Penaklukan Panarukan 46

Senja telah menapak garis pantai ketika matahari menyembunyikan sebagian wajahnya. Sultan Trenggana telah berada di dalam kapal yang berisi lima ratus orang. Sebuah kapal yang telah lengkap dengan senjata yang dapat mencapai jarak cukup jauh. Kemegahan Demak sangat kentara dalam setiap piranti yang dikenakan oleh para prajuritnya. Kerapian barisan kapal yang berderet memanjang telah menjadi gambaran terang mengenai kekuatan dahsyat yang tersimpan dalam tubuh angkatan perang Demak. Kemauan yang telah bulat dibalut semangat yang membara dalam hati Sultan Trenggana seperti menjalar pada setiap raut wajah prajurit yang terpilih dalam rencana penaklukan itu. Betapa mereka sangat percaya dan mempunyai keyakinan yang tinggi bahwa Sultan Trenggana akan memberi mereka kemenangan yang mungkin tidak pernah terlupakan. Kehadiran Sultan Trenggana ditengah mereka pun sepertinya telah menjadi sumber tenaga yang tidak akan pernah habis.

Ketika terompet besar yang berada dari kapal Sultan Trenggana telah berkumandang, maka segera saja udara pesisir telah penuh dengan gema suara bersahutan. Gemuruh suara yang berasal dari  kulit yang ditabuh semakin menggelorakan semangat prajurit Demak. Perlahan kapal Sultan Trenggana bergerak meninggalkan garis pantai diikuti puluhan kappa yang berkuran lebih kecil. Pada malam itu Sultan Trenggana membawa Demak untuk menggapai mimpi menyatukan tanah Jawa.

Adipati Hadiwijaya dan beberapa anggota keluarga Sultan Trenggana berdiri di sebuah panggungan kecil melepas keberangkatan angkatan perang Demak. Dalam pada itu, tidak ada kata-kata yang diucapkan oleh ayah Pangeran Benawa. Sekalipun ia mempunyai panggraita yang tajam namun ia tidak ingin menaruh perhatian pada bisik hatinya itu. Sedikit banyak Adipati Hadiwijaya mempunyai harapan yang sama dengan Sultan Trenggana meskipun cara yang ditempuh sangat berbeda. Sejenak kemudian ia menoleh ke belakang ketika seseorang menyentuh pundaknya.

“ Ki Tumenggung,” kata Adipati Hadiwjaya.

“ Hamba, Kanjeng Adipati,” sahut Ki Tumenggung Gajah Dampit. Lalu katanya,” Sejumlah pemimpin sedang menunggu Kanjeng Adipati untuk mengatakan sesuatu yang dianggap perlu.”

Adipati Hadiwijaya merenung sejenak, lantas,”  Bukankah itu dapat dilakukan esok pagi?”

“ Ki Tumenggung Adiwangsa berkeras untuk pembicaraan itu.”

“ Sejauh mana urusan itu harus dibicarakan pada tengah malam?”

Ki Gajah Dampit kemudian berhenti berkata. Sesuatu tampak sedang berada dalam kepalanya, lalu,” Baiklah, aku sampaikan pada mereka untuk kembali esok pagi.”

“ Kalian akan mendapat pemberitahuan dariku. Tetapi malam ini tidak ada yang perlu dibicarakan diantara kita semua,” kata Adipati Hadiwijaya lantas pergi meninggalkan Ki Tumenggung Gajah Dampit dan diikuti oleh anggota keluarganya. Sejak malam itu Adipati Hadiwijaya akan tinggal untuk sementara waktu di dalam istana Demak. Ia akan mengambil alih tugas keseharian yang telah ditetapkan untuknya oleh Sultan Trenggana.

****

“Panarukan tidak akan menyambut kedatangan angkatan perang Demak Bintara. Kita tidak akan melalukan pertempuran di tengah laut,” tegas Mpu Badandan di dalam sebuah bangunan yang berada di sisi timur pelabuhan pada saat matahari menyusur jalan turun.

Seorang senopati yang berusia sepantaran dengan Adipati Hadiwiaya menatap tajam padanya. Kemudian senopati ini berkata,” Berarti itu akan menujukkan bahwa Panarukan adalah tanah yang lemah. Seharusnya kita bangkit berdiri menyongsong mereka di atas samudera. Pertempuran di samudera adalah kemampuan yang telah kita miliki sekian waktu lamanya.”

Mpu Badandan berpaling padanya kemudian,” Aku harap kau tidak salah mengerti, Ki Tumenggung Kayumas. Pangeran Tawang Balun dan Adipati Surabaya telah bersepakat untuk tidak ada pengerahan prajurit untuk bertempur di atas kapal.” Ia menatap setiap wajah yang sedang melihatnya. Tampak oleh Mpu Badandan bahwa sinar mata yang dilihatnya adalah sinar mata yang menyimpan hasrat kuat untuk sebuah pertempuran. Sorot mata yang tidak menggambarkan ketakutan atau kengerian dalam menghadapi kematian. Tetapi ia sepenuhnya mengerti bahwa Pangeran Tawang Balun dan Adipati Surabaya sendiri masih berusaha menghindarkan jalan perang meskipun Demak akan mendatangi mereka dengan kekuatan lengkap.

