Penaklukan Panarukan 39

Tubuh Pangeran Parikesit melesat sangat cepat dan tidak ada lagi pohon atau bebatuan yang dapat menghalanginya. Ia telah berada dalam keadaan puncak dan mengerahkan sebagian kekuatannya untuk melapangkan jalur menuju kobaran api. Dalam waktu itu, getar ilmu yang dilepaskan oleh Ki Getas Pendawa semakin memancar kuat bahkan kemudian mampu menahan kecepatan Pangeran Parikesit.

“Luar biasa!” bisik hati Pangeran Parikesit,” Sepanjang pengetahuanku Angger Adipati tidak mempunyai ilmu ini. Apakah Angger Getas Pendawa yang melepasnya? Aku harap dugaanku sepenuhnya salah karena sepertinya ia tidak mempunyai waktu yang cukup untuk menguasai warisan Ki Jalak Pameling ini dengan sempurna.” Kecepatan lari Pangeran Parikesit semakin berkurang ketika ia semakin dekat dengan lingkar pertarungan yang sangat dahsyat itu.

Kini Pangeran Parikesit dihadang oleh dinding api yang tinggi. Melalui pendengaran dan penglihatannya ia mulaimemperkirakan jarak antara batas api terluar dengan lingkar pertarungan. Udara panas dan asap tebal tidak mampu membuat Pangeran Parikesit menjadi sesak nafas dan terbakar. Sekalipun ia tidak mempunyai ilmu kebal tetapi pengaruh dari tenaga intinya mampu melindungi sekujur tubuhnya dari marabahaya yang disebabkan kebakaran. Beberapa kedip mata ia berdiri memusatkan cipta dan rasa, lalu satu hentakkan kemudian ia lakukan dan tubuhnya meluncur deras menembus kobaran api. Usia yang lanjut dan tubuh wadag yang mulai melemah seolah tak menjadi halangan bagi Pangeran Parikesit untuk menerjang badai api. Kedua tangannya bergerak cepat ke berbagai arah. Gelombang tenaga inti tiada henti mengalir dan membuka jalan baginya. Oleh karena itu kobaran api pun tersibak dan kayu yang membara berhamburan tak tentu arah. Kemudian terlihatlah sebuah jalan yang berwarna hitam pun seolah tergelar memanjang dan Pangeran Parikesit melesat dengan kecepatan yang tidak lagi bisa dinalar akal sehat.

Gelegar suara Pangeran Parikesit menyentak Kiai Rontek hingga sedikit membuatbgumpalan asap itu tersibak.

“Berhenti! Angger Getas Pendawa!” Ki Getas Pendawa berpaling ke arah sumber suara. Ia tidak merasa terkejut. Tatap mata hampa jelas terpancar dari cara ia memandang Pangeran Parikesit yang deras meluncur padanya. Mendadak tubuh Pangeran Parikesit seperti berhenti bergerak saat ia berjarak dua tiga langkah dari Ki Getas Pendawa. Untuk sesaat ia benar-benar berhenti dalam keadaan melayang.

Yang terjadi pada saat Pangeran Parikesit memasuki lingkaran adalah mendadak gumpalan asap yang menjadi selubung Kiai Rontek menipis. Pengaruh Suwung Bawana yang sangat dahsyat ditambah bentakan Pangeran Parikesit yang mirip Gelap Ngampar ternyata mampu memecah kekuatan ilmu Wedhus Gembel. Kiai Rontek yang hanya mempunyai waktu kurang dari dua kedipan mata sadar bahwa ia harus melakukan sesuatu.

Cepat ia meloncat panjang dan mengerahkan kekuatan penuh untuk menghantam Adipati Hadiwijaya. Waktu yang sangat singkat itu ia manfaatkan sebagai kesempatan untuk mengakhiri hidup pemimpin tertinggi Kadipaten Pajang. Pergerakan Pangeran Parikesit yang terhenti beberapa jengkal diatas permukaan tanah adalah kesempatan terbajk baginya. Sekalipun Ki Getas Pendawa dan Pangeran Parikesit sama-sama membeku pada tempatnya namun Kiai Rontek tidak mau gegabah. Ia mengerti bahwa menyerang salah satu dari mereka atau keduanya pasti berakibat kematian baginya.

” Angger Getas Pendawa!” kembali gelegar suara Pangeran Parikesit menghentak di dalam hutan. Ia mencoba membangkitkan kesadaran Ki Getas Pendawa yang agaknya telah tenggelam dalam pusaran ilmu Suwung Bawana.

Sedikit usaha yang dapat diperbuat oleh Pangeran Parikesit dalam waktu sedemikian singkat. Segenap ilmu dan kepandaiannya terbelenggu dalam pengaruh Ki Getas Pendawa. Dua telapak tangan Pangeran Parikesit yang mengembang terlihat bergetar, tak lama kemudian suara berdecit tajam terdengar menusuk gendang telinga. Dalam waktu sangat singkat dan keadaan  wadag yang membeku, paman dari Adipati Hadwijaya ini mengetrapkan lapis puncak ilmu Jendra Bhirawa.

