Penaklukan Panarukan 40

Gelombang tenaga berkekuatan raksasa yang berbenturan itu menghempas dinding api yang melingkari lima orang yang berada di dalamnya. Nyala api mendadak pada seketika pada beberapa tempat.

Tubuh Pangeran Parikesit yang masih melayang turut terhempas oleh getar dahsyat yang timbul saat benturan antara Jendra Bhirawa dan Suwung Bawana terjadi. Pangeran Parikesit yang meluncur pada kobaran api segera menguasa kendali tubuhnya. Ia berjungkir balik dengan kedua tangan memukul pada banyak arah. Dorongan tenaga pun menjadi semacam angin yang mampu mengurangi laju tubuhnya yang deras. Hingga akhirnya ia dapat menjejakkan kakinya pada sebuah batu lalu kembali melesat kencang ke tempat Ki Getas Pendawa.

Dalam pada itu, Ki Getas Pendawa telah terbenam sedalam lutut. Kedua lengannya tergantung di samping lambung dan kepalanya terkulai.

” Angger Getas Pendawa!” berkata Pangeran Parikesit sambil menarik tubuh Ki Getas Pendawa. Setelah membaringkan tubuh lemas Ki Getas, Pangeran Parikesit menyentuh bagian dada dan perut keponakannya lalu menyalurkan sebagian tenaga inti untuk membantu Ki Getas agar dapat kembali sadar. Sejenak kemudian, Ki Getas Pendawa telah membuka matanya.

” Angger Adipati?” desahnya lalu satu tarikan nafas panjang dilakukannya. Dan dalam sekejap Ki Getas telah berdiri meski sempoyongan.

Ia pun menebar pandang mencari Adipati Hadiwijaya. Lalu dilihatnya Pangeran Parikesit telah berada di balik punggung putra Ki Kebo Kenanga. Ia menyeret kaki dan melangkah gontai dengan sesekali menata jalur nafasnya. Ki Getas Pendawa belum sepenuhnya pulih tapi keinginannya untuk melihat keadaan Adipati Hadiwijaya membuatnya berusaha bangkit.

Sementara itu Kiai Rontek dan Lembu Jati telah menghilang dari kawasan pertarungan yang baru saja usai. Lembu Jati menderita luka bagian dalam ketika ia membenturkan segenap ilmu Jagat Manunggal dengan ilmu Jendra Bhirawa. Walaupun Kiai Rontek bersama dengannya dalam upaya menghabisi Adipati Hadiwijaya, namun mereka tidak mengerti jika Jendra Bhirawa adalah ilmu yang mempunyai watak mirip dengan Suwung Bawana.

Tenaga inti yang diungkap oleh Kiai Rontek melalui ilmu Wedhus Gembel telah berada pada lapisan lebih tinggi daripada Lembu Jati. Ketika Wedhus Gembel mulai bersinggungan dengan Jendra Bhirawa, yang terjadi kemudian adalah Jendra Bhirawa mengalirkan getar yang berlebih menuju arah yang berlawanan. Sehingga akibatnya Lembu Jati menerima hantaman ilmu Wedhus Gembel tanpa diketahui oleh Kiai Rontek, bahkan tidak juga disadari oleh Adipati Hadiwijaya.

Sekalipun demikian tidak berarti Adipati Hadiwijaya dapat lolos dari dentuman Wedhus Gembel. Tubuh Adipati Hadiwijaya yang yang merunduk dalam itu bahkan terbenam dan yang tersisa hanya kepalanya yang menyembul dari permukaan tanah. Permukaan tanah disekelilingnya membekas gurat melingkari Adipati Hadiwijaya. Pangeran Parikesit segera mengetahui jika keponakannya itu masih hidup dari kedua matanya yang berkedip. Dan tahulah Pangeran Parikesit bila tidak ada tulang belulang yang patah dan bagian dalam tubuh Adipati Hadiwijaya yang remuk. Namun ia sadar cairan merah yang meleleh dari kedua lubang telinga dan sela bibirnya  harus segera dihentikan. Agaknya dua tenaga inti yang menghantam Adipati Hadiwijaya memang membuat jantung dan bagian dalam lainnya tidak dapat bekerja beiringan. Bagian dalam tubuhnya seperti bekerja secara terpisah dan Pangeran Parikesit harus mampu mengembalikan keseimbangan agar hidup Adipati Hadiwijaya dapat diselamatkan.

Keadaan yang berbeda menimpa Lembu Jati. Tubuhnya yang kekar terseret diatas permukaan tanah yang penuh dengan kayu yang membara.

“Lembu Jati!” desis Kiai Rontek ketika melihat Lembu Jati terpental sangat cepat, lalu seketika ia meluncur dan menyambar Lembu Jati sebelum ia menghantam pohon yang batangnya telah terbakar. Dalam pada itu, Kiai Rontek mengetrapkan Wedhus Gembel sambil memanggul Lembu Jati pada salah satu pundaknya lantas menembus kobaran api menuju utara.

“Kemana kita akan pergi, Kiai?” tanya lemah Lembu Jati dari balik punggung Kiai Rontek.

“Kita akan menetap sementara waktu di pesisir utara,” sahut Kiai Rontek. Sesaat setelah mereka tiba pada bagian hutan yang belum terbakar, Kiai Rontek mencoba memberi pertolongan pada Lembu Jati.

” Mas Karebet?”

” Ia masih hidup saat kita tinggalkan,” tatap mata Kiai Rontek tak berkedip ketika menjawab pertanyaan Lembu Jati. Ia memusatkan perhatiannya pada racikan dedaunan untuk menutup luka bakar Lembu Jati.

Bergumam pelan Lembu Jati mendengar jawaban Kiai Rontek. Kemudian,” Berapa lama kita akan menunggu kesempatan ini terulang?”

