Penaklukan Panarukan 41

“ Alasan apakah yang menjadi sebab Kiai Rontek berhasrat kuat ingin menghabisi Angger Adipati?” gumam lirih Ki Getas Pendawa. Pangeran Parikesit  mengerling padanya seraya menarik nafas dalam-dalam tetapi tidak sepatah kata yang ia ucapkan. Lantas keduanya berpaling pada Adipati Hadiwijaya yang berjalan pelan dengan bantuan Arya Penangsang.

Adipati Hadiwijaya mengangguk ketika ia melihat sinar mata keraguan dari dua orang sepuh yang berdiri dihadapannya. Katanya,” Aku akan melanjutkan perjalanan ini bersama satria tangguh dari Jipang Panolan.”

Pangeran Parikesit tajam menatap bergantian kedua orang yang menjadi pemimpin kadipaten yang berbeda. Kemudian ia berkata,” Itu sepenuhnya terserah pada keputusanmu, Ngger. Tapi sebaiknya kita berjalan bersama sampai keadaan memungkinkan untuk kalian berdua. Ingat! Kiai Rontek dan Lembu Jati masih menyimpan kemungkinan untuk bertahan di sekitar wilayah ini hingga Demak.”

“ Lembu Jati tidak akan dapat bertempur untuk kedua kali dalam masa yang singkat,” sahut Arya Penangsang.

“Bagaimana Angger mengetahuinya?” bertanya Ki Getas Pendawa sambil mengerutkan kening.

“Aku melihat dua orang bergerak cepat dari arah yang sama dengan kedatanganku. Tentu saja aku ingin mengejarnya dan menanyai mereka sekedar untuk mengetahui keadaan di bagian dalam karena mereka terlihat melangkah keluar dari bagian yang terbakar,” kata Arya Penangsang kemudian,” Lalu aku pikir lebih baik menunda keinginan itu karena aku mencemaskan keselamatan Kakang Adipati Pajang.”

“ Maksudku, bagaimana Angger dapat mengenali Lembu Jati sebagai salah satu dari dua orang itu?” masih Ki Getas Pendawa mengeluarkan pertanyaan.

“ Aku pernah bertemu dengannya di rumah Ki Tumenggung Adiwangsa. Selempang kain berbenang emas seperti yang biasa dipakai oleh keluarga raja membelit rapi pada perutnya, dan aku melihat benda yang mirip itu melekat pada bagian dadanya. Mungkin ia mengalami luka-luka karena ia tidak mengenakan pakaian sepantasnya,” jawab panjang Arya Penangsang.

Pangeran Parikesit bergumam lirih mengulang ucapan Arya Penangsang,” Ki Tumenggung Adiwangsa.”

Adipati Hadiwijaya menoleh padanya lalu,” Paman mengenal orang itu?”

Sambil menggeleng, Pangeran Parikesit menjawab,” Sudahlah, kita tak bisa membuang waktu lebih lama. Mengenai Ki Tumenggung Adiwangsa akan aku lakukan penyelidikan lebih lanjut. Sementara ini, kita harus mengejar waktu keberangkatan Sultan Trenggana.”

Untuk selanjutnya mereka berempat berjalan menapaki tanah yang berwarna hitam karena abu kebakaran yang sangat hebat.  Setibanya di luar hutan, Arya Penangsang bersuit sangat kencang dan tak lama kemudian terdengar derap kuda yang semakin jelas terdengar mendekati tempat mereka.

“Siapakah para penunggang kuda itu, Wayah Penangsang?” bertanya Pangeran Parikesit.

“Ki Tumenggung Suradilaga dan beberapa prajurit,” singkat Arya Penangsang menjawab.

“Bukankah ia telah meninggalkan Pajang bahkan jauh hari sebelum pekan ini tiba?” Adipati Hadiwijaya berpaling pada Arya Penangsang.

Dengan anggukkan kepala dan senyum yang mengembang pada bibirnya, Arya Penangsang menjawab,” Aku bertemu dengannya ketika ia berkelahi melawan dua orang Pajang yang salah satunya sangat aku kenal. Kidang Tlangkas.”

