Toh Kuning – Jalur Banengan 4

“Ken Arok! Aku peringatkan kau jika aku bukan pengikutmu,” geram Ki Ranu Welang.

“Terserah apa katamu. Yang pasti adalah kau berada di sini untuk memperpanjang hidup,” kata Ken Arok tegas.

Sementara itu di lingkar perkelahian, Ki Selaksa Geni mengagumi kemampuan Toh Kuning yang berusia jauh lebih muda darinya. Setiap kali ia membawa ilmunya setingkat lebih tinggi, maka Toh Kuning juga berbuat serupa. Meskipun Toh Kuning beberapa kali kehilangan kesempatan namun setiap serangannya tetap saja membahayakan. Sebaliknya, pertahanan Ki Selaksa Geni yang mapan pun sering kali mengendor tetapi keseimbangan pertempuran itu masih belum berubah..

Ki Selaksa Geni mengakui bila lawannya telah memiliki landasan yang mapan dan meyakinkan, dan ia menyadari jika satu-satunya keunggulan yang ia miliki adalah pengalaman. Maka dengan cepat ia mulai memasukkan unsur-unsur asing dalam olah geraknya. Serangan Ki Selaksa Geni mulai menembus pertahanan Toh Kuning. Kakinya sempat menyusup di sela-sela pertahanan Toh Kuning sekalipun telah tertutup rapat.

Perut Toh Kuning pun terpaksa menerima benturan yang cukup keras, ia terpental surut ke belakang beberapa langkah. Namun demikian Toh Kuning bangkit dengan cepat dan kembali menerjang Ki Selaksa Geni dengan serangan yang membadai. Tetapi, Ki Selaksa Geni tidak memberinya kesempatan untuk berkembanglebih jauh, ia cepat menutup ruang dan gerak Toh Kuning. Dan Toh Kuning tidak berdiam diri dengan perubahan gerak lawannya, ia semakin cepat dan mengerahkan segenap ilmunya untuk menggoncang pertahanan Ki Selaksa Geni. Untuk sesaat Ki Selaksa Geni terdorong ke belakang dan harus memaksa dirinya untuk menjaga keseimbangan pertempuran.

Namun Ki Selaksa Geni kembali menerjang dengan tubuh yang meluncur sangat deras. Pedangnya berputar-putar sangat cepat meski begitu ia harus berhati-hati.  Karena keris di tangan Toh Kuning telah berkelebat dengan kecepatan yang sama dengan putaran pedangnya. Perang tanding itu menjadi semakin garang dan panas ketika setiap sambaran senjata mengeluarkan suara berdesing tajam dan nyaring.

Melihat perkembangan yang terjadi, maka Ken Arok segera  mengajak Ki Ranu Welang untuk turut terjun dalam pertempuran. Suitan nyaring Ki Ranu Welang adalah tanda bagi anak buahnya untuk keluar dari persembunyian. Maka tiba-tiba saja para pengikut Ki Ranu Welang berloncatan menyerbu para pengawal. Sejenak kemudian, terjadilah pertempuran sengit diantara dua kelompok. Ketinggian ilmu Ken Arok menarik perhatian para pengawal bayaran untuk mengepungnya, namun mereka bukan lawan bagi Ken Arok yang dengan mudah menghempaskan perlawanan mereka. Kibasan tangan dan kaki Ken Arok menjadikan para pengikut Ki Selaksa Geni berjatuhan walau begitu para pengawal bukanlah orang yang mudah menyerah. Sekejap kemudian mereka telah bangkit dan memberi perlawanan keras bagi Ken Arok.  Namun mereka bukanlah lawan yang seimbang bagi Ken Arok meskipun para pengawal yang mengeroyoknya bertambah dua orang.

Agaknya para pengeroyok Ken Arok sudah tidak dapat membatasi diri untuk berkelahi tanpa senjata. Untuk kemudian perkelahian itu semakin menyala dan sengit. Senjata pengeroyok Ken Arok berkelebat menyambar dan mencoba menusuk Ken Arok dari berbagai arah. Tetapi tidak mudah untuk menundukkan Ken Arok. Pemuda ini berloncatan lincah dan lebih cepat dari senjata yang mengancam jiwanya. Sesekali kedua kakinya mampu menembus kepungan dan menjungkalkan satu dua orang penyamun. Pada akhirnya Ken Arok meningkatkan tenaga dan kecepatannya untuk mengakhiri perkelahian yang tidak seimbang dari jumlah. Sentuhan-sentuhan serangannya mampu merusak kepungan dan menyentuh bagian tubuh seorang demi seorang. Seperti daun yang tertiup angin, tubuh para pengeroyok Ken Arok pun  yang sempat terlempar dan tidak bangun lagi.

Tinggalkan Balasan