Bara di Borobudur – Kao Sie Liong 3

“ Toa Sien Ting, ikuti aku. Biarlah anak buahmu menghalangi pasukan yang baru datang!” seru Chow Ong Oey. Ia tahu bahwa di dalam gedung yang terbakar itu ada Yap Teng Jin, seorang menteri yang berkedudukan tinggi dan bertanggung jawab untuk mengembangkan kesusastraan dan kebudayaan kerajaan. Toa Sien Ting lekas mengibaskan cambuk miliknya, sekejap kemudian barisan yang mengepungnya segera tersibak. Tubuh Toa Sien Ting melayang cepat melintas di atas kepala pasukan yang baru saja bertempur dengannya. Ia mengikuti Chow Ong Oey yang berlari seperti terbang menuju gedung perpustakaan.

Mata tajam Kao Sie Liong menangkap dua sosok bayangan yang berkelebat cepat menghampiri pasukan yang ia pimpin. Bersama sejumlah pasukan, Kao Sie Liong berusaha membendung serangan gerombolan yang dipimpin oleh Toa Sien Ting. Sementara itu, seorang perwira muda telah berhasil membawa Menteri Yap Teng Jin keluar dari gedung. Kao Sie Liong mundur sejenak dan menghampiri Yap Teng Jin. Kepala Yap Teng Jin yang terkulai lemah diletakkan Kao Sie Liong diatas pahanya.

Kemudian Yap Teng Jin bekata,” Jangan kau kecewa karena kegagalan rencanamu, Sie Liong. Engkau telah berbuat benar dan tepat. Kelompok Toa Sien Ting pun meskipun hanya sekumpulan pengemis namun mereka berada di bawah kendali majikan dari Chow Ong Oey. Sungguhpun perkumpulan itu selalu menamakan dirinya berjuang atas nama rakyat, tetapi mereka dapat bersikap bengis terhadap orang-orang pemerintahan. Apalagi kepada dirimu yang merupakan orang kepercayaan kaisar Ning Tsung. Mereka beralih ke Suku Jurchen karena kaisar Ning Tsung tidak memberikan tempat kepada mereka. Oleh karenanya, orang-orang itu akan selalu menentang Kaisar Ning Tsung. Mereka akan menyebarkan kabar berita bahwa Kaisar Ning Tsung gemar menindas rakyat dan sering membuat rakyat menjadi sengsara.”

Kemudian Kao Sie Liong menutup,” Menteri Muda, berhentilah. Jangan teruskan untuk berbicara. Tubuhmu akan menjadi semakin lemah.” Kemudian ia memerintahkan seorang perwira yang berada di dekatnya untuk membawa Menteri Yap Teng Jin menuju istana kaisar melalui jalan memutar.

Sementara itu, Chow Ong Oey dan Toa Sien Ting telah tenggelam dalam pertempuran melawan barisan pengawal di lapisan pertama yang menjaga gedung perpustakaan. Kedua orang ini berkelebat sangat cepat di bawah terang nyala api yang masih membara. Begitu cepatnya mereka bergerak, sehingga tampak seakan bayangan setan. Ilmu mereka tergambar dari desir angin yang timbul dari putaran senjata mereka. “Kau masuk dari sebelah kiri, sementara aku akan membuka jalan darah!” seru Toa Sien Ting.

Keduanya lantas berpencar, gerakan mereka sangat gesit dan ringan sekali. Gedung itu kini terancam selagi Kao Sie Liong sedang menemui Menteri Yap Teng Jin yang terluka akibat panah berapi yang menyobek lambungnya. Tiba-tiba tampak sinar putih menyibak api yang melingkar di depan pagar kayu gedung perpustakaan. Sinar putih datang bergulung-gulung seperti ombak lautan. Toa Sien Ting yang kaget dengan terpaan dahsyat Kao Sie Liong dengan terpaksa membiarkan dirinya untuk sementara tenggelam dalam kepungan serangan tombak Kao Sie Liong. Akan tetapi ia tidak dapat membiarkan dirinya terkepung tombak lebih lama lagi, Toa Sien Ting dengan cepat melecutkan cambuknya untuk keluar dari serangan Kao Sie Liong.

Terdengar suara nyaring Toa Sien Ting yang dilambari dengan tenaga dalam. Suara yang sangat menusuk gendang telinga, Kao Sie Liong sedikit mengendurkan serangannya karena menahan rasa sakit yang timbul dari dalam telinganya. Tak lama setelah itu, tombak Kao Sie Liong menderu memburu dan mematuk Toa Sien Ting . Lelaki bertubuh gemuk ini harus menghindarkan diri dari sambaran tombak lawannya. Ia melemparkan tubuhnya ke belakang. Kao Sie Liong dengan tangkas mengejar seraya menetakkan tombaknya menggapai sasarannya yang berguling-guling diatas tanah.