Tatap mata Mpu Badandan kemudian membentur wajah seorang lelaki muda yang ia kenal sebagai senopati yang bernalar panjang dan cerdik. Lalu katanya,” Gagak Panji, apakah kau dapat menjelaskan mengenai alasan Pangeran Tawang Balun yang menolak pertempuran di samudera?”

Ki Rangga Gagak Panji kemudian menenangkan dirinya sebelum mengucap kata. Ia memahami keinginan banyak orang yang duduk melingkar di pendapa bahwa mereka tidak ingin dinilai sebagai orang-orang yang lemah dan mudah ditakuti oleh Demak. Sedikit kedua tangan Gagak Panji terangkat, lalu katanya,” Hyang Menak Gudra pun menyetujui gagasan Eyang Pangeran, Guru.”

Ki Tumenggung Kayumas yang masih merasa ganjalan dalam hatinya kemudian berkata,” Itu bukan alasan, Ki Rangga! Kita mempunyai kekuatan dan pasukan yang berimbang dengan Demak Bintara. Dan seharusnya tidak ada alasan untuk menghindari gelar perang secara terbuka. Ditambah sejumlah prajurit telah berkumpul mengelilingi Panarukan, tentu saja mereka akan menjadi hambatan bagi Demak bila akan meloloskan diri melalui jalur darat.”

“ Itu telah mereka perhitungkan, K Tumenggung.” Ki Rangga Gagak Panji lurus menatap senopati yang diakui ketinggian ilmunya oleh Hyang Menak Gudra. Gagak Panji berkata lagi,” Ini bukan sekedar permasalahan menang atau kalah. Takut atau berani, tetapi lebih cenderung seperti yang telah dikatakan oleh Eyang Parikesit.”

“ Pemikiran semacam itulah yang akhirnya menjadi sebab bahwa kalian adalah kaum pengecut!” sergah Ki Tumenggung Kayumas.

“ Batasi tutur katamu, Kayumas!” tukas Ki Rangga Gagak Panji yang seperti terpancing oleh sikap Ki Tumenggung Kayumas yang menyinggung tentang keluarganya.

“ Tidak perlu bagiku memperhatikan apa yang aku katakan. Tetapi kenyataan telah memberikan jawaban bahwa kalian selalu menghindari peperangan,” nada suara Ki Tumenggung Kayumas semakin meninggi. “ Ribuan prajurit berada dalam keadaan siaga. Kapal-kapal pun telah dipersenjatai lengkap. Aku tidak melihat alasan untuk berlari dari medan!”

Ki Rangga Gagak Panji merupakan orang yang cepat menguasai diri. Ia telah banyak belajar dan menyadap ilmu tentang makna sejati kehidupan dan pula Mpu Badandan telah membantunya untuk berhubungan dengan alam semesta. Maka ia pun meredam gejolak perasaannya dengan menarik nafas panjang. Kemudian katanya,” Selagi korban dapat dihindarkan, itulah yang akan kami tempuh. Namun apabila tak lagi ada jalan untuk dilalui, maka terjadilah pilihan yang terburuk.” Ia diam sejenak, lalu,” Aku kira kau mengerti itu, Kayumas!” Suara yang diucapkan Ki Rangga Gagak Panji penuh dengan tekanan. Getar suaranya benar-benar menyiratkan kesungguhan hatinya.

Lantas Ki Tumenggung Kayumas pun memalingkan wajahnya. Ia lekat menatap wajah tenang Mpu Badandan, kemudian,” Lalu apa yang akan kita tempuh, Mpu? Petugas sandi telah memberi laporan tentang keberangkatan mereka. Aku perkirakan mereka akan tiba di perairan Panarukan sekitar dua atau tiga hari lagi.”

Sebagai orang yang lebih sering dianggap sebagai pengganti Pangeran Tawang Balun yang lebih banyak mengambil jalan tepi di lereng gunung Raung, Mpu Badandan akhirnya banyak terlibat dalam kegiatan pemerintahan Blambangan. Hyang Menak Gudra seringkali mengajaknya berunding untuk memecahkan satu atau beberapa persoalan. Terkadang Ki Patih Tanu Senduro acapkali mengajak Mpu Badandan melakukan pengawasan di garis pantai Panarukan. Kemudian atas pertanyaan Ki Tumenggung Kayumas, Mpu Badandan berkata,”Aku minta kalian semua dapat bekerja sama. Karena siasat yang kita lakukan adalah perang tanding.”

Tinggalkan Balasan