Penaklukan Panarukan 44

Malam bergulir dan semakin pekat. Dua orang prajurit yang menyertai mereka telah membuat api unggun lantas mereka beristirahat di tempat yang agak jauh dari kedua adipati Demak. Sekali-kali Adipati Hadiwijaya berdiam diri untuk mengatur gelombang tenaga inti yang terus menerus bergerak didalam tubuhnya. Ia berusaha menahan gejolak hatinya setelah mendengar pengakuan Adipati Penangsang. Tetapi lelaki yang menyadap ilmu dari Patih Matahun itu bersikap seolah tidak ada yang mengejutkan. Ia tahu bahwa Adipati Pajang sedang melakukan pengobatan mandiri, oleh karena itu ia  juga kadang turut membantu mempercepat pemulihan. Beberapa kali Adipati Jipang mengalihkan mencairkan suasana dengan menanyakan keadaan Pangeran Benawa sehingga mereka berdua terlibat perbincangan ringan. Kabut yang tebal mengurung mereka sepertinya tak menjadi penghalang terutama bagi dua prajurit pasukan khusus pengawal adipati. Mereka berdua bergantian untuk berjaga dan dalam pada itu mereka pun terheran dengan daya tahan Adipati Hadiwijaya dan Adipati Penangsang yang masih belum terlihat membaringkan tubuh.

“ Lalu aku menempuh perjalanan menuju Pajang dengan sepengetahuan Paman Patih Matahun. Sengaja aku tidak datang padamu, Kakang. Aku berpikir bahwa memang lebih baik ada orang lain yang melaksanakan keinginan yang tak pernah aku ucapkan selain pada eyang berdua. Dan aku sendiri telah menyiapkan rencana bila akhirnya peralihan itu menunjukkan jari padaku.”

“ Kakang, kakang, kakang,”gumam Adipati Hadiwijaya.

Adipati Arya Penangsang tersenyum mendengarnya lalu,” Aku sengaja berbuat seperti itu dengan memanggilmu sebagai kakang. Dengan panggilan itu, aku menaruh sebuah harapan bahwa aku tidak akan melangkah di atas kepala seorang pemimpin Pajang. Hingga Jaka Wening tuntas menyelesaikan masanya.”

“ Dengan kau memanggilku sebagai kakang, kau menyindir Kanjeng Sultan yang kau simpulkan telah melampaui batas,” kata Adipati Hadiwijaya dan dijawab dengan anggukkan kepala dalam-dalam dari pemimpin Jipang Panolan.

“ Dan dengan panggilan itu pula, kau berusaha menahan tanganmu agar tak lekas membunuhku.” Kali ini Adipati Arya Penangsang tidak menanggapinya. Lalu ia berkata” Sebagai rasa penghormatanku pada mendiang ayahanda, aku menolak perintah Kanjeng Sultan untuk mengirim bantuan pasukan. Mungkin Kakang telah mendengar perbedaan keras yang terjadi diantara kami berdua. Paman Patih Matahun memintaku untuk mengabulkan perintah Kanjeng Sultan namun aku berkeras menolaknya.”

“ Sebuah pembangkangan yang sebenarnya tak elok dilakukan oleh bawahan,” desah Adipati Hadiwijaya namun dalam hatinya ia sendiri tak ingin mendebat penolakan itu. Lagipula wilayah barat telah mengirimkan ribuan orang untuk membantu Sultan Trenggana menuntaskan rencananya sehingga ia tidak menganggap penting untuk dipersoalkan.

“ Tak pernah ada yang elok semenjak terjadi banjir darah di padang Bubrah,” tegas Adipati Arya Penangsang. Lantas,” Sudahlah, kita terlalu lama terlibat dalam omong kosong ini. Malam telah lingsir dan Demak akan segera berada di depan kita.” Tiba-tiba Adipati Arya Penangsang menarik nafas yang sangat pendek lalu tubuhnya seperti menghilang dari tatap mata Adipati Hadiwijaya. Dalam pada itu Adipati Hadiwijaya merambat pelan mengerahkan segenap kecepatannya. Namun ketika ia merasakan bahwa tubuhnya seperti tidak pernah mengalami luka-luka, Adipati Hadiwjaya lantas mengejar orang yang menyembuhkannya itu.

Jalan utama yang menghubungkan Pajang dengan Demak telah berada di bawah tapak kaki mereka. Tidak ada orang yang melintas di malam yang baru saja menggelincir menuju fajar. Tanah telah dipadatkan dan beberapa bagian telah terpasang batu-batu yang disusun sedemikian rupa sehingga roda pedati pun dapat berputar dengan sempurna untuk menyusur jalur utama antara Pajang dan Demak.

Demikianlah kemudian dua orang berilmu sangat tinggi itu berpacu sedemikian cepatnya. Orang yang melihatnya tentu akan terheran karena seolah-olah ada dua siluman yang terbang dan berkejaran.

Sekali-kali Adipati Arya Penangsang keluar dari jalan dan menyusur aliran air yang yang tak begitu lebar. Ia berlari dengan kaki seolah tak menyentuh air. Kadang ia menggunakan dahan yang melintang dan berjumpalitan lalu meluncur seperti anak panah. Perlombaan pun terjadi. Mereka berdua saling mendahului, dalam hati mereka masing-masing merasakan bahwa perlombaan itu seperti mengenangkan mereka pada masa kecil. Hingga akhirnya mereka nyaris tak sadar bahwa mereka telah melewati dua pengawal yang telah berangkat terlebih dahulu.