Dengan susah payah Toa Sien Ting menggerakkan tangan dan cambuknya sesekali membalas serangan Kao Sie Liong. Terdengar suara keras disusul bunga api berhamburan ketika ujung cambuknya berbenturan dengan ujung tombak Kao Sie Liong. Ternyata kemampuan mereka tidak terpaut terlalu jauh. Kao Sie Liong segera jungkir balik ke belakang untuk mengurangi daya dorong tenaga lawannya. Sedangkan Toa Sien Ting membelitkan cambuknya ke seorang pengawal gedung, sehingga dengan begitu tubuhnya tidak terpental jauh ke belakang.

“Licik!” seru Kao Sie Liong melihat tubuh pengawal itu roboh karena belitan cambuk Toa Sien Ting.

Pada masa itu, Kaisar Ning Tsung mengendalikan kekaisaran Tiongkok dengan sangat baik. Ia mengikuti leluhurnya yang telah mengirimkan pasukan ke Tanah Jawa. Mengirimkan para saudagar melintasi batasan-batasan alam menembus rintangan untuk sebuah perdagangan yang saling menguntungkan. Kaisar Ning Tsung sangat tegas menghadapi para pembesar kerajaan yang masih saja berusaha menindas rakyat dengan serangkaian pencurian dan perampokan melalui upeti-upeti yang sangat memberatkan. Dan belakangan ini Kaisar Ning Tsung sedang berencana untuk mengirimkan kembali utusan ke Tanah Jawa. Tujuan ini tidak lain guna mencari hubungan dengan kerajaan-kerajaan baru yang mungkin saja sudah berbeda dengan kerajaan yang didatangi oleh utusan datuknya.

Pengawal yang berada di lapisan kedua datang berhamburan dari sebelah kiri dan kanan Toa Sien Ting. Mereka sangat marah melihat seorang temannya menjadi korban kelicikan tokoh dari golongan hitam itu. Dengan sorak sorai yang keras, mereka menyerbu dari kanan kiri Toa Sien Ting. Kao Sie Liong tak kuasa mencegah kemarahan para bawahannya. Toa Sien Ting menggerakkan cambuknya berputaran menyelubungi tubuhnya. Dari putaran itu keluar angin pukulan yang menyambar dahsyat di sekelilingnya. Belasan orang itu roboh terpental seperti dilanda badai angin prahara.

Tentu saja hal ini menimbulkan kegemparan di kalangan pengawal gedung perpustakaan. Mereka yang dapat bangkit kembali, kini tidak berani sembarangan menyerang. Mereka hanya merundukkan senjata dan menanti perintah Kao Sie Liong. Sedangkan sorak sorai kegembiraan melanda segerombolan orang anak buah Toa Sien Ting dan Chow Ong Oey.

Kao Sie Liong menggeretakkan giginya. Bibirnya terkatup rapat, kemudian “ Toa kongcu! Atas perintah Kaisar Ning Tsung, aku minta kepadamu untuk menyerah!” seru Kao Sie Liong dengan suara tergetar hebat menyaksikan sejumlah prajuritnya terpental roboh seperti rumput kering yang tertiup angin.

Derai tawa dengan nada penghinaan membahana di angkasa. Lalu,” dengan meminjam nama Kaisar Ning Tsung, kau berani menyuruhku untuk menyerah? Lupakan itu Kao Sie Liong! Malam ini akan menjadi saksi bahwa engkau akan terbujur kaku di depan prajuritmu!” teriak Toa Sien Ting dengan lantang.

Setelah berkata demikian, Toa Sien Ting menggerakan lengan kirinya. Ia mengepalkan tangan. Jari jemarinya rapat tergenggam. Tangan kanannya yang memegang rantai berbandul gerigi tajam bergerak bersamaan dengan lengan kirinya. Membentuk lingkaran, terkadang menyilang lalu terdengar suara berdengung seperti ribuan lebah. Kepalan kirinya perlahan-lahan berubah mengeluarkan sinar merah membara. Sedangkan ujung rantainya seperti mengeluarkan percikan api! Melihat perubahan dan jurus yang dikeluarkan oleh Toa Sien Ting, Kao Sie Liong segera menyadari jika lawannya akan menghantam setiap halangan yang merintanginya.

Tinggalkan Balasan