Penaklukan Panarukan 43

Mendadak Adipati Arya Penangsang mengubah irama seruling menjadi ceria. Udara yang ditiup keluar dari sela bibirnya beralih menjadi kidung yang lincah. Adipati Arya Penangsang seperti ingin menyatakan perasaan ketika mendengar kelahiran Jaka Wening. Raut wajahnya terlihat cerah sekalipun ia memainkan seruling dengan mata terpejam. Sementara itu pemimpin Pajang yang duduk disampingnya berdecak kagum betapa ia kini merasakan keadaan sekitarnya seperti meliuk dan menari mengikuti detak perasaan Adipati Arya Penangsang.

Lalu tiba-tiba keadaan menjadi berubah. Adipati Arya Penangsang mengalirkan getar tenaga inti melalui udara yang dihembuskan dari rongga dada menuju lubang seruling. Perubahan itu dirasakan oleh Adipati Hadiwijaya meskipun ia tidak merasa dalam bahaya namun ia meningkatkan daya tahan yang disalurkan menuju bagian dalam telinganya. Siul seruling memang tidak menyakiti Adipati Pajang namun ia merasakan ada aliran tenaga yang ia kenal berasal dari seruling itu sedang merambat sepanjang tulang belakangnya. Sealiran angin yang sejuk menyusup masuk melalui bagian luar kulitnya. Angin sejuk itu perlahan merayap didalam pembuluh darah dan menyentuh urat syaraf pemimpin Pajang. Oleh karena itu, Adipati Hadiwijaya pun kemudian menyesuaikan diri dengan pengerahan tenaga yang dilakukan Adipati Arya Penangsang.

Selang beberapa lama kemudian, getar tenaga itu agaknya menuju pada sebuah batu yang berukuran seekor kerbau dewasa. Telinga Adipati Pajang itu dapat menangkap bunyi berderak ketika batu hitam itu mulai bergetar dan seperti ada kekuatan tak terlihat sedang mengangkat batu besar itu lalu memutarnya. Ia melirik sekilas pada Arya Penangsang yang masih terlihat tenang. Dan tiba-tiba saja batu hitam itu meledak dengan diiringi dentum yang menggelegar. Serpihan batu beterbangan ke segala arah, burung-burung pun terbang tak tentu arah karena terkejut dengan ledakan yang terjadi secara tiba-tiba.

“ Kau membuatku terkejut,” kata Adipati Hadiwijaya sambil menggelengkan kepala. Lantas ia kembali memejamkan kedua matanya dan membawa dirinya kembali ke arah penyembuhan.

“ Kakang memang luar biasa,” puji Adipati Arya Penangsang.

Masih dengan mata terpejam, Adipati Hadiwijaya menyahut,” Aku tidak mengira kau telah menguasai ilmu pengobatan yang sedemikan tinggi.” Adipati Arya Penangsang hanya menatap lurus wajah Adipati Hadiwijaya sambil menepuk bahu ayah Pangeran Benawa itu

Tak lama kemudian dua orang prajurit Demak telah kembali ke tempat mereka menunggu dengan hasil buruan yang cukup untuk enam orang.

“ Ambillah itu untukmu dan temanmu,” kata Adipati Arya Penangsang,” kami berdua akan mengambilnya apabila matahari telah berada di balik pohon.” Kemudian ia berpaling pada Adupati Hadiwijaya,” Kakang masih membutuhkan penyesuaian untuk beberapa saat. Peralihan yang terjadi di dalam tubuh Kakang tidak dapat dilakukan secara mendadak.”

Setelah Adipati Hadiwijaya membuka mata lalu berdiam untuk memusatkan nalar dan rasa, Arya Penangsang bergeser sedikit menjauh. Sedikit percakapan ia lakukan dengan dua pengawal Demak selagi menunggu Adipati Hadiwijaya menata susunan syarafnya yang belum sepenuhnya pulih. Dan kemudian berakhirlah kegiatan yang dilakukan oleh pemimpin Pajang. Ia merasakan tubuhnya menjadi lebih bugar dan ringan. Maka bertambahlah kekagumannya pada Adipati Arya Penangsang. Sejenak kemudian mereka pun mengambil bagian dari hasil buruan dua pengawal. Sembari menikmati matahari menuju senja, mereka pun mempersiapkan diri menuju Demak.