“ Kanjeng Adipati!” seru dua pengawal itu bersamaan. Kedua adipati itu kemudian menghentikan perlombaan dan berjalan di belakang dua pengawal dari Demak. Tiba-tiba Adipati Arya Penangsang menghentikan langkahnya dan berpaling pada Adipati Hadiwijaya.

“ Aku tidak dapat menyertai Kakang lebih jauh dari selontaran anak panah, aku akan melanjutkan perjalanan menuju Jipang. Paman Patih telah terlalu lama aku tinggalkan sendirian,” kata Adipati Arya Penangsang. Adipati Hadiwijaya mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti alasan pemimpin Jipang yang memilih untuk meneruskan memasuki Demak. Adipati Arya Penangsang seperti tidak peduli padanya lalu memanggil dua pengawal. Katanya,” Kita akan segera berpisah. Dan kalian sudah mengerti.”

“ Kami mendengar, Kanjeng Adipati!” sahut keduanya tegas. Lantas mereka berempat berjalan tanpa percakapan. Seperti yang diucapkan Adipati Penangsang, maka ia pun memisahkan diri tatkala mereka telah bergeser tempat seperti yang ia katakan sebelumnya.

“ Kita berpisah disini, Kakang,” kata Adipati Penangsang lalu memberi hormat pada Adipati Pajang. Langkah tegap Adipati Penangsang menyongsong matahari terbit. Ia berjalan sendiri kembali ke Jipang. Demikianlah kemudian Adipati Hadiwijaya disertai dua orang pengawal berjalan lurus mendekati gerbang kotaraja Demak.

Matahari mulai menggatalkan kulit ketika mereka bertiga berjalan melintasi pintu gerbang. Penampilan Adipati Hadiwjaya yang tidak menunjukkan kedudukannya sebagai seorang penguasa Pajang memang tidak dapat dikenali para penjaga gerbang. Dengan menggulung rambut lalu mengikatnya ke belakang serta pakaian lusuh menjadi penyamaran yang nyaris sempurna bagi seseorang yang banyak dikenali oleh para prajurit Demak. Sehingga tanpa banyak orang yang mengenalnya, Adipati Hadiwijaya telah tiba di depan gerbang istana Sultan Trenggana.

Seorang penjaga gerbang menghentikan langkah Adipati Hadiwijaya dengan tombak bersilang di depan dadanya,” Berhenti! Sebaiknya Ki Sanak berganti pakaian yang lebih pantas.”

Adipati Hadiwjaya yang menyembunyikan wajah dengan menunduk kemudian berkata,” Katakan pada pemimpinmu, aku orang Pajang yang tak perlu berganti apapun.”

“ Bersikaplah dengan baik dan terhormat, orang Pajang!” perintah prajurit itu dengan tegas. Sementara dua orang pengawal Demak yang berdiri di belakang Adipati Hadiwijaya memalingkan muka karena mereka tak ingin tertawa melihat sikap Adipati Hadiwijaya yang agaknya ingin bermain-main. Tawa mereka nyaris meledak melihat sikap rekannya yang berdiri tegak di depan pemimpin Pajang.

“ Apakah kehormatan itu dinilai berdasarkan apa yang ia kenakan, tuan prajurit?” bertanya Adipati Hadiwijaya.

Pengawal itu kemudian merundukkan tombak dan bersuit memanggil kawannya yang sedang mengawasi dari regol istana. Suara prajurit itu meninggi,” Kami dilarang untuk bersikap keras kepadamu, Ki Sanak. Turuti perintah kami atau jangan kembali kemari!”

Merasa tak ingin membuang waktu lebih lama, Adipati Hadiwijaya lantas mengangkat wajah dan berkata,” Bukankah kalian pernah bertugas di Pajang?”

Sontak prajurit itu menjadi terkejut dan cepat-cepat menghaturkan hormat. Dengan nada gugup, ia berkata,” Aku mohon ampun, Kanjeng Adipati. Kanjeng Adipati benar-benar sempurna dalam penyamaran ini.” Lantas Adipati Hadiwijaya menepuk pundaknya kemudian,” Bangunlah! Beritahukan pada Pelayan Dalam bahwa aku telah datang.”

“ Baik, Kanjeng Adipati!” penjaga itu bergegas memberitahukan pada pemimpinnya bahwa Adipati Pajang telah berada di depan gerbang. Maka keadaan di gardu jaga pun kemudian menjadi ramai oleh tawa pengawal Demak yang mengiringi perjalanan Adipati Hadiwijaya. Betapa mereka menceritakan perasaanya saat Adipati Hadiwijaya mengambil sikap yang berbeda. Oleh karena itu, perasaan mereka terhadap menantu Sultan Trenggana itu menjadi semakin tumbuh dan kuat menancap dalam hati mereka. Kedekatan dan kemampuan Adipati Hadiwijaya dalam merawat hubungan dengan mereka dan rakyat lainnya menggores kesan yang menggurat tajam dinding jantung sebagian besar prajurit Demak.

Tinggalkan Balasan