Dua kekuatan yang luar biasa besar tetapi mempunyai getar yang sama-sama lembut pun berbenturan di udara. Ki Getas Pendawa yang merendah tubuh dengan sedikit menekuk lutut mulai terguncang. Getar hebat dari ilmu Jendra Bhirawa menjadikan Ki Getas Pendawa terdorong surut dengan kedua kaki tetap melekat pada tanah. Namum dalam pada itu, sorot mata Ki Getas Pendawa masih tidak menunjukkan bahwa ia telah menguasai dirinya kembali. Ki Getas Pendawa seolah kehilangan kesadaran padahal yang terjadi justru sebaliknya. Ki Getas Pendawa berada dalam puncak kesadarannya sebagai manusia yang lemah.

Kehalusan budi Ki Getas Pendawa mampu merobek setiap sekat yang menghalangi jiwanya untuk mendaki langit. Ilmu Suwung Bawana memang menuntut setiap orang yang mempelajarinya untuk mampu melepas setiap keadaan yang mengikatnya. Olah rasa yang telah mencapai puncak pada akhirnya menjadi sumber kekuatan yang mampu meliputi apapun yang berada dalam jangkauannya. Kekuatan itu akan terus mengembang hingga pemilik ilmu Suwung Bawana telah merasa bahwa ia bukan siapapun. Pada titik yang mendasar itulah kemudian dia akan menghisap semua daya yang ada lalu setelah semua terkumpul dan berpusat pada kemauannya, yang terjadi kemudian adalah ledakan yang sanggup meratakan hutan dan sebagian Kadipaten  Pajang.

Maka tidak heran apabila Pangeran Parikesit harus mempertaruhkan dirinya sendiri demi keselamatan Adipati Hadiwijaya dan seluruh Pajang. Ia mengerti bahwa keponakannya itu tidak akan sanggup menahan kekuatan ilmu warisan Ki Jalak Pameling. Dan lebih dari itu, Pangeran Parikesit memahami bahwa salah satu akibat dari pengerahan ilmu Suwung Bawana adalah memutus nyawa orang yang melontarkannya. Pangeran Parikesit mengabaikan lelah yang sebenarnya telah mendera tubuhnya sebelum ia memasuki lingkaran yang dipenuhi bayangan kematian.

Decit suara yang sangat cepat merambat menuju nada yang tinggi ditambah udara yang bergetar sangat kuat karena benturan dua ilmu tingkat tinggi itu menyadarkan Adipati Hadiwijaya. Ia masih mencoba mengerti perubahan yang sangat mendadak terjadi namun decit suara itu datang menghunjam jantungnya dan udara yang menggelepar telah menggugah kesadarannya. Maka sudut mata Adipati Hadiwijaya kemudian menangkap satu bayangan yang berkelebat secepat tatit menuju tempatnya dan hawa tenaga Wedhus Gembel yang mengerikan.

Pada masa yang nyaris bersamaan, Lembu Jati pun telah menghimpun sepenuhnya ilmu Jagad Manunggal. Ia berkedudukan lebih dekat jika dibandingkan dengan Kiai Rontek.

” Kematianmu memang tak dapat ditolak, Mas Karebet. Setelah kau pergi dari dunia ini, Gagak Panji akan duduk menggantikanmu. Dan sangat disayangkan apabila kau tak dapat menjadi saksi naiknya Gagak Panji ke tahta Demak!” desis Lembu Jati ketika ia mulai menghimpun kembali segenap kekuatannya.

” Tak bosan kau sebut Gagak Panji. Pergilah dan ciumlah ujung kakinya!” sahut Adipati Hadiwijaya sambil merapatkan dadanya hingga menyentuh paha. Kedua lengan Adipati rapat menutup celah yang lemah dari pertahanannya. Dengan ilmu kebal lapis ganda dan tenaga inti yang ia ungkap dari ilmu Jendra Bhirawa kini putra Ki Kebo Kenanga telah mapan menyambut dua gelombang serang yang luar biasa.

Pada saat itu Wedhus Gembel telah menyiratkan kengerian yang sukar dilupakan. Betapa asap putih yang panas itu kini berubah seperti bara. Kepulan asap keluar dari seluruh bagian tubuh Kiai Rontek. Lembu Jati dengan ilmu yang tak kalah ganas datang menggebrak dari samping kiri Adipati Hadiwijaya. Tetapi kali ini Lembu Jati sepenuhnya menggunakan unsur-unsur yang memancarkan udara beku. Dua kekuatan yang mampu mengguncang Merapi menghimpitnya dari arah yang berlawanan secara bersamaan.

Tinggalkan Balasan