Demikianlah ketika bayang-bayang semakin panjang, empat orang itu berjalan kaki dalam temaram malam yang akan datang menjelang. Dari kejauhan terlihat kerlip oncor dari dalam rumah-rumah penduduk. Beberapa peronda mulai menyalakan obor-obor kecil yang ditempatkan di beberapa bagian jalan sebagai penerangan. Sekali-kali mereka berempat berhenti untuk bertegur sapa dengan para peronda yang sedang menyusuri lorong-lorong pedukuhan. Kedua pemimpin Demak itu mendengar penuh seksama setiap untaian kata yang diucapkan para peronda. Dua adipati itu mencatat dalam hati mereka tentang berbagai persoalan yang mereka dengarkan dari para peronda termasuk perselisihan kecil antar warga mengenai pembagian air. Atau kadang mereka mendengar keluhan tentang tingkah laku segelintir orang yang meresahkan para pedagang.

Adipati Arya Penangsang kemudian memutar badan dan menghadap pada dua pengawal Demak,” Kalian dapat beristirahat pada tengah malam ini.” Tengadah wajahnya memperhatikan kedudukan bintang. Kemudian ia berkata lagi,” Atau kalian dapat berkuda mendahului kami menuju Demak. Sepenuhnya kami serahkan keputusan itu pada kalian.”

“ Kami telah bersiap, Kanjeng Adipati!” kata pengawal berambut putih.

“ Baiklah, jika demikian kalian berdua dapat meninggalkan kami,” Adipati Arya Penangsang menoleh pada Adipati Hadiwijaya kemudian,” Berangkatlah kalian, kami akan menyusul di belakang.”

Dua pengawal dari Demak itu memberi hormat lalu minta diri untuk berangkat terlebih dahulu ke Demak. Maka tak lama kemudian derap dua ekor kuda berlari perlahan menuju Demak. Dalam pada itu, Adipati Hadiwijaya kembali teringat bahwa sebenarnya ia masih mempunyai ganjalan dalam hatinya. Walau begitu, ia dalam keadaan meragu untuk bertanya.

“ Aku hanya tidak mempunyai persangkaan bahwa sepeninggal Eyang, keluarga ini terlibat dalam usaha berburu dalam darah,” tiba-tiba Adipati Arya Penangsang berkata. Adipati Hadiwijaya yang tersentak kaget mendengarnya agaknya berusaha menahan diri. Ia merasa tahu arah pembicaraan yang dilakukan oleh saudara iparnya itu.

Lanjut Adipati Arya Penangsang kemudian,” Aku berusaha untuk menerima kenyataan yang telah terjadi sekalipun sulit untuk melupakan bahwa justru peristiwa yang telah menanggalkan akal itu dilakukan tanpa musabab yang dapat dibenarkan.” Terdengar hela nafas panjang keluar dari dalam dada Adipati Jipang Panolan. Katanya kemudian dengan nada datar,” Aku menimbang semuanya. Terbesit keinginan untuk menuntut balas tetapi Eyang Mimbasara dan Eyang Parikesit selalu hadir untuk membantu mengendalikan kekang. Lalu aku melihat Jaka Wening.”

Tanpa terasa genang air mata telah mencapai kelopak matanya, ia cepat mengusap dan melirik Adipati Hadiwijaya yang sepertinya tidak melihat gerak yang ia lakukan. Degup jantung Adipati Arya Penangsang berderap kian cepat. Ia berusaha keras untuk mengamati ke dalam hatinya. Ia tidak ingin merusak suasana perjalanan bersama Adipati Hadiwijaya.

Lalu,” Kemudian aku berjanji pada diriku sendiri bahwa apa yang telah terjadi padaku di masa yang silam tidak menimpa Jaka Wening. Aku tidak ingin kelak ia menudingku sebagai orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya.”

“ Dan atas alasan itu, Kakang menyelamatkan aku,” Adipati Hadiwijaya berkata.

“ Aku tidak ingin berkata lebih jauh dari apa yang aku alami semenjak aku meninggalkan Jaka Wening di padepokan Ki Buyut beberapa pekan yang lalu,” kata Adipati Arya Penangsang sambil menggeleng.

Ia meneruskan ucapannya kemudian,” Aku telah mendengar sebuah upaya untuk mengambil tahta dari Paman Trenggana. Bahkan aku terlibat di dalam gerakan itu.”

Tercekat hati Adipati Hadiwjaya mendengar ucapan yang terdengar seperti gelegar halilintar baginya. Beberapa kelompok petugas sandi telah ia kerahkan untuk mencari kebenaran dari keterangan-keterangan yang ia terima dari para bawahannya, tetapi tidak seorang pun dari petugas sandinya mampu menembus dinding tebal para penentang. Lalu pada malam itu ia mendengar pengakuan Adipati Arya Penangsang yang sempat membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

Tinggalkan Balasan