Adipati Hadiwijaya berkerut dahi. Ia masih ingat jika Ki Sambaga dan Ku Suradilaga ditugaskannya untuk menilik perkembangan pembuatan senjata di Pedukuhan Sambisari, tetapi ia belum dapat menghubungkan perkelahian diantara dua orang berpangkat tinggi itu dengan Kidang Tlangkas. Tetapi ia segera mengabaikan rasa penasaran yang hinggap dihatinya tatkala Pangeran Parikesit tersenyum dan mengangguk padanya.

Ki Getas Pendawa yang sedari tadi berdiam diri kemudian membuka suara,”Mereka telah hadir.” Ia mengangkat kedua tangannya lalu menyambut kedatangan Ki Tumenggung Suradilaga bersama empat orang prajurit Demak.

“ Tidak banyak yang dapat aku bawa kemari, Kanjeng Adipati Penangsang,” berkata Ki Tumenggung Suradilaga sambil menyerahkan tali kekang kudanya pada Adipati Arya Penangsang. Adipati Arya Penangsang mengulurkan tangan dan setelah ia menerima kekang kuda, ia berkata,” Eyang Parikesit, Paman Pendawa dan Ki Tumenggung. Aku telah putuskan untuk berjalan kaki menuju Demak bersama Kakang Hadiwijaya. Keputusan ini bulat berasal dari kesepakatan kami berdua. Harap Eyang dan Paman dapat memahami keputusan ini.”

Pangeran Parikesit yang tidak mempunyai kecurigaan pada siapapun kemudian mengatakan,” Keputusan itu adalah keputusan yang berani, terlebih Angger Hadiwijaya baru saja lepas dari cengkeram Wedhus Gembel. Bukankah kalian sudah pikirkan tentang Kiai Rontek?”

Sejenak Adipati Hadiwijaya bertukar pandang dengan pemimpin Jipang, lalu keduanya menganggukkan kepala. Ia berkata kemudian,” Semoga tidak terjadi gangguan dalam perjalanan ini.” Sejenak kemudian mereka semua menundukkan kepala. Mengheningkan citpta dan mencoba memadukan antara harapan dan segala kemungkinan yang dapat terjadi di masa berikutnya.

Demikianlah kedua adipati yang menjadi bagian dari Demak kemudian menyusur arah utara dengan diiringi dua orang prajurit Demak, sementara Ki Tumenggung Suradilaga beserta dua prajurit lainnya bergegas mendahului untuk memberi laporan pada Sultan Trenggana.

Ki Getas Pendawa berjalan beriring dengan Pangeran Parikesit kemudian menengok ke balik punggung dan terlihat bahwa rombongan yang menuju Demak semakin jauh dari mereka berdua yang kembali ke Pajang. Ia menarik nafas dalam kemudian,” Bagaimana keadaan Rambesaji dan Batara Keling, Paman?”

“Aku meninggalkan mereka di tempat kita berkelahi dengan mereka,” Pangeran Parikesit tidak terlihat terburu-buru untuk melihat keadaan mereka. “ Setidaknya untuk beberapa saat mereka akan bermalam dengan sekawanan serigala dan mungkin mereka juga akan merasa hangat,” senyum Pangeran Parikesit. Sejenak kemudian senyum itu menghilang dari wajah Pangeran Parikesit. Lantas ia menghentikan langkah kakinya lalu menatap lekat mata Ki Getas Pendawa sambil bertanya,” Tidakkah kau merasa kejanggalan pada sikap Wayah Penangsang?”

“ Aku tidak begitu mengenalnya lebih mendalam, Paman,” Ki Getas Pendawa pun berhenti melangkah. Ia memutar bola matanya seperti sedang berusaha mengerti maksud Pangeran Parikesit.

“ Pada waktu belakangan ini, Wayah Penangsang menyebut Adipati Hadiwijaya sebagai kakak. Itulah kejanggalan yang aku maksudkan,” lanjut Pangeran Parikesit. Ki Getas Pendawa manggut-manggut. Sesaat kemudian mereka kembali melangkah.

“ Tentu saja sebutan kakak itu bukan tanpa sebab karena Angger Penangsang adalah orang berpikiran tajam dan tidak pernah kehabisan nalar untuk mencari jalan keluar,” tanggap Ki getas Pendawa kemudian. Pangeran Parikesit tidak berkata-kata lagi hingga kemudian mereka tiba di tempat Rambesaji dan Batara Keling terbaring dalam belenggu ilmu Pangeran Parikesit.

