dengan gelengan kepala.

“Sesuatu yang sangat hebat sedang terjadi,” ia mengalihkan pandang dan kemudian dilihatnya warna merah membara menggapai langit.

“Kebakaran,” desah Pangeran Parikesit kemudian bangkit berdiri dan kedua tangannya bersilang di depan dada. Dan pada saat itu melintas beberapa ekor menjangan di dekat mereka bertiga. Dua ekor babi hutan juga terlihat oleh Pangeran Parikesit sedang berlari menyusur tepi hutan menjauhi kobaran api.

“Ki Jalak Pameling!” tersentak Pangeran Parikesit setelah ia mengenali unsur ilmu yang pernah dilihatnya di masa muda. Sekejap kemudian ia tiba-tiba seperti menghilang saat mengayun kaki menuju kobaran api. Ia harus tiba dan menghentikan orang yang sedang mengerahkan ilmu yang berasal dari Ki Jalak Pameling.

“Siapapun orang itu, aku harus menghentikannya! Angger Adipati harus  selamat!” Daya musnah ilmu dari Ki Jalak Pameling telah dikenalinya sangat baik, oleh karena itu ia sangat mencemaskan keselamatan pemimpin Pajang. Lalu  Pangeran pun mengerahkan puncak ilmu meringankan tubuhnya. Tapak kaki Pangeran Parikesit seperti hanya menyentuh ujung rerumputan. Tubuhnya seolah-olah terbang dan begitu ringannya hingga rumput pun tak bergoyang walau terjejak derap kakinya. Bahkan sesekali ia memukul dari jarak jauh untuk melapangkan jalur yang akan dilewatinya.

“Pangeran!” teriak Rambesaji.

“Orang terbuang! Kau benar-benar gila! Pantaslah jika kau terbuang!” geram Batara Keling. Pangeran Parikesit meninggalkan mereka berdua dalam keadaan sangat lemah dengan kaki dan tangan terikat kuat. Kengerian membayang di dalam diri mereka. Dua wajah yang dahulu sering menjadi malaikat kematian pun tiba-tiba berubah sayu dan tatap mata mereka memelas.

Kobar api memang masih jauh dari tempat mereka, namun belasan langkah dari situ terdapat enam ekor srigala yang tak mendekat ketika Pangeran Parikesit masih berada di sana. Dan keduanya mengerti bahwa lambat laun api akan merayap mendekati mereka. Sadar akan bahaya ganda mengancam jiwa mereka, keduanya pun mulai meronta melepaskan diri. Namun pengunci yang dilepaskan Pangeran Parikesit untuk mengikat simpul syaraf mereka agaknya terlalu kuat untuk dilawan. Tak ayal lagi keduanya kembali mengeluarkan kata-kata kasar untuk melampiaskan segenap isi hati mereka.

Tinggalkan Balasan