Penaklukan Panarukan 42

Sekitar lima puluh atau enam puluh tombak sebelum mencapai tepi hutan, Adipati Hadiwijaya menghentikan langkah kakinya. Ia membalikkan badan kemudian katanya pada dua orang prajurit,” Bila kalian tak merasa terhalang, akankah kalian berdua berburu untuk kami?”

” Kami bersedia, Kanjeng Adipati!” tegas pengawal yang berambut dua warna. Tak lama kemudian mereka bersiap dengan alat-alat perburuan lantas pergi menyusur lebat pohon yang masih tegak berdiri di batas hutan.

Adipati Arya Penangsang lembut menarik nafas dalam-dalam. Air mukanya terlihat begitu tenang. Pendengaran tajam Adipati Hadiwijaya sudah tak mendengar lagi derap kaki dua prajurit dari Demak yang bertugas mengawal mereka berdua.

” Aku rasa aku belum berterima kasih padamu, Kakang Penangsang,” kata Adipati Hadiwijaya.

Dengan kepala menggeleng pelan, Adipati Arya Penangsang berkata,” Tidak perlu kau katakan itu, Kakang.”

Debar jantung Adipati Hadiwjaya terpacu sedikit lebih kencang. Ia telah menempatkan diri dalam masa yang lama dan berpikir bahwa tidak sepatutnya pemimpin Jipang itu menggunakan sebutan kakang terhadapnya. Dan Adipati Hadiwijaya merasa bahwa saat itu adalah waktu yang tepat untuk berbicara mengenai perasaanya dan banyak berita yang ia dengar.

” Aku tidak merasa terhormat dengan kedudukan yang sebenarnya bukan untukku,” kata Adipati Hadiwijaya kemudian.

Kening dari orang yang pernah mengajarkan landasan ilmu Jendra Bhirawa pada Pangeran Benawa sesaat berkerut. Ia mendongakkan wajah lalu katanya,” Tidak ada alasan untuk membuat keberatan itu diterima. Kakang Hadiwijaya adalah ayah dari seorang anak yang kelak akan aku jaga sendiri menggapai tahta Demak. Aku memanggilmu seperti itu karena penghormatanku pada Jaka Wening.”

” Dia seorang anak kecil.”

” Itu bukan alasan yang dapat aku terima.”

” Atau kau mempunyai alasan yang masih belum kau ungkapkan,” lalu Adipati Hadiwijaya diam sejenak. Dugaan yang sebelumnya telah mengendap dalam benaknya mulai menyentuh perasaannya.

Adipati Arya Penangsang tajam melirik menantu Sultan Trenggana. Lalu ia berkata,” Katakan jika Kakang telah mempunyai perkiraan tentang itu.”

” Tidak mudah bagi seseorang untuk dapat menerima kenyataan yang pahit. Peristiwa yang membuat hati serasa tersayat setiap kali teringat,” kata Adipati Hadiwijaya sambil menahan gemuruh dalam hatinya.

Dengan kepala manggut-manggut, Adipati Jipang menyahut lirih,” Kejadian yang akan disesali oleh banyak orang di kemudian hari. Persoalan yang sebenarnya dapat diselesaikan tanpa perlu ada darah yang mengalir sia-sia. Dan perencanaan itu mengabaikan kehadiran seorang anak. Para perencana itu tidak peduli jika kemudian anak itu tidak mengenali ayah kandungnya.”

” Apakah berarti maksud ucapan Kakang Penangsang hendak meletakkan musibah itu sebagai kesalahan pemimpin Demak?”

” Kau akan membawaku untuk menyalahkan segala sesuatu? Menyalahkan setiap orang? Menangisi perjalanan hidupku yang tidak pernah dikunjungi oleh sanak kerabat?,” Adipati Jipang Panolan itu tajam berkata-kata dengan rendah. Tidak ada ledakan perasaan yang dapat ditangkap dari setiap perkataannya. Wajah bersih Arya Penangsang masih terlihat begitu tenang. Sebenarnyalah Arya Penangsang dapat menginjakkan kaki di tanah Jipang setelah Ki Patih Matahun membawanya pulang dari timur. Arya Penangsang menyadap banyak wawasan dari Ki Bogorami, nama yang tidak banyak dikenal oleh orang-orang. Tetapi apabila merunut kembali ke masa belakang hari, tentu Ki Bogorami bulanlah sosok yang dapat diminggirkan.

Ki Bogorami meletakkan landasan-landasan yang luwes dan memiliki keragaman ilmu tingkat tinggi. unsur-unsur yang nantinya dipelajari oleh Arya Penangsang akan membaur dan menyatu dengan cepat. Kehidupan keras di dataran tinggi yang dekat dengan tanah pesisir menjadikan Arya Penangsang mempunyai kemampuan nyaris lengkap. Ki Bogoromai melatih kaki kecil Arya Penangsang berlari di tepi pantai. Tak jarang Ki Bogorami membawa Arya Penangsang berlatih di lereng Penanggungan. Oleh karena itu kemampuan tinggi Arya Penangsang telah digapainya pada usia muda. Ki Patih Matahun pun melengkapi Arya Penangsang dengan menuntut imu di padepokan Ki Buyut Mimbasara. Setelah mengamati keponakannya yang tak dilihatnya selama bertahun-tahun, lantas Ki Buyut Mimbasara pun mengajarkan padanya ilmu yang sulit ditemukan tandingnya. Jendra Bhirawa. Semasa ia berada dalam bimbingan Ki Buyut, lahirlah kemudian Pangeran Benawa. Kegembiraan yang tumbuh berbunga dalam hatinya meski terkadang rasa haru sesekali mendatanginya.