” Jangan bersikap bodoh selama Pangeran Buangan itu masih ada di tengah-tengah mereka,” Kiai Rontek menutup pengobatannya dengan menyalurkan tenaga inti untuk menambah daya tahan Lembu Jati.

” Terima kasih, Kiai,” Lembu Jati kemudian mencoba untuk duduk. Ia menyilangkan kedua kakinya dan mulai memperbaiki tatanan syaraf dan urat yang masih bergetar di dalam tubuhnya. Malam hampir menjelang fajar ketika mereka usai memusatkan cipta dan rasa untuk tujuan yang berbeda.

” Marilah! Kita harus secepatnya tiba di pesisir dan melaporkan ini semua pada Ki Tumenggung Adiwangsa!” Kiai Rontek pun bangkit dan bersiap untuk pergi. Lembu Jati lantas mengikutinya dan keduanya melangkah lebar. Sepertinya mereka mempunyai keyakinan bahwa tidak ada orang yang mengamati keduanya. Dalam benak mereka seolah telah menduga bahwa ketiga orang Pajang yang menjadi lawan mereka masih disibukkan untuk merawat Adipati Hadiwijaya.

Dan memang seperti itulah yang terjadi di lingkar bekas pertarungan yang sangat dahsyat itu. Udara hangat menyusup memasuki setiap piranti bagian dalam tubuh Adipati Hadiwijaya. Wajah Pangeran Parikesit mulai terlihat pucat, ia telah berada lebih tinggi dari batas kemampuannya. Untuk beberapa lama ia berada dalam keadaan seperti itu hingga tangan Ki Getas Pendawa lembut menyentuhnya.

” Biarkan aku yang melanjutkan, Paman,” suara lirih Ki Getas kemudian dijawab dengan anggukan kepala Pangeran Parikesit.

Demikianlah kemudian Pangeran Parikesit mengambil jarak dari keduanya. Ia duduk tegak bersimpuh kaki. Ia membutuhkan masa yang lebih lama untuk mengembalikan daya tahan tubuhnya. Lantas wajah Pangeran Parikesit kembali terlihat segar dan udara mulai keluar masuk dengan halus dari balik dadanya.

Api mulai berangsur mengecil saat rintik gerimis membasahi permukaan bumi Pajang. Udara pada waktu menjelang fajar itu dipenuhi asap dari bara-bara yang mulai surut. Meski begitu api masih terlihat menyala di sejumlah kecil bagian hutan. Tiba-tiba satu dorongan angin yang sangat kuat menyibak kepul asap yang menutup pandang mata.

” Mungkinkah orang ini adalah Kiai Rontek?” Pangeran Parikesit membuka mata dan dalam simpuhnya ia telah bersiap menyambut serangan yang akan datang. Ki Getas Pendawa mengerling padanya lalu mengangguk ketika Pangeran Parikesit memintanya untuk melanjutkan pemulihan pada Adipati Hadiwijaya.

Tak lama kemudian satu bayangan tubuh berkelebat keluar dari lorong yang berdinding asap. Pangeran Parikesit memicingkan mata karena sulit mengenali sosok yang datang dengan kecepatan yang nyaris mendekati kemampuannya.

” Wayah Penangsang!” Pangeran Parikesit berkata lirih dan ia menjadi lega setelah Arya Penangsang secara mengejutkan telah berdiri dan memberi hormat padanya.

” Kakek!” ucap lembut Arya Penangsang sambil memeluk tubuh Pangeran Parikesit begitu erat. Tak lama kemudian ia berpaling pada Adipati Hadiwijaya dan Ki Getas Pendawa.

” Kakang Adipati!” seru tertahan Arya Penangsang yang kemudian bergegas mendekati Adipati Hadiwijaya.
Segera saja Arya Penangsang dapat mengetahui keadaan parah yang menimpa menantu Sultan Trenggana.

” Istirahatlah, Paman! Biarkan aku jadi pamungkas penyembuhan ini!” pinta Arya Penagsang. Ki Getas Pendawa pun sadar bahwa bantuan Arya Penangsang akan lebih cepat memulihkan keadaan Adipati Hadiwijaya. Lantas dirinya bergeser tempat.

Sinar surya datang menerangi daerah yang telah hangus terbakar. Tebar pandang memutar hanya nampak kayu menghitam, tanah yang diatasnya berserakan dahan-dahan bujur melintang. Pedih hati Pangeran Parikesit menyaksikan sandaran hidup banyak burung dan binatang lainnya tak lagi mampu memberi kelapangan bagi penghuninya.

” Sementara adalah waktu yang lama bagi hewan-hewan liar,” desah Pangeran Parikesit.

Ki Getas Pendawa menarik nafas dalam-dalam lalu,” Satu kesalahan yang tentunya membawa kesusahan bagj yang lain.”

” Kau tidak bersalah, Ngger. Keputusanmu mengerahkan ilmu yang dahulu dikuasai Ki Jalak Pameling tidak dapat dijadikan sebab terjadinya kebakaran ini.” Pangeran Parikesit beralih tatap mata pada Arya Penangsang yang telah mengakhiri penyembuhan bagi Adipati Hadiwijaya.

Kemudian Pangeran Parikesit berkata lagi,” Kiai Rontek bukan orang yang mudah menyerah. Ia dapat membakar Demak bila ia merasa perlu untuk memaksa Angger Trenggana.” Panjang ia menarik nafas berulang kali. Kemudian katanya,” Membakar hutan ini tentu sudah diperhitungkan olehnya asalkan Angger Adipati dapat terbunuh.”

2 tanggapan pada “Penaklukan Panarukan 40”

Tinggalkan Balasan