“ Rupanya kawanan serigala itu tidak mempunyai selera meski mereka sebenarnya kelaparan,” kata Pangeran Parikesit.

“ Gandrik! Kau benar-benar berhati iblis, orang sial!” Batara Keling mengumpat Pangeran Parikesit habis-habisan. Seperti tidak peduli dengan ucapan Batara Keling, Pangeran Parikesit berpaling pada Rambesaji lalu,” Jadi benar bila Sang Hyang ternyata menyimpan banyak belas kasih padamu.” Rambesaji hanya mendengus lalu mencoba memalingkan muka.

Ki Getas Pendawa dan Pangeran Parikesit lantas membuat tandu untuk membawa kedua tawanan itu ke Kadipaten Pajang. Sebuah alat sederhana yang berbahan beberapa potongan kayu yang cukup untuk menjadi tempat membaringkan tubuh seseorang lalu menariknya. Dan demikianlah sebelum matahari singgah di puncak langit, kedua orang berilmu tinggi itu telah menjadi tontonan orang-orang sepanjang jalan yang dilewati. Pangeran Parikesit sengaja mengambil jalur yang ramai diantara pedukuhan dan ketika singgah di sebuah kademangan, ia pun meminta bantuan pada ki demang untuk menyertakan beberapa pengawal kademangan. Bagi Rambesaji dan Batara Keling, perlakuan Pangeran Parikesit benar-benar seperti merobek wajah mereka. Betapa Pangeran Parikesit selalu mengatakan pada orang yang mereka jumpai bahwa ia sedang membawa dua orang yang menjadi dalang di balik banyak peristiwa kejahatan di wilayah Pajang.

Saat mereka mencapai gerbang kota Pajang, Ki Getas Pendawa menemui prajurit jaga lalu memberi perintah,” Katakan pada pemimpinmu bahwa Pangeran Parikesit telah meringkus Batara Keling dan Rambesaji namun kami akan membawa mereka ke Padepokan Cambuk Seketi. Pangeran telah memutuskan untuk tidak memasuki kota. Kami akan mengambil jalan memutar.”

Segera prajurit jaga itu meneruskan apa-apa yang disampaikan oleh Ki Getas Pendawa, sementara para pengawal dari kademangan pun dipersilahkan untuk istirahat barang sejenak untuk kemudian mereka diijinkan kembali ke kademangan. Namun oleh Pangeran Parikesit, para pengawal kademangan ini ditugaskan untuk menyebarkan berita penangkapan Batara Keling dan Rambesaji sejauh wilayah yang mereka jangkau dalam perjalanan pulang.

“ Sebarkan berita penangkapan dua orang ini ke setiap pedukuhan dan kademangan yang kalian lewati. Temuilah ki bekel dan ki jagabaya bahkan kalian boleh berkeliling pasar untuk menyatakan penangkapan ini,” beberapa keping logam kemudian diangsurkan Pangeran Parikesit pada pemimpin pengawal lalu katanya,” Ini bekal sekedarnya bagi kalian karena mungkin kalian akan menempuh waktu yang sedikit lebih panjang.”

Para pengawal kembali menganggukkan kepala, pemimpin mereka kemudian mengucap beberapa kata. Tak lama kemudian mereka pun minta diri kembali ke kademangan. Pangeran Parikesit pun kemudian memisahkan diri, ia bersama Ki Getas Pendawa disertai beberapa prajurit Pajang meneruskan perjalanan menuju padepokan Ki Buyut Mimbasara.

****

Adipati Hadiwijaya merasa getar aneh perasaannya. Sebenarnya ia tidak merasa curiga dengan kedatangan Adipati Arya Penangsang namun ia tidak dapat mengalihkan pertanyaan yang menyembul kuat dari relung hatinya. Tetapi ia agaknya masih menunggu saat yang tepat karena ia tidak dua orang prajurit yang berjalan dibelakang mereka mengetahui isi percakapan dua orang penguasa tinggi di tlatah Demak.

 

Catatan :

# perkelahian Kidang Tlangkas dan usaha Ki Tumenggung Luru Sumpil mengejar Prabu Brawijaya yang dihalangi Ki Jalak Pameling akan tergelar dalam edisi cetak. Meski demikian itu tidak menganggu/mengubah alur secara keseluruhan.

Terima kasih.

Tinggalkan Balasan