Keberadaan Pangeran Parikesit, kehadiran Jaka Wening dan sikap Ki Buyut Mimbasara membantu Arya Penangsang muda melewati masa yang sangat sulit. Kecakapan Ki Patih Matahun dalam mengurus wilayah Jipang yang luas dan semakin hari semakin ramai kegiatan agaknya semakin cepat mematangkan nalar Arya Penangsang muda.

” Siapa yang tidak mengenalimu? Mereka mengenalmu seperti anak mereka sendiri, Kakang Penangsang!” sahut Adipati Hadiwijaya.

” Kau merawat sebuah prasangka dan kau nyatakan itu sebelum kau bertanya padaku.”

” Karena kau sendiri tak pernah mengungkap isi hatimu pada kami!”

Pemimpin Jipang itu menarik nafas dalam-dalam. Masih terdengar lirih ketika ia berkata,” Sepeninggal ayah, banyak orang memasuki kehidupanku. Eyang Pangeran, Paman Kebo Kenanga dan Jaka Wening adalah orang-orang yang memberi warna yang berbeda. Tidak sekalipun mereka menampakkan perasaan buruk padaku. Tidak pula dalam benak mereka mengira aku akan menuntut singgasana Demak. Terlebih jika aku melihat tawa Jaka Wening. Melihatnya berlari, bercakap, tertawa dan menangis seolah menyadarkanku bahwa kedudukan tertinggi bukanlah tujuan akhir.”

Adipati Hadiwijaya menundukkan kepala haru. Ia sebelumnya mempunyai dugaan bahwa penguasa Jipang itu kelak akan menuntut hak. Ia tahu apabila lawan bicaranya mempunyai kemampuan lebih dari sekedar menjadi seorang adipati. Merunut ulang langkah di masa silam tentu bukanlah pekerjaan yang mudah, pikir Adipati Hadiwijaya. Tetapi ia sendiri belum mempunyai kesimpulan yang dapatbia yakini kebenarannya.

” Aku akan menunggu dan berdiam diri. Mungkin itulah yang terbaik,” bisik Adipati Hadiwijaya dalam hati.

Alis Adipati Arya Penangsang tertaut saat ia berpikir mengenai pertanyaan ayah dari Jaka Wening.  Nafasnya menghela panjang. Suasana bagian luar begitu hening. Sawah-sawah yang memanjang lurus dan rapi masih terlihat hijau. Terlihat beberapa orang sedang duduk di bawah gubuk kecil yang banyak tersebar di persawahan. Agaknya mereka pun mengambil masa untuk istirahat. Serombongan burung kecil terbang melintas diatas persawahan dan sesekali terdengar teriak orang menghalau kawanan burung yang akan turun di sepanjang pematang sawah.

Belum lagi terdengar percakapan diantara dua pemimpin yang masih berusia kurang dari separuh abad itu. Keduanya sama-sama merasa dalam keadaan yang sulit untuk memulai kembali perbincangan. Dalam pada itu, sebenarnya Adipati Arya Penangsang ingin mengungkap alasan sesungguhnya namun ia masih menimbang kemungkinan yang dapat saja terjadi. Sementara Adipati Hadiwijaya sendiri sedikit merasa sungkan bila terus mendesak orang kesayangan Ki Patih Matahun yang menurutnya masih menutup diri. Perlahan Adipati Arya Penangsang mengeluarkan seruling dari balik pakaiannya. ia berpaling sejenak pada Adipati Hadiwijaya yang menjawabnya dengan anggukkan kepala. Tak lama setelah itu, udara yang keluar dari bibir Adipati Penangsang mulai menggetarkan angkasa.

Alunan yang keluar dari seruling itu dirasa oleh Adipati Hadiwijaa seperti ia sedang berdiri menghadap sebuah samudera yang tak bertepi. Ia mengerti getar alunan itu adalah keadaan batin Adipati Arya Penangsang yang sunyi namun begitu dalam hingga ia sendiri tak mampu mengira kedalaman hati pemimpin Jipang Panolan itu. Terkadang alunan lagu terdengar tinggi seperti menyiratkan keinginan Adipati Jipang itu menanjak langit dan mengadukan semuanya pada Pencipta. Kadang begitu rendah seolah menggambarkan suasana batin yang mampu menghempas semua kegalauan dan merubahnya seperti kedamaian di lereng Merbabu pada saat fajar merekah.

” Ah!” pepat hati Adipati Hadiwijaya hingga tak sadar mengeluarkan suara tertahan.

Tinggalkan Balasan