Penaklukan Panarukan 45

Selang beberapa lama, Adipati Hadiwijaya telah duduk berhadapan dengan Sultan Trenggana. Mereka berhadapan dalam jarak beberapa langkah. Keagungan dan wibawa Sultan Trenggana jelas memancar begitu kuat bahkan Adipati Hadiwiajaya dapat merasakan getar hebat dari wibawa penguasa Demak itu mampu menembus hatinya. Pakaian khusus yang dikenakan oleh Sultan Trenggana menjadikan orang yang melihatnya menjadi segan untuk mendekat. Kain hitam bersulam benang emas dan perak menghias bagian tepi pakaian Sultan Trenggana.

“Aku telah mendapat laporan bahwa kau sempat terperangkap dalam kebakaran di hutan. Dan karena kau seperti tidak mengalami luka-luka, maka aku tidak bertanya tentang keadaanmu,” berkata Sultan Trenggana setelah ia menanyakan kabar keluarganya di Pajang.

Adipati Hadiwjaya mengangguk lalu,“ Laporan itu tidak mengurangi sedikitpun dari apa yang telah terjadi, Kanjeng Sultan.”

“Bagaimana kebakaran itu bisa terjadi? Sementara Paman Parikesit dan Kakang Getas Pendawa turut serta bersamamu, apakah itu berarti ada suatu pertarungan hebat yang terjadi pada kalian?” selidik Sultan Trenggana.

Sambil menarik nafas panjang, Adipati Hadiwijaya telah menduga bahwa Ki Tumenggung Suradilaga memberi laporan lengkap tentang keadaan mereka. Lalu katanya,” Laporan itu tidak menjelaskan sebab kebakaran, Kanjeng Sultan.”

“Angger Mas Karebet, kau tidak dapat mengelabuiku dengan menutupi sebab kebakaran. Kebakaran itu hanya dapat terjadi bila seseorang telah menggunakan tingkat tertinggi kepandaiannya. Beberapa prajurit peronda mengatakan bahwa mereka tidak menjumpai api yang menyala setelah senja. Jadi artinya api itu baru ada ketika malam telah sepenuhnya turun di dalam hutan,” kata Sultan Trenggana. Sebenarnyalah para peronda melihat rekannya berkuda kencang memutari hutan. Para penunggang kuda ini adalah pengawal dari Pajang dan mereka menceritakan kejadian yang menimpa Adipati Hadiwjaya pada peronda dari Demak. Dengan cara berantai akhirnya kabar berita itu memasuki istana Demak namun Sultan Trenggana tidak mengirim bantuan bagi Adipati Hadiwjaya setelah ia mendengar bahwa Ki Tumenggung Suradilaga telah menjemput ayah Pangeran Benawa beserta empat orang prajurit khusus.

“ Hamba, Kanjeng Sultan,” Adipati Hadiwjaya mengatur nafas kemudian,” Sebuah ilmu yang aku pikir telah hilang ternyata muncul kembali dan membawa berakibat buruk bagi Pajang.”

“Siapakah orang yang membawanya kembali?”

“Kiai Rontek.”

“Selubung asap yang panas dan menghanguskan lembah Merbabu. Wedhus Gembel,” lirih Sultan Trenggana berkata-kata. Ia kemudian menarik nafas panjang kemudian,” Ilmu yang dikembangkan oleh seorang pertapa di celah Merbabu. Aku tidak mendengarnya telah mengambil seorang murid, namun banyak orang di masa lalu telah menjungkir balik dataran Merbabu hingga Merapi oleh sebab mereka mengira pertapa itu meninggalkan ilmunya dalam guratan yang terbaca. Tetapi hingga kau sebut nama itu, mungkin ia adalah orang yang beruntung. Dan karena nama itulah yang mendorongku untuk memanggilmu kemari, Ngger.”

“Hamba tidak mengerti, Kanjeng Sultan.”

“Kau mengerti bahwa sesaat lagi aku akan mengarungi Segara Lor menuju Panarukan. Dan aku harus berkata kepadamu bahwa aku telah menetap hati untuk menunjukmu sebagai pengganti di Demak selagi aku belum kembali.”

“Kakang Pangeran Mukmin yang lebih pantas menjadi pengganti, Kanjeng Sultan.”

“ Untuk itulah aku mengajakmu berbicara di tempat ini.”

Ruangan yang dipilih oleh Sultan Trenggana berada di bagian bawa istana Demak. Untuk mencapai ruangan itu, seseorang harus melintasi bilik khusus Sultan Trenggana lalu membuka beberapa bilah papan yang berada di balik meja jati yang berukuran besar. Papan-papan itu sekilas apabila dilihat dari luar tampak seperti panggung kecil, namun dibawah panggung itu terdapat ruang yang dapat menampung lima orang dewasa.

Sultan Trenggana melanjutkan kemudian,” Angger Pangeran Mukmin tidak dapat aku serahi tugas sebagai pengganti. Ia telah mengambil tempat sebagai pemimpin pasukan pendukung. Selain itu, bala bantuan dari wilayah barat pun telah mengenal Angger Pangeran dengan baik.” Ia kemudian menyandarkan punggungnya. Lantas Sultan Trenggana melanjutkan,” Mungkin kau berpikir mengenai Arya Penangsang. Apakah benar yang kukatakan?”

Adipati Hadiwijaya mengangguk.

“Ki Tumenggung Gajah Dampit sebagai pemimpin pasukan sandi melaporkan padaku bila Gagak Panji berada di balik sebuah gerakan untuk mengambil alih kedudukan ini. Dalam laporannya, Ki Gajah Dampit menyebut bahwa Kiai Rontek adalah satu punggawa terkuat yang bergabung pada barisan Gagak Panji. Tetapi aku tidak terkejut ketika ia mengatakan bahwa Angger Arya Penangsang turut serta dalam gerakan itu,” terdengar satu tarikan nafas panjang dari Sultan Trenggana ketika bibirnya telah terkatup. Lalu ia meneruskan,” Atas laporan itulah kemudian aku pikir bahwa membiarkan Arya Penangsang tetap berada di Jipang akan memberinya waktu dan ruang untuk sedikit mengenali Demak. Selain daripada itu, Kiai Rontek sudah barang tentu akan berpikir ulang apabila ia mengetahui kau berada di tempat ini. Terlebih jika ia tahu bahwa kau selamat dari keganasan ilmunya. Karena satu kemungkinan adalah ia akan berpikir bahwa Paman Parikesit akan mendampingimu.”

“Kakang Penangsang yang melakukannya, Kanjeng Sultan,” kata Adipati Hadiwjaya,” Selepas kepergian Kiai Rontek bersama seorang kawannya, Kakang Penangsang mengambil alih penyembuhan yang dilakukan Eyang Parikesit.” Lalu Adipati Hadiwijaya menceritakan sebagian peristiwa yang ia lalui bersama Pangeran Parikesit tetapi ia tidak mengatakan bahwa Adipati Penangsang telah mengantarkannya hingga gerbang kota.

Sultan Trenggana lantas menatap tajam wajah menantunya. “Arya Penangsang pun hadir di tempat itu. Tentu saja kehadirannya mungkin akan membuat perkembangan gerakan itu semakin rumit,” katanya.

“Hamba tidak mengerti, Kanjeng Sultan.” Saat itu Adipati Hadiwijaya memutuskan untuk mengatakan pada mertuanya mengenai rencana Pangeran Parikesit dan Ki Buyut Mimbasara yang berkeinginan agar Sultan Trenggana menarik mundur rencananya. Tetapi ia tidak banyak bercerita tentang Pangeran Benawa.

“Seharusnya yang terjadi adalah Arya Penangsang memutus urat nafasmu, Ngger,” kata Sultan Trenggana. Kemudian,” Tetapi ia tidak melakukannya, bahkan ia turut menolongmu. Agaknya terjadi perubahan dalam pendiriannya, tetapi siapa orang yang mampu mengubah Arya Penangsang?”

“Kenyataan itu memang terjadi, Kanjeng Sultan,” kata Adipati Hadiwjaya dengan pandang mata menatap ke bawah.

Lantas Sultan Trenggana bangkit dari duduknya dan berkata tegas,” Apapun yang kau alami di dalam hutan bersama Arya Penangsang tidak membuatku berpikir untuk mengubah keputusanku. Bahkan apabila Paman Parikesit berada di tempat ini dan mencoba untuk mengalihkan perhatianku, aku dapat pastikan bahwa usahanya tidak akan pernah berhasil. Menghukum kadipaten di wilayah timur adalah kewajiban yang harus aku jalankan. Karena memang seperti inilah Demak.”

Adipati Hadiwijaya tidak mengucap apapun. Meski ia mempunyai pendapat yang berbeda tetapi keputusan seorang pemimpin merupakan kewajiban yang harus ia tunaikan. Untuk beberapa saat ia menilai kembali pendapatnya dan mencoba mencari jalan tengah untuk menyelesaikan persoalan yang mungkin akan berkembang setelah lawatan Sultan Trenggana ke wilayah timur.  Tak lama kemudian kedua pemimpin itu keluar dari ruang rahasia. Sultan Trenggana bergegas memanggil beberapa pembantunya untuk melakukan pemeriksaan terakhir kali. Beberapa perintah telah dijatuhkan oleh Sultan Trenggana sebelum ia berangkat menuju pusat pengendalian pasukan yang berada di pelabuhan.

Tinggalkan Balasan